Sunday, December 25, 2016

News Update: Desember-2016


Kita sudah mendekati pengunjung tahun 2016, dan hari pertama di tahun 2017 sudah semakin mendekat.

Inilah News Update sepanjang Desember-2016, dan post terakhir tahun ini.

Tuesday, December 20, 2016

Meningkatkan Safety Record TNI-AU


Turut berduka cita. 

Kembali satu lagi pesawat TNI-AU yang mengalami kecelakaan di tahun 2016, setelah sebelumnya, baru 10-Februari yang lalu, satu EMB-314 Super Tucano (TT-3108) juga mengalami kecelakaan.

Penyebab kedua kecelakaan ini tentu saja berbeda.

Sebelum memulai mencari kambing hitam, seperti menyalahkan kalau C-130HS (A-1334) adalah pesawat hibah, dan sudah terlalu tua, atau dikarenakan jumlah anggaran TNI-AU kurang, mari terlebih dahulu memperhatikan daftar kecelakaan yang sudah dialami sejak tahun 2006.

Saturday, December 10, 2016

Mencapai MEF tahap II: 32 Gripen-E, dan 2 Erieye AEW&C

Credits: Saab

Apakah keunggulan utama Gripen, dibandingkan kedua produk Lockheed: F-16V, dan IF-X, ataupun Sukhoi Su-35?

Pesawat tempur Made by Saab, Swedia, adalah satu-satunya penawaran yang bukan versi export downgrade.  Semua kemampuan radar, flight mode, ataupun software akan tersedia penuh. Tidak ada yang dikurang-kurangi. Tidak akan ada yang dirahasiakan. Upgrade juga akan terjamin. Seluruh kedaulatan bangsa, tidak lagi dipegang Washington DC, ataupun Moscow, seperti sekarang, tetapi 100% seluruhnya akan berada di tangan kita.

Sudah saatnya kita berhenti bermimpi: Mustahil pesawat tempur versi export downgrade, akan dapat mengungguli pesawat tempur buatan Swedia, yang tidak pernah menemui pengurangan yang sama, dan sudah dirancang untuk menghadapi lawan manapun, baik yang stealthy, ataupun sekilas terlihat lebih unggul.

Ini membawa kita ke dalam keunggulan Gripen yang pertama sebagai pesawat tempur masa depan Indonesia:

Monday, December 5, 2016

Mencapai MEF tahap I: Menambah AIM-9X, AMRAAM C-7, dan Sniper targeting pod

F-16 Block-52 92902 - USA photo

Sudah saatnya kita berhenti berasumsi kosong kalau membeli lebih banyak pesawat tempur berarti meningkatkan "efek gentar" kemampuan pertahanan udara kita. 

Sistem akuisisi semacam ini hanya membuat kita menjadi bahan tertawaan negara lain. Kita hanya akan menyediakan lebih banyak target untuk bisa ditembak jatuh lawan, dibanding meningkatkan kemampuan secara nyata.

Mendahulukan tambahan missile, dan perlengkapan modern, jauh lebih penting dibandingkan mengejar pembelian "pengganti F-5E", yang sebenarnya tidak lagi kita butuhkan. 

Seluruh dunia tahu, kalau pesawat tempur manapun, efek gentarnya akan nihil tanpa adanya investasi di jam TRAINING, dan tanpa adanya PERSENJATAAN.

Mengingat missile untuk Sukhoi adalah dari tipe "monkey model" yang kemampuannya tidak akan bisa terjamin, sudah saatnya kita lebih mencurahkan perhatian, justru untuk terlebih dahulu memperlengkapi F-16.

Lagipula tidak seperti Sukhoi, yang persenjataan, atau spare part-nya pun akan harus selalu dibeli lewat agen perantara Rosoboronexport, semua transaksi untuk F-16 akan melalui program FMS (Foreign Military Sales); kontrak langsung Government-to-Government; yang tidak akan dicantoli komisi perantara.

Monday, November 28, 2016

R-77: Memahami kemampuan BVR missile Russia

Su-30SM at Hmeymim AB, Syria -- Russian MoD photo

R-77, atau izdeliye-170.

Sering disebut sebagai AMRAAMski atau tandingannya AMRAAM.

Pertama-tama harus diklarifikasikan terlebih dahulu; R-77, atau izdeliye-170 sebenarnya versi lokal dari missile ini. Versi yang diperbolehkan untuk negara lain, mulai dari India, PRC, Vietnam, Venezuela, Malaysia, Algeria, Ethiopia, dan Indonesia, adalah RVV-AE (izdeliye-190), alias versi export dari R-77.

Mungkin ini sekilas bukan sesuatu yang serius. U.S. juga belum mengijinkan penjualan AMRAAM-D ke negara manapun, kecuali sekutu terdekatnya, Australia. Apakah RVV-AE mungkin equivalent-nya hanya seperti AMRAAM C?

Perhatikan kembali ke foto November-2015 diatas, yang menunjuk ke dua Su-30SM AU Russia, yang beroperasi dari Hmeymim Airbase, di Syria, dan perhatikan baik-baik persenjataan yang dibawa!

Keduanya tidak membawa satupun R-77, bukan?

Keduanya membawa 2 R-73 infra-red WVR missile di pylon sebelah luar, 2 R-27 (AA-10 Alamo) Semi-Active-Homing, atau Infra-Red-Seeker di pylon sebelah dalam, dan 2 R-27 lagi ditengah-tengah antara kedua mesin. Disinilah kita menabrak kenyataan pertama.

Kenyataan Pertama: R-77 ternyata bukanlah BVR andalan Russia.

Friday, November 25, 2016

News Update: November-2016

Gripen-E 39-8 Ground Testing  (Credits: Saab)

Artikel ini akan menjadi fitur baru per mingguan, atau per dua mingguan dalam blog ini, yang memuat beberapa "News Update" dari perkembangan industri / pasar pesawat tempur.

Karena ini adalah edisi pertama, artikel akan menampilkan empat cuplikan dari laporan sepengunjung November-2016 ini. 

Sunday, November 20, 2016

Analisis: Kenapa proyek KF-X semakin mendekati ajal

Image: Korea Joongang Daily
Sejarah mengajarkan kalau setiap Military Development Project tidak hanya harus belajar untuk dapat melangkaui tantangan tehnisnya tersendiri. Lebih dari itu, setiap proyek, yang semakin besar, resikonya juga dengan sendirinya bertambah berkali-kali lipat, sebenarnya juga sangat tergantung kepada kestabilan politik, sosial, dan ekonomi dari semua pihak yang terlibat.

Tanpa adanya komitmen lebih lanjut dari pemerintah, proyek nasional tidak akan bisa berjalan. Kalau masyarakatnya sendiri semakin tidak antusias, dengan sendirinya tuntutan untuk membatalkan proyek ke pemerintah menjadi semakin besar. Kalau perekonomian semakin sulit, atau melemah, tidak akan ada uang yang bisa dianggarkan ke proyek. 

Artikel ini akan membahas bagaimana perkembangan pergolakan politik, sosial, dan ekonomi di Korea Selatan sepanjang tahun 2016 ini, tanpa sengaja sudah membuat proyek ini semakin hari terlihat semakin mustahil untuk bisa berjalan lebih jauh. 

Monday, November 14, 2016

Analisis: Kita tidak lagi membutuhkan pengganti F-5E

Rumor. Miskonsepsi. Mimpi. Emosi. Rhetorisme.

Semuanya sesuatu yang normal, yang selalu mewarnai setiap diskusi online, baik militer, ataupun tidak dimanapun juga di seluruh dunia. Yang paling parah, adalah saat dimana kita begitu terombang-ambing, sampai tidak lagi bisa membedakan antara hal-hal diatas, dari Realita, atau Kenyataan

Sebelum melaju lebih jauh, sekali lagi tarik nafas dahulu dalam-dalam, dan menjernihkan pikiran, sebelum kita membahas lebih jauh:

Kenapa negara kita sudah tidak lagi membutuhkan 
"pengganti F-5E"

Wednesday, November 9, 2016

News Update: Efek positif dari Presiden Trump

CNN Capture
Terlepas dari banyaknya kemungkinan negatif yang bisa terjadi, seperti sudah dilaporkan dalam banyak media massa setahun terakhir; sebenarnya ada beberapa hal positif dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden terpilih baru Amerika Serikat.

Sunday, November 6, 2016

Indo Defence 2016: Tawaran Kerjasama Saab

Saab stand @ Indo Defense 2016 (Gambar: Saab)

Dalam pameran Indo Defence 2016 (2 - 5 November-2016), hanya Saab, dan Lockheed-Martin yang penampilan stand-nya terlihat paling menonjol, dan juga paling gencar dalam penawaran pesawat tempur "pengganti F-5E".

Ini tidaklah mengherankan. Biar bagaimanapun, karena alasan ekonomis, Dassault, ataupun Eurofighter sebenarnya mengetahui kalau penawaran twin-engine Rafale, dan Typhoon mereka sebenarnya "long shot". Kecil kemungkinannya akan benar-benar diperhitungkan.

Demikian juga dengan Sukhoi.


Sunday, October 30, 2016

Dassault Rafale F3R vs Saab Gripen-E

Rafale-M (Credits: Anne-Christine Poujoulat/AFP)
Gripen E 39-8 (Credits: Saab)

Battle of Eurocanards

Menuliskan perbandingan ini lebih sulit, karena untuk pertama kalinya, kedua pesawat tempur disini bukanlah versi export, alias versi yang sudah di-downgrade seenak perut, baik oleh Washington DC, ataupun Moscow

India baru saja merogoh kantong US$6,2 milyar untuk pembelian 36 Dassault Rafale diluar proporsi biaya customisasi khusus India $1,9 milyar, dan persenjataan $800 juta; tanpa Transfer-of-technology. Sedangkan Saab baru saja membuat penawaran ke Indonesia, senilai $1,14 milyar untuk 16 Gripen-C. Supercruising Gripen-Echo yang jauh lebih modern, untuk estimasi kasar prediksi harga tertinggi akan jatuh sekitar 30% lebih mahal, atau sekitar $1,5 milyar, atau bisa lebih murah kalau membeli lebih banyak dari hanya 16 unit.

Terlepas dari kebutuhan Rafale India untuk dapat membawa senjata nuklir, pertanyaannya: 
Apakah $6,2 milyar untuk 36 Rafale, jauh lebih unggul dibandingkan 
(estimasi kasar) $3 milyar untuk 36 Gripen-E?


Monday, October 17, 2016

Simulation: How Gripen-E will win the next Air War

Credits: Stefen Kaln, Saab
All Gripen images are Saab copyright 
Blog ini sudah menyajikan kenapa Gripen-E adalah satu-satunya pesawat tempur modern, yang memenuhi semua persyaratan 21st Century Air Superiority Fighter: jauh lebih unggul baik dari segi kinematis, maupun semua aspek lain, dibandingkan semua pesawat tempur lain; baik yang dioperasikan di seluruh Asia Tenggara / Australia, ataupun dibandingkan dua pesawat versi export yang ditawarkan ke Indonesia.

Kalau kedua artikel sebelumnya, sudah menampilkan kenapa Gripen-E akan selalu berpotensi memenangkan setiap pertempuran udara, artikel ini berbeda:

Simulasi:

Bagaimana Gripen-E akan memenangkan perang udara, melawan lawan manapun.

Monday, October 10, 2016

Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960-an

MIG-21 AURI di tahun 1960-an
Gambar: TNI-AU
Surat kabar Kompas baru menuliskan bagaimana kekuatan TNI di tahun 1960-an sangat disegani. Banyak blog, ataupun komentar berita Indonesia tidak berhenti menjunjung tinggi, bagaimana kuatnya kekuatan udara Indonesia di masa itu.

Penulis sendiri pernah mendengar berita ini semasa kecil. Tentu saja, pernyataan ini menimbulkan rasa bangga, mengingat kelihatannya kekuatan kita terasa sangat lemah.

Akan tetapi... TUNGGU DULU!

Sekarang sudah Abad ke-21. Tahun 1960-an sudah berlalu hampir 50 tahun yang lalu. Sudah saatnya melakukan analisa secara lebih mendetail. Pernahkan kita bertanya: Apakah benar kekuatan kita dahulu kala itu begitu kuat?

Monday, October 3, 2016

Analisis: Dassault Rafale India; Apakah India akhirnya juga akan membeli Gripen-E?

Credits: Nicolas-Nelson Richard, AFP

Setelah melewati masa pemilihan pesawat tempur baru yang berlarut-larut sejak tahun 2001, dimulai dengan program MMRCA, India akhirnya berhasil menutup kontrak untuk pesawat yang seharusnya sudah tutup buku dari tahun 2012.

Sama seperti kontrak Eurofighter Typhoon untuk Kuwait yang sudah dibahas sebelumnya, pelajaran apa saja yang bisa kita ambil dari pengalaman India? 

Monday, September 26, 2016

Meluruskan beberapa miskonsepsi Sukhoi di Indonesia!

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi yang MAHAL tapi Inferior,
dan menggantikannya dengan satu-satunya pesawat yang memenuhi
Kebutuhan Indonesia!
(Gambar: Saab
)
Gripen-NG 39-7 demo model with 2 IRIS-T, 2 MBDA Meteor, 2 drop tanks, & 2 Paveway bombs: 
Persenjataan yang jauh lebih modern dibanding RVV-AE versi Kommercheskiy!
Sudah saatnya menguraikan beberapa mitos, atau miskonsepsi yang mendukung Sukhoi di setiap formil Indonesia!

Monday, September 19, 2016

Gripen-E, pengganti ideal untuk Sukhoi Su-27/30 Kommercheskiy Indonesia!

Gripen-C Formation in 2010 (Credits:Stefan Sundkvist)

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi Indonesia.

Kenapa tidak?

Ada banyak keuntungan secara strategis, finansial, dan industrial kalau Saab Gripen-E terpilih, tidak hanya untuk menggantikan F-5E, tetapi juga Sukhoi Su-27/30 Kommercheskiy.

Tuesday, September 13, 2016

Peresmian production aircraft Boeing T-X; 13-September-2016

Boeng T-X;  Credits: Bill Carey, AINonline

Move over T-50! .....Atau pesawat yang Assembled in Korea; Designed, Fully Source-coded, and controlled by Lockheed-Martin, USA!

Salah satu program development pesawat yang paling dirahasiakan saat ini akhirnya sudah diresmikan di pabrik St. Louis Boeing,  pada 13-September-2016; 

Yang paling menarik dari peresmian model ini sendiri, Boeing mengungkapkan kalau pesawat T-X yang mereka resmikan adalah production model, bukan prototype!

Ada beberapa alasan kenapa Boeing / Saab T-X akan berpeluang besar untuk merebut kursi terdepan dari Lockheed-Martin T-50 dalam program T-X United States, yang akan membutuhkan 350 pesawat latih baru untuk pengganti Northrop T-38 dalam dua puluh tahun ke depan:

Tuesday, September 6, 2016

Adolf Georgievich Tolkachev - Kenapa efek gentar SEMUA Sukhoi menjadi NOL BESAR!!

Su-30MK2 Indonesia -- Gambar: TNI-AU
Semua Sukhoi secara tehnis sudah kadaluarsa dari sebelum pertama terbang!

Adolf Georgievish Tolkachev adalah informan nomor satu Soviet untuk Central Intelligence Agency (CIA) United States antara tahun 1979 - 1985. Beliau bekerja di Phazotron Design Bureau, dan sudah membocorkan ribuan blueprint (CIA press release) dari hampir semua sistem radar, tehnologi pesawat, missile, bahkan sampai tahap awal pengembangan stealth Uni Soviet ke tangan militer Amerika Serikat, sebelum akhirnya tertangkap, dan di-eksekusi Soviet di tahun 1986.

Bukankah bocornya rahasia Soviet ini, hanya untuk tahun 1979 - 1985???

Sekarang sudah tahun 2016. Bukankah seharusnya Russia di jaman sudah pulih dari semua kebocoran ini?

Tom Cooper menuliskan dalam artikel di War-is-boring, bagaimana kekuatan udara Russia di jaman sekarang, sebenarnya belum pernah benar-benar bisa pulih dari "kebocoran" yang terjadi di tahun 1980-an awal ini. 

Untuk menggali lebih dalam..

Wednesday, August 31, 2016

Analisa: F-35 - pesawat yang salah konsep (Bagian II)

F-35C (US Navy Photo)

F-35C draggy jet yang terbang dengan membawa 6 pylon....(US Navy Photo)

"Eh, tunggu dulu, bukankah seharusnya ini pesawat stealth? Kenapa masih membawa senjata di pylon?"

"Begini ceritanya," para ahli dari group F-35 fanboys menjelaskan. "F-35 harus mempunyai kemampuan untuk membawa senjata di pylon, karena kalau pertahanan udara lawan sudah berhasil di-netralisir, F-35 harus dapat membawa lebih banyak senjata dari hanya 2 bomb yang bisa dibawa Conformal Weapons bay-nya!"

"Oh, begitu toh, jadi berguna pada saat F-35 sudah tidak lagi memerlukan stealth," jawab si Armchair Analyst, yang pengetahuannya masih awam, dan tidak mempunyai kualifikasi aeronautics, ataupun pernah bekerja sebagai pilot apapun, yang kemudian menanyakan pertanyaan awam berikut yang sewajarnya:

"... akan tetapi, bukankah ratusan F-16C/D, F-18E/F, ataupun F-15E yang sekarang ada sudah dapat melakukan tugas yang sama dengan biaya akuisisi per unit, dan biaya operasional per jam yang jauh lebih murah (dibanding F-35 Lemon II)? Belum lagi menghitung, bukankah F-18E/F dan F-15E; dua twin-engine fighters yang ukurannya lebih besar, dan jumlah pylon-nya lebih banyak akan dapat membawa lebih banyak bomb?"

.......(sunyi senyap).....

Lebih lanjut, saatnya membahas beberapa fundamental flaw lain dari F-35, yang akan sangat sulit untuk diperbaiki, dan walaupun milyaran dollar lagi dihamburkan, tetap saja tidak akan ada perubahan yang berarti.

Friday, August 19, 2016

Analisa: F-35 - pesawat yang salah konsep (Bagian I)

F-35A -- Credits: US Air Force Photo


Blog ini sudah membahas bagaimana armada gado-gado Indonesia yang sekarang hanya akan merugikan negara; anehnya, lebih banyak yang pro-Sukhoi, walaupun F-16 masih jauh lebih unggul, dan bagaimana kesemuanya ini hanya akan membuat TNI-AU kesulitan untuk mempertahankan pilot / staff  di Abad ke-21. 

Sekarang saatnya membuka lembaran baru analisis dalam blog ini:

F - 35

Semua pokok permasalahan F-35 sebenarnya bermula dari sesuatu yang sangat sederhana:
S T A R T I N G

C O N C E P T 

Yah, konsep awal. Untuk mengurai lebih lanjut...

Monday, August 15, 2016

TNI-AU akan kekurangan pilot, dan ground crew!

Gambar: Louise Levin/Försvarsmakten

Kekurangan Pilot, dan ground crew akan menjadi realita dalam Setiap Angkatan Udara.

CNN, pada 11-Agustus-2016 yang lalu, melaporkan bahwa kesulitan ini sudah mulai melanda USAF Amerika Serikat, yang melaporkan kekurangan 700 pilot di tahun 2016, sebelum menanjak ke 1000 pilot di tahun 2021. Dari jumlah ini saja, 551 adalah jumlah pilot untuk pesawat tempur.

Masalah utama yang disinggung dalam artikel CNN ini adalah:
Mulai terjadinya persaingan antara 
paket remunerasi Angkatan Udara pemerintah,
dan Commercial Airlines!

Semua airline di US sedang memulai me-recruit lebih banyak pilot, dan ground crew. Ini dikarenakan Airlines di sektor komersial akan menghasilkan UANG, tentu saja Angkatan Udara Negara, yang masih memakai paket gaji PNS, tidak akan mampu dapat mengajukan paket yang bersaing.

TNI-AU, yang koceknya jauh lebih tipis, 
tidak akan bisa kebal dari masalah yang sama!

Masalahnya tidak hanya berhenti di paket remunerasi pilot semata, tetapi untuk lebih dalam lagi:

Monday, August 8, 2016

Perbandingan F-16 Block-25+ (Block-52ID) vs Sukhoi Su-30MK2 Indonesia

Mana yang lebih unggul?
F-16 Block-25+ (alias Block-52ID versi DPR) vs Sukhoi Su-30MK2
Keduanya pesawat model export / kommercheskiy, alias model DOWNGRADE!
(Gambar: TNI-AU)

Kalau masih belum cukup,
Keduanya TIDAK AKAN memberikan keuntungan industri pertahanan lokal!
Bagian pertama dari analisa Armada gado-gado Indonesia sudah menuliskan bagaimana armada pesawat tempur yang sekarang (F-16 v Sukhoi) sebenarnya hanya sangat merugikan negara:
  • Untuk selamanya akan MUSTAHIL kalau kita dapat merancang-bangun sistem pertahanan udara yang modern, yang akan dapat menangkal lawan yang jumlahnya lebih besar, dan lebih kuat.
  • Armada gado-gado sekarang juga terlalu MENGHAMBURKAN UANG tanpa adanya efek gentar yang berarti. Baca: Tidak ada satupun negara lain yang takut!!
  • Fragmentasi armada pesawat tempur juga berarti TNI-AU akan kesulitan untuk menangani Regenerasi Training Staff / Pilot dalam jangka menengah-panjang. 
  • Terakhir, membagi armada antara kedua penjual pesawat tempur model export Ruski vs United States, sama seperti bermain dengan API! Mau lebih condong kemanapun juga, hanya tangan kita yang terbakar sendiri!
Sekali lagi, saat ini kita hanya mengoperasikan dua model pesawat tempur versi export, yang sudah di-downgrade oleh pembuatnya. Artikel ini sendiri akan menganalisa yang lebih spesifik dari polemik armada gado-gado Indonesia:


"Antara F-16 Block-52ID vs Sukhoi Su-30MK2,
mana memangnya yang lebih unggul??"

Thursday, August 4, 2016

Armada gado-gado Indonesia: F-16 v Sukhoi

Kenapa Delivery-nya saja berbeda?
F-16 Block-25+ dapat diterbangkan langsung dari US, dengan beberapa refueling stops, 

dan sedikit bantuan dari KC-10 Extender;

Sukhoi Flanker, harus selalu dipreteli dulu, 

diangkut didalam perut AN-124 buatan Ukraine, sebelum kemudian dirakit balik...
Jawabannya di akhir artikel ini!
(Gambar: TNI-AU)
Di tahun 2003, pembelian 2 Su-27SK, dan 2 Su-30MK; sebenarnya membuka lembaran baru dalam sejarah pertahanan udara Indonesia: untuk pertama kalinya sejak tahun 1960-an, akhirnya kita akan mulai mengoperasikan "armada gado-gado" dengan pesawat tempur buatan Barat v Timur. 

Kalau dipikirkan sekilas, kelihatannya ide memecah pembelian semacam ini memang menarik.

Bukankah kita jadi tidak bergantung hanya kepada satu supplier pesawat tempur saja? Anti-Embargo dong?

Sayangnya, ini adalah salah satu miskonsepsi lagi yang mendasar. Armada udara kita, dalam status quo yang sekarang, sebenarnya hanya akan SANGAT MERUGIKAN NEGARA, baik dari sisi Perencanaan Strategis, Kemampuan tempur, Finansial, ataupun Logistik.

Thursday, July 21, 2016

Presiden Jokowi: Pengadaan Alutsista Sesuai Kebutuhan, Bukan Keinginan!

Presiden Jokowi
(File photo: Antara News)
Pernyataan Presiden Jokowi (20-Juli-2016) dalam perihal pengadaan Alutsista, seperti sudah di muat dalam artikel di Antara News, Berita Satu, dan Merdeka.com; sudah menggariskan beberapa point yang sangat penting:
  • Harus direncanakan secara matang sesuai KEBUTUHAN, dan BUKAN menurut keinginan.
  • Memenuhi persyaratan hukum UU 16/2012, agar dapat mengarah 
    menuju langkah kemandirian, dan memaksimalkan manfaat Nasional!
  • Diberlangsungkan melalui skema transparansi yang terbuka!
Pernyataan Presiden terlebih lanjut, seperti dikutip Antara News: "Ubah Pola Belanja Alutsista menjadi investasi", menggarisbawahi beberapa point lagi yang berkaitan:
  • Transaksi HARUS melalui Government-to-Government, dan BUKAN lewat perantara, yang hanya akan memperkaya oknum tertentu, dan memperkeruh transparansi transaksi.
  • Pembelian Alutsista sifatnya HARUS memberi keuntungan investasi jangka panjang, baik secara strategis, ataupun industrial.
  • Kerjasama industrial melalui skema Transfer-of-technology, yang ditawarkan penjual, dan juga sudah digariskan sebagai keharusan dalam Pasal 43 UU no.16/2012, juga akan menjadi prioritas utama.
  • TAMBAHAN Komentar Presiden: "Tidak boleh lagi membeli pesawat tempur tanpa berhitung berkalkulasi biaya daur hidup alutsista tersebut dalam 20 tahun ke depan.


Tuesday, July 12, 2016

Den Haag Tribunal mendukung klaim Filipina: PRC tidak berhak mengklaim Laut Cina Selatan!

China's 9-dash line - mengklaim territorial laut Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei,
dan laut sekitar Natuna, Indonesia
(Gambar: BBC News)
Den Haag Tribunal (12-Juli-2016), seperti dilaporkan BBC, Reuters, dan CNN, akhirnya sudah memberikan keputusan resmi atas kasus yang diangkat Filipina ini:

"People's Republic of China (PRC) tidak mempunyai hak atas klaim territorial mereka di Laut Cina Selatan."

Setelah "kehilangan muka" di Den Haag, tentu saja CCTV, State Media pemerintah PRC, sudah dengan cepat mengumumkan kalau PRC akan menolak untuk mengakui sahnya keputusan tersebut

Keputusan ini tentu saja juga berlaku ke Indonesia. Sebagaimana sudah sering dilaporkan di media massa, sudah terlampau sering nelayan PRC yang memasuki wilayah laut di sekitar Natuna.  

Bagaimana tidak? Menurut PRC, bukankah mereka melakukan tindakan yang legal? Mereka tidak sedang melakukan penyusupan, karena kawasan Timur Laut dari Natuna, termasuk dalam "9-dash-line."

Situasi sempat memuncak pada tanggal 20-Juni yang lampau, ketika KRI Imam Bonjol, bahkan sampai harus membuat tembakan peringatan untuk menghalau 12 kapal "penyusup" PRC!

Tuesday, July 5, 2016

Pernyataan resmi: Swedia menawarkan 16 Gripen-C, dengan perakitan 6 unit di Indonesia!

Antara News (27-Juni-2016) melaporkan kalau Swedia telah mengajukan penawaran resmi  ke pemerintah Indonesia untuk akuisisi 16 Gripen C/D, atau Gripen-E; dengan penguasaan alih tehnologi yang lebih maksimal, melalui penawaran perakitan 6 unit di Indonesia! Nilai penawaran ini (UPDATE: Versi yang ditawarkan adalah versi C/D) boleh terbilang cukup ekonomis, hanya $1,14 milyar... dengan waktu delivery hanya 12 bulan setelah penandatanganan kontrak.


Sekali lagi, kembali patut digaris-bawahi, bahwa tidak seperti Sukhoi Russia yang akan selalu ditawarkan melalui perantara, penawaran Swedia ini kembali ditawarkan langsung dalam skema Government-to-Government contract yang terbuka, dan transparan! Kemungkinan adanya oknum manapun yang bisa memetik keuntungan pribadi dari transaksi ini NOL BESAR.

Gripen-C/D dengan MS-20 upgrade, yang menambahkan upgrade ke radar PS-05A Mark 4, dan kemampuan untuk membawa MBDA Meteor, sebenarnya kemampuannya sudah jauh lebih unggul, dan secara tehnologi beberapa generasi lebih modern dibanding semua pesawat tempur Indonesia versi export US dan Russia dewasa ini. Bahkan kemampuan versi C/D MS-20 sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan Su-35 Monkey Model Kommercheskiy, yang sudah jauh ketinggalan jaman.

Akan tetapi, apa yang akan kita butuhkan di masa sekarang ini adalah pesawat tempur yang dapat memenuhi persyaratan 21st Century Air Superiority Fighter. Kenapa mau berhenti di Gripen-C/D? Lebih baik rela menunggu satu-dua tahun lagi, dan membayar sedikit lebih mahal, agar kita dapat memperoleh pesawat tempur yang lebih Future-proof di masa depan. Pesawat tempur yang lebih memastikan Return-on-Investment jangka panjang yang jauh lebih maksimal untuk negara, dan rakyat Indonesia.

Gripen-E.

Wednesday, June 15, 2016

Gripen-E - 21st Century Air Superiority Fighter (Part 2)


Artikel bagian pertama sudah memperlihatkan kalau performa kinematis Gripen-E akan melebihi kebanyakan pesawat tempur yang operasional di Asia Tenggara. 

Untuk memenuhi persyaratan 21st Century Air Superiority Fighterkemampuan pesawat tempur tentu tidak bisa hanya terbatas pada performa kinematis, tetapi juga akan tergantung kepada kemampuan Sensors, Networking, Survivability, dan Weaponry. 

Berbeda dengan perbandingan satu lawan satu yang sebelumnya, artikel ini kembali akan menambahkan perbandingan dengan F-18F Australia, dan F-15SG Singapore, sebagai tolok ukur yang obyektif untuk masing-masing kandidat pesawat tempur masa depan Indonesia.