Wednesday, August 31, 2016

Analisa: F-35 - pesawat yang salah konsep (Bagian II)

F-35C (US Navy Photo)

F-35C draggy jet yang terbang dengan membawa 6 pylon....(US Navy Photo)

"Eh, tunggu dulu, bukankah seharusnya ini pesawat stealth? Kenapa masih membawa senjata di pylon?"

"Begini ceritanya," para ahli dari group F-35 fanboys menjelaskan. "F-35 harus mempunyai kemampuan untuk membawa senjata di pylon, karena kalau pertahanan udara lawan sudah berhasil di-netralisir, F-35 harus dapat membawa lebih banyak senjata dari hanya 2 bomb yang bisa dibawa Conformal Weapons bay-nya!"

"Oh, begitu toh, jadi berguna pada saat F-35 sudah tidak lagi memerlukan stealth," jawab si Armchair Analyst, yang pengetahuannya masih awam, dan tidak mempunyai kualifikasi aeronautics, ataupun pernah bekerja sebagai pilot apapun, yang kemudian menanyakan pertanyaan awam berikut yang sewajarnya:

"... akan tetapi, bukankah ratusan F-16C/D, F-18E/F, ataupun F-15E yang sekarang ada sudah dapat melakukan tugas yang sama dengan biaya akuisisi per unit, dan biaya operasional per jam yang jauh lebih murah (dibanding F-35 Lemon II)? Belum lagi menghitung, bukankah F-18E/F dan F-15E; dua twin-engine fighters yang ukurannya lebih besar, dan jumlah pylon-nya lebih banyak akan dapat membawa lebih banyak bomb?"

.......(sunyi senyap).....

Lebih lanjut, saatnya membahas beberapa fundamental flaw lain dari F-35, yang akan sangat sulit untuk diperbaiki, dan walaupun milyaran dollar lagi dihamburkan, tetap saja tidak akan ada perubahan yang berarti.

Friday, August 19, 2016

Analisa: F-35 - pesawat yang salah konsep (Bagian I)

F-35A -- Credits: US Air Force Photo


Blog ini sudah membahas bagaimana armada gado-gado Indonesia yang sekarang hanya akan merugikan negara; anehnya, lebih banyak yang pro-Sukhoi, walaupun F-16 masih jauh lebih unggul, dan bagaimana kesemuanya ini hanya akan membuat TNI-AU kesulitan untuk mempertahankan pilot / staff  di Abad ke-21. 

Sekarang saatnya membuka lembaran baru analisis dalam blog ini:

F - 35

Semua pokok permasalahan F-35 sebenarnya bermula dari sesuatu yang sangat sederhana:
S T A R T I N G

C O N C E P T 

Yah, konsep awal. Untuk mengurai lebih lanjut...

Monday, August 15, 2016

TNI-AU akan kekurangan pilot, dan ground crew!

Gambar: Louise Levin/Försvarsmakten

Kekurangan Pilot, dan ground crew akan menjadi realita dalam Setiap Angkatan Udara.

CNN, pada 11-Agustus-2016 yang lalu, melaporkan bahwa kesulitan ini sudah mulai melanda USAF Amerika Serikat, yang melaporkan kekurangan 700 pilot di tahun 2016, sebelum menanjak ke 1000 pilot di tahun 2021. Dari jumlah ini saja, 551 adalah jumlah pilot untuk pesawat tempur.

Masalah utama yang disinggung dalam artikel CNN ini adalah:
Mulai terjadinya persaingan antara 
paket remunerasi Angkatan Udara pemerintah,
dan Commercial Airlines!

Semua airline di US sedang memulai me-recruit lebih banyak pilot, dan ground crew. Ini dikarenakan Airlines di sektor komersial akan menghasilkan UANG, tentu saja Angkatan Udara Negara, yang masih memakai paket gaji PNS, tidak akan mampu dapat mengajukan paket yang bersaing.

TNI-AU, yang koceknya jauh lebih tipis, 
tidak akan bisa kebal dari masalah yang sama!

Masalahnya tidak hanya berhenti di paket remunerasi pilot semata, tetapi untuk lebih dalam lagi:

Monday, August 8, 2016

Perbandingan F-16 Block-25+ (Block-52ID) vs Sukhoi Su-30MK2 Indonesia

Mana yang lebih unggul?
F-16 Block-25+ (alias Block-52ID versi DPR) vs Sukhoi Su-30MK2
Keduanya pesawat model export / kommercheskiy, alias model DOWNGRADE!
(Gambar: TNI-AU)

Kalau masih belum cukup,
Keduanya TIDAK AKAN memberikan keuntungan industri pertahanan lokal!
Bagian pertama dari analisa Armada gado-gado Indonesia sudah menuliskan bagaimana armada pesawat tempur yang sekarang (F-16 v Sukhoi) sebenarnya hanya sangat merugikan negara:
  • Untuk selamanya akan MUSTAHIL kalau kita dapat merancang-bangun sistem pertahanan udara yang modern, yang akan dapat menangkal lawan yang jumlahnya lebih besar, dan lebih kuat.
  • Armada gado-gado sekarang juga terlalu MENGHAMBURKAN UANG tanpa adanya efek gentar yang berarti. Baca: Tidak ada satupun negara lain yang takut!!
  • Fragmentasi armada pesawat tempur juga berarti TNI-AU akan kesulitan untuk menangani Regenerasi Training Staff / Pilot dalam jangka menengah-panjang. 
  • Terakhir, membagi armada antara kedua penjual pesawat tempur model export Ruski vs United States, sama seperti bermain dengan API! Mau lebih condong kemanapun juga, hanya tangan kita yang terbakar sendiri!
Sekali lagi, saat ini kita hanya mengoperasikan dua model pesawat tempur versi export, yang sudah di-downgrade oleh pembuatnya. Artikel ini sendiri akan menganalisa yang lebih spesifik dari polemik armada gado-gado Indonesia:


"Antara F-16 Block-52ID vs Sukhoi Su-30MK2,
mana memangnya yang lebih unggul??"

Thursday, August 4, 2016

Armada gado-gado Indonesia: F-16 v Sukhoi

Kenapa Delivery-nya saja berbeda?
F-16 Block-25+ dapat diterbangkan langsung dari US, dengan beberapa refueling stops, 

dan sedikit bantuan dari KC-10 Extender;

Sukhoi Flanker, harus selalu dipreteli dulu, 

diangkut didalam perut AN-124 buatan Ukraine, sebelum kemudian dirakit balik...
Jawabannya di akhir artikel ini!
(Gambar: TNI-AU)
Di tahun 2003, pembelian 2 Su-27SK, dan 2 Su-30MK; sebenarnya membuka lembaran baru dalam sejarah pertahanan udara Indonesia: untuk pertama kalinya sejak tahun 1960-an, akhirnya kita akan mulai mengoperasikan "armada gado-gado" dengan pesawat tempur buatan Barat v Timur. 

Kalau dipikirkan sekilas, kelihatannya ide memecah pembelian semacam ini memang menarik.

Bukankah kita jadi tidak bergantung hanya kepada satu supplier pesawat tempur saja? Anti-Embargo dong?

Sayangnya, ini adalah salah satu miskonsepsi lagi yang mendasar. Armada udara kita, dalam status quo yang sekarang, sebenarnya hanya akan SANGAT MERUGIKAN NEGARA, baik dari sisi Perencanaan Strategis, Kemampuan tempur, Finansial, ataupun Logistik.