Thursday, April 27, 2017

Sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi Kommercheskiy (Versi Export) Indonesia

Gambar: TNI-AU
Sewaktu masih bisa terbang
Sukhoi Su-30MK2 dengan nomor registrasi TS-3009, sebagaimana dilaporkan dalam Tribun News,  baru saja mengalami kecelakaan satu mesin hancur, yang mungkin diakibatkan "bird strike", ketika sedang mengudara dalam acara gladi bersih sebelum peringatan HUT TNI-AU pada 7-April-2017 yang lalu. 

Selamat kepada kedua awak TNI-AU; Letkol Pnb Anton Pallaguna dan Lettu Pnb Ahmad Finandika, yang berhasil memendaratkan kembali TS-3009 ke bandara Halim Perdanakusuma!
Seperti dikutip dalam TribunNews
Sejauh ini belum ada laporan lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi. 

Letkol Anton sendiri mengaku tidak bisa melihat apakah benar mesin pesawatnya sudah terkena "bird strike". Yang pasti apa yang sudah terjadi adalah, mesin sebelah kiri TS-3009 terbakar sewaktu mengudara pada ketinggian 700 - 800 kaki. Letkol Anton menghitung sampai ada lima ledakan di mesin sebelah kiri, dan mesin kanan-pun mulai mengalami fluktuasi.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah benar terjadi "birdstrike"?

Yang lebih penting lagi, pertanyaan ini di akhir artikel: 


Berapakah biaya perbaikan Sukhoi TS-3009 kelak?



Kemungkinan  #1"bird strike" pada ketinggian diatas 700 kaki, di wilayah sekitar Halim Perdanakusuma?

Daftar Kecelakaan serius dari Aviation Safety Network sejak 2002,
untuk wilayah Jakarta, dan sekitarnya:
Tidak ada satupun yang diakibatkan oleh "bird strike"

Patut diketahui terlebih dahulu, 65% (Enam puluh lima persen) kejadian "bird strike", sebenarnya hanya menimbulkan kerusakan minor pada pesawat. Karena itu, memang walaupun tidak masuk ke dalam daftar Aviation Safety Network, tidak tertutup kemungkinan insiden "bird strike" tetap bisa terjadi di kawasan Jakarta.

Kejadian "bird strike" yang paling serius di Indonesia, baru terjadi pada 15-Desember-2015, seperti yang dialami Garuda Indonesia Flight 169, akan tetapi kejadian ini sendiri terjadi di Padang, dan bukan di Jakarta. Kembali, setiap wilayah, akan mempunyai masalah "ancaman" burungnya sendiri yang berbeda. Seperti di atas, kejadian "bird strike" ini sendiri terhitung cukup minor, dan kerusakannya tidak parah.

Pada 21-Mei-2015 yang lalu, PT Angkasa Pura II, baru saja mulai menerapkan prosedur keamanan terhadap ancaman "bird strike" di wilayah sekitar Jakarta.

Lebih lanjut, menurut ICAO (International Civil Aviation Organization) statistik "bird strike" menunjuk kalau 90% kejadian cenderung terjadi di sekitar airport, dan 61% kejadian pada ketinggian dibawah 100 kaki, atau 30 meter dari permukaan tanah, terutama sewaktu pesawat sedang dalam tahap lepas landas, atau mendarat.

Dari sini kita bisa melihat, kalau kemungkinan terjadinya resiko "bird strike" dalam kawasan Jakarta sendiri sebenarnya cukup minor, kerusakan yang ditimbulkan ke pesawat juga kemungkinannya terlalu kecil, dan kalaupun bisa terjadi, resikonya sebenarnya tidaklah seserius dibanding di kawasan sekitar Kuala Namu Airport, Medan.

Lantas, apakah yang terjadi dengan TS-3009? Apakah kecelakaan benar terjadi karena "bird strike"?

Pada ketinggian 700 kaki, species burung apa yang terbang di daerah Jakarta, dan ukurannya harus cukup besar untuk menimbulkan kerusakan?

Atau, skenario lain yang lebih memungkinkan:


Kemungkinan  #2: Mesin AL-31F dari TS-3009 sebenarnya "kaput" dalam latihan 

Masalahku sangat banyak!

Sampai kapanpun juga tidak akan ada Transfer-of-technology,
walaupun jumlah pembelian India akan mencapai 270 unit.
Sebagaimana sudah sering diulang dalam blog ini, India sudah lama melaporkan kalau Sukhoi Su-30MKI mereka sering mengalami kejadian "satu mesin mati udara", dan terpaksa mendarat dengan satu mesin. Laporan dari Indian Express, 6-Mei-2016, menunjuk kalau IAF sudah mengalami 34 insiden antara 1-April-2014, sampai 31-Maret-2016.

17 insiden per tahun

Kalau belum cukup parah, sebagaimana dilaporkan The Tribune India, 20-Juli-2014, mesin AL-31FP ternyata memang tidak pernah tahan operasional sesuai spesifikasi produsen yang hanya 1,000 jam. Hanya bisa tahan 700 jam, sebelum mesinnya harus diganti, dan akan membutuhkan waktu 4 - 5 hari untuk mengganti mesin Sukhoi MKI. Itu juga dengan persyaratan kalau tim tehnisinya sudah sama terbiasa, dan terlatihnya dengan tehnisi India, yang sewaktu itu sudah 10 tahun mengoperasikan ratusan Sukhoi.

AU Vietnam, sebagaimana dilaporkan Tuoi Tre News, 17-Mei-2013, juga sudah pernah mengalami insiden yang sama dengan Su-30MK2, yang adalah sub-variant yang sama dengan TS-3009. Pada bulan April-2012, captain & chief of Air Strike Regiment 935 Nguyen Xuan Tuyen, dan flight head Nguyen Gia Nhan melaporkan kalau satu mesin dari Su-30MK2 mereka mati di udara di atas laut Cina Selatan, 600 kilometer dari darat, sebelum keduanya berhasil memendaratkan pesawat ini kembali ke pangkalan.

Yah, kelihatannya kejadian "satu mesin mati udara", sebenarnya adalah satu resiko yang normal, dalam pemakaian Sukhoi Flemon, dengan mesin buatan NPO Saturn. Cukup beruntung karena Sukhoi Flanker memang sudah di-desain dari awal untuk dapat mendarat kembali kalau sampai satu mesinnya mati di udara, karena ternyata memang kejadian ini cukup sering terjadi.

Hampir mustahil kalau 14 tahun pengoperasian, TNI-AU bisa menghindari "masalah standard" Sukhoi, yang sudah sering mendera baik IAF India, dan AU Vietnam.

Terlepas dari kedua kemungkinan ini, yang masing-masingnya hanya menunjukkan problem quality control dari Sukhoi Flemon, mari mencoba menjawab ketiga pertanyaan berikut:


Pertanyaan #1: Berapa biaya perbaikan untuk TS-3009? 

Inilah pertanyaan yang lupa ditanyakan media massa.

Kembali patut dicatat disini, kalau baik seluruh Angkatan Udara India, dan Vietnam, mulai dari pilot, tim tehnisi, sampai seluruh organisasinya juga jauh lebih terbiasa, lebih terlatih, dan jauh lebih memahami tunggangan mereka dibandingkan di Indonesia, yang masih harus tergantung belas-kasihan "perbaikan mendalam", yang di-sub-contract-kan ke negara asalnya.

Defense News, 22-Maret-2017
Rostec, yang sekarang sudah mengambil alih kepemilikan Rosoboronexport, seperti dalam skenario India di atas, kemungkinan hanya akan mengharuskan membeli mesin AL-31F baru, daripada memperbaiki unit ini. Harga per unit menurut estimasi $3,5 juta (link: Deagel), atau lebih mahal kalau beli eceran, belum lagi menghitung biaya pemasangan, dan tentu saja kewajiban komisi perantara


Pertanyaan  #2: Apakah TS-3009 akan dapat diperbaiki sendiri di tanah air?

Atau apakah TS-3009 akan membutuhkan "perbaikan mendalam" jutaan $$$, seperti saudara-saudaranya yang sudah kaput? 
"Perbaikan Mendalam" TS-3006:
India, dan Vietnam, para ahli pemakai Sukhoi, 

tidak perlu melakukan yang sama

TS-2701, dan TS-2702 masih belum pulang, 
eh, masih mau kirim TS-3001, dan TS-3002?
Prosedur ini adalah pelanggaran persyaratan UU no.16/2012, pasal 43:
Sukhoi memang senang melanggar hukum!

Berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya, perbaikan dengan subkontraktor luar, selain melanggar Undang-Undang, dan mempermalukan kedaulatan Indonesia, hanya akan mengetok biaya menjadi jauh lebih mahal.

Biaya sewa An-124-100 dari Volga-Dnepr untuk antar-jemput Sukhoi Flemon bisa mencapai sekurangnya $250,000 sekali jalan, dan mungkin masih harus di-book lewat perantara. Kalau angka ini belum cukup, biaya kerja tehnisi Russia bisa meledak puluhan kali lipat dibanding biaya tehnisi di Sku-11.

Pembaca bebas untuk menghitung sendiri, kira-kira biaya perbaikan, ditambah harga mesin, sudah bisa mencapai berapa juta dollar?

Tentu saja, tidak akan ada jaminan, dalam beberapa ratus jam terbang lagi, mesin AL-31F bisa akan kembali "kaput" seperti diatas, dan siklus ini akan kembali terulang kembali.


Pertanyaan  #3: UPDATE: Berapa lama sebelum TS-3009 bisa mengudara kembali? 

Sekarang kita tahu kalau TS-3009 sudah bergabung dengan nasib TS-2701, TS-2702, TS-3001, dan TS-3002: rusak berat, dan tidak lagi bisa terbang. Minimal berbulan-bulan, atau setahun lebih seperti nasib kedua TS-270x, yang masih belum pulang, walaupun sudah ngendok di kampung halamannya.

Pengalaman yang pahit bukan? 

Apalagi kalau mengingat kalau TS-3009 adalah salah satu dari pesawat batch terakhir 6 pesawat dari sistem beli cicilan dengan nilai transaksi $470 juta, yang baru saja diantar di tahun 2013.



PenutupSudah saatnya mencari pengganti Sukhoi di Sku-11, dan...... tidak boleh Su-35KI

Credits: Saab
Pilihan terbaik adalah pilihan yang paling menjunjung tinggi kedaulatan negara,
bukan rongsokan versi export downgrade.
Sebenarnya langkah modernisasi, atau akuisisi tambahan TNI-AU, seharusnya tidak perlu lagi diarahkan untuk menggantikan F-5E. Ini sudah tidak lagi diperlukan: Ke-24 Lockheed-Martin F-16C/D Block-25+, dan 15 Lockheed-Martin T-50i Versi Export sudah lebih dari cukup untuk mengisi kebutuhan ini.
Sayangnya, perencanaan Renstra saat ini, masih berdasarkan asumsi kalau Sukhoi Kommercheskiy akan bisa panjang umur seperti F-16, yang produksi 1988 (versi A/B), atau 1985/1986 (Block-25F).

Ini tidak akan bisa terjadi

(Youtube capture, uploader: Net.Z)

TS-3006 masih fit, karena baru pulang dari "perbaikan mendalam",
dan sekarang pemeran bintang utama Sku-11:
Hadir dalam acara HUT RI 2016 (gambar), Angkasa Yudha 2016, dan semua acara lain

Sayangnya, kalau terlalu sering dipakai, yah,
 akan cepat rusak lagi..

Kita lihat saja sampai kapan TS-3006 masih bisa terbang
Pesawat tempur TNI-AU yang paling mendesak untuk membutuhkan pengganti adalah..... semua Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11. Menurut spesifikasi pembuatnya saja, Sukhoi hanya bisa dipergunakan selama 20 tahun, sebelum harus masuk ke liang kubur.... atau hanya 10 tahun menurut estimasi Analyst Mark Bobbi.
Sistem "Sekali pakai, buang!"
Link: The Moscow Times, 2015
Atau paling tidak hanya 18 tahun, menurut pengalaman PLA-AF China, salah satu pengguna ratusan Sukhoi Flanker, yang jauh lebih ahli, dan jauh lebih berpengalaman dibandingkan Indonesia:

Su-27SK PLA-AF China dari batch pertama diantar Februari-1991,
tapi sudah harus dipensiunkan pada tahun 2009.
(Gambar: China-defense.blog)
Sudah saatnya kita kembali ke jalan yang benar, dan belajar bangun dari mimpi!

Mau diputar-balik bagaimanapun juga, semua Sukhoi model export downgrade, walau Su-35K sekalipun, tidak akan kebal menghadapi realita tantangan strategis di Abad ke-21. Tentu saja, mustahil untuk mendapatkan keuntungan Tehnologi Transfer, atau kerjasama industrial lokal, dalam hal ini sama saja; baik dari Moscow, maupun dari Washington DC. India saja, walaupun sudah memborong ratusan Sukhoi, masih tetap tidak bisa mendapat apa-apa.
Defense News, 22-Maret-2017
Kita harus menanyakan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri:

Mana yang lebih penting? 
Kebutuhan Nasional, atau keinginan / mimpi pribadi?

Sampai kapan kita mau terus membuang uang, hanya untuk mengoperasikan pesawat tempur yang ber-efek gentar nihilTentu saja, semakin lanjut usia, seperti dalam insiden TS-3009 ini, armada Sukhoi juga hanya akan semakin membahayakan nyawa pilot, semakin memeras keuangan rakyat, dan mau bermimpi sebagaimanapun, tidak akan pernah bisa membuat wilayah udara Nusantara menjadi lebih aman.

Kalau anda masih mendukung Indonesia mengakusisi, dan mengoperasikan Sukhoi model Kommercheskiy, sayangnya pesawat ini terjamin akan terus semakin mengecewakan semua mimpi anda!

Credits: Saab
Saab Gripen-E, pengganti ideal untuk Sukhoi Kommercheskiy 
Tersedia tanpa perlu perantara!
Sovereign Air Power: Kedaulatan harus ada di tangan Republik Indonesia, tidak lagi didikte tangan supplier asing, seperti para penjual rongsokan versi export downgrade.

Futureproof, lebih murah, dan lebih mudah untuk terus di-upgrade, dan usia airframe juga jauh lebih panjang umur.

Reliable, maintenance mudah, dapat terbang berkali-kali, dan tidak gampang rusak

Economical, pilot dapat lebih sering berlatih, tanpa perlu merobek kantong. Dapat mengudara sekurangnya 10 jam untuk biaya yang sama mengudarakan 1 Sukhoi.

Fully Networked, basis dasar dari pola sistem pertahanan Nusantara, atau fighter-to-fighter Network.

Sensor Fusion, untuk Situational Awareness Superiority.

Low Observability, sulit dilihat mata, IR-seeker, atau radar. 

Deployment Flexibility, tidak membutuhkan landasan udara yang mewah, seperti semua yang lain.

Supercruise, terbang supersonic tanpa afterburner -- tidak ada pesawat tempur lain yang bisa di Asia Tenggara.

Excellent Manueverability, sudah dirancang dari awal untuk mengalahkan F-16


Excellent Survivability, Integrated Defense Suite untuk menangkal semua ancaman, dan ukuran yang kecil baik secara visual, IR-signature, ataupun di radar.

Freedom to choose weapon suppliers, kebebasan memilih sendiri, tanpa perlu didikte supplier apa yang "diperbolehkan". Dapat diperlengkapi dengan senjata manapun yang terbaik.

Government-to-Government contract, tidak ada lagi 20 - 30% komisi perantara, ataupun pesangon "kickback" untuk pejabat. Kriteria utama untuk memberantas korupsi.

Semua keunggulan ini, tentu saja tidak akan pernah bisa direplikasi oleh Sukhoi Flemon, atau pesawat tempur jenis manapun.



Catatan AkhirKenapa Gripen? 

Gripen sudah didesain dari awal untuk kebal terhadap kemungkinan terkena "bird strike", karena harus disesuaikan untuk tantangan geografis wilayah Scandinavia. Di tahun 2006, unit 39210 dilaporkan pernah terkena "birdstrike" hanya sebulan setelah keluar dari pabrik. Hasilnya? Hanya membutuhkan waktu perbaikan beberapa jam, sebelum bisa mengudara kembali. 

Twin-Engine design lebih aman dibandingkan Single-Engine? 

Itu hanya mitos. 
Pesawat  twin-engine, dengan sendirinya akan selalu beberapa kali lipat lebih rumit, dan lebih banyak part, berarti lebih banyak yang bisa rusak, dibandingkan desain single-engine yang lebih sederhana, dan lebih aman.

Gripen A/B/C/D sekarang memegang record mengumpulkan 250,000 jam terbang, tanpa pernah sekalipun mengalami kerusakan mesin. Walaupun memakai jenis mesin yang sama, Gripen sudah selalu lebih reliable dibandingkan keluarga twin-engined F-18.

51 comments:

  1. Min, menurut Global Firepower (GFP) militer Indonesia di urutan ke-14 dari 126 negara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Angka2 urutan semacam ini tidak ada artinya.

      Mereka hanya akan membandingkan jumlah personil, atau jumlah anggaran --- bukan penilaian seberapa efektifnya kemampuan / kesiapan tempur militer satu negara.

      Ini sendiri sulit diukur, makanya tidak akan ada peringkatnya.

      ## Kita tahu kalau dari segi sistem pertahanan, perencanaan kita saja masih berantakan.

      ## Akuisisi alutsista kita saja gado2 dari berbagai sumber yg tidak compatible, dan jumlah masing2 tipe juga terlalu sedikit, mendongkrak biaya operasional, mempersulit maintenance, dan menjegal kemampuan training yg mapan.

      ## Lebih parah lagi, akuisisi juga lebih menentingkan jumlah unit, daripada stock persenjataan, atau perlengkapan yg dibutuhkan.
      "Macan ompong".

      ## Kita juga masih kurang memupuk pengalaman dalam latihan bersama. Sifatnya masih sporadic, dan setiap kali alutsista yg diikutsertakan masih bbrp tingkat lebih inferior -- akibat beli gado2, dan versi export.

      ## Dukungan industri pertahanan lokal juga masih tergolong minimal. Pejabat lebih senang beli import, dan sejauh ini tidak tetlihat antusias mendukung induatri lokal sesuai UU no.16/2012.

      Kesulitan kita seabrek. Dan semuanya dimulai dari perencanaan terlebih dulu, yg sejauh ini saja arahnya kemana masih belum jelas.

      Semisal:
      Di udara sih, satu squadron F-16 Block-50/52+, atau F-18E/F yg sudah dipersenjatai lengkap, pilotnya sudah berlatih /digembleng menurut sistem NATO, dan didukung fasilitas networking, SIGINT tanker / AEW&C -- sudah jauh lebih unggul daripada apa yg kita miliki skrg.

      Jumlah missile kita saja hanya ada 1 - 2 unit per pesawat. Separuhnya (untuk Sukhoi) kemampuannya tidak akan terjamin.

      Delete
    2. Min, kira-kira bisa tidak jika perang dunia ke-3 meletus dalam waktu dekat ini?

      Delete
    3. Sebenarnya sudah tidak mungkin, karena jaman sudah berubah.

      ## Perang Dunia I (1914), dan Perang Dunia II (1939) sebenarnya hanya semacam dua babak terakhir "perang musiman" dengan latar belakang jaman Imperialisme.

      Sampai tahun 1945, semua negara yang berambisi "imperialisme"; terutama kelima besar di Eropa: UK, Perancis, Prussia (kemudian Federasi Jerman), Austria, dan Russia; selalu saling berperang satu-sama-lain sekurangnya sekali setiap 30 - 40 tahun. Mulai tahun 1900-an, kemudian United States, yang baru berdiri, dan Jepang, mulai bergabung dalam kancah "imperialisme" ini.

      Masa "Imperialisme" ini sendiri sudah berakhir. Terlepas dari hoax manapun, seberapapun kuatnya suatu negara, semisal United States, sudah tidak ada lagi ambisi rakyat, atau penguasanya untuk mengulangi masa imperialisme.

      ## Kedua, senjata Nuklir sekarang juga akan menghalangi ambisi negara manapun untuk mendorong agendanya terlalu jauh dalam kancah politik dunia.

      Bukan tidak mungkin bisa terjadi konflik, tetapi baik PRC, ataupun Russia akan sangat enggan untuk mencoba mengadu konflik terbuka dengan United States, atau negara2 NATO.

      ## Ketiga, berkat masa perdagangan internasional, dan kancah Internet, dunia sebenarnya sudah semakin terkoneksi satu sama yang lain.

      Ingat peribahasa: "tak kenal, maka tak sayang"?
      Dewasa ini, rakyat setiap negara sudah jauh lebih mengenal satu-sama-lain dibandingkan di tahun 1945. Lebih mudah untuk merasa akrab, lebih mudah untuk merasa simpati nasib rakyat di negara lain, daripada rasa egoisme "negeri sendiri" seperti dahulu kala.

      ## Keempat: Konflik di masa mendatang, sifatnya akan menjadi lebih seperti "Attritional warfare", bukan seperti di jaman PD II, dimana ibukota lawan harus ditaklukan, dan kemudian seluruh negara itu bertekuk lutut.

      Ini bisa dilihat seperti dalam konflik Arab-Israel.
      Secara militer, Israel jauh lebih unggul dibandingkan aliansi Syria-Mesir dahulu kala. Akan tetapi, seperti bisa dilihat, yang paling penting adalah memenangkan strategic objective, bukan untuk membuat negara lain bertekuk lutut.

      Contoh lain yang lebih kongkrit:
      Perang Vietnam, atau konflik di Afganistan sekarang.
      Berlarut-larut, dan tidak ada berhentinya.

      Pihak yang akan menang, adalah pihak yang bisa bertahan di posisi mereka paling lama; kembali, bukan pihak yang dapat memaksa lawannya bertekuk lutut. Ini sudah mustahil dewasa ini.

      Tentu saja, kalau ada yang mengancam Indonesia, pola "attritional warfare" semacam inilah yang akan terjadi, seperti sudah sy tuliskan pembukaannya dalam artikel Skenario Pertahanan Natuna.

      Delete
  2. Kalo dapat lisensi untuk buat gripen sendiri syaratnya gimana min

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Saab sebenarnya sudah pernah menawarkan perakitan sendiri 6 unit Gripen-C/D, dalam kontrak $1,14 milyar pada Juni-2016 yang lalu.

      Perakitan disini masih dengan sistem CKD, tetapi yang menarik, yah, tidak dari segi persyaratan sih tidak ada.

      Saab malah mendorong ide perakitan, karena akan mempercepat penyerapan ToT untuk Gripen.

      ## Kalau kita mau memulai, seperti pertanyaan anda, mungkin license production Gripen, sama seperti license production untuk NC-212, NC-295, atau Super Puma, ya, bisa saja.

      Tetapi ini akan membutuhkan persiapan yang lebih lama, karena... fasilitas PT Dirgantara sejauh ini masih belum siap.

      Pertama-tama, akan memerlukan komitmen penuh terlebih dahulu dari seluruh bangsa untuk menjalankan proyek semacam ini. Patut diingat kalau license production Gripen, akan jauh lebih murah, dan beresiko jauh lebih rendah, dibanding meneruskan proyek KF-X.

      Hasilnya juga akan menjadi pesawat tempur yang kemampuannya jauh lebih unggul dibanding pespur setengah jadi, versi downgrade buatan US, eh.. Korea.

      Point kedua lebih penting: Kalau kita mau memulai license production Gripen, jumlah produksinya harus melebihi angka minimal 32 unit.

      Ini prinsip "economy of scale"; terlalu sedikit produksi, harganya akan naik, sedangkan kalau produksinya lebih banyak, nilai ekonomisnya akan lebih optimal.

      IMHO, kebutuhan pertahanan Indonesia sudah dapat dipenuhi cukup dengan 64 Gripen.
      Kalau mau menambah jumlah dikemudian hari, ya, tergantung kebutuhan di masa itu.

      Pada tahap ini, toh bisa diperkirakan lebih dari 30% dari nilai penjualan toh akan dikembalikan ke ekonomi industri dalam negeri. Sedangkan biaya operasional Gripen hanya 1/10 dibanding Sukhoi Kommercheskiy, yang sekarang ada.

      Delete
  3. Min, sejauh ini seri pesawat MiG pabrikan Mikoyanlebih battle proven untuk pertempuran, apakah sama kualitasnya jika pemerintah membeli seri pesawat MiG dari pabrikan Mikoyan? Mengingat mesin dan sensor yg digunakan juga berbeda dengan Sukhoi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MiG-29/35?

      Semua daftar masalah buatan Ruski dalam segala hal, sama saja dengan Su-27/30/35, perbedaannya cuma Flanker sekarang dianggap lebih prestigious; dan pabrik2 Sukhoi juga lobi2nya lebih kencang dibanding RSK-MiG.

      Persamaan Su-Flanker, dan MiG-29, kalau diperbandingkan dengan model Barat:

      ## Build Quality, faulty parts, dan masa laik pakai setiap part --- akan selalu jauh lebih pendek, dan segala sesuatu bisa rusak sewaktu2, bahkan sebelum jadwal rekomendasi pembuat.

      Degnan Su-, atau MiG-, pilot terjamin tidak akan bisa mendapat cukup banyak jam terbang.

      ## Kemampuan radar / IRST? Masih beberapa tingkat dibawah dibanding presentasi informasi dalam cockpit pesawat tempur Barat.

      Ini tidak hanya dikarenakan perbedaan tehnologi, yang semakin hari semakin jauh, tetapi juga...
      Semua model Barat sudah selalu mengutamakan keunggulan "Situational Awareness" sejak tahun 1960an, sedangkan model Ruski baru saja mulai belajar...

      ## Hal diatas karena perbedaan konsep -- pilot pespur Barat dituntut untuk bisa mengambil keputusan taktis secara mandiri; mereka lebih dekat ke medan tempur, krn itu keputusan sedetik yg mereka ambil dinilai akan lebih sesuai dengan keadaan taktis lapangan di kala itu.

      Sistem warisan Soviet berbeda. Pesawat tempur, dinilai hanyalah sebagai pemanjangan tangan dari Ground Control, darimana para atasan pilot melihat kondisi tempur, dan mengambil keputusan taktis. Pilot tidak diperbolehkan untuk mengambil keputusan taktis secara mandiri, tanpa persetujuan dari atasan.

      Selama puluhan tahun, tentu saja sudah terbukti, sistem mana yang jauh lebih unggul.

      ## Untuk semua negara pembeli Su-, ataupun MiG- versi export, kembali, hanya diperkenankan untuk membeli semua missile versi export, contoh: RVV-AE.

      Semua missile yang dijual untuk export tidak dipakai di dalam negeri, dan tidak pernah pernah di tes secara intensif, seperti halnya AIM-9, AMRAAM, IRIS-T, Phyton, MICA, atau Meteor.

      Berapa kemungkinannya bisa mengena target? Tergantung nasib.

      ## Terakhir, alutsista manapun yang asalnya dari Russia, harus dibeli lewat agen perantara resmi Rosoboronexport, yang biasanya akan menunjuk satu lapisan perantara lagi sebagai lobi2 lokal, dan akan rajin mengirim upeti ke pejabat untuk memastikan produk mereka tetap difavoritkan, baik dibelakang layar, ataupun di media massa, seberapapun jelek kualitasnya.

      Delete
  4. Admin, itu ada artikel di tempat lain, Geoff van Hees, Direktur Marketing & Pemasaran SAAB Asia Pasifik ngasih paparan mengenai electronic warfare di seminar TNI-AU, sebenernya kayak apa sih itu ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya admin saya pernah baca sekitar 2 minggu lalu, skandal Sukhoi di India, katanya Irkut ngesuplai sekitar 30an mesin jet AL-31F bekas ke HAL India, itu gimana bisa ? bukannya flight hours Su-30 itu udah pendek rata2 3000 - 4000 jam doang, ini malah disuplai mesin bekas makin pendek lah umur terbangnya ?

      Delete
    2. ## Electronic Warfare
      Inilah konsep dalam babak baru pertempuran udara, yang sejauh ini kelihatannya masih absen dari semua RENSTRA, yang sepertinya berbasiskan ide2 tradisional di tahun 1950-an.

      Electronic Warfare --- dibagi menjadi dua bidang:

      ## Electronic Counter Measure --- kemampuan untuk bisa men-jamming, atau mengacaukan sensor, dan/atau komunikasi pihak lawan.

      Beberapa contoh sederhana:
      + Membuat radar lawan sulit melihat pesawat sendiri,
      + Dipakai untuk menghancurkan fasilitas radar di darat, atau pespur bodoh yg menyalahkan radar full-active semasa konflik (hanya menjadi umpan missile lawan)
      + mengacaukan guidance system dalam BVR missile, atau SAM system seperti di S-400.
      + Signal intelligence -- mempelajari frequency komunikasi / radar lawan, dan kemudian sengaja memasukkan false feedback, atau mendapat kemampuan full-jamming.

      ## Electronic Counter-Counter-Measure -- kemampuan pihak sendiri untuk menjadi kebal, atau bisa melewati masalah ECM yang disajikan lawan.

      + Bagaimana men-guide BVR missile dalam situasi "ECM-panas"
      + Bagaimana tetap bisa melihat target yg "ECM-panas"
      + Sistem komunikasi yg kebal jamming, atau dikacaukan SIGINT lawan
      + Bagaimana juga caranya untuk menembus pertahanan ECCM lawan.

      Pihak yang akan menang adalah pihak yang ECCM-nya kebal, tetapi kemampuan ECM mereka untuk menembus pertahanan ECCM lawan jauh lebih unggul.

      Seperti kita tahu, dalam keadaan sekarang sih, kemampuan kita..... hampir nihil, karena terlalu terobsesi mengejar 180 pesawat, atau 10 skuadron.

      "jumlah = kuat" adalah suatu kesalahan besar, yang hanya menghamburkan uang.

      Dalam keadaan sekarang, dengan atau tanpa dua lemon KF-X, dan Su-35K, armada yg 180 pespur tetap saja akan mudah dihancurkan hanya hanya dengan satu skuadron (16 pespur) lawan, yg mendapat dukungan ECM/ECCM support, pesawat tanker, Networking kebal jamming, dan AEW&C.

      Delete
    3. =============
      ...skandal Sukhoi di India, katanya Irkut ngesuplai sekitar 30an mesin jet AL-31F bekas ke HAL India...
      =============

      Iya, ini juga sy baca.

      Sepertinya ini masalah internal antara IAF, dan HAL yang saling menyalahkan, akibat pemakaian Sukhoi Flemon.

      Baik IAF, ataupun HAL, sebenarnya sudah lama dituntut pemerintahnya, dan publik, untuk menaikkan kesiapan tempur (terbang) Su-30MKI, yang tetap saja hanya berada dikisaran 48 - 55%.

      Masalah ini sendiri sangat serius. Sudah biasa kalau baru mulai operasional, kesiapan tempur cenderung rendah. Tetapi kalau sudah beroperasi lebih dari 10 tahun, masakan masih bisa tetap serendah Su-MKI....?

      Sayangnya, semua masalah Su-MKI, tetap saja masih tergantung kepada kesiapan, dan build quality produsennya yang di Russia.

      Delivery part cenderung molor, quality control rendah, harga mahal, dan mau bertapa 1000 tahun sekalipun, tetap saja tidak akan ada ToT yang berarti untuk India.

      Dalam kasus ini, HAL India sepertinya sengaja mengambil jalan pintas untuk mempercepat perbaikan Sukhoi dengan memasang mesin bekas.

      Yah, sayangnya kita juga sudah tahu, mesin buatan Russia tidak dibuat untuk tahan lama, seperti mesin GE, PW, Snecma, Eurojet, atau Rolls-Royce.

      Misalnya, lihat perhitungan berikut:
      Untuk bisa mengudara 4,000 jam, Sukhoi akan harus mengganti mesin (hanya tahan 700 jam) sampai 5x seumur hidupnya.

      2 x $3 juta dollar x 5 = $30 juta (+ komisi perantara)
      Hampir sama mahal dengan harga pesawat, belum menghitung biaya pemasangan, dan komisi perantara.

      Dalam kasus India,
      mencoba memakai mesin bekas = percobaan bunuh diri.

      Dalam kasus Indonesia,
      seperti diatas, sudah saatnya mempensiunkan Sukhoi, dan mengalihkan dana yg ada membeli produk yang kualitasnya jauh lebih baik.

      Delete
    4. Ah sepertinya TNI AU kita sudah cinta mati sama sukhoi min, kabarnya 2 SU-27 diupgrade di belarusia dan baru dilengkape jammer pod. Berarti selama ini seri Sukhoi indonesia belum ada jammer pod nya, benar2 macan ompong

      Delete
    5. sebenernya jammer pod itu disesuaikan dengan kebutuhan, mungkin dulu belum butuh. Tapi Su-27 SK juga dipasangnya jammer pod versi lawas beda dengan yang dipasang ke Su-30 MKI & Su-30 MKM. Gak terlalu efektif sih sama kayak buang uang mirip Su-30 MKV yang source code nya dibuka buat bisa angkut misil Phyton dari Israel, menurut analisis2 kurang efektif dan juga hambur uang aja

      Delete
    6. Thomas@ kowkowokwkow makin cepat habis masa nya wkoekkekeke..india sekilas dari luar memang wah hehehehhe tapi mereka dah terjerat Rusia

      Delete
    7. @Orik hubungan India - Russia itu udah berakar dari zaman perang dingin waktu Uni Soviet masih ada tapi dipoles sama Israel. Susah lah ngeliat road map pengadaan sama perencanaan alutsista mereka. Paling dihindari banget itu berada di posisi India, amit-amit lah

      Delete
  5. Kayanya sudah 5 tahun lebih rumor Gripen bakal dipakai TNI-AU, tapi kok sepertinya banyak kendalanya. Apa lobinya kurang kenceng? Terus utk proyek KFX sepertinya hal yg terlalu ambisius..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan rumor, ttp baru 5 tahun yg lalu TNI-AU mengajukan RFI untuk "pengganti F-5E", ke Saab, Lockheed-Martin, dan Sukhoi.

      ## Banyak kendala?
      Secara umum, memang akuisisi alutsista itu akan selalu tarik ulur cukup lama.
      Mengeluarkan uang untuk pembelanjaan alutsista itu tidak murah, dan butuh pengkajian mendalam dahulu.

      Cara menjual alutsista yang paling cepat tutup transaksi, yah, biasanya harus selalu memakai agen perantara.

      Masih ingat, bulan Maret lalu, beberapa pejabat Pt PAL tertangkap basah KPK dalam kasus menyogok pejabat Filipina, re pembelian kapal kelas Balikpapan?

      =======
      Agen perantara Ashanti Sales dipakai utk mendorong penjualan, dgn komisi 4,75%; sedang 1,25% dibayarkan balik ke petinggi PT PAL.
      =======

      Cara praktis, dan cepat untuk menutup kontrak. "Memenangkan hati" pejabat dengan prosedur "kickback", maka penjualan terjamin lancar.

      Antara Saab, Lockheed-Martin, dan Sukhoi, pilihan mana yg memakai agen perantara?
      Berkaitan dengan diatas, efeknya bisa terlihat jelas:
      Pilihan mana yg difavoritkan di media massa, dan terlalu sering diulang2 "pengganti ideal" F-5E?

      Selain masalah anggaran, inilah hambatan utama untuk Gripen, yg sebenarnya adalah pilihan yang paling menguntungkan kebutuhan Nasional, tanpa perantara, dan satu2nya yang berkomitmen memenuhi semua persyaratan UU no.16/2012.

      ## Proyek KF-X memang bagaikan katak merindukan bulan, bahkan bagi Korea sendiri.
      Tidak hanya target proyek yg dimimpikan sudah melebihi kemampuan mereka, tetapi juga industri mereka sendiri tidak akan siap.

      Untuk Indonesia?
      Bagaikan kecebong yang merindukan planet Mars.... Kita hanya akan buang2 uang untuk mimpi yg tidak akan pernah bisa tercapai.

      IF-X hanya akan menjadi model downgrade dari KF-X, yg sendirinya hanya akan di-downgrade pemerintah United States, untuk memastikan tidak bisa bersaing dengan pasar F16 / F-18.

      Tentu saja, harganya juga akan 3 - 4x lipat dibanding F-16, atau Gripen.

      Delete
    2. karena Gripen ditawarkan melalui skema G to G oleh Pemerintah Swedia dan SAAB makanya gak ada komisi perantara jadinya susah. aneh yang jujur malah dipersusah. Kalau KFX/IFX gini ya, dari total biaya riset sebesar 6 milyar USD kita wajib tanggung 20% atau sekitar 1.5 milyar itupun baru riset, asumsikan unit cost untuk double engine fighters sekitar 200 juat USD/unit mau berapa unit costnya belum operational & maintenance cost, double engine selalu lebih boros terus belum kita diwajibkan procure 50 unit, habis uang kita. Terus 4 teknologi kunci yang Pentagon larang Lockheed Martin untuk ditransfer ke KAI seperti Radar AESA, IRST, Targeting Pod, sama Radio Frequency jammer. Cuma negara sekutu US sama sesama anggota NATO yang boleh dapat akses itupun source code dipegang Washington. Itu semua bisa kita dapat lewat Gripen, solusi kemandirian dan berdirinya AU dan industri aviasi kita

      Delete
  6. Apa iya indonesia bisa benar-benar bisa membuat atau meniru pespur barat dari nol jika membeli gripen?.. sperti yg dlakukan china terhadap pespur rusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin enggak 100 % tapi lebih kayak joint production contoh kayak proyek Embraer-SAAB. 60% komponen bisa dilisensi oleh Brazil dan diproduksi oleh fasilitas industri di Sao Paolo sama 70% test untuk varian double seat ditest di Brazil, selebihnya dikembalikan dalam wujud partnership malah Embraer megang hak pemasaran di Latin Amerika. kalau yang China lakukan itu " reverse engineering ", ngelanggar hukum dan ilegal sebenarnya. Kayak proyek akhir 90an mereka mau lisensi Su-27 SK, asalnya 200 sesuai kontrak tapi sampai 100 pihak RRC ngeputus kontrak, selebihnya di-reverse engineering sama mereka sendiri sampai lahir J-11. lagian PT.DI belum secanggih RRC itu buat ngelakuin yang kayak gitu. Kalau menurut saya sih untuk MEF-2 kita coba dulu ngerakit 2 skuadron Gripen C/D MS-20 dengan beberapa komponen minimal 35% sesuai UU 2012 untuk dibuat secara lokal, sekalian pembelian 2 AEWC Erieye sama kerjasama PT.LEN dengan SAAB untuk penyusunan data link & integrasi multi angkatan, baru pas MEF-3 baru kita coba skema kayak Brazil lewat 2 skuadron Gripen E/F, joint production sama joint marketing kalau tambahan AEWC bakal lebih baik sih Globaleye. Tapi itu sih skenario partnership PT.DI, PT.LEN, dll sama SAAB yang paling mungkin

      Delete
    2. logikanya membuat/meniru yg sudah jadi(gripen) jauh lebih gampang daripada membuat/meniru yg belum jadi(IFX)

      Delete
    3. IFX itu kompleks dan rumit. Itupun KAI Korsel belum berpengalaman jauh buat bikin double engine fighter, okelah single engine kayak FA-50 dan KF-16. Mengingat situasi semenanjung Korsel sama arm race kawasan KFX/IFX mungkin memenuhi kebutuhan domestik Korsel tapi jelas bukan kebutuhan Indonesia. Kitanya aja masuk jaring laba-laba, Korsel cuma ngeliat peluang Market di Indonesia.

      Delete
    4. Seperti dituliskan bung Thomas diatas,

      Mencoba "reverse engineering" / fotocopy / meniru ala PRC itu illegal, dan melanggar hukum.
      Tidak hanya berhenti disana, ini akan menutup semua pintu kerjasama tehnologi / industrial untuk selamanya, karena reputasi negara jadi dicap sebagai "pencuri".

      Keuntungan utama dari kerjasama dengan Saab, adalah:

      + Kesempatan untuk belajar,

      + Memupuk pengalaman kerjasama internasional, dan membangun proyek secara logis,

      + Meningkatkan kemampuan tehnologi / industrial

      + Meningkatkan proporsi produksi komponen lokal dalam lebih banyak alutsista

      + Membangun sisitem pertahanan modern, dan belajar berpikir lebih taktis / strategis

      + Dan yang paling penting, kesempatan emas untuk bisa belajar ber-inovasi sendiri.


      Kesemua ini tidak akan pernah bisa didapat dari belajar fotocopy seperti PRC, ataupun dari proyek KF-X, yg sudah hampir 10 tahun juga, tidak seperti janjinya, keuntungannya sejauh ini nihil, bukan?

      Gripen-Indonesia adalah pilihan yang paling menjunjung kedaulatan Indonesia, bukan karena kita lantas bisa belajar fotocopy, tetapi karena untuk pertama kalinya, semua parameter kemampuan tempur, customisasi, dan upgrade akan sepenuhnya bisa dikuasai sendiri, tanpa perlu didikte supplier asing.

      Dalam jangka 20 - 30 tahun, tergsntung seberapa jauh kemampuan inovasi kita,
      Gripen-Indonesia, yg sudah teintegrasi dalam sistem pertahanan baru, sudah akan berbeda semakiin jauh dengan Gripen di Swedia, atau di Brazil, dan 100% menjadi kepemilikan Indonesia.

      Aggressor mau memakai stealth fighter sampai 200 pesawat sekalipun, tidak akan masalah.
      Semakin banyak yg datang, berarti hanya akan menjadi lebih banyak target untuk Gripen-Indonesia.

      Itu baru namanya membangun efek gentar yg nyata.

      Ini mustahil bisa sehari semalam, atau seperti pemikiran awam dewasa ini:
      "Kalau kita bisa membeli pesawat tempur jenis A, (automatis) efek gentarnya akan terasa!"

      Kesalahan besar.
      Bisa membeli bukan berarti bisa mempunyai kemampuan memakainya seoptimal mungkin, apalagi kalau dari jenis rongsokan versi export downgrade.

      Delete
  7. Buatkan artikel tentang skema kerjasama brasil dengan saab min, kayanya menarik tuh karna brasil bisa jual gripen sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lain waktu.

      Pemerintah Swedia sudah mengumumkan kalau model kerjasama di Indonesia akan dijadikan model contoh di Asia.

      Delete
  8. admin, 2 bulan yang lalu di JKRTGRTR ada artikel yang ngomong Su-35 BM Russia terbang bebas di Laut Baltik & Utara menteror Luftwaffee & RAF. Saya gak percaya admin kalau 2 AU yang bisa dibilang sangat credible dan mighty itu terteror gara2 Su-35BM, kalau EF-Typhoon punya RAF & Luftwaffe vs Su-35 punya Russia kayak gimana sih ? terus di negara2 nordik kan AU Norwegia & AU Denmark pakai F-16 A/B MLU sama AU Swedia pakai Gripen C/D MS20, apa Russia itu terlalu meremehkan single engine fighter ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Thomas,

      Ini hanya berita hoax.

      Su-35S (nama resmi versi lokal S, bukan misnomer nama BM), baru saja dinyatakan mulai operasional, atau mencapai IOC (Initial Operational Capability) dalam AU Russia secara resmi, pada tanggal 15-Februari-2017 ini.

      Sumber: Sputnik News

      Link Youtube

      Betul.
      Pesawat yg selama ini dimimpi2kan selama ini ternyata masih belum mulai operasional secara resmi, sampai Februari-2017 ini.

      Newbie.

      Model newbie tentu saja akan selalu terjamin banyak problem, dan biaya operasionalnya akan sekurangnya 30 - 70% lebih mahal dibanding versi yang sudah lebih mature, seperti Irkut Su-30SM, atau versi export-nya, Su-30SME.

      Ternyata Ruski memang senang menjual barang yg belum siap. Tetapi seperti kita tahu sekarang, mengatakan satu hal, dan mengerjakan sesuatu yg berbeda memang adalah kebiasaan mereka.

      Beberapa kenyataan selanjutnya:

      Su-35S belum pernah terlihat berpatroli di atas laut Baltic.

      Laporan NATO menunjuk sekurangnya 2 interception per minggu sepanjang 2016, kebanyakan selalu Su-27S, Su-24, Tu-22, atau An-126. Terkadang MiG-31, dan Tu-160, tapi ini sangat jarang.

      Bukankah Su-35S juga sudah hadir di Suriah?

      Betul, tapi hanya 4 unit, dan sifatnya sporadic.

      Su-30SM buatan Irkut, dan Su-34 Fullback buatan MAPO; keduanya lebih banyak merebut perhatian halaman utama, sedang berita Su-35S boleh dibilang melempem.


      Pemeran utama dalam kontinen AU Russia sebenarnya hanyalah Su-24 Fencer, dan Su-25 Frogfoot, yg walau tua tapi lebih sederhana, dan dapat terbang lebih sering daripada keluarga Flanker, yg high-maintenance.

      Kenyataan selanjutnya lebih menarik lagi.

      Tidak ada AU NATO yg takut dengan Sukhoi Flanker (versi manapun).

      Kenapa?

      Karena semua orang bisa melihat persenjataan utama AU Russia hanyalah missile kadaluarsa R-27, dan R-73
      .

      Bbrp pengamat cepat mengambil kesimpulan kalau Ruski ternyata tidak mau mengambil resiko mengadu nasib dgn pespur NATO, yg tentu saja, baik Situational Awareness, persenjataan, dan kemampuan training-nya jauh lebih unggul.

      Tentu saja untuk versi export, akan jauh lebih parah dengan RVV-AE, dan R-73E. Kecil kemungkinannya bisa menembak target yang lebih kecil dari Boeing 777.

      Lucu, bukan?
      Ini cocok jadi artikel sendiri lain waktu.

      Siapa yg takut Flanker?

      Delete
    2. Oiya, kabar rumor sekarang katanya AU Russia justru mulai khawatir sejak Gripen-C MS-20 mulai operasional.

      ## Radar PS/05 Mk-4, hanya dengan perubahan algorithm processing, akan dapat melihat target dengan ukuran RCS 0,1m2 dari jarak 140 km, atau target ukuran 25 meter persegi seperti Flanker dari jarak 300 km+

      ## MBDA Meteor mempunyai jarak jangkau melebihi 250 km (angka sebenarnya dirahasiakan), dan kemampuannya kill-nya tidak akan berubah baik kalau ditembakkan dari jarak 50 km, ataupun 200 km.

      Dengan Irbis-E, dan missile kuno semi-active R-27, Russia tidak akan bisa menandingi.

      Delete
  9. @DR

    Maaf OOT...beberapa formil memberitakan keinginan AD utk membeli heli blackhawk yang sekelas dg caracal.

    Berapa sih harga perunitnya (blackhawk)?

    Saya pernah baca,beberapa negara (aussy, thailand)membeli uh-60 dikisaran 40-50 juta dollar/unit (tergantung kelengkapan misi dan suku cadangnya)...padahal ec-725 yang dirakit pt.di dan airframenya sudah diproduksi disini harga kasta tertingginya(csar) hanya 35 juta dollar (mungkin unitnya saja), sementara AU membeli caracal dg harga 30 juta dollar krn belum termasuk defense suites

    ReplyDelete
    Replies
    1. ==========
      ...keinginan AD utk membeli blackhawk....
      ==========

      ... dan entah kenapa juga masih mau mengoperasikan Mi-35, dan Mi-17 yang "perbaikan mendalam"-nya harus dilakukan di luar negeri.

      Tentu saja, tidak kalah heboh, TNI-AU juga baru kebobolan membeli AW101, katanya untuk VVIP, kemudian SAR... eh, ternyata menurut produsennya hanya heli transport standard, dngn harga $55 juta (kelihatannya termasuk komisi perantara, dan "kickback").

      Kesemuanya ini adalah contoh malapraktek akusisi gado2, tanpa memikirkan kepentingan nasional, dan industri dalam negeri.

      Mi-17, AW101, dan Blackhawk semuanya kemampuannya akan overlapping degan Eurocopter H225M Caracal, yang sudah mulai memasuki tahap license production lokal.

      Keempat model yang mana lebih unggul?

      Ini juga tidak akan relevan.

      Pengalaman puluhan tahun mengoperasikan Super Puma, berarti pilot2, ataupun tehnisi Indonesia akan selalu dapat menguasai kemampuan H225M jauh lebih baik dibanding semua helikopter lain.

      Mau lebih sakit hati?
      Baik Blackhawk, dan Mi-17/35 akan terjamin hanya lagi-lagi, Model Export Downgrade.

      Yah, harganya bisa saja lebih murah, karena bisa di-downgrade untuk memenuhi budget, dan kebutuhan penjual untuk memenuhi target (juga proporsi komisi perantara khusus untuk Mi-17/35).

      Kebutuhan Nasional, seperti biasa, selalu mendapat nomor buntut.

      Tentu saja, ini artinya masih jauh sebelum kemampuan militer kita bisa patut diperhitungkan di dunia.

      Delete
  10. Bung DR KSAU di JKGR mengatakan: yg penting pengganti F5E generasi 4,5 mungkinkah bisa ke Gripen ato pespur barat lainnya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya begini:
      Kalau membicarakan mau membeli pesawat tempur baru (seperti diatas, Sukhoi yg butuh pengganti, bukan F-5E), persyaratannya hanyalah... kemampuannya harus bisa ini-itu.

      Ini saja sudah salah konsep.
      Sekali lagi, ini menunjukan kalau yang dikejar adalah keinginan semata.

      Kita bisa melihat kembali ke semua kompetisi pesawat tempur dewasa ini: Brazil, Switzerland, India, dan yang baru saja dibuka; di Finlandia, Belgia, dan di Canada.

      Apakah persamaannya?

      Mereka tidak hanya membandingkan kemampuan para kontender, tetapi masing2nya juga menggariskan persyaratan yang sama:
      Seberapa jauh industri pertahanan lokal bisa mendapat peranan?.

      India mempunyai program "Make in India".

      Untuk Switzerland, yang persyaratannya jauh lebih kritis, persyaratan industri lokal saja, sudah membuat Boeing mundur, dan tidak menawarkan F-18E/F, walaupun mereka sebelumnya sudah menjual F-18C/D ke Swiss.

      Dahulu ketika dokumen hasil tes AU Swiss dibocorkan, dan kelihatannya Dassault Rafale lebih unggul; ternyata laporan tersebut hanyalah 2 dari 8 laporan yg sudah mereka buat. Faktor yang tidak kalah penting adalah faktor maintenance, life-cycle-cost, upgradablity, dan kelaikan penggunaan pespur untuk kondisi di Swiss.

      Kembali ke Indonesia;

      ## Kalau persyaratan UU no.16/2012 re partisipasi industri lokal, dan Transfer-of-Technologi menjadi prioritas utama, seharusnya kompetisi ini adalah pertarungan antara ketiga Eurocanards.

      Washington DC, dan Moscow sudah pasti akan bersiul2, dan pura2 melihat ke arah lain. Dalam benak mereka, toh potensi akusisi Indonesia, walaupun ngomongnya gede, sampai kapanpun jumlahnya terlalu kecil untuk dipertandingkan serius.

      ## Kalau dalam tahap selanjutnya kita membicarakan life-cycle cost, maintenance, dan kelaikan penggunaan dalam keadaan di Indonesia -- hanya akan ada dua pilihan: F-16, atau Gripen?

      Boleh sombong, tetapi pengalaman dengan Sukhoi Kommercheskiy sudah memberi contoh nyata betapa merepotkannya mengoperasikan twin-engine, apalagi yg buatan Ruski.

      Sejauh ini 6 pesawat sudah melewati, dalam tahap, atau akan membutuhkan "perbaikan mendalam" berbulan-bulan; meragukan kalau TNI-AU masih bisa mengudarakan 6 pesawat sekaligus.

      Eurofighter Typhoon, dan Dassault Rafale terjamin jauh lebih modern, jauh lebih reliable, dan dapat terbang lebih sering vs Sukhoi Su-30SME, atau Su-35K, akan tetapi sayangnya.... harganyapun akan terlampau mahal.

      Kalau dibeli hanya untuk 16 pesawat, kita akan melihat biaya akuisisi sekitar $150 juta / unit.
      Dan karena kedua twin-engine ini maintenance support-nya juga... terjamin merepotkan, sangat meragukan kalau kita dapat mengoperasikannya sebaik negara2 Eropa.

      Sukhoi Su-35K?
      Yah, sejauh ini kelihatannya pernyataan KSAU, seperti biasa, memang menaruh harapan.

      Tetapi logika saja: Kalau Sukhoi Kommercheskiy di Sku-11 saja sudah begitu merepotkan, kenapa masih mau cari masalah baru dengan Sukhoi lagi?

      14 tahun mengoperasikan Sukhoi, memang hasilnya bagaimana?

      ## Sedangkan untuk F-16 vs Gripen.
      Ini lebih mudah.

      Untuk F-16V, seperti argumen Lockheed-Martin, baik pilot ataupun tehnisi kita akan lebih terbiasam dan biaya operasionalnya jauh lebih murah.... akan tetapi yah, biar bagaimana F-16, seperti Sukhoi hanya lebih modern, tetap saja hanya Model Export downgrade, dimana segala sesuatu akan dikunci pembuat.

      Dengan F-16V, kita hanya akan dinobatkan sebagai pemakai, dan.... itu saja.

      Gripen sudah dirancang dari awal untuk biaya operasionalnya 30 - 40% lebih murah, tidak membutuhkan landasan mewah, membawa full transfer-of-technology, dan kerjasama penuh secara industrial, dan tehnologi.

      Seharusnya dalam nama kebutuhan Nasional, bahkan masih mempertimbangkan pilihan pesawat tempur lain sudah menjadi kesalahan besar.

      Delete
    2. Bung DR Sukhoi lokal milik Rusia mmg bisa menandingi pespur barat? dan kemapuan sukhoi kita bisa utk apa...

      Delete
    3. Ini akan sedikit recap... :D

      Masalah utama disini, Russia sudah bukanlah lagi Uni Soviet.

      Mereka sudah tidak lagi mempunyai anggaran, ataupun kemauan politik untuk mencoba menantang NATO secara terbuka, seperti dahulu kala.

      Dari sini, kita bisa menjawab pertanyaan tersebut:
      Sukhoi Su-30SM, atau Su-35S versi lokal AU Russia sendiri, tidak akan dapat menantang AU NATO.

      Kelemahannya tebagi dalam 4 bidang:

      ## Russia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk berinvestasi ke sistem training yg bisa bersaing vs NATO.

      Seperti diberitakan dalam Moscow Times, dan DefenceNews, Russia bahkan tidak bisa berinvestasi di jam latihan, dan tidak bisa meratakan proporsi latihan yg seimbang ke seluruh AU mereka. kelihatannya menunjuk ke angka sekitar 20 - 80 jam setahun.

      Standard NATO mengharuskan minimal 170 jam setahun, atau angka idealnya 30 jam sebulan (360 jam setahun).

      Tidak hanya disana, sistem Russia masih mewarisi sistem Soviet, yg masih belum berubah banyak dari tahun 1940-an: pilot masih dilatih hanya sebagai pion untuk diatur dari ground control, tanpa mempunyai kemandirian untuk mengambil keputusan sendiri.

      Sistem NATO, sebaliknya, menitik beratkan kerjasama antar asset, koordinasi dengan AWACS, atau radar di darat, dan yang paling penting... Kemampuan untuk mengambil keputusan taktis secara mandiri di lapangan.

      Inilah penentu utama kemampuan pesawat: Sistem, dan Training pilot, bukan sebaliknya, pesawat membuat pilot lebih hebat.

      ## Sukhoi adalah pesawat high maintenance yang mahal, yg tidak akan mampu memenuhi persyaratan mengudara sekurangnya 170 jam setahun.

      Mesin Sukhoi saja seperti diatas, hanya bisa tahan 700 jam terbang, dan dapat rusak sendiri sewaktu2, bahkan sebelum mendapai jumlah tersebut -- kemudian butuh waktu 4 - 5 hari untuk diganti, dan barangnya belum tentu ready stock.

      Kalaupun ada kemauan latihan lebih banyak, baik secara peralatan, dan finansial tidak akan pernah bisa mencukupi.

      ## Ketiga, cockpit Sukhoi, apalagi versi export, tidak seperti model Barat tidak akan mendahulukan Superior Situational Awareness.

      Ingat, pilot hanyalah pemanjangan tangan ground control, bukan unit independent yg mempunyai kemampuan taktis sendiri.

      ## Terakhir, baik dari segi perlengkapan standard, optional, dan persenjataan -- segala sesuatu buatan Ruski sudah terlalu ketinggalan jaman, sekurangnya 20 tahun.

      - Mereka bahkan belum berhasil membuat AESA radar, apalagi menguasai kemampuan source-coding-nya, sedang di Barat sudah menjajaki generasi keempat.

      - Tidak seperti mitos Ausairpower, yg sering diulang di JKGR; semua missile Ruski tidak mempunyai guidance system yg sudah teruji seperti AMRAAM..

      - AU Russia sendiri tidak memakai R-77, atau RVV-AE versi export, melainkan R-27 peninggalan Soviet.

      - Missile WVR standard mereka kelihatannya juga masih terpaku di R-73, padahal R-74 / K-74-nya sendiri sekalipun, secara spesifikasi tidak akan dapat menandingi Phyton-5/6, IRIS-T, dan AIM-9X.

      - Pespur Ruski juga masih belum punya.... Targeting pod, seperti Sniper / litening.

      Kemampuan Sukhoi Indonesia?

      Seperti sering ditulis disini, terlepas dari segala miskonsepsi, atau kelihatannya rasa percaya diri yang salah tempat --- mustahil dapat menandingi F-16 Block-25+

      Efek gentar nihil, kecuali untuk menghamburkan uang, dan memberi makan perantara.

      Delete
  11. Min, ada kabar tentang Gripen Thailand yg jatuh kemarin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penyelidikannya belum selesai; butuh minimal 2 bulan.
      ... tetapi kelihatannya kembali menunjuk ke pilot error.

      Sementara itu, RTAF tetap mengudarakan 11 Gripen yang lain seperti normal.
      Tidak pernah perlu di-grounded.

      ========
      https://www.pressreader.com/thailand/the-nation/20170130/281539405679911
      ========

      Beberapa teori informal menunjuk kemungkinan pilot terkena G-loc -- kehilangan kesadaran pada saat manuever. Dan karena G-loc terjadi pada saat Gripen terbang terbalik, cockpit-nya menghadap bumi, tidak mungkin pilot bisa eject.

      Kalau teori G-loc ini benar...

      ========
      Info tambahan: Gripen-C/D MS-20 sudah diperlengkapi "Automatic Ground Collision Avoidance System" (GCAS)
      ========

      Fungsi dari sistem ini adalah untuk mengambil alih kontrol pesawat secara automatis, dan menstabilkan pesawat, kalau sampai pesawat mulai terbang melewati parameter normal; semisal: menukik ke arah permukaan tanah diluar kontrol pilot.

      Gripen-C/D dengan MS-20 upgrade seharusnya dapat menghindari masalah semacam ini.

      Link berikut tentang Auto-GCAS:
      ** F-16 versi lokal USAF sudah diperlengkapi sistem Auto-GCAS, tetapi sejauh ini F-16 versi export belum.
      ========
      https://fightersweep.com/3955/exactly-auto-gcas/
      ========

      RTAF kelihatannya belum mengaplikasikan MS-20 upgrade ke Gripen mereka.
      Sama seperti rumor, dahulu katanya RTAF mau membeli Meteor juga... tidak akan bisa terjadi sebelum MS-20 diaplikasikan.

      Inilah contoh lain, kalaupun membeli Gripen, belum tentu suatu negara akan bisa mengaplikasikan kemampuan untuk mempergunakannya seoptimal mungkin.

      Semuanya tergantung komitmen, dan dukungan penuh tidak hanya dari Angkatan Udara, tetapi juga pemerintahan, dan dukungan industri lokal.

      Delete
  12. admin, masak itu iya, HTMS Chakri Naruebet kan udah dimodernisasi pakai CMS dari SAAB kedepannya mau dipasang Sea-Gripen ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dewasa ini, kapal induk lebih mempunyai arti simbolis: "negara penting punya kapal induk", dibandingkan kemampuan strategis yg berarti.

      Charki Naruebet dirancang untuk mengoperasikan Harrier -- satu lagi contoh pespur yg konsepnya menarik: V/STOL, tetapi jarak jangkau / payloadnya sangat rendah, gampang tertembak jatuh, dan safety marginnya jauh lebih minimal.

      Ukuran kapal ini sendiri terlampau kecil. Flight deck-nya hanya 174 meter.
      Dan karena dirancang untuk mengoperasikan Harrier, tidak membawa steam catapult, tetapi hanya ramp deck, seperti Kuznetzov, Liao Ning, dan Queen Elizabeth.

      Pespur konvensional kalau dioperasikan dari kapal induk semacam ini, payload, atau bahan bakarnya tidak akan bisa banyak.
      Jarak jangkaunya paling hanya 500 - 600 km, maksimum. Persenjataannya juga akan sangat ringan.

      Sea Gripen memang pespur yg peluangnya paling baik untuk dioperasikan dari kapal induk dengan ramp deck. Tetapi tetap saja, tidak akan bisa menandingi Gripen-C, atau E yg tidak perlu membayar penalty yg sama.

      Delete
  13. Min, ternyata Gripen bisa terbang dengan Biofuel ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sbnrnya masih testing, jadi belum disertifikasi lebih lanjut.

      Memang,
      Gripen-D sudah berhasil sukses mengudara dengan 100% biofuel, dalam kerjasama bilateral untuk pengembangan penggunaan biofuel antara US - Swedia.

      Tujuan akhirnya tentu saja untuk mencoba menjajaki kemungkinan -- apakah di masa depan pespur, atau semua pesawat militer lain bisa mengudara tanpa terlalu tergantung kepada supply minyak?

      Delete
    2. Untuk urusan SAM, msh unggul US/NATO apa Russia?

      Delete
    3. Ini sudah dibahas di topik sebelumnya: Kemampuan S-400.

      Ada perbedaan philosophy disini:

      Russia memperlakukan SAM sebagai sarana utama untuk menembak jatuh pespur NATO. Sebaliknya NATO memperlakukan SAM sebagai sarana lapisan kedua pertahanan udara; dan pespur sebagai sarana utama untuk menciptakan Air Superiority.

      Delete
  14. dalam wawancara antara KSAU dan majalah angkasa edisi hut TNI AU kmarin , beliau tdk menyebut2 /menyinggung su 35 , keputusan itu stdknya bisa ampe 2024, pilot yg di ska f 5 tiger ternyata hanya dititipkan sementara waktu guna mengisi kekosongan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Berita dari Jane's menunjuk sampai 5-Mei ini saja, Kemenhan masih terus mencoba "nego" rongsokan versi downgrade Su-35K, hanya terhalang faktor ToT katanya.

      Tentu saja, kita sudah tahu dari pengalaman India:
      ToT mustahil akan bisa didapat dari Ruski; berapapun banyak jumlah yg dibeli, seberapa setianya sebagai konsumen (India adalah importir senjata Ruski terbsar di dunia), ataupun seberapa akrabnya pembeli ke Moscow.

      Semoga baik Kemenhan, ataupun TNI-AU berpegang janji untuk tender terbuka,
      dan tentu saja...

      Mendahulukan kepentingan Nasional, dan bukan kepentingan penjual / perantara.

      Delete
    2. amat keblinger kalo menhan tetap ngotot ke sana padahal jelas2 Rusia tak akan beri ToT..enntah apa yang dibenak pikiran pejabat kita

      Delete
  15. SR 71 milik AS ternyata paling sering di serang rudal SAM milik soviet maupun milik vietnam utara ketika perang vietnam, tapi tak satupun yg kena, kira2 karena faktor apakah bung dark ,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuplikan dari The Aviationist:

      ======
      American reconnaissance planes, SR-71s, were prowling off the coast, staying outside Soviet airspace by photographing terrain hundreds of miles inland with side – angle cameras. They taunted and toyed with the MiG-25s sent up to intercept them, scooting up to altitudes the Soviet planes could not reach, and circling leisurely above them or dashing off at speeds the Russians could not match,” Belenko explained.

      However, according to the Mig pilot, Russians tried to intercept and shoot down a Blackbrid, but they always failed this task: “[The Soviets] had a master plan to intercept an SR-71 by positioning a MiG-25 in front of it and one below it, and when the SR-71 passed they would fire missiles. But it never occurred. Soviet computers were very primitive, and there is no way that mission can be accomplished.”

      “First of all, the SR-71 flies too high and too fast. The MiG-25 cannot reach it or catch it. Secondly…the missiles are useless above 27,000 meters [88,000 feet], and as you know, the SR-71 cruises much higher. But even if we could reach it, our missiles lack the velocity to overtake the SR-71 if they are fired in a tail chase. And if they are fired head-on, the guidance systems cannot adjust quickly enough to the high closing speed”.
      ======

      Viktor Belenko adalah pilot AU Soviet yang membelot ke Jepang dengan membawa MiG-25R di tahun 1976.

      Delete
  16. bung GI, kenapa sukhoi pengen bikin su-35 dll tambah lincah justru pake TVC? apa mereka gak tau kalau TVC tuh sebenarnya gak berguna?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## Karena sejak runtuhnya Uni Soviet, dan kemudian memasuki periode gelap sepanjang tahun 1990an; AU Russia boleh dianggap sudah terpukul keluar dari learning curve dalam air-to-air combat.

      Thrust-Vectoring mempunyai kegunaannya sendiri, tetapi tidak akan relevan dalam close combat. Bleed too much energy -- kehilangan kecepatan, dan ketinggian, karena tidak lagi mendapat forward thrust, dan gaya lift dari sayap pesawat.

      Pilot F-22 sudah belajar tidak boleh sembarangan memakai TVC dalam close-combat, kalau tidak mau menjadi makanan empuk dalam pertempuran udara.

      Sedangkan, pilot AU Russia tidak pernah mendapat pengalaman yang sama, jadi mereka sama sekali tidak tahu. Tentu saja, pengalaman AU Russia untuk bisa berlatih mengadu manuever dengan F-16 NATO misalnya, juga hampir tidak ada. Dan sekarang, semua negara Barat sudah menganggap Russia sebagai antagonis.

      ## Kabarnya sewaktu dahulu India mengetes Su-30MK, versi yg sama dengan TS-3001 & 3002, mereka mendapati kalau versi ini kemampuan manuevernya kurang bagus.

      Inilah yang memulai development Su-35/37 demonstrator di tahun 1990-an, kemudian berbuntut ke Irkut Su-30MKI, dan kelak KNAAPOSu-35S.

      Russia, dan India, di waktu itu sepertinya memperlakukan TVC, seperti "magic", yang merubah pesawat raksasa Flanker menjadi pesawat handal dalam close combat.

      Tentu saja, mesin AL-31FP, atau AL-41F1 yg bisa TVC, dengan sendirinya akan jauh lebih rumit dibandingkan mesin AL-31F standard, yang hanya bisa tahan 1,500 jam terbang, atau hanya 700 jam, menurut pengalaman India.

      Karena lebih rumit, berarti mesin TVC akan selalu.... terjamin lebih gampang rusak.

      Untuk pertunjukan di Paris Air Show sih, memang Sukhoi menjadi tontonan yang sangat bagus; tetapi dalam pertempuran udara, hanya akan mudah dibantai, sedang dari segi perawatan, hanya akan menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan.

      Delete
  17. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete