Tuesday, June 20, 2017

Tuesday, June 13, 2017

Kenapa Akuisisi Su-35K Versi Export akan "sangat menguntungkan"

Su-35S with R-27    Credit: Vitaly V kuzmin
Fakta: AU Russia tidak pernah mengoperasikan missile R-77,
melainkan missile kuno R-27, buatan pabrik Artem, Ukrania

Ada beberapa pernyataan menarik pada 12-Juni-2017 ini, mengenai kemungkinan akuisisi Su-35 Versi Export, seperti dikutip Kompas, dan Tribun News.
  • Russia dikabarkan akan membangun pabrik spare part untuk Sukhoi, dan karena itu Sukhoi tidak perlu lagi dikirim ke Russia untuk diperbaiki
  • Kontrak akan melibatkan barter, dan akan dilakukan G-to-G, tidak ada perantara.
Sayangnya, kedua pernyataan ini sangat berlawanan dengan pengalaman India dalam bertransaksi dengan Russia. Ini walaupun India adalah customer mereka yang terbesar, paling penting, dan paling setia sejak tahun 1960. Yah, India mengimport 70% alutsista mereka dari Russia, dengan nilai total akuisisi mencapai lebih dari $5 milyar per tahun, mempunyai banyak kabar gembira re akuisisi 277 Su-30MKI mereka:
Defense News, 22-Maret-2017
Apa yang didapat India dari akuisisi 277 Su-30 MKI,
bukan 10 Su-35K
Padahal Rosoboronexport, menurut amanat Presiden Russia sendiri adalah agen perantara resmi transaksi alutsista Russia. Mana pernah ada Government-to-Government deal yang langsung untuk transaksi pembelian senjata buatan Russia?
Rosobornexport HARUS menjadi "state intermediaries" (Perantara)
untuk semua penjualan export senjata Ruski.

Tentu saja "komisi perantara" disini sifatnya relatif.
Tidak akan terjamin dibawah 5%.
Defence Aerospace Link
Tetapi mungkinkah ada strategi tersembunyi dibalik pernyataan yang kelihatan bertolak belakang dengan kenyataan ini?

Apakah mungkin akuisisi Su-35K, justru akan sangat menguntungkan Indonesia?

Thursday, June 8, 2017

News Update: Berita buruk dari KF-X, dan Su-35

Su-35S Local Version in Syria - Credits: Russian MoD
Apakah masih merasa berkukuh untuk terus mendukung model export downgrade Su-35K, dan KF-X sebagai pesawat tempur Indonesia terbaik di masa depan, yang akan bersedia memenuhi semua kebutuhan, dan tantangan nasional dengan setulus hati?

Kabar gembira.... karena berita-berita buruk dari sumber-sumber resmi mengenai kedua model ini hanya akan terus semakin bertambah banyak semakin hari. 

Mari memperhatikan beberapa berita update dari kedua pesawat "keinginan semu" ini, kembali dari beberapa sumber berita resmi.

Saturday, June 3, 2017

Analisa: Kenapa Swedia harus terus mengoperasikan Gripen-C

Gripen-C MS20  Gambar: Saab
.... sampai lebih lama dari tahun 2026.

Saat ini renstra untuk Flygvapnet Swedia hanya akan memberi keterbatasan alokasi anggaran untuk mengoperasikan Gripen-C sampai tahun 2026, sebelum ke-60 Gripen-E akan sepenuhnya menggantikan armada 100 Gripen-C/D yang sekarang. 

Kolonel Magnus Liljegren, dalam pernyataannya di Stockholm, 8-Mei-2017, menyatakan kalau Flygvapnet sedang melihat opsi untuk mengoperasikan 73 Gripen-C sampai melewati tahun 2026, termasuk 24 Gripen-D twin-seater sebagai trainer untuk pilot Gripen-E di kemudian hari. Kolonel Liljegren menyebut lebih lanjut kalau kemungkinan alokasi anggaran akan disetujui untuk mengoperasikan Gripen-C lebih lama dari rencana semula.

Berikut beberapa alasan logis, kenapa Flygvapnet harus mempertahankan lebih lama dari tahun 2026.

Monday, May 29, 2017

Skandal AW101 (3): Kenapa pemerintah harus menuntut REFUND

Credits: Widodo S. Jusuf / ANTARA / POOL / 17
MSN-50248 - barang bukti transaksi illegal tanpa seijin pemerintah, atau DPR
(Widodo S. Jusuf/ANTARA/POOL/17)
Sebagaimana dilaporkan dalam Detik News, dari hasil penyelidikan bersama antara Kepolisian, BPK, PPATK, KPK, dan TNI sendiri, kasus AW101 akhirnya secara resmi dinyatakan sebagai kasus korupsi alutsista, dengan penetapan tiga tersangka.

Dengan demikian, kasus AW101 yang sudah kekacauannya memuncak sejak Januari-2017 yang lampau, walau sebenarnya sudah dimulai dari sejak November-2015, sudah semakin mendekati babak final. 

Hanya saja.... belum ada yang berani menyebut, apakah yang akan bisa kita lakukan dengan unit MSN-50248 yang sekarang disegel di salah satu hanggar bandara Halim Perdanakusuma?

Tuesday, May 16, 2017

Su-35 Kommercheskiy vs F-35A Versi Export

Su-35S hard landing in KNAAPO
Damaged F-35 from burnt out engine -- USAF Photo
Menurut versi tulisan Carlo Kopp, dan Peter Goon, yang dituliskan berulang-ulang dalam website terkenal mereka, Ausairpower.net, dan terlalu sering di-copas tanpa pemikiran lebih lanjut ke terlalu banyak artikel blog di Indonesia; F-35 bukanlah tandingan Su-35S.

Yah, Su-35S. Bukan versi export Su-35K yang tersedia untuk negara pembeli lain.

Australia berencana membeli 75 F-35A versi export, dan sudah meneken kontrak untuk 14 pesawat pertama. Entah kenapa, walaupun pengalaman pahit mengoperasikan Su-Kommercheskiy di Sku-11 yang "cinta perbaikan mendalam", pembelian akan selalu lewat perantara yang akan merugikan negara 30%, dan kemungkinan Rosoboron untuk dapat memenuhi persyaratan UU no.16/2012 adalah mustahil.... laporan dari Jane's masih mengkonfirmasikan negosiasi antara Kemenhan, dan Rosoboron mengenai kemungkinan akusisi Su-35K.

Google search; dan hampir semua artikel tentang F-35, kecuali yang sumbernya 100% dari Pentagon, atau Lockheed-Martin, akan selalu mengkritik pesawat ini terlalu mahal, terlalu berbermasalah, dan tidak kunjung selesai. Google search Su-35, dan kebanyakan artikel Barat akan selalu memperbandingkan pesawat efek gentar nihil ini sebagai "reference threat" yang paling mengancam semua AU NATO, apalagi F-35 Lemon II.

Sudah saatnya menyuntikan sedikit realita dalam perbandingan kedua pesawat ber-suffix -35 ini.

Thursday, April 27, 2017

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi Kommercheskiy (Versi Export) Indonesia

Gambar: TNI-AU
Sewaktu masih bisa terbang
Sukhoi Su-30MK2 dengan nomor registrasi TS-3009, sebagaimana dilaporkan dalam Tribun News,  baru saja mengalami kecelakaan satu mesin hancur, yang mungkin diakibatkan "bird strike", ketika sedang mengudara dalam acara gladi bersih sebelum peringatan HUT TNI-AU pada 7-April-2017 yang lalu. 

Selamat kepada kedua awak TNI-AU; Letkol Pnb Anton Pallaguna dan Lettu Pnb Ahmad Finandika, yang berhasil memendaratkan kembali TS-3009 ke bandara Halim Perdanakusuma!
Seperti dikutip dalam TribunNews
Sejauh ini belum ada laporan lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi. 

Letkol Anton sendiri mengaku tidak bisa melihat apakah benar mesin pesawatnya sudah terkena "bird strike". Yang pasti apa yang sudah terjadi adalah, mesin sebelah kiri TS-3009 terbakar sewaktu mengudara pada ketinggian 700 - 800 kaki. Letkol Anton menghitung sampai ada lima ledakan di mesin sebelah kiri, dan mesin kanan-pun mulai mengalami fluktuasi.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar terjadi "birdstrike"?

Yang lebih penting lagi, pertanyaan ini di akhir artikel: 


Berapakah biaya perbaikan Sukhoi TS-3009 kelak?

Monday, April 17, 2017

Analisis: Konsekuensi Serangan Umum 7-April-2017

US Navy Photo

"Malam ini, saya telah memerintahkan serangan militer atas pangkalan udara Syria, darimana sebelumnya serangan senjata kimia mereka diluncurkan," demikian pengumuman Presiden Trump, sebagaimana dilaporkan CNN Internationalbeberapa jam setelah serangan tersebut. "Akan sangat penting untuk keamanan Nasional United States untuk mencegah profilerasi, dan penggunaan senjata Kimia, yang sangat mematikan."  

USS Ross (DDG-71), dan USS Porter (DDG-78) meluncurkan 59 Tomahawk missile untuk menghantam Shayrat Airbase, dari pemerintah Assad, di Syria. Tujuannya seperti yang diumumkan Trump, adalah sebagai konsekuensi dari serangan senjata kimia (Link BBC) pemerintah Assad, yang sudah menewaskan 80 warga sipil Syria.

Artikel ini akan menganalisa, bagaimana serangan ini hanya dalam sekejab, sudah langsung menuai berbagai konsekuensi, baik secara politik, ataupun strategis, dalam peta percaturan dunia internasional, yang sekarang berpusat di perang saudara Syria.

Wednesday, April 5, 2017

Bagaimana "Logika Hollywood" mempengaruhi Alutsista

Lucasfilm - Starwars

Kedengaran konyol?

Artikel ini akan melihat bagaimana logika "Hollywood" (Hollywood logics), yang sebenarnya hanya menjual mimpi, mempengaruhi / meracuni tidak hanya pemikiran kita, tetapi juga mempengaruhi desain beberapa alutsista, dan Renstra di banyak negara.

Saturday, March 25, 2017

Sunday, March 19, 2017

Mendefinisikan ulang pengertian "Efek Gentar"

Credits: Saab

Erich Hartmann, pilot Jerman yang berhasil menembak jatuh 352 pesawat sepanjang Perang Dunia II, sudah memberitahukan rahasia dari semua kemenangannya:

"Delapan puluh persen (80%) dari pesawat lawan yang saya tembak jatuh, 
TIDAK PERNAH melihat pesawat saya."

Delapan puluh persen.

Formula yang dipakai Hartmann adalah: See-Observe-Attack-Reverse. Melihat lawan terlebih dahulu, mempelajari lawan, menyerang; dan terakhir, disengage dari konflik, dan mengamati kembali apa yang sudah terjadi. Seperti bisa dilihat, Hartmann selalu menguasai medan tempur, sedang lawan tidak. Hartmann tidak pernah tertembak jatuh lawan, dan setiap lawan yang tertembak jatuh, tidak pernah mempunyai kesempatan besar untuk bisa menang.

Superior Situational Awareness.

Tidak seperti di tahun 1940-an dipraktekkan Erich Hartmann seorang diri, dewasa ini "Efek gentar" akan ditentukan oleh Empat faktor utama, yang akan saling mendukung satu sama lain. 

Thursday, March 9, 2017

Skenario Sistem Pertahanan Indonesia di Natuna V1.02

(Semua nama & karakter dalam skenario ini fiktif, bukan yang sesungguhnya)

Pukul 01:03 pagitahun 203x
Pesawat Globaleye AEW&C registrasi AI-9011, callsign Eye-03 yang mengudara 50 kilometer 20 derajat Timur laut dari pulau Natuna Besar, sedang melakukan patroli udara rutin. Akhir-akhir penjagaan di sekitar Natuna memang sudah diperketat. Berbagai asset laut, dan udara secara bergantian mengawasi perairan Laut Cina Selatan selama dua puluh empat jam. 

Di dalam lambung pesawat, Letnan Satu Budi Parikesit untuk sesaat hampir saja tertidur, ketika tiba-tiba komputer dihadapannya memberi signal peringatan.

Radar Erieye ER melaporkan ”multiple boogies” dari jarak deteksi maksimum. Hanya membutuhkan sepersekian detik sebelum Erieye processing unit mengklarifikasi jumlah, dan formasi lawan. Dua puluh empat target dari arah Timur Laut; terbang rendah pada ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut, dalam formasi yang rapi. 

Wednesday, March 1, 2017

News Update Februari-2017

RAAF EA-18G Growler  Credits: RAAF Photo
Sementara menunggu artikel penggunaan Gripen di Natuna, untuk menangkal aggressor; saatnya memperhatikan beberapa perkembangan berita di bulan Februari-2017.

Tuesday, February 21, 2017

Skandal AW101 (2): Mengarahkan Akuisisi Alutsista untuk Kebutuhan Nyata

Credits: Eurofighter

Membicarakan AW101, kenapa gambarnya Eurofighter Typhoon Austria?

Kasus Austria ini sebenarnya serupadengan skandal AW101 di Indonesia. 

Pada 16-Februari-2016 ini, pemerintah Austria mengajukan gugatan senilai 1,1 milyar Euro ke Airbus, dan Eurofighter Gmbh. 

"Austria tidak akan pernah membeli Typhoon di tahun 2003, kalau Eurofighter tidak pernah melakukan prosedur penjualan secara illegal," menurut MenHan Austria, Hans Peter Doskozil. Apa yang dimaksudkan disini adalah memberi pesangon "kickback" ke pejabat Austria. Yah, pesawatnya sih terbeli, dan kelihatan indah. Sayangnya, sama seperti AW101, hanya untuk menjadi monumen kasus korupsi yang menghamburkan uang negara.

Artikel sebelumnya, sudah membahas bahwa tindakan preventif pertama untuk menghindari kasus seperti AW101, adalah melalui transparansi Government-to-Government contract, dan bukan melalui transaksi "bawah tangan" langsung antara pejabat dengan salesman langsung dari pabrik, atau melalui agen perantara. 

Tidak kalah pentingnya, kita harus mulai lebih memperhatikan Kebutuhan Nasional.

Presiden Jokowi sudah menyatakan kalau akuisisi Alutsista harus menurut kebutuhan, dan bukan keinginan. Disinilah problemnya mulai merebak di Indonesia. Setiap pihak mempunyai idenya sendiri apa yang menurut mereka adalah suatu "kebutuhan", atau boleh dibilang, kita tidak bisa membedakan akuisisi menurut kebutuhan, atau keinginan.

Inilah salah satu faktor lain, kenapa kasus AW101 ini bisa terjadi, dan kenapa dikemudian hari, bukan tidak mungkin akan terus terulang. Bukan tidak mungkin bahkan, kekacauan akuisisi yang berikutnya akan lebih mahal dibandingkan polemik Eurofighter Typhoon di Austria.

Sekarang, bagaimana caranya membedakan Kebutuhan, dan Keinginan?

Tuesday, February 14, 2017

Skandal AW101: Sudah saatnya mendisiplinkan akuisisi Alutsista Indonesia

Credits: Widodo S. Jusuf - DetikNews

Bagaimana bisa helikopter AW-101 MSN 50248 dalam konfigurasi VIP, bisa tiba-tiba diantar ke Halim Perdanakusuma, kalau kontraknya sudah dibatalkan sejak Desember-2016 yang lalu?

Flights Fleet Analyzer dari Flightglobal menunjuk kalau transaksi AW101 berjumlah 3 unit sudah ditandatangani sebelum 24 November-2015. Yah, ini walaupun waktu itu, baik Presiden Jokowi, maupun Komisi I DPR sudah menolak mentah-mentah proposal TNI-AU untuk mengakuisisi AW101.

Kelihatannya, ada yang sudah menandatangani kontrak atas nama Republik Indonesia, tanpa pernah mendapat persejutuan pemerintah / Komisi I DPR.

Nilai transaksi ini juga terlihat overinflated (terlalu mahal), seharga $55 juta, atau Rp 725 milyar, dari estimasi harga kosong (tanpa paket training / customisasi) $27 juta.

Tentu saja, kasus penggelembungan harga yang sama sudah pernah terjadi di tahun 2010, dimana harga 6 Su-30MK2 versi export downgrade, dari list price $48 juta menjadi melambung naik ke $54 juta. Transaksi ini menurut estimasi ICW merugikan negara Rp1,5 triliun. Kalau belum cukup, TS-3006 yang dari transaksi ini, tidak sampai 3 tahun kemudian, sudah harus pulang mudik untuk menjalani "perbaikan mendalam"; dan menambah kerugian negara. Kasus ini tentu saja masih belum terselesaikan.

Sudah saatnya kita mulai memperbaiki pola akuisisi miring, yang akan sangat merugikan negara seperti kedua contoh diatas.  

Monday, February 6, 2017

News Update: Awal Februari-2017


Sejak News Update 23-Januari, sampai minggu pertama Februari-2017 ini, tanpa disangka cukup ramai dengan beberapa berita menarik dalam perkembangan industri military aviation.

Tuesday, January 31, 2017

Analisa: Kemampuan S-400 Triumf

Bagian dari S-400 Triumf System di Latakia, Syria
(Gambar: Russian MoD)

Sebelum memulai, patut diingat dahulu, kalau kemampuan S-400, yang biasanya diiklankan adalah untuk versi lokal. India baru saja menyetujui rencana akuisisi sistem ini (belum kontrak), seperti bisa tebak, dalam bentuk Versi Export; dimana akan ada perbedaan radar, dan jenis missile yang diperbolehkan.

Berikut analisa berdasarkan sumber pengetahuan umum, kenapa seberapapun hebatnya, S-400 sebagai referensi SAM system yang paling modern di dunia, tidak akan bisa menggantikan pesawat tempur dalam pertahanan udara.

Monday, January 23, 2017

News Update: Januari-2017

Credits: Saab

News Update Januari-2017. 

Tidak seperti News Update sebelumnya, beberapa berita dalam artikel akan dimuat dalam timeline yang tidak berurutan untuk kesesuaian konteks.

Thursday, January 19, 2017

Airbus A400M Indonesia?

Wikimedia

Jane's Article (writer: Ridzwan Rahmat), out of nowhere, had "confirmed" Indonesian approval for the purchase of 5 Airbus A400M in the tune $2 billion.

How did this happen?
This news has not been reported in any of local medias. 

Apa yang terjadi?

Bagaimana penulis untuk Jane's bisa tiba-tiba mengumumkan secara sepihak kalau pemerintah Indonesia menyetujui pembelian A400M?

Dalam setahun terakhir, juga tidak ada satupun media berita lokal yang pernah memberitakan apakah akuisisi A400M sedang dibahas, atau pernah diperdebatkan di Komisi I DPR.

Monday, January 16, 2017

Kenapa efek gentar Su-35K 100% NIHIL

Masih mengidamkan Su-35 untuk Indonesia?
Sudah saatnya introspeksi diri.

Kenapa perlu?

Aktor Interviewer “gadungan”: Terima kasih atas kontribusi anda dalam acara ini. Sebelum sesi interview fiktif ini dimulai, bagaimana kalau anda terlebih dahulu menjelaskan karakter yang anda akan perankan?

Aktor Pejabat “gadungan”: Saya akan berperan menjadi tokoh karakter “pejabat” yang mendukung pembelian Su-35K sehidup semati. Saya akan mencoba menjelaskan semua alasan argumen yang gencar luar biasa, kenapa pilihan ini akan sesuai dengan “kebutuhan” Indonesia.

Aktor Interviewer ”gadungan”: Kembali, sebelum wawancara, atau interview fiktif ini dimulai; saya mohon maaf dahulu. Saya harap anda tidak akan emosional, karena dalam memerankan peran saya sebagai interviewer gadungan, saya akan mencoba mencecar anda  dengan berbagai pertanyaan kritis untuk menjelaskan posisi anda.

Aktor Pejabat “gadungan”: Tidak apa-apa. Adalah tanggung jawab kita bersama sebagai Warga Negara Indonesia, untuk menyinarkan terang dalam kegelapan. Semoga kiranya mereka yang membaca hasil interview fiktif kita, semakin membuka pikiran mereka agar dapat mendukung kepentingan Nasional kita.

Interviewer ”gadungan”: Baik. Kalau begitu, mari kita mulai!
.

Thursday, January 5, 2017

Memahami Versi Export Downgrade

Credits: Sukhoi
Su-35S, yang kelihatan menarik. Sayangnya, versi yang selama ini dibayangkan, tidak akan tersedia untuk export.

Sepanjang tahun 2016 yang silam, kita sudah melihat masih terlalu banyak mimpi, atau lebih tepatnya perjuangan ketat untuk membohongi diri sendiri, seolah-olah kita akan bisa mendapat "efek gentar" dari Alutsista, khususnya pesawat tempur Versi Export Downgrade. 

Sudah saatnya bangun, dan melihat kenyataan.

Artikel ini akan membahas secara lebih mendetail, kenapa United States, Russia, dan PRC (yah, mereka juga memegang membership) untuk selamanya hanya akan menjual Alutsista versi export downgrade, dan konsekuensi apa saja yang harus diterima kalau kita mau meneruskan prosedur membeli barang downgrade ini.