Tuesday, October 17, 2017

IF-X dan Su-35: Antara Mimpi, Korupsi, dan Downgrade

Realita: F-16 lebih unggul dari Su-35, atau IF-X Gambar: TNI-AU

Silahkan membaca semua artikel, atau blog, dan kita akan melihat tiga persamaan ini dalam setiap subyek Su-35K atau IF-X!

Yang paling berbahaya dari antara ketiganya ini adalah MENJUAL MIMPI.

Bukan berarti bermimpi itu salah. Yang menjadi masalah disini seberapa jauh dari kenyataan, bagaimana mimpi itu sendiri bisa membawa kita ke suatu surga yang indah di awang-awang. Menjual mimpi itu mudah. Realita akan selalu jauh lebih pahit.

Kedua, KORUPSI.  

Artikel ini tidak membicarakan korupsi finansial dari kedua proyek mercusar ini; keduanya masalah penyelidikan KPK, dan penuntut umum di Korea. Apa yang akan dibahas disini adalah bagaimana keduanya akan menjadi korupsi generasi masa depan, korupsi kesempatan membangun industri pertahanan lokal, korupsi secara sistem pertahanan, dan yang paling parah, korupsi kedaulatan nasional .

Terakhir, dan tidak bisa dipungkiri lagi karena mimpi akhirnya bertabrakan dengan kenyataan; DOWNGRADE yang adalah suatu kepastian yang tidak akan pernah bisa ditawar dari kedua opsi mimpi ini.

Tuesday, October 10, 2017

Memahami Konsep BVR Combat (Bagian 1)

Meteor development test on Gripen   Credit: Saab

BVR combat bukanlah konsep yang mudah, ataupun murah yang bisa didapat dari sembarang membeli pesawat tempur.

Setiap pesawat tempur modern HARUS mempunyai kemampuan BVR, tetapi belum tentu dua jenis pesawat yang berbeda, performanya akan sebanding walaupun menembakkan satu jenis missile yang sama.

Setiap jenis BVR missile sendiri mempunyai guidance system yang berbeda, jarak jangkau, dan kemampuan efektif yang berbeda. Misalnya, membandingkan R-77, atau RVV-AE versi export sebagai equivalent dari missile AMRAAM adalah suatu pemahaman yang sangat keliru.

Artikel bagian pertama ini akan membahas terlebih dahulu semua jenis guidance dalam BVR combat. Artikel berikutnya akan mendalami lebih lanjut kesulitan, dan tantangan dalam pertempuran BVR, dan artikel terakhir akan membahas kenapa performa setiap pesawat tempur akan berbeda, walaupun memakai BVR missile jenis yang sama. 

Monday, September 25, 2017

Produksi lokal Gripen: Menggantikan IF-X

Gripen 39-7 with Neuron UAV   Credits: Pia Ericcson / FMV
Seperti baru saja dilaporkan Defense News, 23-September-2017 dari Helsinki, Swedia; mulai dari sekarang:
Kita tahu kalau tawaran Saab ke Indonesia sudah mengajukan perakitan 6 unit dalam kontrak $1,14 milyar. Tawaran inilah yang akan menjadi model untuk semua tawaran Gripen berikutnya. Untuk Indonesia, sejauh ini belum ada yang berani memberikan penawaran yang sama. 
Patut dicatat disini kalau belum tentu setiap negara pembeli Gripen akan mempunyai fasilitas dirgantara yang memadai untuk memulai produksi lokalnya sendiri. 

Inilah peluang emas untuk kita bisa mencapai kursi terdepan dalam membangun kembali pertahanan udara Indonesia, tidak hanya secara strategis, tetapi juga melalui penyerapan alih tehnologi, dan peningkatan kemampuan industri lokal. Inilah peluang terbaik kita untuk mengembalikan kedaulatan nasional, melalui partisipasi PTDI, yang terus-menerus diterbengkalaikan dalam setiap akusisi alutsista udara dalam 20 tahun terakhir.

Produksi lokal Gripen berpotensi untuk menggantikan efek gentar nihil dari penghisap uang di Sku-11, dan rencana pembelian skema barter yang "menguntungkan"

Tidak hanya disana, proyek ini juga berpeluang untuk menggantikan potensi kerugian dari proyek korupsi KF-X (Korea Times, 24-Juli-2017), yang sekarang sudah berada dalam proses penyelidikan Kejaksaan Korea sendiri.

Friday, September 15, 2017

Memahami Arti "Kedaulatan atas Alutsista"

Gripen 39-08 Credit: Saab

Apakah perjuangan kemerdekaan itu baru dimulai dari 17-Agustus-1945? 

Ini keliru. 

Semuanya diawali dari bangkitnya kesadaran nasional sebagai titik pemersatu seluruh Indonesia. Perjuangan kemerdekaan kita sebenarnya dimulai dari  20-Mei-1908 dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo. Inilah pertama kalinya kata "Indonesia" menjadi identitas bangsa kita yang satu. Tentu saja, sejak tahun 1908, dan kemudian 1945, perjuangan ini sendiri tidak pernah usai.

Berkaitan dengan ini, sekarang kita dihadapkan kepada dua pilihan sederhana antara Gripen vs pesawat tempur "favorit pejabat" Su-35K. Pertanyaan disini sebenarnya sangat sederhana.

Apakah masih mau terus menikmati penjajahan supplier asing? 

Ataukah.... apakah kita sudah siap untuk merdeka sendiri, dan memperoleh kedaulatan atas pertahanan udara kita sendiri?

Sudah saatnya kita membangkitkan kesadaran nasional yang sama dalam menjunjung kedaulatan pertahanan udara Indonesia yang mandiri, yang berada di tangan rakyat, dan bukan di tangan supplier asing, ataupun para perantara mereka. Masa depan pertahanan udara Indonesia untuk 50 tahun ke depan ada di tangan kita, dan jangan biarkan pihak lain mencoba merampasnya.

Sunday, September 3, 2017

Kasus Su-22 Syria menunjuk pentingnya diversifikasi jenis Missile

F-18E firing flares over Afganistan   Wikimedia: USAF Photo

Masih ingat kasus penembakan Su-22 AU Syria (versi export dari Su-17) oleh F-18E Super Hornet pada 19-Juni-2017 yang lampau?

Su-22 versi export ini memang tertembak jatuh dengan missile AMRAAM-C; akan tetapi ternyata.... Sukhoi Syria ini sempat berhasil mengecoh AIM-9X yang ditembakan pada jarak 800 meter, dengan melepaskan flares....?

Eh, bukankah seeker AIM-9X seharusnya bisa mencuekin flare?

Missile jarak dekat (WVR) AIM-9X seharusnya mempunyai probability Kill yang jauh lebih tinggi dibandingkan AMRAAM; sedangkan missile AMRAAM dalam kasus ini sendiri ternyata ditembakan dari jarak dekat (WVR), sama seperti prosedur F-4C/D/E Phantom II dengan Sparrow missile dalam perang Vietnam.

Apa yang terjadi?

Artikel ini akan sekaligus menjawab kenapa jauh lebih penting untuk mengutamakan diversifikasi missile, dibanding mengutamakan armada gado-gado berantakan dengan jenis persenjataan yang terkunci dari satu supplier doang.

Friday, August 25, 2017

Wednesday, August 16, 2017

Apakah keuntungan Nasional dari pembelian Su-35?


Pertanyaan ini adalah hak rakyat.

Semenjak dari 5 tahun yang lalu, sampai sekarang, sudah terlalu banyak mendengar seruan "Kita harus membeli Sukhoi!" yang bergema berulang-ulang di media massa, seolah-olah semuanya sudah bersalin rupa menjadi agen sales untuk Rosoboronexport.

Tetapi semenjak 5 tahun yang lalu sampai sekarang, kecuali untuk memenuhi keinginan spesifik, kita belum pernah mendengar jawaban apapun dari pertanyaan seperti judul artikel:

Apakah keuntungan Nasional  yang bisa didapat dari mengakuisisi Su-35K Model downgrade?

Produsen pesawat tempur manapun, seperti dalam kompetisi di India, Switzerland, dan di Brazil, seharusnya terlebih dahulu dapat membuktikan seberapa besar keuntungan yang dapat diserap secara lokal, bahkan sebelum bisa membuktikan kemampuan tempur barang yang mereka jual.

Wednesday, August 9, 2017

MoU barter Su-35K... irasional, dan memalukan!

Betapa malang nasibmu!  Credits: PTDI
PT Dirgantara Indonesia (Indonesian Aerospace)
Hari kemenangan besar untuk para oknum pro-perantara, yang memang senangnya beli import, tanpa memperhatikan industri lokal!

Seperti baru diumumkan di BBC Indonesia, pada 8-Agustus-2017 ini, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan Rostec, Perseroan agen perantara "state intermediaries" untuk pemerintah Russia, baru saja menandatangani MoU yang menyepakati transaksi barter untuk membeli 11 Su-35 "monkey model" atau variant export downgrade

Panglima Besar Jendral Sudirman, dan para pahlawan perang Kemerdekaan Era 1945 - 1949 akan menangis dalam kubur mereka kalau mendengarkan berita ini. Ironis, karena menjelang perayaan 17-Agustus-2017, untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ketujuh puluh dua tahun, ternyata negara kita tercinta ini masih begitu bodoh untuk mau mengabdi ke penjajahan supplier asing.

Wednesday, August 2, 2017

Radar vs RWR dalam Pertempuran Udara


Artikel ini akan membahas berbagai tipe radar pesawat tempur, dan musuh terbesar mereka dalam pertempuran udara: Radar-Warning Receiver (RWR).

Secara basic, cara kerja radar pesawat tempur sama seperti pemancar radar di airport, mengawasi wilayah udara dalam jarak pandangnya, dan mencari obyek lain di udara. Radar pesawat tempur kemudian menambah kemampuan untuk men-tracking (mengunci arah, dan posisi) lawan, dengan tujuan menghabisi lawan tersebut dengan BVR missile.

Di pihak lain, setiap pesawat tempur modern juga sudah membawa Radar-Warning-Receiver. RWR memberikan kesempatan untuk pilot menghindari, atau mengalahkan BVR missile lawan. Dalam versi Defense Suite modern, ya, RWR juga mulai dapat men-trinangulasi posisi lawan hanya dari arah gelombang radar yang mereka pancarkan.

Hal ini tidak pernah perlu terlalu diperhitungkan sampai tahun 1970-an, karena toh baik radar, ataupun BVR missile di masa itu masih terlalu primitif. Tetapi seperti sudah dibahas sebelumnya, bagaimana Source Code akan menentukan kemampuan pesawat tempur, sekarang adalah Abad ke-21; evolusi keduanya sudah meningkat puluhan kali lipat, dan semakin tergantung kepada Source Coding.


Wednesday, July 19, 2017

News Update Juli-2017

2nd Test Flight Gripen   Credit: Stefan Kalm

News Update Juli-2017. Update singkat, sebelum membahas Radar vs Defense Suite; pertempuran elektronik tidak terlihat di Abad ke-21.

Friday, July 14, 2017

Source Code: Kitab Suci pesawat tempur

Gripen 39-8 at Saab's Linköping facility  -- Credit: Saab

Perhatikan terlebih dahulu cara kerja tubuh anda sendiri, seperti misalnya, proses mengambil nafas!

Pada saat anda menarik nafas, anda akan menghirup udara melalui hidung, atau mulut. Kontraksi diafram akan menarik masuk udara ke dalam paru-paru. Di dalam paru-paru, oksigen kemudian di-transfer ke dalam sel-sel darah merah, dan berbarengan dengan itu, karbon dioksida yang sebelumnya dibawa sel-sel darah merah tersebut dipindahkan kembali ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan kembali saat kita menghembukan nafas. Sementara itu, sel-sel darah merah dipompa ke dalam jantung, yang kemudian mensirkulasikannya ke seluruh tubuh, dan mengkoleksi balik karbon dioksida untuk dihembuskan keluar.

Semuanya ini berlangsung automatis. Anda tidak perlu berpikir, atau belajar untuk bernafas, atau bagaimana caranya mengolah makanan. Seluruh tubuh anda sudah mengatur semua proses ini secara alamiah sejak anda lahir.

Source Code pesawat tempur adalah jutaan baris programming line yang tersembunyi di dalam internal computer menentukan SEMUA FUNGSI dalam pesawat tempur modern, sama seperti bagaimana tubuh kita bekerja dengan sendirinya. 

Tanpa source coding untuk fly-by-wire system, pesawat modern (tidak hanya pesawat tempur) bahkan tidak bisa lepas landas, berbelok, ataupun bermanuever di udara. Dewasa ini, komputer sudah melakukan jutaan perhitungan dalam setiap pesawat tempur setiap detik, untuk memastikan segala sesuatu bekerja semestinya. Apalagi untuk kemampuan tempurnya.

Tanpa ada Source Code, tidak akan ada pesawat tempur modern. 

Seberapa jauh negara bisa memegang kontrol atas source code pesawat tempur akan menentukan kepemilikan pesawat itu sendiri.

Tuesday, June 13, 2017

Kenapa Akuisisi Su-35K Versi Export akan "sangat menguntungkan"

Su-35S with R-27    Credit: Vitaly V kuzmin
Fakta: AU Russia tidak pernah mengoperasikan missile R-77,
melainkan missile kuno R-27, buatan pabrik Artem, Ukrania

Ada beberapa pernyataan menarik pada 12-Juni-2017 ini, mengenai kemungkinan akuisisi Su-35 Versi Export, seperti dikutip Kompas, dan Tribun News.
  • Russia dikabarkan akan membangun pabrik spare part untuk Sukhoi, dan karena itu Sukhoi tidak perlu lagi dikirim ke Russia untuk diperbaiki
  • Kontrak akan melibatkan barter, dan akan dilakukan G-to-G, tidak ada perantara.
Sayangnya, kedua pernyataan ini sangat berlawanan dengan pengalaman India dalam bertransaksi dengan Russia. Ini walaupun India adalah customer mereka yang terbesar, paling penting, dan paling setia sejak tahun 1960. Yah, India mengimport 70% alutsista mereka dari Russia, dengan nilai total akuisisi mencapai lebih dari $5 milyar per tahun, mempunyai banyak kabar gembira re akuisisi 277 Su-30MKI mereka:
Defense News, 22-Maret-2017
Apa yang didapat India dari akuisisi 277 Su-30 MKI,
bukan 10 Su-35K
Padahal Rosoboronexport, menurut amanat Presiden Russia sendiri adalah agen perantara resmi transaksi alutsista Russia. Mana pernah ada Government-to-Government deal yang langsung untuk transaksi pembelian senjata buatan Russia?
Rosobornexport HARUS menjadi "state intermediaries" (Perantara)
untuk semua penjualan export senjata Ruski.

Tentu saja "komisi perantara" disini sifatnya relatif.
Tidak akan terjamin dibawah 5%.
Defence Aerospace Link
Tetapi mungkinkah ada strategi tersembunyi dibalik pernyataan yang kelihatan bertolak belakang dengan kenyataan ini?

Apakah mungkin akuisisi Su-35K, justru akan sangat menguntungkan Indonesia?

Thursday, June 8, 2017

News Update: Berita buruk dari KF-X, dan Su-35

Su-35S Local Version in Syria - Credits: Russian MoD
Apakah masih merasa berkukuh untuk terus mendukung model export downgrade Su-35K, dan KF-X sebagai pesawat tempur Indonesia terbaik di masa depan, yang akan bersedia memenuhi semua kebutuhan, dan tantangan nasional dengan setulus hati?

Kabar gembira.... karena berita-berita buruk dari sumber-sumber resmi mengenai kedua model ini hanya akan terus semakin bertambah banyak semakin hari. 

Mari memperhatikan beberapa berita update dari kedua pesawat "keinginan semu" ini, kembali dari beberapa sumber berita resmi.

Saturday, June 3, 2017

Analisa: Kenapa Swedia harus terus mengoperasikan Gripen-C

Gripen-C MS20  Gambar: Saab
.... sampai lebih lama dari tahun 2026.

Saat ini renstra untuk Flygvapnet Swedia hanya akan memberi keterbatasan alokasi anggaran untuk mengoperasikan Gripen-C sampai tahun 2026, sebelum ke-60 Gripen-E akan sepenuhnya menggantikan armada 100 Gripen-C/D yang sekarang. 

Kolonel Magnus Liljegren, dalam pernyataannya di Stockholm, 8-Mei-2017, menyatakan kalau Flygvapnet sedang melihat opsi untuk mengoperasikan 73 Gripen-C sampai melewati tahun 2026, termasuk 24 Gripen-D twin-seater sebagai trainer untuk pilot Gripen-E di kemudian hari. Kolonel Liljegren menyebut lebih lanjut kalau kemungkinan alokasi anggaran akan disetujui untuk mengoperasikan Gripen-C lebih lama dari rencana semula.

Berikut beberapa alasan logis, kenapa Flygvapnet harus mempertahankan lebih lama dari tahun 2026.

Monday, May 29, 2017

Skandal AW101 (3): Kenapa pemerintah harus menuntut REFUND

Credits: Widodo S. Jusuf / ANTARA / POOL / 17
MSN-50248 - barang bukti transaksi illegal tanpa seijin pemerintah, atau DPR
(Widodo S. Jusuf/ANTARA/POOL/17)
Sebagaimana dilaporkan dalam Detik News, dari hasil penyelidikan bersama antara Kepolisian, BPK, PPATK, KPK, dan TNI sendiri, kasus AW101 akhirnya secara resmi dinyatakan sebagai kasus korupsi alutsista, dengan penetapan tiga tersangka.

Dengan demikian, kasus AW101 yang sudah kekacauannya memuncak sejak Januari-2017 yang lampau, walau sebenarnya sudah dimulai dari sejak November-2015, sudah semakin mendekati babak final. 

Hanya saja.... belum ada yang berani menyebut, apakah yang akan bisa kita lakukan dengan unit MSN-50248 yang sekarang disegel di salah satu hanggar bandara Halim Perdanakusuma?

Tuesday, May 16, 2017

Su-35 Kommercheskiy vs F-35A Versi Export

Su-35S hard landing in KNAAPO
Damaged F-35 from burnt out engine -- USAF Photo
Menurut versi tulisan Carlo Kopp, dan Peter Goon, yang dituliskan berulang-ulang dalam website terkenal mereka, Ausairpower.net, dan terlalu sering di-copas tanpa pemikiran lebih lanjut ke terlalu banyak artikel blog di Indonesia; F-35 bukanlah tandingan Su-35S.

Yah, Su-35S. Bukan versi export Su-35K yang tersedia untuk negara pembeli lain.

Australia berencana membeli 75 F-35A versi export, dan sudah meneken kontrak untuk 14 pesawat pertama. Entah kenapa, walaupun pengalaman pahit mengoperasikan Su-Kommercheskiy di Sku-11 yang "cinta perbaikan mendalam", pembelian akan selalu lewat perantara yang akan merugikan negara 30%, dan kemungkinan Rosoboron untuk dapat memenuhi persyaratan UU no.16/2012 adalah mustahil.... laporan dari Jane's masih mengkonfirmasikan negosiasi antara Kemenhan, dan Rosoboron mengenai kemungkinan akusisi Su-35K.

Google search; dan hampir semua artikel tentang F-35, kecuali yang sumbernya 100% dari Pentagon, atau Lockheed-Martin, akan selalu mengkritik pesawat ini terlalu mahal, terlalu berbermasalah, dan tidak kunjung selesai. Google search Su-35, dan kebanyakan artikel Barat akan selalu memperbandingkan pesawat efek gentar nihil ini sebagai "reference threat" yang paling mengancam semua AU NATO, apalagi F-35 Lemon II.

Sudah saatnya menyuntikan sedikit realita dalam perbandingan kedua pesawat ber-suffix -35 ini.

Thursday, April 27, 2017

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi Kommercheskiy (Versi Export) Indonesia

Gambar: TNI-AU
Sewaktu masih bisa terbang
Sukhoi Su-30MK2 dengan nomor registrasi TS-3009, sebagaimana dilaporkan dalam Tribun News,  baru saja mengalami kecelakaan satu mesin hancur, yang mungkin diakibatkan "bird strike", ketika sedang mengudara dalam acara gladi bersih sebelum peringatan HUT TNI-AU pada 7-April-2017 yang lalu. 

Selamat kepada kedua awak TNI-AU; Letkol Pnb Anton Pallaguna dan Lettu Pnb Ahmad Finandika, yang berhasil memendaratkan kembali TS-3009 ke bandara Halim Perdanakusuma!
Seperti dikutip dalam TribunNews
Sejauh ini belum ada laporan lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi. 

Letkol Anton sendiri mengaku tidak bisa melihat apakah benar mesin pesawatnya sudah terkena "bird strike". Yang pasti apa yang sudah terjadi adalah, mesin sebelah kiri TS-3009 terbakar sewaktu mengudara pada ketinggian 700 - 800 kaki. Letkol Anton menghitung sampai ada lima ledakan di mesin sebelah kiri, dan mesin kanan-pun mulai mengalami fluktuasi.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar terjadi "birdstrike"?

Yang lebih penting lagi, pertanyaan ini di akhir artikel: 


Berapakah biaya perbaikan Sukhoi TS-3009 kelak?

Monday, April 17, 2017

Analisis: Konsekuensi Serangan Umum 7-April-2017

US Navy Photo

"Malam ini, saya telah memerintahkan serangan militer atas pangkalan udara Syria, darimana sebelumnya serangan senjata kimia mereka diluncurkan," demikian pengumuman Presiden Trump, sebagaimana dilaporkan CNN Internationalbeberapa jam setelah serangan tersebut. "Akan sangat penting untuk keamanan Nasional United States untuk mencegah profilerasi, dan penggunaan senjata Kimia, yang sangat mematikan."  

USS Ross (DDG-71), dan USS Porter (DDG-78) meluncurkan 59 Tomahawk missile untuk menghantam Shayrat Airbase, dari pemerintah Assad, di Syria. Tujuannya seperti yang diumumkan Trump, adalah sebagai konsekuensi dari serangan senjata kimia (Link BBC) pemerintah Assad, yang sudah menewaskan 80 warga sipil Syria.

Artikel ini akan menganalisa, bagaimana serangan ini hanya dalam sekejab, sudah langsung menuai berbagai konsekuensi, baik secara politik, ataupun strategis, dalam peta percaturan dunia internasional, yang sekarang berpusat di perang saudara Syria.

Wednesday, April 5, 2017

Bagaimana "Logika Hollywood" mempengaruhi Alutsista

Lucasfilm - Starwars

Kedengaran konyol?

Artikel ini akan melihat bagaimana logika "Hollywood" (Hollywood logics), yang sebenarnya hanya menjual mimpi, mempengaruhi / meracuni tidak hanya pemikiran kita, tetapi juga mempengaruhi desain beberapa alutsista, dan Renstra di banyak negara.

Saturday, March 25, 2017

Sunday, March 19, 2017

Mendefinisikan ulang pengertian "Efek Gentar"

Credits: Saab

Erich Hartmann, pilot Jerman yang berhasil menembak jatuh 352 pesawat sepanjang Perang Dunia II, sudah memberitahukan rahasia dari semua kemenangannya:

"Delapan puluh persen (80%) dari pesawat lawan yang saya tembak jatuh, 
TIDAK PERNAH melihat pesawat saya."

Delapan puluh persen.

Formula yang dipakai Hartmann adalah: See-Observe-Attack-Reverse. Melihat lawan terlebih dahulu, mempelajari lawan, menyerang; dan terakhir, disengage dari konflik, dan mengamati kembali apa yang sudah terjadi. Seperti bisa dilihat, Hartmann selalu menguasai medan tempur, sedang lawan tidak. Hartmann tidak pernah tertembak jatuh lawan, dan setiap lawan yang tertembak jatuh, tidak pernah mempunyai kesempatan besar untuk bisa menang.

Superior Situational Awareness.

Tidak seperti di tahun 1940-an dipraktekkan Erich Hartmann seorang diri, dewasa ini "Efek gentar" akan ditentukan oleh Empat faktor utama, yang akan saling mendukung satu sama lain. 

Thursday, March 9, 2017

Skenario Sistem Pertahanan Indonesia di Natuna V1.02

(Semua nama & karakter dalam skenario ini fiktif, bukan yang sesungguhnya)

Pukul 01:03 pagitahun 203x
Pesawat Globaleye AEW&C registrasi AI-9011, callsign Eye-03 yang mengudara 50 kilometer 20 derajat Timur laut dari pulau Natuna Besar, sedang melakukan patroli udara rutin. Akhir-akhir penjagaan di sekitar Natuna memang sudah diperketat. Berbagai asset laut, dan udara secara bergantian mengawasi perairan Laut Cina Selatan selama dua puluh empat jam. 

Di dalam lambung pesawat, Letnan Satu Budi Parikesit untuk sesaat hampir saja tertidur, ketika tiba-tiba komputer dihadapannya memberi signal peringatan.

Radar Erieye ER melaporkan ”multiple boogies” dari jarak deteksi maksimum. Hanya membutuhkan sepersekian detik sebelum Erieye processing unit mengklarifikasi jumlah, dan formasi lawan. Dua puluh empat target dari arah Timur Laut; terbang rendah pada ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut, dalam formasi yang rapi. 

Wednesday, March 1, 2017

News Update Februari-2017

RAAF EA-18G Growler  Credits: RAAF Photo
Sementara menunggu artikel penggunaan Gripen di Natuna, untuk menangkal aggressor; saatnya memperhatikan beberapa perkembangan berita di bulan Februari-2017.

Tuesday, February 21, 2017

Skandal AW101 (2): Mengarahkan Akuisisi Alutsista untuk Kebutuhan Nyata

Credits: Eurofighter

Membicarakan AW101, kenapa gambarnya Eurofighter Typhoon Austria?

Kasus Austria ini sebenarnya serupadengan skandal AW101 di Indonesia. 

Pada 16-Februari-2016 ini, pemerintah Austria mengajukan gugatan senilai 1,1 milyar Euro ke Airbus, dan Eurofighter Gmbh. 

"Austria tidak akan pernah membeli Typhoon di tahun 2003, kalau Eurofighter tidak pernah melakukan prosedur penjualan secara illegal," menurut MenHan Austria, Hans Peter Doskozil. Apa yang dimaksudkan disini adalah memberi pesangon "kickback" ke pejabat Austria. Yah, pesawatnya sih terbeli, dan kelihatan indah. Sayangnya, sama seperti AW101, hanya untuk menjadi monumen kasus korupsi yang menghamburkan uang negara.

Artikel sebelumnya, sudah membahas bahwa tindakan preventif pertama untuk menghindari kasus seperti AW101, adalah melalui transparansi Government-to-Government contract, dan bukan melalui transaksi "bawah tangan" langsung antara pejabat dengan salesman langsung dari pabrik, atau melalui agen perantara. 

Tidak kalah pentingnya, kita harus mulai lebih memperhatikan Kebutuhan Nasional.

Presiden Jokowi sudah menyatakan kalau akuisisi Alutsista harus menurut kebutuhan, dan bukan keinginan. Disinilah problemnya mulai merebak di Indonesia. Setiap pihak mempunyai idenya sendiri apa yang menurut mereka adalah suatu "kebutuhan", atau boleh dibilang, kita tidak bisa membedakan akuisisi menurut kebutuhan, atau keinginan.

Inilah salah satu faktor lain, kenapa kasus AW101 ini bisa terjadi, dan kenapa dikemudian hari, bukan tidak mungkin akan terus terulang. Bukan tidak mungkin bahkan, kekacauan akuisisi yang berikutnya akan lebih mahal dibandingkan polemik Eurofighter Typhoon di Austria.

Sekarang, bagaimana caranya membedakan Kebutuhan, dan Keinginan?

Tuesday, February 14, 2017

Skandal AW101: Sudah saatnya mendisiplinkan akuisisi Alutsista Indonesia

Credits: Widodo S. Jusuf - DetikNews

Bagaimana bisa helikopter AW-101 MSN 50248 dalam konfigurasi VIP, bisa tiba-tiba diantar ke Halim Perdanakusuma, kalau kontraknya sudah dibatalkan sejak Desember-2016 yang lalu?

Flights Fleet Analyzer dari Flightglobal menunjuk kalau transaksi AW101 berjumlah 3 unit sudah ditandatangani sebelum 24 November-2015. Yah, ini walaupun waktu itu, baik Presiden Jokowi, maupun Komisi I DPR sudah menolak mentah-mentah proposal TNI-AU untuk mengakuisisi AW101.

Kelihatannya, ada yang sudah menandatangani kontrak atas nama Republik Indonesia, tanpa pernah mendapat persejutuan pemerintah / Komisi I DPR.

Nilai transaksi ini juga terlihat overinflated (terlalu mahal), seharga $55 juta, atau Rp 725 milyar, dari estimasi harga kosong (tanpa paket training / customisasi) $27 juta.

Tentu saja, kasus penggelembungan harga yang sama sudah pernah terjadi di tahun 2010, dimana harga 6 Su-30MK2 versi export downgrade, dari list price $48 juta menjadi melambung naik ke $54 juta. Transaksi ini menurut estimasi ICW merugikan negara Rp1,5 triliun. Kalau belum cukup, TS-3006 yang dari transaksi ini, tidak sampai 3 tahun kemudian, sudah harus pulang mudik untuk menjalani "perbaikan mendalam"; dan menambah kerugian negara. Kasus ini tentu saja masih belum terselesaikan.

Sudah saatnya kita mulai memperbaiki pola akuisisi miring, yang akan sangat merugikan negara seperti kedua contoh diatas.  

Monday, February 6, 2017

News Update: Awal Februari-2017


Sejak News Update 23-Januari, sampai minggu pertama Februari-2017 ini, tanpa disangka cukup ramai dengan beberapa berita menarik dalam perkembangan industri military aviation.

Tuesday, January 31, 2017

Analisa: Kemampuan S-400 Triumf

Bagian dari S-400 Triumf System di Latakia, Syria
(Gambar: Russian MoD)

Sebelum memulai, patut diingat dahulu, kalau kemampuan S-400, yang biasanya diiklankan adalah untuk versi lokal. India baru saja menyetujui rencana akuisisi sistem ini (belum kontrak), seperti bisa tebak, dalam bentuk Versi Export; dimana akan ada perbedaan radar, dan jenis missile yang diperbolehkan.

Berikut analisa berdasarkan sumber pengetahuan umum, kenapa seberapapun hebatnya, S-400 sebagai referensi SAM system yang paling modern di dunia, tidak akan bisa menggantikan pesawat tempur dalam pertahanan udara.