Wednesday, March 30, 2016

Twin-Engine Fighter LEBIH BAIK dibanding Single-engine fighter?? (Bagian 3)

Kenyataan 2#: Pesawat HEAVY Twin-Engine akan menjadi TARGET yang LEBIH BESAR (dan lebih mudah DITEMBAK)!

Lihat dalam targeting: F-22!
Berkat ukurannya yang bongsor, si pesawat termahal didunia SULIT menghindari "tembakan" 

dari Dassault Rafale.
(Link: The Aviationist) 

Melanjutkan perbandingan Single vs Twin-Engine ke babak selanjutnya, bahkan F-22-pun, berkat ukurannya yang besar (panjang 19 meter, dan lebar 14 meter); terbukti sulit untuk menghindari tembakan lawan dalam pertempuran jarak dekat! 

Gambar diatas diambil dari sistem OSF Infra-Red Search-and-Tracking Rafale, yang mempunyai jarak jangkau lebih dari 90 kilometer head-on, 150 kilometer dari belakang, dan 40 kilometer untuk identifikasi positif. 

Seperti sudah dibahas sebelumnya, pesawat HEAVY Twin-Engine tradisional di kelas Sukhoi Flanker, dan F-15 ternyata tidak bisa berakselerasi lebih cepat dibanding F-16, yang hanya Single-Engine Fighter.

Eurofighter Typhoon, Dassault Rafale, dan MiG-29, yang mengkombinasikan ukuran yang lebih kecil, dengan dua mesin (yang ukurannya juga lebih kecil), akan dibahas dalam artikel lain, karena masuk dalam kategori Medium-weight twin-engine fighter. Patut dicatat juga kalau keluarga F-5, walaupun twin-engine, sebenarnya termasuk ke dalam kategori Lightweight Fighter

Pesawat tempur dengan fitur stealth akan disinggung sedikit, tapi pembahasan lebih mendalam harus ditulis dalam artikel tersendiri. Lagipula, F-35, walaupun single-engine, sebenarnya tergolong Overweight Single Engine fighter, bukan Lightweight Single Engine seperti F-16, dan Gripen.

Tuesday, March 22, 2016

News Update: Singapore mengaktifkan Skuadron F-15SG LOKAL yang KEDUA

F-15SG (8320) termasuk versi yang paling modern di dunia
AN/APG-63v3 AESA Radar, TigerEye IRST, mesin GE F110-GE129 (29,400 lbf),
Link-16 MIDS-LVT, dan JHMCS Helmet-Mounted-Display,
Umur airframe bisa 32,000 jam (atau 5x lipat lebih lama dari Su-35!)
(Gambar: Mike Yeo)


IHS Jane's memberitakan kalau Singapore sudah menaktifkan kembali Skuadron-142 "Gryphon" dengan F-15SG. Sebelumnya Skuadron ini mengoperasikan A-4S Super-Skyhawk (Versi upgrade khusus buatan Singapore dengan mesin GE F404!), sebelum berhenti dioperasikan di tahun 2005.

Patut diketahui, dengan pengaktifan kembali Skuadron-142, Singapore kini sudah mengoperasikan TIGA Skuadron F-15SG:
  1. Skuadron-149 "Shikra" berpangkalan di Paya Lebar, AB, Singapore
  2. Joint US / Singapore 428th Skuadron yang berpangkalan di Mountain Air Force Base, Idaho, Amerika Serikat -- untuk tujuan training (dan contingency backup) bagi pilot F-15SG Singapore!
  3. ... dan terakhir, Skuadron-142 "Gryphon" yang baru saja dibentuk.


Berapa jumlah F-15SG yang dioperasikan Singapore?

Kenapa bisa tiga SKuadron?

Klaim PRC atas Laut Cina Selatan (LCS) -- Apakah artinya untuk Pertahanan Indonesia?

Kawasan LCS yang diklaim PRC - melanggar kedaulatan semua negara ASEAN
(Gambar: BBC)
Pada Senin, 21-Maret-2016 yang lampau, kapal Coast Guard PRC dengan sengaja "turun tangan" untuk membebaskan kapal nelayan Kwan Fey 10078, yang sudah tertangkap basah karena melakukan perikanan illegal. Tempo memberitakan lebih lanjut kalau kejadian ini, bukanlah yang pertama kalinya; sudah beberapa kali kapal Coast Guard PRC mencoba melakukan hal yang sama.

Bisa disimpulkan, kalau ulah Coast Guard PRC ini seperti memberi signal, kalau pemerintah PRC sendiri sebenarnya mendukung / melindungi perikanan yang illegal menurut hukum internasional ini. Bukankah wilayah disekitar Natuna itu, sebenarnya dianggap sebagai wilayah territorial PRC yang sah (lihat gambar di atas)? Menurut paham PRC, mereka hanya melindungi nelayan negara mereka sendiri untuk melakukan perikanan secara legal.


Apakah arti semua ini dalam konteks tantangan untuk pertahanan Indonesia?

Sunday, March 20, 2016

Twin-Engine Fighter LEBIH BAIK dibanding Single-engine fighter?? (Bagian 2)

Perbandingan F-15 dan F-16


Gambar diatas adalah representatif dari perbandingan dalam artikel ini. Apakah yang pertama kali menarik perhatian?

F-15 ternyata JAUH LEBIH BESAR dibanding F-16, bukan?

Seandainya anda mempunyai senapan, dan kedua pesawat di atas dapat dianggap hanyalah buruan; target mana yang akan lebih mudah untuk ditembak? 

Anda akan memilih menembak F-15, bukan? Hanya karena sasarannya lebih besar, dan dengan demikian tembakan anda lebih sulit untuk meleset.

Ini memang hanya perumpamaan sederhana, tetapi sayangnya, kenyataan yang sama juga dilihat setiap pilot dalam semua pertempuran udara sejak tahun 1939.

Untuk menggali lebih dalam lagi....

Thursday, March 17, 2016

Twin-Engine Fighter LEBIH BAIK dibanding Single-engine fighter?? (Bagian Pertama)

MITOS ATAU KENYATAAN ?!?

F-4E Phantom II: Pesawat yang memulai trend twin-engine fighter
(Gambar: Wikimedia)
Banyak Angkatan Udara, dan hampir 99% penghuni forum militer; tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia, sepertinya selalu berkesimpulan kalau pesawat tempur bermesin ganda (twin-engine) akan selalu lebih unggul dibanding single-engine.

Tapi apakah benar "Twin-engine" makes a better fighter than single-engine?"

Kenapa banyak orang bisa mencapai kesimpulan yang sedemikian? 

Apakah pernah terbukti dalam sejarah?

Apakah ada fakta pendukung yang jelas?

Monday, March 14, 2016

Akhirnya, Indonesia akan membeli AIM-120C7 AMRAAM dalam kontrak senilai $95 juta!

Dokumen DSCA 17-Nov-2011 memang sudah menuliskan bahwa F-16 Block-25+ Indonesia diperlengkapi dengan LAU-129A/A launchers untuk AIM-120 AMRAAM!!

Gambar: Wikimedia

Kebiasaan buruk dalam akuisisi setiap Alutsista Indonesia adalah pembelian platform secara 'kosong' alias tanpa perlengkapan support, atau persenjataan apapun. Paling tidak rencana pembelian AIM-120C7 AMRAAM senilai $95 juta ini akhirnya diajukan pada 10-Maret-2016, atau tidak terlalu lama setelah delivery F-16 Block-25 dimulai di tahun 2014.

Sampai saat ini, AIM-120C7 adalah versi AMRAAM yang paling modern yang available untuk export dari paman Sam. Akuisisi BVR missile modern ini akan menjadi salah satu langkah pertama Indonesia untuk memasuki era BVR Combat. AKAN TETAPI...

Sudah saatnya memperhatikan arti dari satu kalimat penting dalam dokumen DSCA yang sudah menyertai konfirmasi pembelian F-16 Block-25, kemudian juga AIM-120C7 AMRAAM, dan AIM-9X Block-2 pada 5-Mei-2015 yang silam:



Wednesday, March 9, 2016

Identification Friend-or-Foe (IFF) --- Fundamental Requirement for BVR Combat (II)

.....dan parahnya, sistem ini TIDAK DIMILIKI INDONESIA, akibat terlalu tergantung dengan US, dan Russia; yang sebenarnya "setali tiga uang"...

F-16D Block-52+ Singapore (RSAF) di tahun 2008 (Gambar: WIkimedia):
Perhatikan 
empat tonjolan di moncong pesawat (Lingkaran Merah)!
APX-113 IFF system, untuk membedakan pesawat kawan maupun lawan di udara!
SATUPUN TIDAK DIMILIKI F-16 ataupun Sukhoi Indonesia!

Post kali ini membahas satu lagi perlengkapan yang bahkan sampai sejauh ini TIDAK DIMILIKI (atau bahkan pernah dibahas) dalam modernisasi TNI-AU: Identification Friend-or-Foe System.

Kenapa sistem ini seharusnya menjadi standard di setiap pesawat tempur Indonesia?
Gambar: Cracked.com
Lihat TITIK yang ditunjuk panah merah di HUD pesawat tempur modern dalam gambar di atas? Itu adalah pesawat tempur lain. Bagaimana caranya membedakan kalau TITIK itu adalah kawan, atau lawan, dalam situasi konflik?

Waktu reaksi pilot hanya sepersekian detik untuk menentukan dia harus menembak, atau tidak!

Dan contoh di atas masih dalam jarak pandangan mata pilot (Within Visual Range / WVR), mungkin dalam jarak kurang dari 20 kilometer. Bagaimana kalau pilot melihat TITIK di radar, apalagi dalam BVR combat???

Thursday, March 3, 2016

Kenapa memilih Su-35 adalah KESALAHAN BESAR ( Bagian 2)

Pembelian Su-35 hanya akan SANGAT MERUGIKAN keuangan Indonesia





Seperti sudah dibahas sebelumnya, "Efek gentar" Su-35 yang katanya "bisa menandingi negara tetangga" sebenarnya hanyalah mitos belaka yang direkayasa media Barat, yang memang senang mencari ”rahwana”.

Su-35 memang adalah pesawat tempur paling modern yang bisa dibuat Russia dewasa ini, tetapi kenyataannya  BELUM TENTU pesawat ini akan dapat menandingi kemampuan F-15C/E, dan F-16C yang sudah hampir berumur 40 tahun lebih. Hanya karena keduanya sudah terus-menerus mendapat upgrade, dan umur airframe-nya tidak bisa kunjung habis. Apalagi, kalau kedua model ini juga mendapat dukungan TRAINING, dan SITUATIONAL AWARENESS CONTROL yang sudah proven, dan jauh lebih unggul.

Sekarang saatnya mengulas lebih dalam, 5 lagi alasan kenapa Su-35 hanya akan sangat MERUGIKAN NEGARA. 

Tuesday, March 1, 2016

Jangan meremehkan kebutuhan pesawat AEW&C di Indonesia!

Saat ini "TIDAK ADA AKAR, ROTAN PUN JADI!"

Kebutuhan pesawat AEW&C sebenarnya lebih penting dibanding tambahan pesawat tempur!

Boeing 737 2x9, produksi 1982,
Fungsi utamanya untuk MARITIME PATROL

tapi tetap dipaksa untuk menjadi "AEW&C" di saat penting!
(Gambar: Andrei Mihaila, Airliners.Net)

Menurut penulis, kebutuhan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) untuk membantu pengawasan wilayah udara Indonesia yang sedemikian luas, sebenarnya JAUH LEBIH PENTING dibandingkan kebutuhan: "Pengganti F-5E" di Skuadron-15 yang jauh lebih marak, dan lebih seru untuk diskusi.

Alasannya sederhana saja. Penambahan ke-24 F-16 Block-52ID hibah sebenarnya memberikan kesempatan untuk membentuk Skuadron-16 di Pekan Baru. Hal ini secara tidak langsung juga sudah memenuhi kebutuhan penambahan Skuadron / pesawat tempur Indonesia. Kalau melirik ke Madiun, pesawat LIFT T-50 yang baru saja "menghidupkan kembali" Skuadron-12, yang sebelumnya sudah sekarat, boleh dibilang juga sudah turut menggantikan F-5E di Skuadron-14. Ini tidak mengherankan, mengingat Lockheed-Martin sebenarnya mendesain pesawat ini khusus untuk pengganti pesawat latih T-38 (derivatif Northrop F-5) yang berkemampuan supersonic.

Sedangkan pesawat AEW&C? Kebutuhan ini sebenarnya sudah menjerit-jerit sejak bertahun-tahun yang lampau!

Pada Februari-2009 saja, pernah terjadi kasus dimana dua Su-30MK2 Indonesia tiba-tiba melaporkan kalau keduanya tiba-tiba sudah di-lock oleh mungkin "pesawat lawan". Lantas pesawat mana yang dikirim TNI-AU untuk membantu menyelidiki apa yang terjadi?

Ternyata tidak lain dari.... Boeing 737 2x9 Surveiller! 

Sampai sekarang, sebenarnya apa yang terjadi dalam kejadian Februari-2009 ini? Tidak pernah ada jawaban yang pasti? Tapi kesimpulan yang dapat diambil dari kejadian ini cukup jelas: