Monday, April 17, 2017

Analisis: Konsekuensi Serangan Umum 7-April-2017

US Navy Photo

"Malam ini, saya telah memerintahkan serangan militer atas pangkalan udara Syria, darimana sebelumnya serangan senjata kimia mereka diluncurkan," demikian pengumuman Presiden Trump, sebagaimana dilaporkan CNN Internationalbeberapa jam setelah serangan tersebut. "Akan sangat penting untuk keamanan Nasional United States untuk mencegah profilerasi, dan penggunaan senjata Kimia, yang sangat mematikan."  

USS Ross (DDG-71), dan USS Porter (DDG-78) meluncurkan 59 Tomahawk missile untuk menghantam Shayrat Airbase, dari pemerintah Assad, di Syria. Tujuannya seperti yang diumumkan Trump, adalah sebagai konsekuensi dari serangan senjata kimia (Link BBC) pemerintah Assad, yang sudah menewaskan 80 warga sipil Syria.

Artikel ini akan menganalisa, bagaimana serangan ini hanya dalam sekejab, sudah langsung menuai berbagai konsekuensi, baik secara politik, ataupun strategis, dalam peta percaturan dunia internasional, yang sekarang berpusat di perang saudara Syria.



Konsekuensi 1: Sekarang seluruh dunia lebih memahami: 'siapakah Russia?

Satellite Imagery dari Pentagon, 
yang menunjukkan before-after serangan kimia 4-April-2017

Patut diingat, kalau dalam  perjanjian yang ditandatangani 14-September-2013, Russia sudah berjanji untuk membantu mengawasi, dan kemudian juga mengamankan semua stock persenjataan kimia, yang masih dimiliki pemerintah Assad. 

International Criminal Court, secara resmi sudah menggariskan, kalau penggunaan senjata kimia, adalah suatu "war crime". Tindakan yang dianggap kriminal dalam konflik bersenjata. 

Serangan 4-April-2017, bukanlah untuk pertama kalinya, pemerintah Assad mempergunakan senjata kimia. Dalam serangan sebelumnya di Ghouta, yang mempergunakan gas Sarin, dan mustard, menurut berbagai estimasi, pemerintah Assad sudah menewaskan lebih dari seribu orang, dan mempasienkan tiga ribu enam ratus orang.
BBC Image, 2013
Perjanjian 14-September, seperti diatas, adalah suatu kompromi yang dicapai antara pemerintah United States, dan Russia, untuk mencegah terulang kembalinya kejadian tersebut. 

Loh, lantas, bagaimana bisa terjadi serangan 4-April-2017?

Oh, bukan, menurut Russia. Pemerintah Assad tidak bersalah dalam kejadian ini. Apa yang terjadi pada 4-April yang lalu, sebenarnya, pesawat AU Syria hanya membom salah satu fasilitas penyimpanan senjata kimia, yang dimiliki para pemberontak.
Charles Lister, pengamat dari Middle East Institute, seperti dilaporkan CNN, menyatakan kalau klaim Ruski ini tidak bisa dipercaya; menggelikan, atau dengan kata lain, absurd
  • Selama bertahun-tahun konflik, tidak pernah ada bukti kalau kelompok pemberontak di daerah tersebut bahkan pernah mempunyai akses ke senjata kimia. 
  • Tidak ada yang begitu bodoh untuk menyimpan kedua jenis komponen untuk Sarin dalam satu gedung.
  • Terakhir, bahkan kalaupun kedua  jenis komponen tersebut disimpan dalam satu tempat, dan lantas dibom dari atas, MUSTAHIL lantas bisa berubah menjadi senjata kimia aktif, yang kemudian meracuni lingkungan disekitarnya. Sekali lagi, kasus ini chemically impossible. Tidak akan bisa terjadi. 
Tentu saja kita sudah sering mendengar argumen "bukan salah kami", yang nadanya sama, seperti dalam kasus tertembak jatuhnya MH17 ("Itu salah Ukrania!"), dimana 12 orang Indonesia sudah turut menjadi korban.

Saksi mata di Syria mendeskripsikan kalau apa yang sebenarnya terjadi adalah pesawat tempur militer Syria, yang menjatuhkan bom kimia dari udara.

Tentu saja, semua media propaganda, eh..... media berita Ruski, seperti TASS di atas, cepat menyangkal versi ini; dan justru sangat cepat, dan sigap untuk mengkritik serangan Tomahawk United States, sebagai "....serangan illegal terhadap suatu negara yang berdaulat."

Pada akhirnya, posisi Russia menjadi lebih jelas, setelah kemudian pada 13-April-2017 yang lalu, memveto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menyelidiki penggunaan senjata kimia di Syria.



Konsekuensi 2: Peta politik luar negeri di Timur Tengah berubah drastis

"We love you"
Media Sosial warga Arab menamai Trump: "Abu Ivanka Al-Amreeki"

Mungkin ini hanya bulan madu sementara

The red line, garis batas akhir, yang sebelumnya disebut tidak boleh dilanggar, oleh Obama di tahun 2013, dan kemudian sudah dilanggar Assad dalam serangan kimia di Ghouta, tanpa terjadi konsekuensi yang berarti, sudah lama menjadi duri dalam daging dalam peta politik di Timur Tengah.

Sejauh mana pemerintah United States akan membiarkan Assad berlaku semaunya? Inilah pertanyaan mereka selama beberapa tahun terakhir. United States berada dalam posisi memimpin, tetapi dibawah Obama, mereka memilih untuk berlaku pasif. 

Serangan Umum 7-April yang diperintahkan Trump, sudah mengubah semua ini dalam sekejab. The Red Line, sekarang memberikan signal yang jelas. Siapapun yang masih mencoba memakai senjata kimia di Syria, akan menerima konsekuensinya. Dan bukan tidak mungkin, kalau perlu, mereka bisa bertindak lebih jauh. 

Seluruh dunia, kecuali Ruski, dan Iran, semuanya menyambut dengan positif serangan Umum 7-April-2017 ini. Representatif dari European Union, UK, Jerman, Perancis, Italia, Australia, dan untuk pertama kalinya, Saudi Arabia, UAE, Bahrain, Turki, dan Israel secara sepihak, semua menyambut keputusan Trump. Tentu saja, cita-cita kebanyakan pihak, terutama di Timur Tengah, sebenarnya masih selangkah lebih jauh lagi, yakni untuk lengsernya pemerintah Assad, yang dianggap semakin membahayakan stabilitas.

Momentum pendulum politik di Timur Tengah, setelah sebelumnya sempat condong ke Russia, seperti bisa dilihat seperti dalam News Update Februari-2017; dengan keinginan Turki untuk mengakuisisi S-400, atau UAE untuk membuat pesawat Generasi ke-5 bersama Ruski, dengan demikian sudah mengayun kembali ke arah United States.




Konsekuensi 3: Kerusakan pada Shayrat Airfield

DigitalGlobe, 2016 image

Kenapa Shayrat Airfield? 

Serangan senjata kimia 4-April yang lalu, dilakukan oleh pesawat Su-22 AU Syria, yang berpangkalan Shayrat, dan beberapa fasilitas penyimpanan senjata kimia yang dipakai juga, berada disini, menurut data dari intelijen United States. 

Sebelum serangan 59 Tomahawk ini dihujankan ke Shayrat, militer US sudah memberi peringatan dua jam terlebih dahulu ke Russia, untuk mengamankan personil mereka disana. Yah, kelihatannya Russia sudah mengetahui kalau Syria masih mempunyai senjata kimia. Artinya, perjanjian 14-September-2013 untuk melikuidasi semua senjata kimia Syria, boleh dibilang menjadi kelihatan kosong; entah apakah Al-Assad membohongi Moscow, atau Moscow terhitung complicit dalam dukungan penuhnya terhadap Assad. 

Peringatan militer US terhadap Russia untuk mengevakuasi personil mereka dari Shayrat, boleh dibilang juga adalah pedang bermata dua bagi Russia. Menurut artikel BBC, yang dituliskan Konstantin Eggert, jurnalist Russia di Moscow, pesan yang disampaikan adalah:


"Please step aside, while we do our own thing here!"

Nak, silahkan minggir dahulu yah, sementara kami mau membereskan urusan kami!

Serangan Tomahawk ini, menurut Konstantin, boleh dibilang seperti menunjukkan perbedaan yang bumi, dan langit antara kemampuan militer US, dan Russia. Moscow mungkin bisa membuat Kalibr missile, tetapi sudah tidak lagi mempunyai kapasitas untuk mereplikasi kemampuan tempur, seperti yang sudah didemonstrasikan United States secara begitu leluasa.

Credits: BBC Image
Apa yang tidak mereka sebut disini,
hujan Tomahawk juga akan cukup efektif untuk
bisa mengalahkan S-300 / S-400 system.

Silahkan mencoba menghadang 100 Tomahawk yang ketinggian terbangnya hanya belasan meter dari atas permukaan tanah!
Seperti biasa, para media propaganda, eh... media berita Ruski, melaporkan kalau hanya 23 Tomahawk yang menghantam target, seperti sempat dikutip di DetikNews. Hanya 6 pesawat yang hancur, dan pangkalan udara Shayraf tetap aktif. Apakah klaim ini benar?

Pertama-tama, memang benar, pesawat tempur AU Syria mulai bisa mengudara kembali 24 jam setelah serangan ini. Tetapi sebagaimana dicatat Tom Cooper, dalam artikel untuk War-is-boring, jumlah sortie rate dari Shayraf sudah menurun drastis sejak sebelum 7-April. Salah satu footage Ruski saja, memperlihatkan sekurangnya 4 MiG-23, dan 5 Su-22 yang hancur di darat.


Tentu saja, tidak ada bukti kalau hanya 23 Tomahawk yang menghantam Shayrat. Hanya 1 Tomahawk yang kelihatannya meleset. Ini menunjukkan kalau sejak tahun 1999, Pentagon, dan Raytheon, kelihatan sudah melakukan beraneka ragam guidance upgrade untuk menambah akurasi serangan. Perhatikan beberapa gambar yang diambil ImageSat International berikut:
Credits: ImageSat International, 2017


Credits: ImageSat International, 2017

Credits: ImageSat International, 2017
Apanya yang "hanya" 23 missile mengena?
Foto satelit saja berkata yang sebaliknya.


(Semua gambar copyright ImageSat International)
Tom Cooper mencatat lebih lanjut, kalau Russia-1 memberikan coverage untuk memperlihatkan Su-22M-4K, dengan nomor seri 3233, 3235, dan 3237 yang dapat mengudara dari Shayrat pada tanggal 8-April, tetapi ketiga inilah satu-satunya sortie yang dapat diluncurkan dari Shayraf hari itu. Media Ruski juga tidak mencatat, kalau sejak serangan ini, tidak ada satupun MiG-23, ataupun L-29 yang masih bisa mengudara lagi dari Shayrat.

(Gambar: Mikhail Voskresenskiy, Sputnik via AP)

Kesaktian Tomahawk missile buatan Raytheon:

Seperti bisa dilihat dalam gambar ini,
Su-22M, walaupun berlindung dibawah shelter,
sudah berhasil dihancurkan

Shelter-nya sendiri bahkan tidak kelihatan rusak
Patut dicatat disini, kalau AU Syria kemampuannya sudah menurun drastis sejak dimulainya perang saudara di Syria. Baik intelijen United States, ataupun Israel mencatat kalau hanya dengan 59 missile ini saja, sudah melumpuhkan 20% dari kekuatan udara Syria yang masih tersisa.

Dan sekali lagi, ini hanya peringatan, sekaligus hukuman karena berani menggunakan senjata kimia dalam konflik.



Penutup

US Navy Photo
Dimanakah posisi Indonesia secara politik dalam kasus ini?

Sebagaimana dilaporkan di SindoNews, boleh dibilang kita merasa serba salah. Kita tidak bisa cepat bersorak-sorai, seperti di Saudi Arabia, UAE, Bahrain, ataupun Turki. Secara politik, segala konflik di Timur Tengah, terlalu jauh dari realita Indonesia. Sedangkan dilain pihak, ada rasa kekhawatiran bagaimana rasanya kalau dihantam Tomahawk sedemikian rupa.

Duta Besar US, Joseph R. Donovan Jr, seperti dikutip SindoNews, sebenarnya malah mengajak Indonesia untuk lebih terlibat:

"Saya harap pemerintah Indonesia akan bergabung dengan komunitas internasional untuk mengutuk rezim Assad yang menggunakan senjata kimia untuk membunuh warganya sendiri. Ini merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan pelanggaran terhadap resolusi DK PBB soal larangan senjata kimia." 

Bisa terlihat disini, sebenarnya secara politik luar negeri, kita menghadapi konflik pribadi. Apakah mau turut terlibat dalam komunitas internasional, dan mau tidak mau meninggalkan posisi politik luar negeri, yang cenderung netral? Tidak menyimpang ke Russia, atau mencoba mendukung sepak terjang United States.

Tentu saja, ketiga supplier alutsista Versi Export Downgrade, akan selalu memperhatikan tindak-tanduk politik luar negeri Indonesia. Posisi kita yang cenderung memilih terlalu netral, dan kurang menunjukkan sikap yang jelas, secara tak langsung juga sudah memberikan isyarat, baik ke Moscow, ataupun Washington DC: Untuk selamanya, yah, kita tidak bisa cukup dipercaya untuk bisa mendapat "perlakuan istimewa" untuk setiap model downgrade, yang mereka jual.

Patut dicatat kembali disini, kalau semua negara yang mempunyai hubungan persahabatan dengan Indonesia, mulai dari Saudi Arabia, Australia, ataupun negara-negara Uni Eropa, yah, memang semuanya akan cenderung selalu berpihak ke kubu United States. 

Sekali lagi, apalagi melihat seperti diatas, semua tindak-tanduk politik Russia sejak tahun 2012, kenapa kita masih terus mencoba bermain mata dengan alutsista Moscow?

Baik secara politik, ataupun strategis membeli dari Moscow sudah tidak bisa lagi masuk di akal. Konflik di Syria ini, semakin hari semakin menggarisbawahi perbedaan tehnologi, dan kemampuan militer Barat vs Russia, yang seperti jurang yang semakin lebar, yang semakin mustahil akan bisa terlampaui.
Su-35S (tidak tersedia untuk Export!), 
yang hanya bisa dipersenjatai dengan missile kadaluarsa R-27, dan R-73
(Gambar: Sputnik News)
Bukan tandingan F-16
Kembali: Jangan terlalu banyak bermimpi! Sudah saatnya mulai belajar untuk berpikir secara strategis, sesuai realita keterbatasan kita, tidak hanya secara ekonomi, dan industri, tetapi seperti bisa dilihat disini, juga dari segi politik luar negeri.

Terus-menerus membeli rongsokan versi export downgrade, berarti hanya ingin terus menjadi pelanggan setia. Dalam jangka panjang, pola pikir seperti ini hanya akan semakin merugikan kita baik secara industrial, ekonomi, politik, ataupun strategis.

Pelajaran lain dari segi analisa militer: masanya untuk terlalu mengandalkan Lapangan udara mewah, untuk memangkalkan semua pesawat tempur sudah berakhir. Seperti bisa dilihat, aircraft shelter di Syria, jauh lebih kokoh dibandingkan di Indonesia. Semua fasilitas lanud Syria sudah dirancang untuk tahan banting dari serangan udara seperti yang dilakukan Israel di tahun 1967. Tetapi, tetap saja tidak ada hasilnya, bukan?

Tentu saja, seperti sudah seringkali dituliskan disini, dalam konflik yang sesungguhnya, dalam keadaan sekarang, semua pesawat tempur TNI-AU, akan selalu jauh lebih mudah dihancurkan di darat, sebelum bisa mengudara.

Untuk mencapai MEF, sudah saatnya mengurangi ketergantungan kepada produk alutsista Versi Export Downgrade, dan berhenti mencoba mengejar jumlah. Sudah saatnya untuk bercita-cita membangun kemampuan, dan industri pertahanan Indonesia secara strategis: yang tidak lagi terlalu tergantung kepada Washington DC, atau ke Moscow.
Solusi Strategis yang logis:
Lapangan Udara tidak boleh bisa terlihat dari imagery satelit lawan (!!)
(Gambar: Saab)

51 comments:

  1. Min, kenapa pada saat perang Vietnam, SAM Vietnam Utara sangat ditakuti Amerika padahal itu semua buata Soviet?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haykal,

      Sebenarnya sukses rate SAM dalam perang Vietnam tidak pernah tinggi.
      Beberapa perhitungan informal menunjuk kalau success rate SAM selama masa perang Vietnam sebenarnya menurun dari tahun ke tahun.

      Di tahun 1965, success rate SAM (SA-2) hanya 5,7%, 1 pesawat tertembak jatuh setiap 17 missile ditembakkan.

      Di tahun 1972, success rate-nya malah turun ke 1,15% -- 107 missile diltembakkan setiap 1 pesawat tertembak jatuh. Ini walaupun mulai diperlengkapi dengan SA-6 yg lebih modern, dan jumlah missile yg ditembakkan jauh lebih banyak.

      Dalam perang Yom-Kippur di tahun 1973, kebanyakan Phantom, dan Skyhawk Israel tertembak jatuh ZSU-34 AA gun, terutama karena terbang rendah untuk menghindari SAM. .
      Success rate SAM -- sebenarnya kurang dari 3%, tetapi kesuksesan mereka adalah mendorong pesawat Israel terbang terlalu rendah, masuk ke dalam perangkap AA guns.

      Di dataran tinggi Golan, 5 dari formasi 7 Phantom tertembak jatuh, 1 rusak berat, tapi berhasil pulang -- ini karena mereka masuk perangkap seperti di atas.

      Tentu saja di tahun 1982, tidak ada SAM, atau AA gun lagi yg bisa mengenai pesawat Israel.

      Apa yang membuat semua perubahan ini, dan kenapa S-400 sekarang hampir mustahil bisa beroperasi seperti selama ini diiklankan?

      ## Pertama2, pada jaman keemasan SAM terutama di tahun 1960-1970an, kebanyakan pespur G2, ataupun G3 belum ada yg membawa RWR, untuk memperingatkan pilot kalau di targetkan radar.

      ## Kemudian, negara2 Barat, dan Israel juga sudah semakin berpengalaman, dan sudah mematangkan SOP prosedur, dan strategi SEAD (Suppression of Enemy Air Defense) untuk dapat mengalahkan semua sistem Soviet.

      ## Kemungkinan, juga ada peranan Faktor Tolkachev: atau kebocoran ribuan blueprint tehnologi radar, missile, dan pesawat Soviet sepanjang tahun 1970-1980an, yang membuka semua rahasia Soviet ke intelijen Barat.

      ## Terakhir, profilerasi cruise missile atau anti-radar missile Barat juga baru mulai diperkenalkan di tahun 1980.
      HARM missile untuk Growler, atau kemudian Tomahawk, Taurus, Stormshadow, dan JASSM standoff missile, yg jarak jangkaunya lebih jauh, semuanya sudah didesain dari awal untuk bisa mengalahkan S-300 / S-400

      Lantas, kenapa Ruski sekarang masih terus mengandalkan SAM?

      Mudah. Karena sepanjang sejarah, mereka melihat kalau SAM adalah peluang terbaik untuk menantang Air Superiority AU Barat.

      Dalam konflik Arab-Israel, mereka boleh dibilang sudah menyerah. Mereka tidak pernah bisa melatih pilot Mesir, atau Syria untuk bisa bersaing dengan kemampuan training pilot Israel.

      Halo, dewa SAM!
      .... yang crew-nya akan dapat menembak jatuh pesawat lawan, tanpa perlu intensif training seperti pilot.

      Yah, mereka sbnrnya lebih percaya kepada tehnologi S-300/S-400 dibandingkan Sukhoi Flanker, atau MiG-29, apalagi setelah Soviet ambruk, dan Ruski tidak lagi punya cukup dana, ataupun sistem yg baik untuk bisa melatih kemampuan pilot mereka.

      Delete
  2. Sudah downgrade. Ko ada top spec downgrade gan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Para penjual Versi Export Downgrade sebenarnya mempunyai tier export mereka sendiri:

      Semakin dekat / akrab pembeli dengan penjual, baik secara diplomatis, ekonomi, politik, dan strategis, yah, spesifikasi yang diperbolehkan akan dipastikan semakin mendekati versi lokal. Kalau kita mau terus langganan beli barang downgrade, makanya harus rajin bersujud sembah ke Washington DC, atau Moscow.

      Ini link ke artikel lama disini:Daftar Export Tier United States

      Sebagai contoh:
      ## Australia adalah negara Tier-1, yg sudah meneken perjanjian aliansi dengan Washington DC, dari sejak Perang Dunia II.

      Andaikata, Indonesia membeli F-18 Superhornet, sama seperti Australia,
      maka paman Sam akan memastikan kalau spesifikasi SH Indonesia akan selalu beberapa peringkat di bawah Australia.

      - Radar AN/APG-79 -- milik Australia akan mempunyai lebih banyak detection / tracking mode, dan jarak jangkau radarnya bisa diestimasi akan 10 - 20% lebih baik.

      - Australia boleh membeli AMRAAM-D, Indonesia tidak akan dapat ijin.

      ## Korea adalah negara Tier-3, sedangkan kita masih peringkat buntut.
      Maka IF-X kemampuannya akan menjadi versi downgrade dari KF-X, yang sendirinya dipastikan akan menjadi versi downgrade dari F-16/F-18.

      ## Russia juga sama saja.
      Su-35K versi untuk PRC spesifikasinya bisa dipastikan akan lebih tinggi dibandingkan Su-35K Indonesia.

      - PRC keuangannya jauh lebih tebal; mereka tidak perlu bayar barter.

      - Pemerintah mereka juga masih komunisme, dan tidak seperti kita, tidak ada sejarah mencoba menumpas komunisme habis2an.

      - Terakhir, semua persenjataan PRC tidak ada yang buatan Barat. Ini membuat mereka lebih bisa dipercaya, walaupun resiko pencurian tehnologi-nya lebih besar.

      Delete
    2. Oh gitu toh... tapi yg saya baca dari jgkr beberapa komponen gripen berasal dari amrik dan pembangunan pesawatnya dibantu bae dari uk. Apa gak kena downgrade jika indonesia beli gripen

      Delete
    3. ## Sedikit sejarah terlebih dahulu
      Di tahun 1950-an, dalam konteks perang dingin, Swedia sewaktu itu menandatangan perjanjian kerjasama ToT dengan US untuk menyokong industri pespur mereka. Kebanyakan point dari kontrak ini sendiri dirahasiakan, tetapi berkaitan dengan peran strategis Swedia, kalau sampai terjadi konflik antara NATO-Soviet.

      Semenjak itu, sebenarnya pemerintah Swedia, dan Saab cepat membangun kemandirian sendiri. Dalam setiap generasi pespur Saab masih cenderung selalu memilih mesin buatan US, karena alasan di atas; tetapi sebenarnya dari generasi ke generasi, jumlah proporsi komponen buatan US sebenarnya berkurang.

      ## Untuk Gripen-C/D atau NG; ketergantungan akan komponen US, kecuali mesin, sebenarnya semua komponen non-vital, yang tidak mempengaruhi kemampuan tempur.

      ## Yang mempengaruhi kemampuan tempur setiap pesawat, sebenarnya hanya ditentukan oleh satu hal yang paling utama:

      Source Code pesawat tempur
      Inilah kitab suci semua pesawat tempur, yang menentukan semua parameter kemampuan, mulai dari kemampuan radar, manuever, flight profile, ataupun seberapa optimal pespur tersebut bisa memakai suatu perlengkapan / persenjataan.

      Untuk setiap Model downgrade, termasuk T-50 Korea, source code-nya akan selalu sudah dikunci oleh pembuat.
      Mengunci source code berarti merahasiakan parameter kemampuan yang diperbolehkan -- dan ini akan terserah pembuat, atau pemerintahnya. Kedaulatan ada ditangan penjual, dan bukan pembeli.

      Dari sini, penjual akan bisa mendikte hal-hal berikut:

      - Seberapa jauh kemampuan dasar pespur (manuver, senjata, radar / flight mode, dll) yang akan diperbolehkan untuk si pembeli?

      - Seberapa jauh incremental upgrade yang akan diperbolehkan untuk si pembeli?

      - Jenis persenjataan / perlengkapan apa yang diperbolehkan untuk dipasang?

      Untuk customer Ruski lebih parah dalam hal ini, krn mereka menjual versi senjata yang bahkan tidak dipakai sendiri oleh AU Russia.
      - AU Russia tidak memakai RVV-AE, atau R-73E yang khusus dibuat untuk export.

      Sedangkan US akan menjual senjata berdasarkan peringkat:
      + Sangat dipercaya: AMRAAM-D (Australia)
      + Cukup dipercaya: AMRAAM-C7 (Indonesia)
      + Harus dikontrol: AIM-7 Sparrow (Mesir)

      USAF, USN, dan USMC sendiri sebenarnya masih memakai semua jenis missile tersebut (Sparrow sudah dipensiunkan), bahkan masih men-stock ratusan / ribuan AMRAAM C2 / C5 dari generasi sebelumnya.

      Tentu saja untuk setiap Model Export downgrade, bisa dipastikan segala sesuatu akan sekurangnya setingkat lebih inferior, dibanding model versi lokalnya.

      F-18F Australia, misalnya, tetap saja akan mendapat pengurangan versus F-18E/F US Navy --- ini walaupun mereka dianggap sohib, yang bisa dipercaya 100%.

      (Lanjut kembali ke Gripen dibawah)

      Delete
    4. ## Kenapa Gripen tidak bisa menjadi model Export Downgrade?

      Karena seperti diatas, Source Code untuk Gripen, adalah 100% proprietary Saab. Tidak akan ada pengurangan kemampuan: Saab sendiri menjamin Sovereign Air Power: Kedaulatan ada di tangan Indonesia, tanpa semua hambatan dari penjual, seperti diatas.

      Boleh dibilang, Source Code Gripen justru adalah yang paling fleksibel, dan paling luwes dalam dunia pesawat tempur;
      + Paling mudah/murah untuk di-upgrade,
      + Paling mudah/Murah untuk mengintegrasikan senjata / perlengkapan baru, bahkan untuk yang sekarang ini belum diciptakan
      + Processing Unit-nya sendiri kemampuan kalkulasi yang jauh melebihi pespur manapun juga.

      Kalau misalnya saja, ini hanya contoh:
      Taruh kata, US mengijinkan penjualan F-22 untuk Export, dan ternyata Indonesia mendapat ijin membeli F-22EX; apakah akan lebih unggul dari Gripen-E untuk Indonesia?

      Jawabannya Tidak akan bisa.

      Kita tidak akan pernah bisa tahu parameter apa saja dalam F-22EX, yang sudah dikurangi. Ditangan pilot yang baik saja, F-16 Block-30/40 Aggressor squadron saja bisa kok mengalahkan F-22; apalagi hanya yang versi downgrade untuk export.


      ## Kembali, apakah bisa ada pengurangan downgrade untuk mesin F414-GE-39-E untuk Gripen-E, atau RM12 untuk Gripen-C?

      Jawabannya, tidak.

      + Mesin RM12, atau versi license production dari F404 untuk Gripen-C/D, sudah dimodifikasi sendiri -- 60% komponennya dari produksi Swedia. Tidak hanya mesin ini mempunyai kemampuan untuk kebal dari birdstrike-- burung yang terhisap masuk ke dalam mesin, tetapi sejauh ini sudah terbukti tahan banting, tidak pernah mengalami kerusakan tehnis selama 250 ribu jam terbang.

      + Mesin F414-GE-39-E adalah versi mesin F414 yang sudah di-desain dari awal, dengan partisipasi Saab, untuk mempunyai kemampuan supercruise. Semua parameter yang akan menentukan seberapa optimalnya penggunaan mesin ini di Gripen, kembali, akan ditentukan oleh Source Code dari fly-by-wire system di Gripen, bukan dari Washington DC.

      Kemungkinan beberapa parameter dari RM12, seperti kemampuan anti-birdstrike, akan dimigrasikan Saab ke versi 414-39-E. Kita juga bisa mengambil kesimpulan awam, kalau mesin 414 akan sama reliable-nya dengan mesin RM12.

      ## Pertanyaan berikutnya: Kenapa Saab tidak membuat versi mesin RM12 untuk Gripen-E/F, dibanding membeli mesin F414 mentah-mentah dari GE United States?

      Kelihatannya mesin RM12 lebih "anti-embargo" dibanding membeli mesin F414?

      Jawabannya:
      Karena membeli produk dalam bentuk COTS lebih murah dari segi harga, maupun perawatan, dibandingkan meneruskan license production seperti RM12 di Gripen-C/D.

      Produk mesin GE dipilih, karena reliabilitas-nya dihitung paling terjamin.

      Keluarga mesin F414 adalah dari generasi mesin FADEC - Full Authority Digital Engine Control --- Elektronik / Komputer menentukan semua parameter mesin, memberikan konsistensi performa / reliabilitas.

      Reliabilitas, dan kemampuan mesin untuk Gripen, seperti sudah disebut diatas, akan lebih ditentukan oleh software flight control Gripen. Akan sangat mudah untuk mereplikasi kemampuan RM12 yang sebanding dalam Versi-E.

      Delete
  3. ## Perlu takutkah kalau Gripen memakai mesin F414 buatan US?

    Jawabannya: Kenapa harus takut?
    Mesin buatan US sudah dikenal sangat reliable, dan modern kok. Mesin produksi US, seperti sudah dipertunjukan F-16 TNI-AU, justru adalah salah satu komponen yang perawatannya paling mudah, dan tahan banting.

    Sebenarnya kita harus jauh lebih takut kalau memilih memakai mesin AL-31F, atau unproven AL-41F1 buatan Russia.

    Mesin AL-31F sudah termasyur bisa mati sendiri di udara, tanpa alasan yg jelas (karena pembuatnya selalu mungkir), reliabilitas-nya meragukan, dan biasanya hanya tahan kurang dari 1,000 jam terbang.

    Lebih menyakitkan lagi: Mesin AL-31F harganya bisa lebih mahal dibanding mesin P&W F100 untuk F-16, atau mesin F414 untuk Gripen, terutama karena faktor komisi perantara.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Haykal,

      Sebaiknya kita menjauh dari semua artikel yg berbau "conspiracy theory" -- semakin gila idenya, semakin memabukan rasanya :D

      Yang paling penting, kita sebagai bangsa, tidak boleh berhenti berjuang menghadapi satu musuh, yg sudah nge-trend dalam bbrp tahun terakhir, tidak hanya di Indonesia, tapi banyak negara lain:

      Identity politics
      "Kami" mempunyai identitas yg sama, "mereka" tidak.
      Karena itu "mereka" adalah lawan "kami".

      Ini juga sudah dipraktekkan di banyak negara: memecah belah warga menjadi kelompok2 kecil, agar gampang diasosiasikan untuk memenuhi maksud / persyaratan tertentu, dan kemudian menjadi dalih untuk memusuhi kelompok lain.

      Padahal identity politics sebenarnya hanya dimotivasi oleh kepentingan pribadi beberapa individual saja, entah itu hanya untuk memperkaya diri, atau memenuhi ambisi pribadi.

      Lebih baik selalu mengingat satu hal:
      Karena kita sesama warga Indonesia, kita semua bersaudara.

      Identitas kita secara individual, atau kelompok seharusnya tidak boleh relevan dalam konteks Persatuan Indonesia.

      Bhineka Tunggal Ika.
      Berbeda-beda tetapi tetap satu.

      Bagian dari dasar negara kita, Pancasila.

      Jangan membiarkan para instigator identity politics, yang senang memecah belah, mengalahkan perjuangan bangsa kita!

      Delete
    2. Siap Min. Btw, kira-kira bisa tidak ya ada artikel F-22 vs F-15 di blog ini hehehe

      Delete
    3. Siip.

      Sy sedang menyiapkan beberapa artikel versus baru (masih) di pikiran:

      - F-15E vs F-16 Block-50+ (Sebelum AESA)
      - F-15C+ vs F-22
      - F-22 vs F-16V
      - Typhoon Tranche-3 vs Gripen-E
      - Rafale F3 vs Typhoon Tranche-3
      - F-22 vs Typhoon
      - Su-35K vs F-15E+
      - Su-35K vs F-5EM Brazil, atau F-5S Singapore
      - F-22 vs Gripen-E

      Delete
    4. Oh, lupa menambahkan beberapa Versus yg lebih menarik dngn pesawat favorit Pentagon / lobbyst mereka:

      - Su-35K vs F-35A Versi Export

      - F-18SH Block-3 vs F-35A -- kedua pilihan Australia

      - Gripen-E vs F-35A

      Delete
  5. Kenapa baru 3 negara di luar eropa yang make gripen padahal bagus begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada beberapa alasan:

      ## Pertama, transaksi alutsista itu merangkap pernyataan politik keakraban aliansi antar dua negara sekutu.

      Ini melebihi customer loyalty (nanti kita lagi lihat dibawah); pembelian alutsista dari supplier, berarti pembeli mendukung sepak terjang si penjual di pergolakan politik dunia. Sebaliknya, si penjual juga akan menunjukkan dukungan sepenuh hati untuk pembangunan militer si pembeli.

      Seberapapun bagusnya produk ketiga Eurocanards, beberapa negara sekutu terdekat United States, terutama Jepang, Australia, Israel, dan Korea mustahil untuk membeli pespur yg bukan buatan US.

      Sebaliknya, PRC, Syria, Iran, Korut, beberapa negara otoriter di Afrika, atau dalam tahap tertentu, Serbia, Vietnam, dan Cuba -- tidak akan diperbolehkan untuk membeli produk buatan Barat, dan mau tidak mau harus mengandalkan pembelian dari Rosoboron.

      ## Kedua, sampai tahun 1990an akhir, Saab belum pernah aktif menjual pespur dalam pasar internasional, dibanding para pemain lama, seperti Lockheed, Boeing, Rosoboronexport (agen perantara Ruski), Dassault, atau BAe System.

      Kelima penjual diatas sudah mempunyai established market; pelanggan biasanya akan terus beli dari mereka, dan sulit untuk membelot ke produk buatan orang lain.

      ## Ketiga, pemerintah Swedia sendiri mempunyai peraturan yg cukup ketat dalam penjualan senjata. Mereka sedang mempertimbangkan peraturan untuk tidak menjualke negara yg non-demokratis.

      Contoh:
      Pemerintah Perancis tidak mempunyai masalah menjual Rafale ke Mesir, tetapi Swedia tidak akan mengijinkan penjualan Gripen kesana.

      ## Keempat, ada faktor gengsi, dan persepsi yg salah.
      Sejak tahun 1990-an akhir, ada persepsi dalam dunia pespur, kalau twin-engine fighter, atau STEALTH, dinilai lebih baik dari single-engine.

      Faktor terakhir ini dibuat lebih parah, karena baik Ruski, dan Perancis sudah berhenti memproduksi single-engine fighter seperti spt di tahun 1980-an, sedangkan US (dan Lockheed), seperti sengaja membiarkan lini F-16 mulai mati dengan perlahan-lahan.

      Seperti bisa dilihat di India yg sudah menyatakan butuh single-engine fighter, akan terus ragu2 anta F-16, atau Gripen, terutama karena faktor gengsi, dan salah persepsi ini.

      Kita juga bisa lihat di Malaysia, dan di Indonesia, juga cenderung ada pemikiran "lebih membutuhkan twin-engine".

      Kesalahan besar.
      Kita sudah tahu kalau twin-engine fighter akan selalu lebih mahal baik harga, ataupun biaya operasionalnya, perawatannya lebih sulit, hanya akan menjadi target yg lebih besar di udara (krn mudah terlihat mata pilot), dan model yg paling baik sekalipun, tidak akan bisa sering mengudara seperti single-engine fighter,

      Jarak jangkau lebih unggul?
      Tidak juga, karena twin-engine akan selalu lebih berat, dan lebih draggy dibanding Gripen, dan F-16. Akan membutuhkan sekurangnya 2x lipat lebih banyak bensin (Sukhoi 4x lipat lebih boros), untuk mencapai jarak yg sama, tentu saja juga dengan perawatan yg jauh lebih mahal.

      Delete
  6. Apakah anda betul-betul pengamat militer?
    Terus mengapa Iran anti Amerika yang dulunya sekutu Amerika Serikat?
    Kenapa Pesawat Komersial Russia kaya Tupolev dan Yakovlev tidak dijual ke internasional?
    Kenapa Korea enggak beli Mitsubishi F-2A buatan jepang lumayan juga dapat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung ikhsan,

      Saya hanya pengamat awam. Kita hanya perlu belajar berpikir kritis -- mempelajari terlebih dahulu semua fakta yg ada, kemudian juga membedakan mana yg fakta, mana yg hoax, dan kemudian meng-edukasi diri kesimpulan apa yg bisa kita ambil.

      Semuanya sudah seharusnya sederhana.

      Mereka yg mengaku "pengamat" dan rajin membuat artikel, biasanya lebih mementingkan popularitas daripada apa yg disampaikan, dengan motivasi egoisme baik mengejar nama, atau kepentingan finansial.

      Akibatnya isi artikel hanya menjadi distorsi dari fakta yg sebenarnya. Asumsi / mimpi dicampur-adukkan dengan fakta yg miring. Lama2 seluruh blog bisa berubah menjadi satu buku besar kebohongan, yg mendukung sesuatu (pilihan) yang salah, dan membengkalaikan terlalu banyak fakta.

      ## Iran - US -- hubungan mereka sebenarnya tidak pernah cukup solid di masa lalu.

      Dahulu kala US mendukung Shah, yg territorial negaranya sendiri baru dibentuk dari perbatasan yg digambarkan UK pasca-Perang Dunia II.

      Shah menerapkan pemerintah yg otoriter, dengan banyak polisi rahasia untuk menekan rakyat Iran.
      Sebaliknya, Pemerintah US, dalam konteks perang dingin, dan berebut pengaruh dalam percaturan politik Timur Tengah, tidak peduli seberapapun dibencinya si Shah di Iran, atau bagaimana Shah memperlakukan warganya sendiri.
      Selama Shah mendukung US, dia mendapat dukungan penuh tanpa kondisi apapun.

      Bisa melihat akibatnya?
      Setiap pemerintah otoriter yg menindas rakyat sepanjang sejarah sudah terbukti -- suatu hari akan selalu jatuh.

      Singkat cerita, di tahun 1979 terjadilah Revolusi Iran, yg tentu saja dibumbui kebencian mendalam, yg skrg juga menjadi diarahkan ke Washington DC.
      Demikianlah.

      ## Pesawat komersial buatan Ruski?
      Mudah. Siapa yg mau membeli? Kualitasnya tidak bisa bersaing.
      Aeroflot Russia saja, setelah Soviet bubar, mulai membeli pesawat komersial dari Boeing, dan Airbus,.

      ## Korea - Jepang.
      Kalau dilihat dari sisi strategis, seharusnya kedua negara ini lebih banyak kerjasama mendalam secara militer / industrial.
      Sayang, ini tidak akan bisa terjadi.

      Jepang pernah menjajah Korea 100 tahun lebih, dan apa yg mereka tinggalkan hanyalah luka2 mendalam yg tidak pernah bisa dimaafkan Korea sampai sekarang.

      Secara umum, orang Korea tidak menyukai orang Jepang.

      Delete
  7. News Update: 21-April Wakil Presiden US Mike Pence mengunjungi Indonesia, penandatangan kontrak senilai Rp 130 Triliun, atau US$10 milyar, termasuk persenjataan / perlengkapan untuk F-16, dan berbagai perangkat buatan Honeywell untuk PT DI

    link:
    Detik Finance

    ABC News

    Kabar baik:
    Jumlah, ataupun detail dari apa yang sudah disebut, belum dideskripsikan dengan jelas.

    Kelihatannya, untuk F-16 menunjuk akuisisi Sniper targeting pod, dan (semoga) lebih banyak AMRAAM, dan AIM-9X.

    Kembali, semoga jumlahnya cukup memadai untuk memenuhi langkah MEF tahap I: mempersenjatai F-16, sebagaimana pernah di-post dalam blog ini.

    ReplyDelete
  8. ternyata TNI AU hanya memikirkan jangka pendek mereka menunggu keputusan pemerintah jadi tidaknya beli su 35 ..pernyataan kasau ini tdk konsisten dgn pernyataan sebelum nya yg katanya memikirkan pembngunan sistem pertahanan modern national network ..sangat mengecewakan plintat plintut , alamat melanggar amanah undang2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Untuk Su-35K, itulah kenapa saya menulis artikel Interview fiktif dengan "pejabat" pendukung Su-35K.

      Apa alasannya untuk membeli model versi export downgrade, yg kemampuannya tidak terbukti (inferior), gampang rusak, dan harus dibeli lewat perantara?

      Kita harus belajar berpikir kritis,
      bukan hanya mengiyakan apa saja yg dicetuskan beberapa pihak di media massa.

      Kebutuhan, dan kepentingan Nasional, harus selalu mendahului motivasi keinginan pribadi.

      Delete
    2. pernyataan KSAU amat bertolak belakang dgn pernyataan sebelum nya , aneh hnya mikir jangka pendek semata , sementara TNI udah berada beberapa pekan di swedia bru tahap pertama belajar sistem pertahanan modern national network , datalink dll..sementara yg satu ini ngotot beli su 35 yg mana rusia jelas2 keberatan dgn ToT dan join produksi bersama kalo kita cuma beli 10 unit...

      Delete
    3. Yah, sayangnya kita bisa menebak alasannya.
      Sama seperti kenapa Sukhoi di Sku-11 sekarang ini, kenapa di-favoritkan?

      Sy baru memperhatikan beberapa foto dari bermacam acara2 TNI-AU sejak tahun lalu.
      Yang sangat menarik, TS-3006 (yg baru pulang dari "perbaikan mendalam") adalah bintang utama di setiap foto.

      Unit yg lain?
      Kelihatannya sih semakin sedikit yg masih bisa terbang.
      Tetapi lucunya, tidak ada complain.

      Tentu saja, kalau TS-3006 dipakai begitu sering, tidak akan lama sebelum unit ini akhirnya..... rusak lagi.

      Mari menghitung hari sampai kapan TS-3006 masih bisa terbang!

      Praktek semacam ini memang sudah saatnya dihentikan.
      Efek gentar lemon, dan hanya buang2 uang.

      Terakhir, sangat aneh kalau TNI-AU (dan para fanboys)juga tidak kelihatan sensitif dengan pergolakan politik dunia, seperti dalam artikel ini.

      Ruski sekarang sudah menobatkan diri sebagai "pariah internasional" yg mendukung kelompok pemakai operasional senjata kimia untuk membantai rakyat sipil, kebanyakan Sunni, di Suriah.

      Pembelian Alutsista dari Ruski di masa ini, hanya akan membuat semua negara sahabat kita menyerengitkan alis.

      Delete
    4. @frans bondol

      Mungkin pernyataan normatif tsb menjawab pertanyaan wartawan yang "selalu" bertanya ttg sukoi-35...

      Saya sih yakin, kasau konsisten dg pernyataan awalnya, bahwa pengadaan pespur baru direalisasikan paling cepat 2-3 tahun kedepan...dan ranahnya ada ditangan kemhan.

      Justru saat ini kasau lebih fokus utk membangun sistim hanud yg modern dan terintegrasi...satu hal yang patut dicatat(dan sering luput dari perhatian wartawan), kasau memberikan perhatian penuh thd kekurangan SDM di skadron teknik, shg kasau meminta lulusan SMK terbaik utk dididik menjadi teknisi pesawat dan alutsista yang lain

      Delete
    5. Bung @hari,

      Memang benar.
      Entah apakah ini juga bisa salah wartawan mengejar subyek yg salah.

      Kembali, menurut logika, seharusnya dalam jangka pendek, TNI-AU harus lebih antusias untuk mempersenjatai F-16 terlebih dahulu, seperti sekarang sedang dibahas bilateral dengan pemerintah US.

      Kemudian memprioritaskan bagaimana F-16C/D, yg sudah jauh lebih modern, agar dapat mencapai status IOC (Initial Operational Capability), sebelum memfinalisasi dengan tahap FOC.

      Tetapi salam setiap kali membahas anggaran, atau rencana modernisasi, bisa ditebak subyek apa yg terus diungkit?

      Betul, "pengganti F-5E".

      Kelihatannya sejauh ini masih menunjuk kalau membeli lebih banyak pespur tak bersenjata ("macan ompong"), entah kenapa prioritasnya lebih penting dibanding mengoptimalkan dahulu apa yg ada.

      Ini saja sudah salah konsep.
      Apa gunanya membeli lebih banyak target untuk ditembak jatuh lawan dalam konflik?

      ## Kedua, TNI-AU juga masih jauh dari transparansi ke publik, malah terlali banyak manipulasi opini publik, baik di media massa, maupun di forum2.

      Pertanyaan paling penting:
      Berapa jumlah Sukhoi di Sku-11 yg sekarang masih bisa operasional?

      Sy sudah menunjuk sejak 2014, kalau TS-2701, -2702, -3001, dan -3002 sudah tidak pernah terbang sejak 2008.

      Eh, ternyata baru tiba2 TS-2701, dan -2702 dikirim "perbaikan mendalam" pada 9-Desember-2015; dan lebih gila lagi,
      Keduanya masih belum balik, kok masih berencana mengirim TS-3001, & 3002 mudik juga?

      Kejadian ini saja menunjuk kalau TNI-AU sebenarnya menutup-nutupi banyaknya kesulitan mereka dengan armada Sukhoi, bisa sampai bertahun-tahun.
      Jangan heran kalau sekarang ini mungkin hanya 6 pesawat yg masih bisa terbang, dngn TS-3006 bintang utama mereka.

      Lucunya, ya, bisa cepat complain kalau produk PT DI kualitasnya kurang baik, atau delivery-nya terlalu lama, tetapi persepsi umum yg sengaja disebarkan adalah "betapa hebatnya Sukhoi", seolah2 ini bintang utama pertahanan udara Indonesia.

      Kenyataannya tidak begitu.
      Kalau lebih memikirkan kepentingan, dan kebutuhan nasional, rongsokan Su-35, yg kesulitannya akan lebih sebarek, sudah seharusnya dicoret dari shortlist daftar belanja TNI-AU.

      Yang lebih menyebalkan lagi, bagaimana para wartawan ini juga complicit, dan tidak pernah mengajukan pertanyaan2 yang kritis untuk menganalisa kebenaran yang ada dalam hal ini.

      Delete
    6. @DR

      Tentang sukhoi...suka tidak suka saat ini dialah pespur yang paling lengkap persenjataannya terlepas dari realita yang ada ttg tingginya biaya operasional, ketiadaan simulator maupun rendahnya tingkat kesiapan operasional.

      2 sukhoi-30 yang mengalami kerusakan mesin saat mengudara dlm waktu berdekatan, belakangan ini, tentu saja membuat penilaian tersendiri bagi Kasau yang baru.

      Tapi sampai kita memiliki "solusi permanen" untuk masalah ini....masak kita akan buka-bukaan tentang kondisi riil yang dihadapi saat ini?

      Ada kalanya kita perlu memunculkan sosok "accidental hero" sampai tiba saatnya kita punya sosok "pahlawan" yang sesungguhnya

      Delete
    7. china saja mendapatkan su 35 versi export downgrade , apalagi kita..menhan awal bulan lalu keberatan dgn harga su 35 per unit $165 juta itu tdk termasuk ToT..ksau misal kan , pagi bicara A, esok bicara C tentang hal ini..bgaimana bisa percaya

      Delete
    8. Bung hari,

      =======
      .... masak kita buka-bukaan tentang kondisi riil yg dihadapi saat ini?
      =======

      Begini,
      sekarang semua negara yg mempunyai badan intelijen yg bagus, spt PRC, Australia, atau Singapore, tentu saja semuanya sudah lebih memahami semua kesulitan Sukhoi di Sku-11.

      kalaupun TNI sendiri merasa memahami 100% masalah, karena kurangnya transparansi, para Jendral, atau pilot di negara lain saja boleh dibilang sekarang ini bisa lebih paham 130%.

      Karena kurangnya transparansi, rakyat, atau pemerintah sengaja dibuat agar hanya memahami 20 - 30% dari masalah yg sebenarnya.

      Transparansi dengan masalah yg ada, bukan berarti menunjukkan kelemahan,
      Melainkan keberanian untuk mengakui kelemahan yg ada, dan kemudian menunjukkan kemauan untuk memperbaiki keadaan tesebut.

      Tidak ada transparansi, berarti tidak akan pernah ada insentif untuk memperbaiki apa yg ada.

      "Semuanya hebat."
      Yah, kita sih sekarang tahu: Sukhoi Sku-11 tidak akan tahan lebih lama dari sehari kalau sampai teruji dalam konflik terbuka.

      =====
      .... Pespur paling lengkap persenjataannya..
      =====

      Er.... Persenjataannya semua Versi Export downgrade, yang tidak pernah dipakai AU Russia sendiri, dan seperti pengalaman India, kualitas shelf-life-nya tidak terjamin.

      Kecil kemungkinannya bahkan masih ada 20 missile, yg masih bisa bekerja. Dan kalaupun bisa bekerja, tidak akan mungkin menandingi kemampuan equivalent missile buatan Barat.

      =====
      ... Solusi permanen?
      =====

      Mudah.
      Pensiunkan semua Sukhoi,pemberi makan perantara, lebih cepat lebih baik!

      Delete
  9. Buat artikel tentang pesawat china yang katanya dari lavi israel(versi 16 israel) yg ga jadi dibuat tapi dibeli dan dibuat china j-10. Apa pespur itu bisa mengungguli gripen dan lebih murah dari gripen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita akan membahas J-10 di lain waktu, secara lebih mendetail.

      J-10 memang kabarnya dibuat berdasarkan dari blueprint IAI Lavi, yg dijual Israel ke PRC; kedua belah pihak sama2 menyangkal.

      Tetapi kenyataannya, sampai tahun 2000-an, J-10 adalah satu2nya desain PRC yang mempunyai konfigurasi delta-cannard, dan semua model yg diproduksi PRC, biasanya masih berdasarkan beraneka ragam MiG edisi tahun 1960-an.

      Sedikit latar belakang dahulu:
      ==============================
      Operasi Dessert Storm 1991, yang memperlihatkan bagaimana kemampuan tempur NATO dengan mudah bisa menghabisi seluruh sistem pertahanan Iraq, yg sewaktu itu terhitung salah satu yg paling modern di dunia --- sebenarnya sudah memberikan kejutan yg luar biasa bagi para pimpinan militer PRC. Semua persenjataan PRC di tahun 1991, masih berbasiskan desain tahun 1960-an, kadaluarsa, dan akan sama mudahnya dibantai.

      Semenjak itu, PRC memulai mengejar modernisasi, atau dalam bahasa Beijing; "technology theft" adalah salah satu pilar yg tidak kalah pentingnya.

      Masalahnya, baru memulai mengejar ketinggalan di tahun 1991, berarti sudah lama ketinggalan kereta.

      Semua tehnologi militer yg diperlihatkan NATO dalam layar TV kita di tahun 1991, sebenarnya hasil perjuangan belajar Learning curve, dan trial-and-error, sejak puluhan tahun yang sebelumnya. Learning Curve: hasilnya tidak akan bisa direplikasi tehnik copy+paste.

      Akibatnya apa?
      Silahkan membaca semua artikel tentang senjata buatan PRC / Ruski: itu hanya tujuannya untuk menakut2i orang!

      Apa yg dilupakan semua yang sudah mengaku "pengamat", dan mendapat bayaran; semua tehnologi militer PRC / Ruski sudah ketinggalan jaman sekitar 20 sampai 40 tahun dari segi Learning curve.

      Kembali ke J-10
      ===============
      Secara tehnis, Soviet / Russia seharusnya membuat pesawat semacam J-10, dibandingkan Sukhoi Flanker, yang ukurannya kelewat besar.

      - J-10 masih harus menggunakan mesin AL-31F untuk Su-Flanker, yang reputasinya sudah termasyur bisa mati sendiri di udara, dan umurnya pendek < 1000 jam.

      Jadi meskipun single engine, biaya operasionalnya juga terjamin jauh lebih mahal vs F-16 dan Gripen.

      - Jarak jangkaunya terlampau pendek <2000 km, karena mesin buatan Ruski juga jauh lebih boros vs GE F414, atau F110 untuk F-16.

      - Radar? Masih pulse-doppler, kualitasnya mungkin akan jatuh dalam kisaran antara AN/APG-66 (F-16A), dan AN/APG-68 versi awal (F-16C).

      Ingat: PRC baru saja memulai mempelajari tehnologi membuat radar modern -- sedangkan di Barat, semua yg ada sekarang, sudah memulai evolusi sejak 30 tahun sebelumnya.

      - Persenjataan: PL-8, PL-9 untuk WVR; PL-11 dan PL-12 untuk BVR

      Dari semua daftar missile PRC -- PL-8 yang paling berbahaya, karena sbnrnya license production dari Phyton-3 buatan Israel.

      Untungnya Phyton-3 sudah ketinggalan jaman; boleh dibilang hanya equivalent dari AIM-9L Sidewinder dengan IR seeker, bukan planar array yg lebih sulit dikecoh flare. Phyton-3 juga belum bisa di-slave ke Helmet-Mounted-Sight.

      Di tahun 1980-an, sebelum Tiannanmen, hubungan PRC - Barat sempat memasuki bulan madu sementara, kembali konteksnya Perang Dingin.

      PL-12 BVR missile paling menarik -- kelihatannya hanya versi "reverse enginneering" dari RVV-AE Ruski. Dan karena itu, kemungkinannya untuk bersaing, bahkan dengan AMRAAM meragukan.

      Demikianlah.
      Boleh dibilang kecil kemungkinannya J-10 akan dapat menantang F-16, atau Gripen. Tentu saja, kembali, kemampuan training pilot jauh lebih penting.

      Kalau pilot J-10 jauh lebih terlatih, walaupun segala sesuatunya lebih inferior, kemungkinan menangnya akan lebih besar.

      Delete
    2. Kenapa PRC pada pesawat " buatan sendiri " J 10B memakai mesin rusia , sedangkan pada pesawat " jiplakan " J 11C justru memakai WS 10 ?
      Antara PAKFA dan J20, hebat yg mana? ( Jgn bilang F 22, hehe )
      Katanya ( ada foto ) J 11 bawa rudal very long range AAM yg bisa 400 km/lebih, bisa dipercaya atau tidak rudal AAM secanggih itu?
      Apakah J 20 benar gen V? Kalau benar bgmn kira2 lawan gen IV seperti F18 hornet yg masih menjadi tulng punggung AL US?

      Delete
    3. Beberapa pertanyaan menarik:

      ## Mesin "buatan" PRC sebenarnya masih sangat unreliable.
      WS-10, walaupun digembar-gemborkan, masih belum bisa dipakai secara luas; PRC masih terlalu mengandalkan AL-31F buatan Russia; bahkan J-20-pun memakai mesin AL-31F.

      Puluhan tahun PRC sudah membajak tehnologi Sukhoi, dan membuat carbon copy J-11B/C/D, yg adalah "unlicensed production", sejauh ini mereka telihat masih belum berhasil memfoto-copy, bahkan AL-31F, yg kualitasnya.. gampang rusak, dan service life-nya hanya 700 jam, atau kurang dari 10% umur mesin buatan Barat yg sebanding.

      Membuat mesin bukanlah suatu kesenian yg dapat dikuasai dengan mudah.
      Russia saja boleh dibilang belum lulus, apalagi PRC.

      ## J-20 vs F-22::
      Beberapa fakta ringan re J-20, kenapa tidak bisa menandingi F-22, atau F-16, dan F-18:

      - Mesin AL-31F seperti diatas, kualitas lemon, tidak dirancang untuk Supercruise

      - Ukurannya kelihatannya lebih besar dari F-22 = lebih berat, lebih draggy, tidak akan bisa manuever

      - RCS? Meragukan kalau PRC sudah menguasai produksi stealth coating yg menghasilkan RCS dibawah 1 m persegi. Sama seperti mesin, memerlukan kesenian tersendiri untuk membuat stealth coating yg menghasilkan RCS rendah.

      - Sensor Fusion? Situational Awareness? Ini kelemahan utama tidak hanya desain PRC, tapi juga Russia.

      - Seperti di J-10 diatas, persenjataan untuk J-20 juga masih kualitas lemon, di bawah standard AIM-9X, atau AMRAAM-D.

      ## Missile PRC "rumor" berjarak jangkau 600 km, dan kecepatan Mach-6?
      Saya pernah menjawab pertanyaan ini dalam satu forum komentar bahasa Inggris:
      Semua orang yg bisa membuat roket juga bisa membuat missile dngn spesifikasi demikian.

      Yang paling penting, pertama-tama, radar pesawat induk harus dapat mengunci target terlebih dahulu. Sebagaimana kita ketahui, bahkan radar Irbis-E Su-35S misalnya, hanya dapat mengunci Super Hornet dari jarak kurang dari 90 km.
      Tidak bisa mengunci target, ya, tidak akan bisa menembak jauh.

      Kedua, seberapa jauh kemampuan datalink antara pespur, dan missile?
      Koordinasi antara pesawat induk vs missile?

      Ketiga, Active Guidance di missile itu sendiri.
      Apakah kualitasnya bisa menandingi AMRAAM-D, atau Meteor?
      Apakah akan kebal jamming? Atau mudah dikecoh towed decoy?
      Kita tahu kalau Russia saja, kembali, belum berhasil membuat active guidance yg bekerja di R-77.

      Delete
  10. Min sepertinya Au ini yang paling bandel mereka sepertinya paling sedikit atau malah tidak ada tot dalam alutista,paling tertutup pengadaan peralatan dan paling sedikit penggunaan industri dalam negri, tidak seperti angkatan lain walaupun mungkin dibalik layar ada KICKback nya,AD ada proyek ranpur dalam negri, AL ada ada kerjasama sama PT Pal, pembuatan kapal patroli freegate, corvette dan ada klewang class, AU? IFX? Proyek Enggak jelas Hanya buang buang uang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah menjadi hukum alam dalam dunia transaksi alutsista,

      "Kalau penjualan dinegosiasikan melalui agen perantara, SUDAH PASTI akan selalu ada KICKBACK untuk pejabat lokal"

      Menghadapi pilihan, antara F-16, Su-35, dan Gripen;
      Sukhoi satu2nya yg ditawarkan dari agen perantara Rosoboronexport.

      Komisi perantara, dan kickback juga tidak hanya akan sekali beli putus,
      Setiap spare part, atau biaya tehnisi Ruski, harus selalu dibayarkan melalui Rosoboron.
      Kerugian negara dari Sukhoi di Sku-11 saja mungkin sudah mencapai ratusan milyar.

      Dalam nama kickback sih, peduli amat dengan ToT, atau industri lokal,
      yg penting kantongku bertambah tebal.

      Inilah kenapa setiap transaksi, tanpa terkecuali, harus dipaksakan untuk melalui G-to-G contract.

      Delete
  11. yg dulu dikatakan bung dark terbukti , kita udah sepakat kontrak pertama beli su 35 sbnyk 10 unit ,aneh nya jumlah harga tak disebutkan ,tot juga tdk disebutkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya tidak pernah ada kesepakatan, hanya terus menunjukkan "...menginginkan Su-35": pesawat versi export berkemampuan nihil, tanpa peduli berapapun harga yg harus dibayar.

      ## Pertama bilangnya mau 10 unit, kemudian direvisi menjadi 8 unit, kemungkinan hanya untuk harga $1,1 milyar. Bukan masalah pelik untuk mengejar keinginan.

      Padahal dengan harga yg sama ($1,14 milyar), pada 27-Juni-2016 yg lalu, Saab sudah mengajukan penawaran resmi untuk 16 Gripen-C/D MS-20, pesawat yg jauh lebih modern, biaya op-nya hanya 1/20 kali lebih murah, tanpa komisi perantara, dan dapat dipersenjatai dengan semua yg tebaik buatan Barat, tanpa bisa ditentukan secara sepihak oleh supplier manapun.

      Seperti kita lihat, baik dari Kemenhan, ataupun TNI tidak kelihatan antusias menyambut menariknya tawaran ini, bukan?
      Kenapa, yah?

      ## Tentu saja, seperti di atas, para pejabat akan selalu lebih memilih untuk berdagang dengan Agen perantara Rosoboron, dibanding kontrak G-to-G untuk F-16, dan Gripen.


      ## ToT, atau kerjasama industri lokal?
      Seperti disebut oleh blog sebelah: "... Demi **pesawat rongsokan**, kita harus rela berkorban," katanya.

      Menggelikan, mereka ini sering mengulang2 rhetorisme "NKRi harga mati", padahal tindakan mereka menginginkan kita menjual kedaulatan negara ke penjual asing.

      Delete
  12. Mohon dijelaskan pembelian secara COTS itu yg bgm? Source Code letaknya dmn ya,di bawah mesin ato dmn, yg dikunci oleh produsen pespur

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Pembelian secara COTS, berarti membeli komponen mentah dari produsen pihak ketiga, untuk dipasangkan ke pesawat yg diproduksi.

      Ini prosedur standard dalam setiap proyek pembuatan pesawat.

      CN-235 produksi kerjasama PT Dirgantara, dan EADS Casa, misalnya, mempergunakan mesin GE CT-7 yg dibeli secara COTS.

      Saab 340 juga memakai mesin GE CT-7 yg sama.

      Kenapa membeli COTS?
      Jawabannya, karena baik usaha, maupun biaya dvelopment / produksi menjadi lebih mudah / murah, dngn membeli komponen yg sudah tersedia dari pihak lain.
      Resiko proyek juga menjadi lebih kecil.

      ## Source Code adalah nama lain dari kode programming yg berada dalam semua komputer yg akan menghuni setiap semua pesawat modern; bukan hanya pespur.

      Yah, setiap pesawat yg masih diproduksi sekarang membutuhkan komputer, untuk mengatur segala sesuatu; mulai dari proses take-off, landing, manuever, deteksi radar, semuanya.

      Gripen-E, misalnya, akan membawa 43 macam komputer untuk mengatur berbagai macam parameter secara terpisah.

      Komputer hanya processing unit -- tidak ada gunanya tanpa adanya programming code yg mengatur semua perhitungan itu tersendiri.

      Kembali ke pespur:

      ## Dassault Rafale membutuhkan 2 juta baris kode, tambah 1/2 juta baris hanya untuk RBE-2AA AESA radar.

      Ini menggarisbawahi, kemampuan AESA radar akan sepenuhnya tergantung kepada keahlian menulis kode, sesuatu yg masih belum bisa dicapai oleh PRC / Ruski.

      Hanya bisa memproduksi transmitter AESA, bukan berarti akan bisa memproduksi AESA radar yg kemampuannya sebanding dengan buatan Barat.

      # Sedangkan pesawat gagal, F-35 Lemon II, jumlah kodenya sudah mencapai belasan juta baris (5x lipat lebih banyak dari Rafale); ternyata masih juba belum selesai, dan masih belum bisa menembakkan senjata mesinnya sampai 2019, atau mengintegrasikan banyak senjata yg sudah bisa dioperasikan F-15, F-16, dan F-18.

      Source Code boleh dibilang adalah suatu kesenian sendiri, yg tidak akan semudah itu bisa dikuasai pembuat, bahkan yg paling berpengalaman sekalipun.

      Delete
  13. menurut bung GI apakah korut potensial jadi target serangan umum berikutnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita tidak tahu.

      Baik Korut, ataupun pemerintah Trump yg sekarang mempunyai "unpredictability factor", yg tidak bisa diperhitungkan.

      Satu hal lagi yg patut disinggung, dan memang belum disebut dalam artikel ini:
      Setelah Afganistan, dan Iraq, rakyat United States sendiri sudah tidak antusias untuk mendukung keterlibatan militer negara mereka dalam konflik lain.

      Pada serangan 7-April ini saja, walaupun seluruh dunia menyambut antusias serangan cruise missile ke Shayrat, general mood di US sebenarnya lebih melempem.

      Cilaka, pikir mereka.

      Apakah ini artinya US akan terjun lebih mendalam di konflik Syria, kemudian harus menghamburkan ratusan milyar $$, dan tidak bisa keluar bertahun-tahun (sekali lagi)?

      Pengalaman di Afganistan, dan Iraq sudah mengajarkan, untuk masuk sih gampang,
      tetapi setelah itu untuk menstabilkan keadaan, dan bisa keluar balik itu jauh lebih sulit.

      Delete
  14. Saab akan memodernisir rudal rbs-15 f-ER, dg mendongkrak jangkauan dan kemampuan dlm menghadapi berbagai kondisi cuaca...beberapa pendapat mengatakan seeker tipe active radar adl jawabannya.

    Bisa dijelaskan kemampuan seeker, tipe active radar ketika berhadapan diberbagai jenis cuaca yang ekstrim?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy memang masih hutang artikel untuk menjelaskan perbedaan berbagai macam seeker.

      Secara garis besar sih, missile active seeker itu adalah missile yg membawa radarnya sendiri.

      Secara tehnis, active seeker missile dapat mengunci target secara independent dari jarak sekurangnya puluhan kilometer (angka sebenarnya dirahasiakan), dan dalam tahap ini, missile secara tehnis baru benar2 berubah menjadi fire-and-forget.

      Inilah keunggulan active-seeker, dibanding IR-seeker, atau RF-seeker (radio frequency seeker -- mengikuti gelombang radar lawan), jarak jangkau untuk men-lock target secara independent lebih jauh.

      Dengan IR atau RF seeker, missile akan membutuhkan panduan dari radar pesawat induk terlalu lama, sampai jaraknya ke target terlalu dekat.

      ## Dalam menghadapi cuaca buruk:

      Active-seeker missile, terutama untuk fungsi Air-to-surface, seperti RBS-15F, masih dapat mengandalkan panduan dari GPS, dan internal Inertia Navigation untuk mengalokasikan posisinya sendiri terhadap target. Ini karena target di darat, mobilitasnya tidak bisa setinggi pesawat di udara.

      Active seeker generasi terbaru juga merupakan evolusi dari pengembangan tehnologi puluhan tahun.

      Dahulu, seeker generasi pertama, kalau ditembakkan dari ketinggian yg lebih tinggi dari target bahkan akan kesulitan untuk membedakan target, dari permukaan bumi.
      Generasi berikutnya, menambah kemampuan "look-down", untuk dapat menyelesaikan masalah diatas.

      Semua seeker missile, skrg sudah mempunyai kemampuan "all-weather"; cuaca buruk tidak akan dapat mempengaruhi kemampuan terlalu besar.

      Melanjutkan dari atas, active seeker missile memang rentan terhadap jamming, dan karena itu, beberapa jenis missile juga menambah kemampuan untuk "homing-on-jamming", memanfaatkan jamming signal seperti guidance altematif.

      Delete
  15. Dark Rider saya boleh ngulangin pertanyaan lagi engggak?
    Bukannya SU-30MKM Malaysia pembeliannya Governmetn-to-Government Contract
    melalui paket offset pem belian SU-30MKM,seperti Malaysia bekerja sama Dengan Russia dalam bidang antariksa.Russia Mengirim 1 Angkasawan(Istilah Astronot untuk Malaysia)Ke stasiun ISS.
    Kenapa Indonesia membeli SU-27/SU-30 lewat Rosoboronexport.
    Kenapa Irkut tidak mengijinkan menjual SU-30 ke Indonesia
    KENAPA SU-27/30 Indonesia tidak dilengkapi komponen barat seperti punya Malaysia?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung ikhsan,

      Agen perantara Rosoboronexport dibentuk tahun 2000, dan sudah menjadi keputusan pemerintah Moscow, dan Kremlin untuk menjadi satu2nya jalur resmi transaksi alutsista dengan Russia.

      Transaksi Su-30MKM Malaysia tentu saja harus via Rosoboron. Tidak ada pilihan lain. Mereka juga harus bayar komisi.

      ## Kalau Russia waktu itu menawarkan Malaysia untuk mengirim 1 kosmonot keluar, ini hanya bagian dari paket offset mereka.

      Sedikit latar belakang: di tahun 2003, Russia masih menjilati luka2 mereka setelah resesi ekonomi sepanjang tahun 1990an. Inilah kenapa dikala itu mereka lebih murah hati.
      Sekarang sih, mau keluar $2 milyar juga, belum tentu bisa dapat penawaran offset yg sama.

      Lagipula, kembali, akibat sepak terjang Russia, sekarang badan antariksa Uni Eropa sudah berencana untuk tidak melanjutkan kontrak kerjasama pembuatan roket, dengan pabrik di Russia.

      ## Su-30MKM sebenarnya berbasiskan Su-30MKI yg sudah khusus dibuat untuk India di akhir 1990-an.
      Pabrik Irkut sudah bekerja sama dengan Thales Perancis, untuk menyediakan avionic untuk semua Su-30 canard mereka di kala itu.

      Semua model Su-27/30, seperti yg dibeli PRC, Vietnam, dan Indonesia adalah produksi pabrik KNAAPO, yang adalah saingan pabrik Irkut. Kedua sub-variant Su-27/30 ini masih berbasiskan Su-27S dari jaman Soviet tahun 1980an, dan hampir sama sekali tidak ada persamaannya dengan Su-30 Irkut.

      Jadi, yah, avionic Barat tidak akan bisa dipasang ke Su-27/30 legacy tahun 1980-an.

      ## Btw, karena sekarang Ruski sudah terkena embargo Barat, produksi Su-30 Irkut ala MKI India sudah berakhir. Mereka baru memperkenalkan Su-30SME (versi export), yg tanpa avionic Perancis. Produk ini akan menjadi saingan Su-35K produksi Knaapo.

      ## Kenapa Rosoborn tidak mengijinkan penjualan Su-30 Irkut di tahun 2003?

      Beberapa alasan sederhana:

      - Tidak seperti Malaysia, atau India, tempo hari 4 unit Sukhoi pertama, Indonesia maunya beli dengan sistem barter. Dalam jumlah nyicil lagi.
      Ruski waktu itu kesulitan uang, tapi mereka tidak sebodoh, atau semiskin itu.

      Yah, bisa lihat sendiri kan, nasib 4 Sukhoi yang "beli barter"?

      - Kedua, entah mau berpikir bagaimana, Russia masih mengingat terus bagaimana kita membubarkan partai komunis terbesar diluar Soviet, dan PRC, kemudian dengan seenak perut main hibah MiG-21, dan beraneka ragam perangkat Soviet ke United States.

      Kita bukanlah customer yg bisa dipercaya.
      Waktu itu, Su-30 Irkut adalah pesawat terbaik yg bisa mereka buat.

      Sama spt sekarang, kalau mereka menawarkan Su-35KI hanya akan namanya saja Su-35.. Kemampuannya hanya akan di-downgrade habis2an setengah jadi.

      Delete
  16. Kabarnya Sukoi akan dilengkapi Pod Jamer utk menghindari AMRAAM, sejauh mana kemampuannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama seperti segala sesuatu buatan Russia: Tidak ada yg tahu seberapa efektifnya jammer pod Sukhoi.

      Angkatan Darat Russia kabarnya sangat efektif dalam men-jamming komunikasi militer Ukrania dalam konflik Ukrania Timur.

      (Secara resmi sih, "tidak ada" satupun tentara Russia yg terlibat).

      Akan tetapi ini konteksnya berbeda dalam pertempuran di udara:

      - Konektivitas militer Ukrania masih mengandalkan radio warisan jaman Soviet.

      - Perlengkapan jamming, kalau bisa bekerja di darat, harus menjalani miniaturisasi (dibuat dalam paket yg lebih kecil) untuk bisa dibawa Sukhoi.

      - Industri militer Russia sendiri, sbnrnya saling bersaing (contoh: Irkut vs Knaapo), dan kurang bekerjasama satu sama lain. Kecil kemungkinannya keberhasilan dalam satu bidang, akan bisa di-transfer ke bagian lain.

      - Sistem jamming Russia belum teruji melawan sistem komunikasi / datalink NATO, dan Israel.

      Sejauh ini, Israel tidak kesulitan untuk membom target sesuka hati di seluruh Syria.

      - Guidance system di AMRAAM sudah berevolusi beberapa generasi lebih lanjut.
      AMRAAM mempunyai kemampuan "homing-on-jamming" terhadap sumber jammer.

      Dilain pihak, upgrade adalah salah satu kelemahan terbesar setiap industri Russia.

      ## Terakhir, seberapapun hebatnya jammer di Sukhoi tidak akan relevan, karena negara pembeli Sukhoi hanya akan diperbolehkan membeli..... (bersama-sama kita ulangi lagi)..... Versi Export Downgrade.

      Delete
  17. Bukannya MIG-35 pake bisa bawa Missile buatan barat kaya AIM-9 Sidewinder sama IRIS-T tanpa modifikasi lanjutan
    Kenapa Prancis mengijinkan penjualan Rafale ke Mesir?
    Inggris pernah melarang Indonesia menggunakan HAWK untuk konflik dengan GAM?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Uni Soviet sebenarnya yg mempelopori konsep "offboresight IR-missile" di tahun 1980-an, dengan R-73, yg di-slave ke Helmet Mounted Sight.

      Akan tetapi... Reunifikasi Jerman kemudian membawa 24 MiG-29A versi export, beserta stock R-73 mereka ke dalam lapangan testing NATO.

      Waktu itu, mereka mendapati kalau training pilot NATO kualitasnya jauh lebih unggul dibanding sistem Soviet, akan tetapi mereka juga melihat kalau di tangan pilot yg baik, kombinasi MiG-29/R-73 lebih unggul dibandingkan F-16/AIM-9M, yg belum mempunyai kemampuan offboresight missile.

      Sekarang 27 tahun kemudian, Russia masih menjual R-73E versi export, yg kemampuannya tidak bergeser lebih jauh dibanding versi R-73 yg sudah dipelajari NATO di tahun 1990-an.

      Sedangkan AIM-9X, IRIS-T, dan Phyton-5 sudah satu-dua generasi lebih maju.

      - Sementara R-73 kemampuannya masih terbatas 60 derajat dari arah moncong pesawat, sedang ketiga missile Barat ini dapat ditembakkan ke belakang pesawat induk.

      - IR-seeker R-73 masih lebih mudah dikecoh flare, dibanding ketiga missile Barat, yg sudah memakai planar array, dan melihat "gambar" IR pesawat lawan.

      Diehl IRIS-T kemampuannya merangkap sebagai self-defense missile, untuk menembak jatuh BVR missile lawan, atau salah satu missile dari S-400.

      Sukhoi Flanker yang malang (versi manapun), tidak hanya menjadi ukuran target yg luar biasa besar, tapi tanpa ada upaya pengurangan IR-signature, pantatnya juga luar biasa panas.

      ## Rafale Perancis ke Mesir
      Mesir sudah menjadi langganan pembelian pespur Perancis sejak tahun 1960an akhir. Tidak seperti supplier lain, mereka justru yg paling tidak memusingkan affliasi politik negara pembeli, ataupun seberapa otoriternya pemerintahannya. Persyaratannya mudah: punya uang, dan bukan dianggap antagonis oleh negara2 NATO.

      ## UK dan BAE Hawk / Tank Scorpion

      Ini sebenarnya ada kontroversinya sendiri.

      Menurut artikel di The Guardians, 6-Des-2004, sebenarnya TNI berjanji sebelum kontrak (tidak mengikat) untuk tidak menggunakan Hawk, dan Scorpion untuk menghantam GAM. Tentu saja, kemudian Scorpion, dan Hawk dipakai di Aceh.

      UK sebenarnya tidak melarang; hanya banyak pihak, termasuk dalam parlemen UK jadi mengkritik transaksi ini ke Indonesia, dan mempertanyakan tanggung jawab kita sebagai pembeli.

      Apalagi karena kedua kontrak ini juga bertabrakan dengan Krisis Ekonomi 1998; pembelian ini sebenarnya beli ngutang... dan Indonesia jadi tidak bisa bayar, jadinya rakyat UK yg harus menanggung kerugiannya.
      Yah, inilah alasan kenapa mereka cukup keki dengan kedua transaksi ini.

      Untuk urusan HAM, UK sendiri tidaklah bersih.
      Mereka juga sedang menghadapi kontroversi lain krn mempersenjatai Saudi Arabia, untuk kemudian membom terlalu banyak target, dan menjatuhkan banyak korban sipil di Yaman.
      Banyak kritik juga sekarang mencoba mengurangi, atau menghentikan penjualan senjata ke Saudi, karena alasan ini.

      Delete
  18. Rusia Berencana Bangun Kapal Induk Terbesar di Dunia http://kom.ps/AFwIvL

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berita ini sebenarnya sudah sejak beberapa tahun yg lalu.

      Semua pengamat yg menulis artikel re kapal induk Ruski ini juga sudah mengambil kesimpulan yg sama:
      - Ruski tidak lagi mempunyai fasilitas untuk membuat kapal perang besar
      - Mereka juga sudah lama tidak memproduksi kapal lebih dari beberapa ribu ton (pengalaman jaman Soviet sudah hilang), dan....
      - Masalah paling pelik: Ruski tidak akan punya uang untuk menyelesaikan proyek ini.

      State-of-the-art Nimitz-class saja harganya mencapai $8 milyar per unit. Pada puncaknya, 1 Nimitz diselesaikan setiap 2 - 3 tahun sekali, dengan anggaran pertahanan yg tidak pernah kurang dari $400 milyar per tahun.

      Dengan anggaran hanya dalam kisaran $50 - 60 milyar per tahun, Ruski jugs tidak pernah memproduksi, dan tidak ada pengalaman untuk membuat kapal sebesar itu. Lebih parah lagi, fasilitas produksi kapal terbesar mereka di jaman Soviet, berada di Laut Hitam, tepatnya, sekarang sudah menjadi bagian dari... Ukrania.

      Inilah salah satu alasan dahulu, Ruski mencoba membeli Mistral-class dari Perancis, sebelum kontraknya dibatalkan akibat pencaplokan Crimea: untuk mencoba mengembalikan kemampuan memproduksi kapal perang besar secara mandiri.

      Delete
  19. Ada formil militer yng saya baca mengatakan biaya operasional gripen lebih besar dari yang di promosikan.. benar gak tu min?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawaban yang benar: Kita tidak akan bisa mendapat angka biaya op yg pasti.
      Angka dari Jane's yang $4,700 itu hanya panduan kasar, bukan pegangan pasti.

      Biaya operasional setiap pesawat tempur (tidak hanya Gripen), kalau dioperasikan Angkatan Udara yg berbeda, maka angka biaya operasionalnya akan selalu berbeda.

      Akan selalu ada perbedaan prosedural, operasional, harga spare part bayar retail, atau harga borongan, kemudian biaya delivery part, sejauh mana penyerapan ToT, seberapa jauh pekerjaan maintenance bisa dikerjakan mandiri tanpa bantuan sub-contractor luar, dan proporsi komponen yg bisa diproduksi lokal.

      Tentu saja, khusus untuk Sukhoi: seyogjanya harus menghitung berapa besarnya % komisi perantara yg harus dibayarkan setiap detik, baik ke Rosoboron, antek2 lokal, dan proporsi "kickback" untuk pejabat.

      Gripen-Indonesia tentu saja biaya operasionalnya akan berbeda (bisa lebih murah/mahal) dengan Thailand, Czech, Hunggaria, Afrika Selatan, Swedia, dan Brazil.

      Kembali angka perhitungan Jane's menunjuk operasional masing2 tipe di negara asal, bukan di negara importir, yg biayanya bisa 10 - 20% lebih mahal.

      Panduan yang lebih memberikan kepastian:
      Biaya operasional Gripen-C/E akan 30-40% lebih murah dibanding F-16C/D, dan menurut estimasi AU Afrika Selatan, hanya lebih mahal 35% dibanding BAe Hawk-109/209.

      Dibanding Su-35K, kita bisa mengambil estimasi awam kalau biaya operasional Gripen-C/E akan kurang dari 5%.
      Setiap Gripen dapat mengudara 20 jam setiap sejam Sukhoi terbang.

      Delete