Friday, December 18, 2015

Bagian Pertama: Perbandingan Saab Gripen-NG vs semua pilihan lain (termasuk KF-X)

KEUNTUNGAN nilai kerjasama strategis, dan industrial Saab Gripen untuk INDONESIA

Gripen-NG Demo model with full weapons payload
Apakah benar ini pilihan paling sesuai untuk Indonesia??
(Gambar:: Saab)
Semua model yang diperbandingkan disini adalah Saab Gripen-NG, Eurofighter Typhoon Tranche-3B, Dassault Rafale F3+, Sukhoi Su-35 , Lockheed-Martin F-16 Block-62+, dan KAI KF-X yang masih pesawat kertas.

Seperti judul diatas, apa yang diperbandingkan disini sudah jelas. Keuntungan semaksimal apakah yang bisa didapat dari masing-masing model yang diperbandingkan?

Thursday, December 17, 2015

Tujuan utama Lockheed partnership dalam proyek T-50

.... akhirnya menampakkan wujudnya

Gambar: KAI

Inilah prototype pertama Lockheed untuk kompetisi pesawat T-X trainer di Amerika.


T-X program adalah proyek penggantian T-38 supersonic trainer (versi pengembangan dari F-5 Tiger) di Amerika Serikat. Semua T-38 yang sekarang ada, diproduksi hanya sampai tahun 1972; tentu saja masa pakainya sudah hampir habis. Jumlah yang dibutuhkan secara resmi disebut pada jumlah 350 pesawat, tapi bukan tidak mungkin kalau jumlah yang dipesan akhirnya akan mencapai 1000 unit.

Pesawat prototype ini berbasiskan dari T-50 yang juga sudah dioperasikan Indonesia, dengan beberapa perbedaan khusus; aerial refueling, cockpit dengan Large Area Display, dan lihat gambar dibawah: punuk di punggung pesawat.

Foto kedua: Prototype T-X KAI/LM (Gambar: KAI)

Kalau mereka memenangkan proyek T-X, bukankah ini akan menjadi berita bagus untuk KAI, dan Korea?

Tuesday, December 15, 2015

Analisis: Apakah mungkin TS-2701 dan TS-2702 yang RUSAK adalah pesawat BEKAS??

Sukhoi Su-27SK kembali dimuat ke dalam Antonov AN-124 untuk menjalani reparasi di Russia 
(Gambar:TNI-AU mil.id)
Website resmi TNI-AU baru saja melaporkan pada 9-Desember yang lalu, kalau TS-2701 dan TS-2702 akhirnya sudah dikirim kembali ke Russia untuk melakukan overhaul total. 


Service life dari Sukhoi Flanker generasi pertama ini memang tidak lama - hanya sekitar 20 tahun, atau sekitar 2000 - 3000 jam terbang saja. Dengan biaya operasional mencapai Rp 400 juta / jamdan mengingat persenjataannya saja baru tiba di tahun 2012, sangat meragukan kalau Indonesia sudah menghabiskan masa pakai TS-2701 dan TS-2702 secepat itu, atau mungkin memang pesawat buatan Russia ini memang umurnya jauh lebih pendek, atau sangat gampang rusak.

Patut dicatat juga disini, kalau tidak hanya TS-2701, dan TS-2702, tapi juga TS-3001, dan TS-3002; keempat pesawat ini sudah tidak pernah tampil di muka umum sejak tahun 2007. Tentu saja nasib TS-3001 dan TS-3002 sampai sekarang belum diketahui.

Teori awam lain mengenai hal ini:


Apakah mungkin Sukhoi batch pertama yang dibeli di tahun 2003 ini sebenarnya adalah pesawat bekas?

Monday, December 7, 2015

Analisis: PENOLAKAN helikopter AW-101 VVIP: "case study" panutan akuisisi alutsista di masa depan (UPDATED!)

Alternatif lain: Supernya Super Puma: Eurocopter EC-225 (JASDF)
Kenapa masih ingin produksi asing 100%, kalau License Production local sudah ada?
(Gambar: Wikimedia Commons)

Berita pertama muncul dari tanggal 18-November yang lalu, kalau TNI-AU berencana menggantikan Super Puma (license production dari PT DI) untuk helikopter VVIP / kepresidenan di Skuadron-45, yang sudah beroperasi sejak tahun 1980. Penggantinya helikopter baru, import, buatan Augusta-Westland AW-101, berjumlah 5 pesawat.

Tentu saja kritik dengan cepak merebak.

Wakil Ketua Komisi I DPR dari partai PDI-P, TB Hassanudin mengkritik dengan lugas, kalau pembelian AW-101 ini adalah pelanggaran dari pasal 43 UU no.16/2012. Kenapa harus membeli import, kalau produk yang bersaing sebenarnya sudah bisa diproduksi sendiri (license production) didalam negeri?

Beliau mengungkapkan lebih lanjut; karena kita akan menginvestasikan kembali ke industri dalam negeri (PT DI), kita juga mendapatkan kembali 30% dari nilai total akuisisi tersebut dalam bentuk jam kerja, produksi, dan raw material. 

AW-101 mungkin memang kapasitasnya lebih besar dibanding Super Puma (13 orang vs 7 orang), tapi apakah ini sudah cukup untuk menjadi alasan untuk membayar biaya akuisisi yang juga $20 juta lebih mahal? 

Tidak hanya cukup disana; AW-101 masih membutuhkan investasi sekitar $5 juta lagi untuk menambah defense suite (FLIR, chaff & flare dispenser, dan laser warning system) ke helikopter VVIP ini.

Presiden Jokowi akhirnya mengambil keputusan untuk membatalkan rencana pembelian AW-101 ini, pada 3-Desember yang silam.


Tiga alasan penolakan presiden akan mempengaruhi, atau menentukan rencana akuisisi TNI di kemudian hari..