Monday, December 5, 2016

Mencapai MEF tahap I: Menambah AIM-9X, AMRAAM C-7, dan Sniper targeting pod

F-16 Block-52 92902 - USA photo

Sudah saatnya kita berhenti berasumsi kosong kalau membeli lebih banyak pesawat tempur berarti meningkatkan "efek gentar" kemampuan pertahanan udara kita. 

Sistem akuisisi semacam ini hanya membuat kita menjadi bahan tertawaan negara lain. Kita hanya akan menyediakan lebih banyak target untuk bisa ditembak jatuh lawan, dibanding meningkatkan kemampuan secara nyata.

Mendahulukan tambahan missile, dan perlengkapan modern, jauh lebih penting dibandingkan mengejar pembelian "pengganti F-5E", yang sebenarnya tidak lagi kita butuhkan. 

Seluruh dunia tahu, kalau pesawat tempur manapun, efek gentarnya akan nihil tanpa adanya investasi di jam TRAINING, dan tanpa adanya PERSENJATAAN.

Mengingat missile untuk Sukhoi adalah dari tipe "monkey model" yang kemampuannya tidak akan bisa terjamin, sudah saatnya kita lebih mencurahkan perhatian, justru untuk terlebih dahulu memperlengkapi F-16.

Lagipula tidak seperti Sukhoi, yang persenjataan, atau spare part-nya pun akan harus selalu dibeli lewat agen perantara Rosoboronexport, semua transaksi untuk F-16 akan melalui program FMS (Foreign Military Sales); kontrak langsung Government-to-Government; yang tidak akan dicantoli komisi perantara.




Menambah AIM-9X Block-2, AMRAAM C7, dan Sniper Targeting Pod

Kebutuhan Minimum persenjataan:
F-16A MLU Norwegia di atas Balkan, 1999
Membawa 4 AMRAAM, dan 2 AIM-9
(Gambar: Wikimedia)
Suka, atau tidak; F-16, walaupun hanya akan menjadi pesawat versi export downgrade, tetap saja adalah pilihan kedua terbaik Indonesia, diluar Saab Gripen, yang akan lebih menjanjikan kedaulatan nasional.
  • Biaya operasional F-16 akan jauh lebih terjangkau, dan kemampuan tempurnya akan lebih unggul dibandingkan pesawat inferior twin-engine IF-X, ataupun Sukhoi Flemon Kommercheskiy downgrade
  • Para pahlawan tehnisi TNI-AU juga sudah menguasai maintenance F-16, dan dapat membuatnya tetap aktif, bahkan semasa embargo US 1999 - 2005, tanpa pernah perlu menjalani "perbaikan mendalam"
  • Kemudian tidak seperti Russia, paling tidak Washington DC tidak menjual persenjataan versi export yang kualitasnya tidak karuan
  • Dan terakhir, pilot Indonesia sudah mengumpulkan pengalaman 30 tahun dengan F-16. Hampir mustahil pilot di Sku-11, yang terpaksa menunggangi Sukhoi yang kesulitan maintenance-nya seabrek, dan terlalu banyak "perbaikan mendalam", akan dapat mengungguli pilot Sku-03, atau Sku-16, yang memakai F-16; tipe yang tidak hanya jauh lebih modern, tetapi juga jauh lebih reliable.
Akan tetapi, mau sampai kapan kita akan menerbangkan F-16 dengan telanjang?

Pengajuan pembelian missile ke Washington DC sejauh ini, bahkan belum mencukupi untuk mempersenjatai 1 missile per pesawat.

Defense Security Cooperation Agency (DSCA) sebelumnya sudah memberikan persejutuan ke Indonesia untuk transaksi berikut:
  • 5-Mei-2015: Kontrak dengan estimasi total $47 juta untuk 30 AIM-9X Block-II missile, ditambah 20 Captive Air Training Missile (CATM), 2 CATM-9X-2 Block II Tactical Missile Guidance Units, 4 CATM-9X-2 Block II Guidance Units, dan 2 Dummy Air Training Missiles, termasuk biaya latihan, kontraktor, dan technical guidance.
  • 10-Maret-2016: Kontrak dengan estimasi total $95 juta, untuk 36 AIM-120C-7 AMRAAM, kembali, termasuk biaya spare part, training, biaya kontraktor, perlengkapan, dan technical support.

Kalau kedua transaksi ini sekilas terlihat mahal; yah, ini dikarenakan Indonesia belum pernah mengoperasikan kedua jenis missile modern ini sebelumnya. Nilai transaksi awal akan selalu dikenai dengan apa yang disebut biaya untuk Initial Provision Package; training, dan perlengkapan awal untuk memberikan kemampuan ke negara pembeli agar dapat mengoperasikan kedua jenis missile tersebut secara independent.

Follow-on order untuk kedua jenis missile ini, sudah pasti akan lebih murah, apalagi kalau dibeli dalam jumlah yang lebih besar dibanding kedua transaksi "macan ompong" di atas.

AIM-9X Block-II mempunyai estimasi unit price $603,817, tergantung jumlah pembelian. Seperti membeli cabe rawit, atau sayur bayam di pasar, tentu saja membeli lebih banyak unit, akan mempermurah harga satuan. 

AMRAAM C-7 untuk BVR Combat mempunyai estimasi harga satuan $1,2 juta per unitIronis memang, kalau BVR missile dengan active radar guidance, rata-rata harganya lebih dari 2x lipat dibanding WVR missile dengan IR-planar array seeker, padahal kemampuan kill-nya sendiri sebenarnya jauh lebih kecil.

Terlebih lanjut, Sniper XR targeting pod mempunyai estimasi harga $1,6 juta per unit. F-16 Block-25+ sudah di-wired untuk membawa targeting pod ini, tetapi seperti biasa, akusisi "macan ompong", berarti belum ada konfirmasi pembelian lebih lanjut.
F-16C Block-50 (unit 93552; produksi tahun 1996),
Sniper pod dibawah mesin, dan 2 wingtips AMRAAM
(Gambar: USAF, 2008)
Mengingat kita akan mengoperasikan antara 33 - 34 F-16C/D Block-25+ atau MLU upgrade dari Block-15OCU, secara realistis kita akan membutuhkan tambahan:
  • 70 AIM-9X Block-II missile; untuk 2 - 4 missile per pesawat + stock di gudang; dengan estimasi transaksi $42 juta.
  • 100 AIM-120 C-7 AMRAAM; kembali untuk sekurangnya 4 missile per pesawat + stock di gudang, dengan estimasi transaksi $120 juta.
  • 24 Sniper targeting pod; (tidak perlu untuk semua F-16); dengan estimasi nilai transaksi $38 juta.
Nilai total yang dibutuhkan agar F-16 Indonesia bisa memenuhi persyaratan mutlak untuk kondisi siap tempur, dengan demikian akan mencapai $200 juta, atau estimasi Rp 2,72 triliun, dalam asumsi kurs pertukaran US$ di angka Rp 13,600.

Inilah kebutuhan yang lebih mendesak untuk dapat mencapai tahap awal MEF, dibandingkan mencoba untuk mengejar "pengganti F-5E", yang kalau tanpa investasi persenjataan hanya akan menjadi akuisisi "macan ompong" tahap III.
Hentikan kebiasaan buruk ini:
Kalau mau mengejar ketinggalan, saatnya mulai setahap, demi setahap.
Mulailah dari menambah persenjataan / perlengkapan
bukan terus mengejar "macan ompong"


Penutup

Sekali lagi, secara basic; tanpa adanya investasi dalam TRAINING, dan PERSENJATAAN, tidak akan ada pesawat tempur. Kita hanya akan membuang-buang uang, tanpa mendapat hasil apapun.

Sudah saatnya kita menghentikan konsep "mengejar target" untuk mengoperasikan 10 Skuadron tempur, atau 180 pesawat. Mengoperasikan begitu banyak pesawat tempur akan berada di luar keterbatasan finansial, ataupun kemampuan tehnis negara kita, yang saat ini, bahkan mengoperasikan jumlah yang ada saja, masih jauh dari optimal. 

Kalau mengoperasikan jumlah yang sedikit saja, masih belum bisa lebih baik; mencoba mengoperasikan jauh lebih banyak dari jumlah hanya akan menggali lubang kekacauan yang jauh lebih mendalam .

Memang benar, F-16 Block-25+, atau paket MLU untuk Block-15OCU di masa mendatang, sampai kapanpun tidak akan memberikan kita kemampuan tempur yang optimal. Tetapi kalau mau meningkatkan penjagaan wilayah udara nasional secara lebih serius, dengan keterbatasan armada gado-gado yang sekarang ada; menambah AIM-9X, AMRAAM, dan Sniper adalah langkah yang tidak bisa terus-menerus ditunda.

Saab Gripen:
satu-satunya pilihan yang memenuhi persyaratan UU no.16/2012,
dan
akan dapat mempergunakan AIM-9X, AMRAAM, dan Sniper pod jauh lebih optimal,
dibandingkan F-16 versi export
(Gambar: Saab)
Tentu saja pembelian missile dari Washington DC, akan menjadi langkah yang baik untuk juga menutup buku, dan mulai mempensiunkan Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11 secara bertahap. Sangat menyedihkan melihat bagaimana pesawat Kommercheskiy ini yang secara tehnologi sudah ketinggalan jaman, tidak bisa dipersenjatai dengan baik, tetapi masih menghamburkan lebih banyak pengeluaran yang sia-sia. Lebih menyakitkan lagi, karena setiap transaksi dengan agen perantara Ruski, akan selalu dicantoli biaya komisi.

Setiap satu jam Sukhoi Kommercheskiy mengudara, sebenarnya sudah cukup untuk membiayai satu jam terbang untuk 7 F-16C/D, atau lebih dari 12 Gripen-C/E.

Patut dicatat juga disini, kalau industri pertahanan Ruski, bahkan sampai sekarang belum mempunyai kemampuan untuk memproduksi equivalent dari ketiga senjata ini; AIM-9X, AIM-120 C7 AMRAAM, apalagi targeting pod seperti Sniper. Tehnologinya saja belum mencapai kemampuan sebanding, dan tentu saja hanya tersedia dalam versi downgrade.

Sukhoi memang tidak pernah sesuai dengan realita kebutuhan, dan keterbatasan Indonesia.

Dalam beberapa tahun ke depan, akan lebih banyak lagi Sukhoi, yang akan membutuhkan "perbaikan mendalam", dan harus dikirim pulang. Akan lebih banyak lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli mesin AL-31F baru, yang memang akan cepat kadaluarsa beberapa ratus jam, atau rusak sendiri dengan sendirinya tanpa alasan yang jelas.

Jauh lebih baik, setiap unit Sukhoi berikutnya yang akan membutuhkan penggantian mesin, atau "perbaikan mendalam", secepatnya di write-off; dimulai dari TS-2701, dan TS-2702; yang sampai sekarang masih menginap di Russia.
Kenapa Su-27SK (TS-2701 & 2702) harus dipensiunkan:
Analog Cockpit kuno, dan tidak akan bisa di-upgrade
(Gambar: Wikimedia)
Setelah akhirnya keuangan negara dibebaskan dari pemerasan biaya operasional Sukhoi, tentu saja akan tercipta ruangan untuk langkah berikutnya dalam mencapai MEF: mencari pengganti Sukhoi, dan bukan F-5E. 

Jawabannya sebenarnya sudah jelas dari awal:

Pesan untuk Saab Indonesia:
Sudah saatnya mulai membuat penawaran resmi untuk Gripen-E;
Lockheed-Martin sedang sibuk mengiklankan kelebihan AN/APG-83 AESA radar,
yang saat ini "tidak ada tandingannya".

Topik selanjutnya:


44 comments:

  1. Fakta dari pespur membuktikan kita cenderung kebarat .
    Banyak yg berpendapat kalau kita beli rudal Dari amerika ( FMS ) ITU harus melalui senat Dan yg main . apakah kita diperbolehkan membeli banyak Dari Sana , super tucano saja juga bisa bawa aim 9. Toh kita perlu menumpuk rudal² tersebut.

    23 F16 ( 10 orders )
    24 Hawk 109/208
    15 Super tucano

    kita juga sudah membeli 6 sniper targeting pod, apakah ITU benar bung ?

    $ 500 juta kayaknya sudah lumayan buat saat INI ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ’ฐ๐Ÿ’ฐ buat nglengkapin biar tidak kosongan

    Untuk kedepan kita perlu gripen untuk menemani F16 kita, sebab gripen juga sudah Ada link 16 . tinggal F16 kita yg perlu dilengkapi dengan link 16 .

    Untuk sukhoi biar jadi aktor parade aja, terbang sekali event setaun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Endo,

      Lebih murah, bukan, dibanding mencoba buru2 membeli "pengganti F-5E"?

      Kalau memang serius, ya, seperti diatas: persenjatai dulu F-16, kemudian investasi di lebih banyak latihan tempur.

      ## Sukhoi sebaiknya dipensiunkan, karena sebenarnya menghisap terlalu banyak proporsi anggaran dibanding semua skuadron lain.
      Pengeluaran ini lebih baik dialihkan ke persenjataan / training F-16.

      ## Mempensiunkan Sukhoi akan membuat TNI-AU tiba2 juga akan "kaya mendadak", dan justru akan menyediakan ruangan finansial untuk membeli pespur baru......
      ..... yang kali ini sesuai dengan kebutuhan, dan pembuatnya akan turut membantu mengembangkan industri dalam negeri: Gripen.

      ## Tidak seperti sekarang, Gripen - F-16 akan menjadi dua platform yg compatible, dan dapat berbagi sistem training, persenjataan, dan perlengkapan yg sama.

      ## Untuk Sniper, sama seperti AMRAAM, dan AIM-9X diatas --- transaksi sudah disetujui, tetapi sepertinya belum di-eksekusi dari pihak kita.

      ## Program FMS itu berbeda dengan berurusan dengan Rosoboronexport.

      Seperti bisa dilihat; melalui FMS, sebenarnya AIM-120 C-7, dan AIM-9X sudah disetujui; dan keduanya tidak akan di-downgrade.
      ....akan tetapi kita belum akan diperbolehkan untuk mengakusisi AIM-120D, seperti Australia.
      Senjata sakral, seperti AGM-158 JASSM juga sudah pasti tidak diperbolehkan.

      Dengan Rosoboron, secara tehnis sih memang "kelihatannya" membeli apapun boleh... akan tetapi..... persenjataan harus versi export, kemampuannya tidak akan terjamin, harganya akan diketok mahal (ini sudah menjadi reputasi mereka di dunia), dan tentu saja... akan selalu dicantoli komisi perantara.

      Entah dari sudut pandang manapun, lebih baik berurusan dengan program FMS, dibanding Rosoboron. Transaksinya terjamin lebih transparan, dan dalam segi persenjataan, sebenarnya tidak ada yang "versi downgrade".

      Delete
    2. Saya Dari dulu suka sama pesawar F16 Dan dassault mirage 2000 . tak tau kenapa, tapi suka aja

      Kayaknya Dari tahun 2014 Tni Au tidak menambah jumlah armada / persenjataan mereka, semoga Dana tidak terbuang dengan sia².
      Semoga kedepanya pemerintahan kita lebih teliti Dan bijak ketika mengambil keputusan APA yg perlu dibeli. Semoga saja Indonesia tertarik dengan Saab gripen Dan komplotanya .


      Berandai bila kita punya Dana $ 10 milyar USD Dan bermitra dengan Saab , bukan hanya pembeli . Brazil yg dengan $ 4, sekian mendapatkan 36 gripen full senjata + tot + costumisasi + dripoduksi dalam Negri . Indonesia yg dikabarkan $ 1'14 milyard aja ditawari 16 gripen c/d ploduksi dalam Negri . setidaknya pikirkan penawaran INI Dari pada ambil 8 su 35 Dan persenjataanya yg export Dan tanpa TOT.

      Delete
    3. Begitulah, bung endo.

      Tidak hanya berhenti disana.

      Yang sering dilupakan orang, 1 Gripen akan bisa mengerjakan tugas yg sama dengan 8 Su-35.

      Alasannya sederhana.

      Setiap Gripen dapat menghabiskan waktu 19 jam di udara, setiap hari. Ini bahkan termasuk kemungkinan kalau mesinnya harus diganti dalam hari yg sama.

      Sukhoi (semua versi) hanya akan bisa mengudara 1x sehari, sebelum membutuhkan maintenance 40+ jam setiap jam terbang.

      Kalau 1 mesin Sukhoi rusak, dan ini akan cukup sering terjadi, kalau pesawatnya mengudara setiap hari, kiamat dah! Akan butuh waktu 4 hari untuk mengganti mesin. Itu juga dengan asumsi tehnisinya sama berpengalaman dengan tehnisi India, yg sudah terbiasa dgn Su-MKI.

      Jadi sementara 8 Su-35 akan sibuk diperbaiki setelah beberapa hari mengudara, 1 Gripen dapat menghampiri pangkalan Sukhoi, dan membom mereka satu per satu.

      Best value for money.

      Delete
  2. Min, mengapa waktu PD II dan awal perang dingin, alusista Timur terkenal murah dan reliable?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti sudah dibahas sebelumnya -- karena tempo doeloe,
      Soviet memproduksi sesuai kemampuan, dan keterbatasan mereka.
      Ini sebenarnya bukan kelemahan, sayangnya...

      ... Mereka juga terlalu terobsesi untuk mencoba "mengimbangi" US, yang basis tehnologinya juga jauh lebih modern, sehingga mereka sibuk menembak kaki sendiri.

      ## Untuk tank:
      T-34, T-55, T-62, dan T-72 jauh lebih sederhana, dan lebih murah; dapat diproduksi dalam jumlah puluhan ribu unit.

      Eh, dalam nama kecanggihan utk mengalahkan M1A2; mereka malah membuat Armata tank, yg sebenarnya terlalu mahal & terlalu rumit untk AD Russia sendiri sekarang.

      ## Untuk pespur:
      Kesalahan terbesar Soviet adalah kegagalan untuk mengganti MiG-21 lightweight single-engine yg lebih sederhana, dan dengan sendirinya lebih murah perawatannya.
      Spare part kalau cepat rusak di MiG-21 bukan masalah pelik, karena harganya juga lebih murah.

      Su-27, dan MiG-29 sebenarnya terlalu rumit, karena mereka terobsesi membuat twin-engine, tetapi kualitas part-nya tetap tidak berubah dari jaman MiG-21: "sekali pakai buang"
      Tentu saja, biaya operasional meledak, dan maintenancenya luar biasa sulit.

      Delete
    2. Kalo urusan Tank, TNI AD sebaiknya membeli T90, MCV buatan jepang.

      Tapi saya lebih suka MCV, karena bobotnya hanya 26 ton, meriam 105MM, tapi pake roda 8x8

      T90 bobotnya hanya 46 ton, lebih ringan ketimbang Leopard yg 62 ton, kalibernya 125mm. namun agak lambat karena kecepatannya 60km perjam

      Delete
  3. Indonesia itu sebenarnya ngejar apa. Liat di JKTGRTR kok ada artikel tentang pembelian Su-35 tapi tanpa missile malah dibilangnya ga pa pa, jangan konyol lah kalau fighter jet kita minim missile malah jadi sitting duck / flying coffin. Missile untuk F-16 kita aja masih kurang sekali ini malah aneh-aneh. Terus kalau artikel tentang alutsista Russia ngomongnya borong aja, bungkus aja, gak ada mikir-mikirnya itu kegunaan untuk apa. AU Indonesia tu butuhnya optimalisasi yang udah ada seperti missile nya, targeting pod, link device, ffi dan pengorganisasian yang tertata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar bung Thomas,

      Begitulah pola pikir terlalu banyak tipikal blogger / komentator di Indonesia:

      Yang penting mendapat barang yang diinginkan, tetapi kemampuan strategisnya bagaimana itu bukan masalah.

      Keinginan, bukan kebutuhan.

      Seharusnya pola pikir nasional kita mulai belajar untuk berubah.

      ## Kepentingan Nasional lebih penting daripada kepentingan penjual (versi export)

      Khususnya pemenuhan persyaratan UU no.16/2012, dan apakah supplier mau "go the extra mile" untuk turut membantu industri pertahanan lokal sepenuh hati?

      ## Keterbatasan finansial negara harus selalu menjadi prioritas: tidak ada tempat untuk Alutsista yang berbiaya operasional boros, dan cepat rusak.

      99,99% orang di Indonesia, kecuali beberapa Netizen seperti kita, sebenarnya tidak pusing Sukhoi, tetapi lebih mementingkan kebutuhan sehari2 <--- inilah yang akan menjadi prioritas utama pemerintah.

      ## Untuk pesawat tempur sebenarnya ada tiga komponen penting yang saling berkaitan. Kalau tidak bisa memenuhi satu saja dari ketiga ini, jangan pernah bermimpi bisa "mengimbangi" negara tetangga:

      1. Training harus bersaing
      2. Persenjataan / Perlengkapan harus lengkap (termasuk Networking)
      3. Harus bisa dioperasikan dalam satu sistem yang terpadu


      Inilah kenapa kalaupun Indonesia "diperbolehkan" mengoperasikan F-22, tetap saja hasilnya akan mubazir.

      Kita tidak akan pernah bisa mempunyai kemampuan untuk memenuhi ketiga hal diatas. Ini membawa kita ke kenyataan terakhir:

      ## Supplier Alutsista berikutnya (yang non-Versi export), harus bisa menjadi guru yang baik.

      Kita masih harus belajar banyak untuk bisa mengejar ketinggalan.
      Selama hanya bisa berkutat dengan memakai versi export downgrade, jangan berharap bisa maju lebih jauh dari sekarang!

      Kebutuhan Nasional, bukan keinginan

      Delete
  4. Strategi Seharusnya MEF1 buat TNI AU :
    1. pemensiunan Sukhoi secara bertahap.
    2. memborong 100 AIM9X, 160 AMRAAMC7, penambahan target pod, dan jammerpod. lewat FMS yg ajukan oleh AS, Harga perlengkapan pespur tersebut bisa lebih murah.
    3. sisa uang hasil beli persenjataan F16 itu juga dipakai buat upgrade 30 buah F16C agar setara dengan block 52 .

    buat MEF2nya :
    1. pembelian 36 pespur Saab Gripen E ToT
    2. Penambahan 6 pesawat AEW&C Erieye.
    3. pembelian ratusan missile RBS15, MBDA Meteor, dan MBDA IRIS-T ToT.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biar bagaimana MEF harus dilakukan bertahap, dan jangan diarahkan untuk "mengejar target 180 pesawat" seperti sekarang.

      Kemampuan sebarusnya dibangun secara internal dahulu; maksimalkan apa yang ada, baru kemudian mulai berpikir perlu jumlah tambahan atau tidak.

      Kalau kita membangun sistem modern berdasarkan trifecta Gripen-Erieye-Networking, yg dipadukan dengan talenta & kemandirian lokal, kita seharusnya tidak membutuhkan lebih banyak dari 4 Skuadron total.

      Delete
  5. "hampir mustahil pilot Sukhoi di Sku-11 akan dapat mengungguli pilot Sku-03, atau Sku-16"

    lol g takut nanti dimarahi pilot2 sku-11 bung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan salah pilotnya, bung irman!
      :D

      ...masalahnya tunggangannya yang super inferior.

      Hanya buang2 talenta saja di Sku-11, karena tidak seperti F-16, sampai kapanpun juga pesawatnya akan semakin jarang terbang.

      Para pilot justru layak mendapat tunggangan yang jauh lebih baik. Tentu saja yang bukan versi export.

      Delete
  6. Berita terakhir dengan permasalahan rongsokan export Russia:

    Mi-35P versi export TNI-AD akan mengikuti program "perbaikan mendalam" seperti Sukhoi
    Yang lebih mengherankan, kenapa juga masih menginginkan AN-26?
    Memang nasibnya akan lebih baik?

    Hm, kapan terakhir kali NAS-332, atau Bell-412 yang sudah bisa diproduksi lokal harus dikirim ke negara asalnya untuk "perbaikan mendalam"?

    Kelihatannya sudah saatnya memungkas alutsista buatan Moscow yang masih operasional di Indonesia secara bertahap.

    Hidup rongsokan versi export!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mi-35p yg ini usianya sudah berapa tahun bung

      Delete
    2. Bung irman,

      Dua unit pertama dibeli tahun 2003.

      Tiga unit berikutnya dibeli 2007, delivery Sept-2010.

      Tidak seperti Sukhoi, keluarga Mi-24 ini seharusnya lumayan bandel. Helikopter juga secara tehnis jauh lebih sederhana dibanding large twin-engine fighters. Banyak negara lain sepertinya bisa mengoperasikan tipe ini tanpa banyak masalah.

      Yang menarik, pernyataan Russia terlihat sangat profesional re support utk Mi-35 Indonesia.

      Lihat apa yg kurang?
      Mereka tidak pernah janji kalau di masa depan Mi-35 tidak akan membutuhkan "perbaikan mendalam" yang lain.

      Delete
    3. haha kalau di forum yg lain komen2nya 6 tahun dibilang memang sudah saatnya,kalau menurut saya sih terlalu cepat 6 tahun sudah overhaul

      Delete
    4. Kebutuhan overhaul barang Ruski siklusnya selalu puluhan kali lebih cepat dibanding kualitas Barat.

      Ini dikarenakan segala sesuatu memang tidak pernah bisa didesain untuk panjang umur.

      Yang menjadi masalah utama:
      Kenapa tidak bisa dilakukan sendiri di Indonesia?

      Kelihatan jelas kalau kita sudah dibodohin habis2an.

      Delete
  7. Oh ya bung, kalau membahas soal helikopter rakitan pt DI. Saya tertarik sama helikopter yg di costumizasi untuk anti kapal selam, ya walau bermitra dengan yg lain untuk proyek INI . apakah bisa juga untuk helikopter tempur ?


    ReplyDelete
    Replies
    1. AS565 memang sebenarnya dapat di-customisasi untuk helikopter serang ringan, yg dipersenjatai senjata mesin, roket, dan missile. Boleh dibilang lebih ideal untuk Indonesia, karena dari awal sudah dirancang untuk beroperasi di lautan.

      .... tetapi terlepas dari polemik Mi-35P, pemerintah SBY juga sempat tutup kontrak untuk AH-64E Apache.

      Helikopter ini bisa, tapi tidak pernah diperuntukkan untuk beroperasi di laut, melainkan untuk menghancurkan tank.

      Publikasi Australia ada yg sampai betanya dengan bingung:
      Kenapa Indonesia membeli Apache... dan tank Leopard?

      Kelihatannya lebih dimotivasi untuk membeli apa yg sudah dibeli tetangga dibanding melihat kebutuhan.

      Yah, untuk urusan helikopter kita sebenarnya mengoperasikan terlalu banyak tipe, terlalu gado2 dan armada yg ada sejauh ini masih kurang ideal.

      Akibatnya jelas: biaya akuisisi & operasional mahal, latihan jadi kurang optimal, dan efek strategisnya akan kurang jelas.

      Delete
    2. Saya peenah membaca soal apache yg mau diakusisi, Ada yg mengatakan apache type guardian yg diupgrade standard longbow tapi juga Ada yg mengatakan longbow. Kalau Chinook gimana kabar bung ?

      Malahan kayaknya kita butuh yg bisa personal Dan bisa dicantelin senjata,

      Delete
    3. Tambahan lagi buat gripen. Pemerintah swedia menyerahkan gripen ke Saab untuk didaur ulang.
      Pupus sudah untuk meminta hibah 2skuadron gripen C/D... Hihihi

      Delete
    4. Apache nilai kontrak $300 juta untuk 8 unit.

      Seperti biasa, kelihatannya beli kosong, karena nilai paket lengkapnya mnrt dokumen DSCA $1,4 milyar.

      Untuk Chinook, untungnya belum ada kontrak.

      Kembali, sy rasa sebaiknya akuisisi lebih diarahkan ke produk2 Eurocopter, mengingat PT DI sudah lama menjalin hubungan kerjasama license production.

      Dapat dimengerti kenapa baik produsen US, dan Ruski masih terus mencoba masuk, yah, karena semua orang tahu kita senang gado2.

      Delete
    5. 1 unit apache kira² $35juta usd , apakah ITU tidak terlalu mahal buat anggaran kita . ya memang betul apache sudah battle proven , harganya -+ sama dengan F16 hibah kita . apakah pesawat INI tidak bisa jatuh sehingga kita may beli pesawat ini ? Hanya lelucon

      Pt DI pasti mau untuk mengcostum fennec untuk jadi heli serbu ? Ya tidak sekuat apache, tapi ya lumayan ?

      Sudah pasti bisa untuk me maintenance sendiri

      Delete
    6. Masalahnya sekarang kelihatan pihak TNI boleh dibilang kurang cooperatif dengan industri militer lokal. Mereka senangnya beli import tanpa arahan yg jelas.

      Padahal mereka seharusnya bertanya dahulu --- kalau membutuhkan daftar spesifikasi tertentu; apakah produk license production lokal, seperti Fennec, atau Super Puma sudah bisa memenuhi?

      Mungkin tidak 100%, tetapi mengingat lebih dari 30% nilai transaksi toh dikembalikan ke keuangan negara, yah, harus ada kompromi.

      Bicara soal helikopter, masih ingat polemik pengadaan Augusta Westland AW-101 tahun lalu?

      Augusta-Westland baru tertangkap sudah menyogok di India agar produk mereka terbeli, dan ini sudah menjadi skandal:

      =======
      Link BBC
      =======

      Ex-kepala AU India, SP Tyagi, baru dipenjarakan karena kasus suap-menyuap ini.

      Inilah pelajaran: kenapa pejabat seharusnya tidak diperbolehkan main nego sepihak utk asal beli alutsista.

      Setiap transaksi harus dilakukan G-to-G, agar ada transparansi transaksi, dan kebutuhannya jelas.

      Delete
    7. Yap betul sekali, kita boleh import senjata Dari luar kalau kita dapat tot. Kiranya kita sudah bisa, ngapain kita import.

      Jadi next kita bisa saling tambal menambal yg kita butuhkan..
      PT DI Dari thn 1970an juga sudah melisensi nbo 105 bolkom, puma, superpuma DLL.

      Pt DI sudah bermitra lama dengan airbus, bahkan NC 212i katanya pt DI yg menangani. Ya memang hanya sekedar merakit ,ekarang hanya pesawat baling² . lah besok² kalau dikasih yg bermesin jet, tentu lebih indah kan... Yg jelas lebih hemat yg pakai propeller , qkwkwwk




      Delete
  8. kalo urusan heli tempur, menurut saya Masih bagus helikopter tiger made in Jerman-prancis dan Mangusta made in Italy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, kita sudah membeli Apache
      Baru mulai diantar Januari-2018.

      Boleh dibilang mengingat pembatasan tehnologi US, lebih baik memilih Eurocopter Tiger.

      Tetapi masalahnya kita sebenarnya tidak membutuhkan kedua jenis ini.

      Delete
  9. tapi ada artikel dari Kemenhan dan juga fansboy sukhoi di JKGR yg bikin saya kecewa.

    "Apabila Su 35 harganya mahal, Kita Bisa beli Su 27 dan 30 versi SM3 karena sama canggihnya dan harganya lebih murah,kalo senjatanya gampang aja. kalo gripen jaraknya hanya 800 KM, sedangkan sukhoi jarak tempuhnya 3800KM tanpa drop tank, kan beda jauh". mereka bilang

    indonesia masih menginginkan Su 35 sebagai pespur impian. karena :
    1. Indonesia ingin produksi Sukhoi bersama Rusia.
    2. jutaan masyarakat sangat mengidolakan sukhoi.
    3. Rusia Siap beri ToT kepada Indonesia.

    kalo heli mereka bilang, mereka menginginkan Heli Mi 26


    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, menyedihkan, sekaligus menggelikan.

      Terlalu banyak mimpi basah, kurang banyak minum kenyataan.

      Sayangnya, pertama, Su-27SM3 tidak akan tersedia untuk export.

      Mesin, radar, dan komputernya berbeda; khusus hanya untuk AU Ruski.

      ## Lagi2 jarak jangkau!

      Baik Gripen-E, yg kapasitas bahan bakarnya 40% lebih besar, ataupun F-16C/V sebenarnya jarak jangkaunya 4,000 km ferry range, dengan drop tank.

      Su-27/30 Kommercheskiy yang sekarang, tidak akan bisa terbang lebih jauh fari 3,000 km --- tidak bisa membawa drop tank.

      Su-35 jarak jangkau 4,500 km, dengan 2 drop tank. Hampir sama, bukan?

      Perbedaan Sukhoi vs F-16 & Gripen: tangki bahan bakar Sukhoi juga 4x lipat lebih besar. Untuk mencapai jarak yg sama, akan meminum 4x lipat lebih banyak bensin.

      Dalam kondisi tempur, baik F-16, atau Gripen jarak jangkaunya akan jauh melebihi Sukhoi, karena begitu harus mulai memakai afterburner, pesawat dgn draggy airframe ini tangkinya akan seperti bocor.

      ## Terakhir, sekarang saja masih masa "perbaikan mendalam". Mimpi sih boleh, tapi ToT dari Ruski, yg hanya menjual Kommercheskiy, tidak akan bisa terjadi.

      :D

      Kita lihat saja. Memang edukasi kenyataan itu susah untuk beberapa kalangan.

      Prospek kerjasama industri lokal mensapat nilai buntut, memperlihatkan rendahnya rasa kesaadaran nasional demi mengejar "keinginan palsu".

      Tapi sebentar lagi Sukhoi juga akan harus dipensiunkan.
      Seperti bisa dilihat jumlahnya semakin lama semakin berkurang, sedangkan anggaran APBN akan diperketat tahun depan.

      Delete
  10. Ini pikiran saya yang terlalu bombastis tapi ya kan MEF itu kan ada 3 kriteria: minimum, medium, optimum. Kok saya mikir mungkin Indonesia kalau mau optimum bener saat 2029, Indonesia menurut saya seharusnya harus sudah punya 6 skuadron Gripen E/F berikut 6 AEWC dari SAAB juga ratusan stok misil dari MBDA, 2 skuadron F-16 atau untuk politik dengan US bisa jadi ngembang jadi 3 - 4 skuadron dengan tambahan skuadron dari F-16 Block 60/61 E/F Viper berikut ratusan misil BVR Aim 120c dan WVR Aim 9x serta upgrade2 dari F-16 Block 25+ C/D dan MLU biar setara dengan F-16 Block 52. 1 skuadron latih T-50 ya biarin aja toh cuma buat latih sedangkan EMD super tocano ya ga pa pa lah kan bukan jet fighter ini dan cuma buat counter insurgency service. Sukhoi harus udah pensiun, Hawk 109/209 harus udah pensiun juga F-5 E/F, KFX/IFX coret aja lah, klau masih penasaran entar bikin sendiri aja tapi kerjasama nya sama SAAB tapi ya ngapain juga. Tapi mungkin pikiran saya udah terlalu melayang dan ngawang ngawang. Terima Kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksud saya harus sudah punya pas 2029 nanti, pengadaannya ya bertahap disesuaikan dengan anggaran APBN dam keadaan ekonomi.

      Delete
    2. O ya ga lupa. Pesawat tanker itu penting tu, kan kita cuma punya 1,itu pun gak kompatibel dengan F-16, dan khusus untuk AU dan Arhanud, tambahan national network link, BAMSE dan RBS-23 mungkin ToT, RBS-70 NG mungkin ToT, radar giraffe nya, terus anti ship missile yang bisa dioperasikan AL dan AU, RBS-15. Wah pokoknya luas banget lah mengenai SAAB.

      Delete
    3. :D

      Sekali-kali kita bermimpi sedikit boleh kok!

      Paling tidak kita setuju kalau praktek mengoperasikan armada gado2 seperti sekarang harus dihentikan.

      Saat ini dalam dunia nyata saja kita seperti bermimpi sembari jalan kalau membayangkan kombinasi F-16 - dan gado2 Su-27SK/SKM - Su-30MK/MK2 akan bisa efektif kalau menghadapi ancaman luar.

      Kebutuhan nyata kita sebenarnya adalah pembangunan sistem yg modern terlebih dahulu.

      Kalau kita mempunyai sistem yg baik, kita tidak akan merasa kekurangan jumlah seperti sekarang.

      Kalau kita tidak mengambil tawaran kerjasama dengan Saab, tidak akan pernah ada sistem yang baik.

      Tidak ada yg mau mengajarkan.

      Selamanya kita akan terjebak permainan armada gado2 Washington DC, vs Moscow -- dengan barang2 rongsokan downgrade mereka.

      Untuk selamanya tidak akan pernah ada ToT, atau kemandirian secara strategis, atau industrial.

      Keduanya lebih tertarik hanya untuk menjual barang, atau mengungguli penjualan dari pihak yang lain. Selama armada kita gado2, keduanya senang, dan kita yang rugi.

      Yang jelas, kita akan membutuhkan arahan yg baik untuk bbrp tahun ke depan, agar dapat merdeka dari semua belenggu penjajahan di atas.

      Untuk MEF, 2 Skuadron Gripen-E, dan 2 Erieye dahulu sudah cukup.

      Ini saja kemampuan pertahanan idara kita sudah akan meningkat ratusan kali lipat, meskipun kita mungkin belum bisa membeli MBDA Meteor.

      Delete
  11. https://news.detik.com/berita/d-3366734/imparsial-desak-dugaan-skandal-pembelian-sukhoi-hingga-rudal-mlrs-dibongkar

    yah mungkin inilah resikonya beli alutsista lewat perantara,resiko markup korupsi dll sangat besar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, memang kontrak harus dilakukan G-to-G.

      Kalau tidak, ya penjual tidak hanya akan mark-up ke negara,
      Berapa pejabat biasanya juga akan mendapat pesangon.

      Delete
  12. ada berita brazil batal beli 36 Gripen E. apa benar ato hoax?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hoax.

      Kontrak Brazil sudah ditutup final kok, sebelum pergolakan politik/ekonomi disana skrg.

      Brazil sudah tidak bisa mundur dari kontrak.

      Delete
  13. bagi AU india, hanya buah mirage 2000 yg selalu siap terbang,su 30 MKI Hanya 50% Saja, mirage 2000 bagi mereka Masih lebih superior ketimbang Su 30 MKI

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setelah India nanti mulai mengoperasikan Rafale, nanti baru mereka akan benar2 menyesal sudah membeli MKI sebanyak itu.

      :)

      Lebih penting lagi, dengan demikian prospek kemajuan industri Ruski akan semakin mundur.

      Delete
  14. Itu, President Korea Selatan di impeach sama parlemen barusan baca di BBC,apa ini akhir dari proyek KFX/IFX ? Bener analisis admin dari berminggu-minggu sebelumnya President Park Geun Hye bakal turun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Keinginan politik utk meneruskan proyek hanya akan semakin meredup. Belum tentu presiden berikutnya mau ambil pusing dgn KF-X. Belum tentu parlemen Korea jyga masih terus membiayai.

      Kemudian ekonomi Korea sebenarnya juga sudah dibangun diatas banyak hutang corporate, dan hutang pribadi setiap rumah tangga.

      Kalaupun masih ada kemauan, kemampuan finasial-nya juga akan mulai hilang.

      Delete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete