Tuesday, May 16, 2017

Su-35 Kommercheskiy vs F-35A Versi Export

Su-35S hard landing in KNAAPO
Damaged F-35 from burnt out engine -- USAF Photo
Menurut versi tulisan Carlo Kopp, dan Peter Goon, yang dituliskan berulang-ulang dalam website terkenal mereka, Ausairpower.net, dan terlalu sering di-copas tanpa pemikiran lebih lanjut ke terlalu banyak artikel blog di Indonesia; F-35 bukanlah tandingan Su-35S.

Yah, Su-35S. Bukan versi export Su-35K yang tersedia untuk negara pembeli lain.

Australia berencana membeli 75 F-35A versi export, dan sudah meneken kontrak untuk 14 pesawat pertama. Entah kenapa, walaupun pengalaman pahit mengoperasikan Su-Kommercheskiy di Sku-11 yang "cinta perbaikan mendalam", pembelian akan selalu lewat perantara yang akan merugikan negara 30%, dan kemungkinan Rosoboron untuk dapat memenuhi persyaratan UU no.16/2012 adalah mustahil.... laporan dari Jane's masih mengkonfirmasikan negosiasi antara Kemenhan, dan Rosoboron mengenai kemungkinan akusisi Su-35K.

Google search; dan hampir semua artikel tentang F-35, kecuali yang sumbernya 100% dari Pentagon, atau Lockheed-Martin, akan selalu mengkritik pesawat ini terlalu mahal, terlalu berbermasalah, dan tidak kunjung selesai. Google search Su-35, dan kebanyakan artikel Barat akan selalu memperbandingkan pesawat efek gentar nihil ini sebagai "reference threat" yang paling mengancam semua AU NATO, apalagi F-35 Lemon II.

Sudah saatnya menyuntikan sedikit realita dalam perbandingan kedua pesawat ber-suffix -35 ini.



TRAINING 

Seperti semua perbandingan antar dua pesawat tempur dalam blog ini, faktor TRAINING ini sebenarnya faktor penentu utama, antara dua model mana yang akan lebih unggul: 

It's not about which one is the better fighter type.
The question is how well can that fighter type shape better fighter pilots.

Setiap pesawat tempur hanyalah 20% dari "Efek gentar". Untuk mengoptimalkan kemampuan suatu pesawat tempur, setiap Angkatan Udara akan selalu wajib untuk terlebih dahulu berinvestasi dalam tiga variable yang lebih penting: 
  • System Modern, untuk mengatur operasional, prosedur, dan memastikan setiap pesawat akan dapat dioperasikan seoptimal mungkin.
  • Industri pertahanan dalam negeri yang dapat mendukung kedaulatan negara atas pesawat tempur
  • Latihan untuk pilot, dan semua staff pendukung, menurut Sistem dalam point pertama. Menurut standard NATO, pilot harus mendapat minimal 170 jam latihan udara per tahun, atau idealnya, 30 jam per bulan.
Inilah yang selalu dilupakan dalam setiap "analisis", yang memperbandingkan dua tipe pesawat tempur manapun. Ketiga variable di atas; Training, sistem, dan dukungan industri lokal selalu diasumsikan seimbang antara kedua tipe. Kenyataannya dalam dunia tidak bisa begitu. Semenjak dari jaman perang Dunia II, sampai kesemua konflik selanjutnya, kemenangan selalu berada di pihak yang lebih unggul dalam ketiga faktor diatas terlebih dahulu.

Menghitung semua faktor ini saja, kedua pesawat tempur ini sudah bisa dinyatakan gagal dari awal, apalagi jika diperbandingkan dengan Dassault Rafale, dan Saab Gripen. Kenapa?

Pertama-tama, biaya operasional keduanya sudah pasti akan jatuh terlalu mahal.

Biaya operasional Sukhoi Su-35K bisa dipastikan 2x lebih mahal dari F-35A
Semua referensi menunjuk kalau biaya operasional F-35A, yang terlalu mahal, dan terlalu rumit, akan sekurangnya 50% lebih mahal dibandingkan F-15, yang sudah dianggap terlalu mahal pada puncak perang dingin di tahun 1970-an. 

RNLAF Belanda (Royal Netherlands Air Force) saja sudah membuat estimasi biaya operasional per tahun 270 juta Euro, hanya untuk 37 pesawat F-35A versi export. Dengan asumsi jumlah jam terbang 200 jam per unit, biaya operasional pesawat "lemon" ini akan mencapa36,486 Euro per jam.

Lebih parah lagi, semua negara sekutu US, juga sudah mengetahui, kalau F-35A yang akan mereka beli.... hanyalah pesawat versi export downgrade, yang segala sesuatunya sudah dikunci oleh Lockheed-Martin, dan mereka hanya diijinkan sebagai pemakai. Politisi dari partai oposisi "Five Star" di Italia saja, seperti dikutip Defense News, sudah cepat menunjuk kenyataan ini:
Memang benar. 
Seharusnya Eropa tetap lebih setia ke Eurocanards.

Defense News: Italy's Five Star Party will scrap the F-35 program
Sama seperti Su-35K, tidak hanya negara pembeli harus membayar mahal, tetapi kedaulatan akan selalu ada ditangan negara pembuat, bukan di tangan negara pembeli. Segala sesuatu sudah didikte dari sononya, dan negara pembeli tidak mempunyai kedaulatan untuk mempergunakannya seoptimal mungkin, sebagaimana seharusnya.

Biaya operasional Su-35K Versi Export juga terjamin tidak kalah mahal dibandingkan F-35A Versi Export.
Sistem "Sekali pakai, buang!"
Link: The Moscow Times, 2015
Kalau masalah utama F-35A adalah terlalu mahal, dan terlalu rumit, Sukhoi sebenarnya masih memproduksi pesawat menurut sistem Soviet tempo doeloe, dimana seluruh Soviet seperti dalam keadaan "siap tempur" melawan NATO sewaktu-waktu. Setiap pabrik Soviet wajib untuk terus memproduksi pesawat, senjata, radar, dan setiap spare part setiap hari tanpa henti. Dalam keadaan ini, reliabilitas alutsista bukan masalah, karena setiap part akan selalu ready stock, dan dapat diganti setiap kali diperlukan.

Sayangnya, Uni Soviet sudah runtuh, dan semua pabrik-pabrik warisan military-industrial complex dari jaman doeloe ini, sudah tidak lagi mendapat order book penuh dari Moscow. Masalah utama keluarga Sukhoi, versi manapun juga, adalah masih terus mewarisi sistem produksi yang sudah kadaluarsa ini. 

Su-35 dirancang sebagai Super Flanker, seperti bisa dilihat dari mesin AL41F1 3D Thrust-Vectoring yang lebih rumit dibandingkan AL-31F standard, bukan sebagai pesawat tempur yang spare part-nya bisa lebih panjang umur, atau reliabilitasnya akan terjamin, seperti F-15, dan F-18. Mengingat jumlah produksinya masih kurang dari 50 unit, maka jumlah spare part-nya juga lebih sedikit. Di lain pihak, karena tipe ini baru saja dinyatakan operasional (IOC) pada 15-Februari-2017, biaya operasionalnya dapat dipastikan akan jauh lebih mahal dibandingkan versi Su-27/30 legacy.

Hitung saja: di Indonesia biaya operasional legacy Su-27/30, yang sudah diproduksi sampai lebih dari 1,000 unit saja masih bertengger di angka Rp 400 - 500 juta. Ini adalah angka perhitungan sebelum tahun 2012, sewaktu kurs US$ masih dalam kisaran Rp8,500. Biaya operasional ini juga juga masih sebelum menghitung biaya "perbaikan mendalam", yang dipaksakan harus subcontract di negara asalnya, dan dengan demikian melanggar persyaratan pasal 43 (2) UU no.16/2012.

Kalau dioperasikan di Indonesia, biaya operasional Su-35K bisa di-estimasi melonjak ke kisaran antara $70,000 - $100,000 per jam, termasuk biaya komisi para perantara.

Pertanyaannya, antara pengguna Su-35, sama dengan untuk para pengguna F-35A.

Apakah negara pembeli dapat membayar biaya operasionalnya untuk menjamin jumlah jam latihan pilot minimal 170 jam per tahun?

Dan juga, apakah negara pembeli dapat mengintegrasikan ke sistem operasional yang sudah teruji?


Pemenang: F-35A

Loh, kok bisa?

Sederhana. Kesemua negara yang sudah menandatangani perjanjian untuk membeli F-35A, semuanya jauh lebih kaya, dan mempunyai anggaran yang jauh lebih tebal, dibandingkan mayoritas bakal pengguna Su-35K, bahkan termasuk Russia sendiri.

Kedua pesawat ini secara tehnis bukanlah platform yang ideal untuk membentuk pilot yang baik, dan karena itu mengadu tanding F-35A vs Su-35K boleh dibilang hanya akan seperti mengadu siapa yang punya uang paling banyak. Kelemahan Su-35K disini adalah... biaya operasionalnya sendiri saja sudah akan sekurangnya dua kali lipat lebih mahal daripada F-35, yang sudah dianggap terlalu mahal kebanyakan negara.

Kalau ini masih belum cukup, seberapapun juga jeleknya F-35, jumlah pesawat yang akan dioperasikan, dan jumlah negara penggunanya akan jauh lebih banyak dibanding Su-35; yang sejauh ini hanya terbatas Russia, dan PRC. Lebih banyak Angkatan Udara yang memakai, secara automatis juga berarti jauh lebih banyak jam terbang, atau sekurangnya puluhan kali lipat lebih banyak dibandingkan kedua pegguna Su-35K.

Patut diketahui kalau tidak seperti negara-negara Barat, yang kerap kali saling bahu-membahu untuk berlatih bersama, saling menguji, dan terus meningkatkan kemampuan, baik Russia, ataupun PRC tidak pernah mempunyai kebiasaan, atau pengalaman untuk melakukan yang sama. 

Akibatnya jelas:
Pilot Su-35K negara manapun, yang sudah training-nya abal-abal, akan harus berhadapan dengan pilot F-35A, yang tidak akan berhasil mengumpulkan lebih banyak jam terbang berkat anggaran yang lebih tebal, tetapi juga telah memperoleh keuntungan pengalaman operasional, latihan bersama, dan testing di lapangan dari Angkatan Udara US, UK, Italy, Turki, Denmark, Norwegia, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Israel. 

Tidak seperti mitos kadaluarsa yang selama ini merebak, faktor utama inilah yang akan selalu menentukan keunggulan F-35A atas Su-35K.



Situational Awareness

Gambar: Northrop-Grumman
AESA radar adalah kewajiban perlengkapan yang harus dibawa pesawat yang mengaku generasi kelima. Northrop-Grumman AN/APG-81 AESA radar untuk F-35, boleh terbilang sudah menjadi AESA radar generasi ketiga, sejak AN/APG-77, dan AN/APG-80. Perlu dicatat disini, kalau para produsen AESA radar di United States; Raytheon, dan Northrop-Grumman, adalah yang paling berpengalaman di dunia.

Sayangnya, Sensor Fusion untuk F-35 juga masih tergolong terbatas. 

Komponen penting kedua untuk mendapat Sensor Fusion, adalah IRST; dan dalam hal ini, EOTS untuk F-35, yang masih berbasiskan legacy system tahun 2000-an awal, tehnologinya sudah tertinggal. Kalau belum cukup parah, EOTS lebih di-optimalkan untuk mencari target di darat, bukan di udara, seperti IRST sistem modern di Typhoon, Rafale, dan Gripen.

Semua ini sudah lebih dari cukup untuk selalu dapat mendeteksi, dan kemudian mem-lock Sukhoi Flanker terlebih dahulu. Pesawat yang tidak pernah mendapat upaya pengurangan RCS, ataupun IR-signature secara optimal.

Radar Irbis-E, persenjataan sensor utama Su-35K, boleh dibilang juga akan menjadi kelemahan terbesar dalam pertempuran BVR. Dengan kapasitas output 20kW, dan hanya dapat beroperasi single-frequency, pilot Sukhoi yang menyalakan radar secara aktif dalam pertempuran udara, hanya akan menjadi umpan untuk Radar Warning Receiver lawan, dan hanya akan menjadi magnet untuk dual-linked AMRAAM-D.
Gambar simulasi di atas memperbandingkan BVR antara F-18F Australia, dengan Su-35K versi export, kalau dioperasikan negara pengguna awam, yang seperti disebut sebelumnya, pilotnya akan selalu kurang training.

Dengan RCS F-35 yang kurang dari 0,001 meter persegi, pekerjaan untuk radar Irbis-E akan sangat berat untuk bisa mendapat lock. Ausairpower, dan sumber informan Russia mereka menunjuk kalau Su-35 akan dapat "melihat" F-35A dari jarak 90 kilometer. Bisa melihat (detect) bukan berarti automatis bisa mendapatkan lock (target tracking). Seperti semua klaim auntie Ausairpower, angka ini belum bisa di-verifikasi, dan tentu saja, tidak akan berlaku untuk versi export downgrade-nya, yang akan mendapat pengurangan spesifikasi.

Kalau belum cukup parah, OLS-35 untuk Su-35K, yang juga kembali akan mendapat pengurangan dari spesifikasi original, kelihatannya juga lebih dioptimalkan untuk mencari target seukuran Su-30 dari arah depan, pada jarak 35 kilometer. Bukan untuk mencari target yang sudah mendapat pengurangan IR-signature, seperti F-35, atau ketiga Eurocanards; kesemuanya target yang juga jauh lebih kecil.
OLS-35 IRST: Link
Tidak dirancang untuk mencari pesawat dengan IR-signature yang rendah.


Pemenang: F-35A

Biar bagaimanapun juga, semua simulasi sudah menunjuk kalau F-35 akan selalu mempunyai Superior situational Awareness. Inilah kunci keunggulan F-35, yang selalu diumbar Pentagon, dan Lockheed-Martin. Memang benar, pada prinsipnya, seluruh cockpit, dan semua sensor feedback F-35A sudah dirancang untuk memberikan superior situational awareness ke pilot, yang seharusnya lebih unggul dibandingkan F-16, dan F-18. 

Sebaliknya, cockpit Su-35K juga belum tentu akan dapat memberikan situational Awareness yang sebanding dengan cockpit F-16 Block-50/52+. Patut dicatat disini, kalau Russia masih kurang pengalaman dalam memproduksi desain cockpit yang user-friendly, atau mengutamakan situational awareness, seperti desain Barat. Mengingat pesawat tempur diperlakukan sebagai pemanjangan tangan dari ground control, hal ini bukanlah fokus utama desain pesawat tempur mereka. Kalau belum cukup, semua sistem sensor Su-35K.... juga tidak pernah mendapat update yang berarti sejak spesifikasinya dikunci di tahun 2005.
Nyet Upgrade


Tidak percaya?
Silahkan research sendiri upgrade apa yang diaplikasikan ke Su-35K, bukan S,
sejak tahun 2008!
Kembali patut diingat, kalau untuk bisa mendapat kemenangan atas F-35A, seperti dalam skenario fiktif auntie Ausairpower, atau beraneka ragam artikel versi copas Indonesia, pilot Sukhoi harus terlebih dahulu mendapat jauh lebih banyak training. Dan tentu saja, kemampuan sensor, persenjataan, dan perlengkapan Sukhoi juga harus diasumsikan cukup bersaing dari segi kualitas, dan kemampuan dibandingkan apa yang sudah bisa diproduksi industri militer Barat sekarang ini.

Keduanya adalah variable yang mustahil untuk bisa didapat, dan dari sini problemnya untuk semua pengguna Sukhoi akan semakin bergulir.


BVR Combat

F-35 secara tehnis, adalah pesawat pertama setelah F-4 Phantom II tahun 1958, yang spesialis... hanya untuk menjadi ahli mengoperasikan BVR missile. Mencoba menantang F-35 yang dipersenjatai dengan AMRAAM-D dalam BVR Combat, yang di kemudian hari juga MBDA Meteor (jarak jangkaunya akan lebih pendek), atau ASRAAM, adalah ide yang sangat jelek untuk pengguna Sukhoi Su-35, baik versi lokal, ataupun versi Kommercheskiy.

Keunggulan stealth yang memberikannya RCS kurang dari 1/100 dibandingkan Gripen, berarti pilot F-35A yang sudah pasti akan jauh lebih terlatih, akan dapat menghindari Su-35K dari arah depan, dan mengambil posisi mengendap-ngendap dari arah samping, atau dari arah belakang Sukhoi, tanpa pernah bisa terlihat, atau terdeteksi. Menembakkan BVR missile dari arah samping, atau dari arah belakang, dengan sendirinya akan meningkatkan pK (probability Kill -- kemungkinan menghancurkan target) antara 50 - 70% lebih tinggi dibandingkan kalau ditembakkan head-on.

(Gambar ilustrasi akan menyusul)

Yah, pertempuran udara BVR antara Su-35 vs F-35 dalam dunia nyata, tidak akan seperti dalam bayangan delusional dari auntie Koop, dan Goon.

Dari sini semua mimpi buruk Sukhoi akan semakin bertambah parah.

Apakah persenjataan utama yang diperbolehkan untuk Su-35K?
# FAKTA 1:
Hanya missile versi export downgrade yang tersedia untuk negara importir 
Kebanyakan pembeli biasanya selalu diarahkan Rosoboron untuk membeli RVV-AE, atau R-27 versi export, seperti dalam gambar website resmi JSC Missile Corp ini. R-33E versi export, misalnya, belum bisa diintegrasikan ke Sukhoi, hanya untuk MiG-31.
"That is weird - Russia's best fighters in Syria are still using crappy missile"
Penulis: Dave Majumdar - National Interest
"Aneh?!? Kenapa pesawat tempur terbaik Russia di Syria, masih menggunakan missile rongsokan?"
Dengan asumsi kalau active seeker di RVV-AE bisa bekerja sesuai iklannya (kemungkinan besar sih, tidak), missile ini tetap saja adalah produk downgrade dari R-77, yang development-nya sudah dihentikan di tahun 1989; dengan Agat-1348E seeker, dan jarak jangkau yang lebih pendek dibandingkan R-77.
Credits: RT
Su-35S di Suriah -- tidak tersedia untuk export,
masih dipersenjatai R-27, dan R-73

FAKTA #2:
AU Russia tidak mengoperasikan R-77, tetapi menjual RVV-AE versi export
Di tahun 1991, United States, dan negara-negara NATO masih berkutat untuk memproduksi BVR missile pertama yang mempergunakan active seeker-guidance, yang kemudian lahir dalam bentuk AMRAAM-A. Jarak jangkau maksimum 50 km, dan jarak efektifnya waktu itu diperkirakan kurang dari 25 km.

Pada tahun 1994, evolusi AMRAAM kemudian berlanjut ke versi-B, dengan improved seeker guidance dibandingkan versi-A, jarak jangkau meningkat ke angka 75 km, dan jarak efektif sekitar 20 - 40 km. Negara-negara yang memproduksi Eurocanards; UK, Italy, Spanyol, Jerman, dan Swedia tidak pernah membeli versi yang lebih modern daripada AMRAAM-B, karena pada masa ini, mereka sedang bersiap untuk memulai development MBDA Meteor.

Kemudian di tahun 1996, AMRAAM C5 mulai diperkenalkan. Jarak jangkaunya mulai dirahasiakan, dan dapat diperkirakan lebih unggul 30 - 50% dibandingkan versi-B, dan kembali, datang dengan improved seeker. Development untuk versi C-7, yang baik kemampuan seeker, dan jarak jangkaunya lebih unggul lagi, dimulai di tahun 1998, dan mulai memasuki fase operasional di tahun 2000-an akhir.

AMRAAM-D dengan dual-datalink, active seeker yang lebih unggul, dan jarak jangkau 50% lebih baik dibanding versi C-7, yang dapat dipastikan akan menjadi default weapon untuk F-35A, baru memulai development di tahun 2008. Agak terlambat memang, tetapi diperkirakan akan segera mencapai IOC dalam rentang waktu sebelum 2020.

Sedangkan RVV-AE?

Apakah perbedaan antara RVV-AE yang di tahun 2002 dijual ke India, Malaysia, dan China, dengan RVV-AE yang dijual ke Indonesia di tahun 2013, dan RVV-AE yang masih dijual sekarang?

Tidak akan ada bedanyaIni suatu kenyataan lain. Ketiga RVV-AE ini akan sama persis, hanya berbeda waktu produksinya saja, apalagi mengingat sejauh ini R-77 masih saja... belum operasional secara resmi dalam AU Russia.

Upgrade, dan pengembangan secara berkesinambungan memang bukan satu kelebihan industri warisan Soviet.

Kalaupun bekerja, karena itu RVV-AE sebagus-bagusnya, hanya akan menjadi versi downgrade yang equivalent dari basis tehnologi AMRAAM-A, yang kemampuan kill-nya meragukan, dan jarak jangkau efektifnya akan kurang dari 30 kilometer. 
Daftar BVR missile Russia, menurut Versi Ausairpower:
Beraneka ragam jenis, dengan beraneka ragam seeker

Daftar BVR missile Russia, yang tersedia untuk export,
menurut Versi Realita
Pertempuran BVR sebenarnya adalah permainan tanding antara radar guidance dari pesawat induk, kemampuan ECCM (Electronic Counter-Counter Measure), dan active seeker dari missile melawan RWR (Radar Warning Receiver), kemampuan manuever pesawat yang ditargetkan, chaff untuk mengecoh missile, dan fasilitas ECM (Electronic Counter Measure) untuk mematahkan serangan missile lawan.

Dengan dipersenjatai "missile tokcer" RVV-AE, pilot Sukhoi akan membutuhkan banyak sekali jam latihan, dan banyak sekali keberuntungan, sebelum berhasil mendapatkan lock dari jarak BVR terhadap F-35A, dan kemudian menembus pertahanan Integrated Electronic Defense Suite AN/ASQ-239, buatan BAe System.

Inilah pertanyaan yang justru harus dipertanyakan kembali ke negara pengguna Sukhoi: Seberapa besar kemungkinannya Su-35K bisa selamat dari serangan AMRAAM-D, apalagi kalau ditembakkan dari samping, atau dari belakang?
Menurut Sputnik, Su-35S kebal jamming, dan dapat menggunakan stand-off missile
Selain klaim ini belum bisa diverifikasi, versi Export belum tentu diperbolehkan.
Seperti di atas, pertama-tama, pilot Sukhoi harus berharap kalau Radar Warning Receiver versi downgrade-nya, akan dapat memperingatkan locking dari active-seeker AMRAAM. 

Kedua, kalau berhasil diperingatkan RWR, pilot Sukhoi juga harus berharap Knirti defense jammer versi downgrade mereka, dapat, paling tidak mengurangi akurasi seeker AMRAAM-D, yang akan terus dipandu dengan dual-datalink dari F-35A.

Terakhir, tentu saja, pilot Sukhoi akan melepas chaff (belum tentu bisa mengecoh seeker AMRAAM-D), dan bermanuever sebisa mungkin untuk bisa menghindari momentum akhir AMRAAM. Ini bukan mustahil untuk bisa dilakukan, karena missile berkecepatan Mach-4, akan membutuhkan kemampuan G-manuevering hampir 10x lipat dibanding pesawat target, dan pada manuever akhir, mesin solid-boost propulsion dari AMRAAM tentu sudah kehabisan bahan bakar, dan tidak lagi bisa mengatur kecepatan missile. 

Masalah utamanya, mengingat jumlah jam latihan Sukhoi sudah pasti akan selalu kurang dibandingkan pilot F-35, apakah pilot akan mempunyai kemampuan untuk menghindar?

Mempergunakan TVC sih sama saja dengan bunuh diri. Kehilangan kecepatan, dan ketinggian dalam manuever melawan missile, akan menjadikannya santapan untuk missile berikutnya.


Pemenang: F-35A

Credits: Gripen-Indonesia.blogspot.co.id
Tidak perlu F-35 untuk bisa mengalahkan Su-35 dalam BVR Combat
(Gambar: Gripen-Indonesia.blogspot)
F-35 sudah dirancang sebagai grand maester dalam BVR combat, dan baik dari segi persenjataan, sensor suite, perlengkapan, ataupun Electronic Defense Suite-nya, walaupun akan di-downgrade untuk export, tetap saja perbedaannya akan bumi, dan langit jika dibandingkan barang Kommercheskiy, yang sudah ketinggalan jaman.

Faktor yang paling penting dalam pertempuran udara adalah Kemampuan pilot, dan seberapa jauh pilot dapat mendorong apa yang tersedia dari tunggangannya. Kembali, karena kedua-duanya pesawat yang high-maintenance, dengan faktor reliabilitas yang meragukan, maka pihak yang lebih kaya akan selalu menjadi pihak yang dapat menabung lebih banyak latihan, dan lebih banyak investasi ke dalam sistem operasional.

Su-35, baik versi S, ataupun versi K, yang ukurannya luar biasa besar, dengan RCS sebesar lapangan bola, dan hanya bisa dipersenjatai Irbis-E, dan R-27, ataupun RVV-AE, hanya akan di-sate pesta AMRAAM-D dari F-35A. Dan karena pilotnya akan selalu kurang training, dan perlengkapannya juga tidak memadai, akan sulit untuk bisa selamat, atau mendekati F-35A ke dalam....


WVR Combat


Betul, memang biar bagaimanapun Su-35K akan menjadi pesawat yang lebih aerodinamis, dan kemampuan manuever-nya lebih terbukti dibandingkan F-35A yang gembrot, dengan sayap yang kecil.  Keluarga Flanker, sama seperti keluarga F-15, dirancang untuk kemampuan manuever se-optimal mungkin, walaupun pada akhirnya sama saja, keduanya adalah pesawat bongsor, dengan high drag, dan kemampuan akselerasi yang kurang bersaing dibandingkan Eurocanards, dan F-16.

Perhatikan kembali pertunjukkan Paris Air Show 2013 di atas!

Pernahkah berpikir, seberapa banyak jam latihan yang dibutuhkan untuk bisa memanuever-kan pesawat sehebat itu?

Sergey Bogdan, pilot Su-35S dalam pertunjukan Paris Air Show 2013, adalah test pilot sipil dari United Aircraft Corporation, yang masih mewarisi keterampilan dari sejak jaman Soviet, dan sudah mengumpulkan ribuan jam terbang. Pilot-pilot Russian Knights; tim aerobatik Russia, yang baru saja tampil dalam acara Lima 2017, juga sudah berlatih untuk memperlihatkan... sekurangnya kemampuan maneuver yang "hampir mengimbangi" Sergey Bogdan. 

Talenta yang bisa dipertunjukan Bogdan, dan Russian Knights, sebenarnya sudah terhitung langka dewasa ini dalam AU Russia, yang karena kurang latihan, jumlah kecelakaannya sudah mencapai rekor 1 - 2 pesawat per bulan.
Sumber:
The Moscow Times, 14-July-2015
Fakta#3
Sejak laporan Moscow Times, Mei-2015 di atas,
AU Russia terus mengalami kecelakaan secara rutin; sebulan sekali

Latihan adalah salah satu faktor utama
(Sumber: Aviation Safety Network)
Tentu saja patut dicatat disini, kalau baik Sergey Bogdan, ataupun pilot-pilot Russian Knights, belum mempunyai pengalaman dalam latihan tempur melawan.... misalnya, standard F-16 NATO, dan dengan demikian mungkin belum pernah belajar kalau Thrust Vectoring yang mereka pertontonkan hanya akan membuat tunggangan mereka makanan empuk dalam pertempuran jarak dekat

Disinilah kembali, kenapa F-35A yang sudah begitu bermasalah, tetap saja bisa menjadi lawan yang terlalu sulit untuk pilot Sukhoi, yang secara tehnis kemampuan manuever-nya lebih unggul, dan dapat dipersenjatai..... eh, ternyata juga hanya R-73E untuk export, yang hanyalah variant dari R-73 yang sudah diproduksi sejak tahun 1980-an. Terlalu ketinggalan jaman, dan dengan IR-seeker, yang masih mudah dikecoh flare.

Masih mau menganggap remeh F-35A?

Pada 1 Maret-2016 yang lampau, The Aviationist baru saja mempublikasikan pengalaman manuever F-35A, dari test pilot Norwegia, Major Morten “Dolby” Hanche, yang sebelumnya sudah berpengalaman mengumpulkan 2,200 jam terbang di F-16, atau lebih banyak daripada pilot Sukhoi manapun di seluruh dunia. Berikut cuplikan, dan terjemahan dari pengalaman "Dolby", yang patut dianalisa lebih lanjut, dan bukan semata ditelan mentah-mentah seperti oleh para F-35 fanboys:

Pendapat pilot: F-35 akan mempunyai nose-pointing control, yang lebih baik dibandingkan F-16, karena dapat menguasai maksimum AoA (Angle of Attack) yang lebih leluasa. "Dolby" sudah mulai membiasakan diri untuk mengambil posisi lebih aggresif, semakin terbiasa dengan F-35A, dan menceritakan bagaimana F-35 akan dapat "menempel" ke target dengan akurat.

Analisa: AoA limit untuk F-16 memang sudah di-set ke 26 derajat, tetapi biasanya bisa recover airspeed jauh lebih cepat dibandingkan F-18 Hornet / Super Hornet, yang kelebihannya justru mempunyai AoA limit yang lebih tinggi, dan memutar moncong pesawat lebih cepat dibanding F-16. Apa yang di-deskripsikan Mayor "Dolby" disini tentang kemampuan manuever F-35, kelihatannya lebih mendekati ciri khas kemampuan manuever keluarga Hornet / Super Hornet, dan kemudian strategi bagaimana caranya pilot F-18 bisa memperoleh keunggulan atas fast knife F-16.

Tentu saja, pilot F-16 mempunyai strateginya sendiri bagaimana caranya memaksimalkan keunggulan manuever, dan kecepatannya atas F-18 / F-35. Masing-masing pesawat tempur akan mempunyai keunggulan / kelemahannya sendiri, dan faktor terpenting adalah bagaimana pilot dapat menguasai semua parameter manuever yang tersedia.

Dari diskripsi ini, pilot Australia, atau US Navy, yang sudah terbiasa dengan keluarga Hornet / Super Hornet, tentu tidak akan menghadapi banyak masalah untuk mengoptimalkan kemampuan manuever F-35.

Yah, dengan demikian patut kembali digaris-bawahi, kemampuan, dan pengalaman pilot akan dapat mengkompensasi seberapapun jeleknya limitasi airframe.

Perlu dicatat disini, kalau sebagai test pilot, Mayor "Dolby" akan berpihak kepada keputusan politik pemerintah Norwegia, dan secara tak langsung juga ke Lockheed-Martin, karena itu beberapa hal tetap terlupakan. 

Pertama-tama, Mayor "Dolby" tidak menyebut, kalau dalam keadaan terbang stealth, F-35A tidak akan diperbolehkan membawa AIM-9X Block II, yang harus dicantolkan di ujung sayap pesawat, dan dengan demikian merusak RCS. Oh, tapi kan F-35A masih membawa GAU-22 cannon?

Mencoba mengalahkan lawan hanya dengan GAU-22 cannon, yang menurut laporan DOT&E terakhir, akan menimbulkan masalahnya sendiri.
Yah, ternyata begitu pintu gun port-nya dibuka, akan menambah drag, dan membuat pesawat miring ke samping. Kemungkinan pelurunya meleset dari target menjadi terlalu besar, dan hanya 181 peluru yang tersedia.

Mayor "Dolby" juga lupa menyebut, kalau F-35 juga sebenarnya "sangat mudah terbakar". Untuk menurunkan IR-signature, penyimpanan bahan bakar F-35 ada di sekeliling mesin, dan dengan demikian satu peluru kaliber sekecil apapun, sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan yang cukup fatal.



Pemenang: F-35A

Wah, tidak adil!

Yah, sayangnya, pertempuran jarak dekat, kembali, tidak hanya semata tergantung pesawat apa yang dipakai pilot, tetapi seberapa jauh kemampuan training sudah mendorong kemampuan pilot itu seoptimal mungkin. Tanpa training, seberapapun hebat pesawatnya, melawan pilot yang sudah mengumpulkan ribuan jam terbang akan dapat mudah melibas lawan, hanya dengan F-5E Tiger II.

Masalah F-35A tidak akan pernah selesai, dan kemungkinannya dibatalkan, karena alasan politik semakin sulit, tetapi semua pilot NATO sudah mengetahui ini, dan mau tidak mau, mereka akan beradaptasi.

Kecil kemungkinannya pilot F-35A akan mau mengambil resiko mengadu manuever, dan karena itu, mereka akan berusaha sebisa mungkin... terus mengandalkan AMRAAM; kalau perlu menembakkannya dari jarak yang cukup dekat, dan dari arah yang tak terduga, ketika pilot Su-35K berpikir mereka sudah berhasil "menangkap" F-35A dalam pertempuran jarak dekat.

Margin of error untuk dapat mengalahkan Su-35K dengan demikian menjadi mengecil, karena F-35A akan terlalu mengandalkan stealth.

Untungnya, Russia juga sudah menghadiahi diri dengan pesawat yang tidak kalah high maintenance-nya, dan biaya operasionalnya juga tidak kalah mahal. Dengan demikian, kemenangan akan kembali di pihak yang uangnya lebih banyak, bukan pihak yang pesawatnya lebih baik.



PenutupHampir tidak mungkin Su-35K akan dapat mengalahkan F-35A Versi Export

Credits: USAF Photo
F-35 is a $1,4 Trilion National Disaster
Paling mahal, paling jelek, paling bermasalah,
sepanjang sejarah dunia aviation
Perbandingan ini cukup memusingkan untuk ditulis, karena kenyataannya, masing-masing pesawat bukanlah platform yang ideal untuk dapat mengalahkan yang lain.

F-35 memenangkan pertandingan ini, bukan karena kualitasnya jauh lebih baik, tetapi karena Sukhoi Flanker (variant manapun), dengan sensor suite, persenjataan, dan perlengkapan versi export yang ketinggalan jaman, dan kesulitan maintenance yang segunung, tidak akan mampu memberikan tantangan yang berarti. Di lain pihak, F-35 juga masih mempunyai bantalan triliunan US$ uang pajak rakyat United States, sedangkan Sukhoi tidak mempunyai dukungan yang sama; pembeli hanya dibebani komisi perantara.

F-35 dan Sukhoi Flanker sebenarnya justru lebih mempunyai beberapa persamaan yang mencolok, dibandingkan perbedaan:
  1. Keduanya adalah kemenangan "Keinginan mimpi di atas kebutuhan", atau dibuat berdasarkan "logika Hollywood".
  2. Keduanya juga dibuat terlalu rumit, dan terlalu complex untuk keterbatasan industri, dan tehnologi yang tersedia di masing-masing negara pembuat
  3. Akibatnya, yah, biaya operasionalnya terlalu mahal, dan maintenance-nya akan terlalu merepotkan, untuk memastikan secara operasional akan membuat penggunanya pusing tujuh keliling.

Seperti dalam artikel sebelumnya, F-35A harus menjadi pesawat tempur stealth, dan diperuntukkan agar bisa menggantikan F-16, F-18, A-10, dan Harrier, dalam tiga sub-variant. Masing-masing tipe ini sudah dibuat dari desain philosophy / concept yang berbeda, untuk memenuhi tugas yang berbeda-beda, yang sebenarnya tidak saling compatible satu sama lain. Bagaikan perahu, F-35 sudah bocor dari sebelum pernah menyentuh air, dan semakin banyak lubang yang ditambal, hanya akan semakin banyak yang bocor.

Sukhoi Flanker juga sama bermasalahnya.

Uni Soviet dahulu kala, begitu terobsesi untuk dapat membuat pesawat yang "bisa mengimbangi" raksasa twin-engine F-4 Phantom II, dan kemudian menjadi gelisah ketika mendengar United States sudah memulai proyek F-X (F-15), dan VF-X (F-14), dua raksasa twin-engine dengan kemampuan BVR jempol. Soviet melupakan, kalau pesawat tempur mereka yang paling sukses untuk dapat menyulitkan F-4 Phantom II dalam konflik, adalah.... MiG-17, dan MiG-21 --- dua pesawat single-engine yang sederhana, dan dapat bermanuever lebih ketat dibandingkan raksasa Phantom, dan dapat mudah berkelit dari BVR misile di jaman itu, AIM-7 Sparrow.
Su-35S w/ R-27 & R-73   Credits: Sputnik
Masa masih menantang pesawat tempur NATO,
 dengan semi-active homing missile di Abad ke-21?
Soviet melupakan kalau dengan membuat Su-27, dan MiG-29, mereka sebenarnya sudah mengkhianati philosophy desain alutsista mereka sendiri, yang sudah ditempa dalam Perang Dunia II, dan sepanjang masa perang dingin. Setiap pesawat tempur Soviet harus lebih praktis, lebih murah, lebih mudah diproduksi, tetapi tetap mempunyai kemampuan menantang Luftwaffe Jerman di tahun 1940-an, dan kemudian AU NATO.

Su-27, dan MiG-29 tidak pernah sesuai dengan keterbatasan industri Soviet, yang cenderung lebih unggul dalam desain praktis, dan cepat saji. Spare part yang cepat habis masa pakainya, mudah, dan murah untuk bisa diproduksi, dan kemudian bisa cepat diganti di MiG-21, atau Su-22 bukanlah masalah yang pelik, tetapi hanya akan menjadi bencana alam untuk twin-engine design yang complex seperti Su-27, dan MiG-29. 
Defense News, 22-Maret-2017
Su-30MKI adalah bencana alam yang berkelanjutan untuk India:
Semakin rumit, yah, semakin bermasalah.
Lihat saja perkembangan dewasa ini, dan perkembangan berita dari Syria:
  • Lebih banyak negara masih tetap mengoperasikan lebih banyak MiG-21, dibandingkan MiG-29 yang seharusnya lebih baru, lebih unggul, dan lebih modern.
  • AU Russia sendiri di Hmyemim Airbase, Syria, terlihat lebih banyak mengoperasikan Su-24 Fencer, dan Su-25 Frogfoot, yang lebih tua, tetapi lebih bandel, dibandingkan Su-30SM, Su-34, dan Su-35S, yang lebih modern, tetapi lebih high-maintenance, dan lebih jarang bisa terbang.
    Sekurangnya 7 Su-24, dan 8 Su-25 di Hmeymim AB;
    Kedua tipe ini lebih penting daripada Flanker untuk meningkatkan sortie rate
    (Gambar: Russian MoD)
    Daftar pesawat AU Russia, 2-Februari-2016,
    menurut foto yang diambil Aros surveillance satelit Israel
    (YnetNews)
  • MiG-29 AU Syria saja sudah lama menghilang dari peredaran, apa yang mereka minta dari Russia, adalah pesawat serang praktis Su-24 Fencer; yang sebenarnya adalah salah satu kesuksesan sendiri; pesawat swing-wing, dengan twin-turbojet, yang kelihatan tahan banting dalam konflik Syria. 
    Su-24 Fencer AU Syria adalah salah satu yang paling aktif dalam konflik Syria,
    model yang lain....
Su-22 yang dihancurkan Tomahawk attack di Shayrat
(Gambar: Mikhail Voskresenskiy, Sputnik via AP)

Kelihatannya, serangan Tomahawk terhitung
Mission: Accomplished
Mengapa demikian?

Pesawat yang lebih sederhana, lebih mudah dirawat, akan selalu lebih tahan banting baik dalam jangka panjang, ataupun dalam konflik. Dalam hal ini, secara konsep, baik seluruh keluarga Sukhoi Flanker, ataupun F-35 sama-sama produk gagal.

Anggaran Pertahanan 1988 - 2012:
Garis Kuning
 membandingkan Anggaran Pertahanan Perancis vs Russia,
(Gambar: Washington Post)
Seandainya dahulu kala Soviet berhasil memproduksi manueverable, low maintenance single-engine fighter yang jarak jangkaunya lebih jauh untuk menggantikan MiG-21, dan MiG-23, mungkin perbandingan ini akan berbeda. Sayangnya, ini sudah terlambat. Dengan anggaran pertahanan yang kurang dari 20%-nya masa Soviet, dan karena kesulitan ekonomi masih akan dipotong 25% untuk tahun 2017, AU Russia terpaksa mengoperasikan keluarga pesawat tempur yang biaya operasionalnya lebih dari sepuluh kali lipat lebih mahal daripada MiG-21, MiG-23, dan Su-22.

F-35 hanya beruntung, karena sejauh ini sudah tidak bisa dihentikan lagi secara politik. Ancaman terbesar untuk F-35, bukanlah datang dari Su-35S, atau Su-30SM, melainkan dari diri sendiri. Butuh terlalu banyak pengorbanan keringat, dan finansial untuk mengoperasikan rongsokan "ultra-modern" ini, dan dengan sendirinya justru akan menghancurkan kemampuan NATO dari dalam. 

Lebih ironis lagi, sebenarnya tidak ada satupun negara NATO yang membutuhkan F-35 Lemon II. Model yang mereka butuhkan, dan dapat menjawab tantangan-tantangan konflik modern, mulai dari Kosovo, Iraq, Afganistan, Libya, ataupun di Syria, adalah pesawat berikut, yang sayangnya sekarang sudah dipensiunkan:
A-7E Corsair II   Credits: John R. Leenhouts (Wikimedia)
Single role strike aircraft, bukan pesawat mewah,
TETAPI
Lebih murah, lebih ekonomis, dapat membawa jauh lebih banyak bom,
lebih akurat dalam serangan,
jauh lebih reliable,

dan jauh lebih tahan banting dibandingkan F-35 Lemon II.
Ini akan dibahas di lain waktu.

83 comments:

  1. kalau untuk BVR sepertinya memang SU-35 bukan tandingan f-35 tapi saya masih tidak yakin f-35 bisa menang dalam wvr dan dogfight karena f-35 tidak membawa wvr missile dan cannon persis seperti phantom di perang vietnam terlalu percaya diri mengandalkan BVR sehingga tidak memasang canon untuk dogfight akibatnya banyak yg rontok oleh mig 21 vietnam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada tanggal 17-Januari-1991, EF-111 Raven USAF, pesawat EW yang tak bersenjata, menjadi satu2nya yang memperoleh "kill" tanpa pernah menembak jatuh lawan.

      Mirage F1 Iraq yang berusaha mengejar EF-111 tersebut, bermanuever menabrak permukaan tanah.

      ## Betul, memang sampai kapanpun, F-35 tidak akan kompeten dalam pertempuran jarak dekat.

      Kembali, seperti contoh kejadian tadi, faktor training akan selalu menjadi penentu utama dalam pertempuran pespur v pespur.

      ## Su-35K memang akan dapat bermanuever lebih baik dibanding F-35, tetapi pertanyaannya:

      Apakah pilotnya sudah mendapat cukup training, untuk bisa mengadu manuver dengan lawan?

      Seperti diatas, sistem training F-35 akan jauh lebih unggul; sedangkan sistem training dari Ruski abal2. Belum cukup parah, Sukhoi tidak akan bisa sering terbang, karena gila maintenance --- mempersedikit jam training lebih parah lagi.

      Para pilot F-35 kemungkinan akan mempersiapkan jebakan untuk Sukhoi; satu-dua pesawat akan memancing mereka dalam pertempuran jarak dekat, sementara wingman-nya akan mengambil posisi dari belakang, beberapa kilometer jauhnya, dan kemudian kembali menggunakan AMRAAM.

      A T A U...

      ... kalau F-35 tidak terbang stealth, dan bisa dipersenjatai wingtip ASRAAM, atau AIM-9X Block-II, yang jauh lebih unggul dalam segala hal dibanding R-73E versi Export, yah, permainannya akan berbeda.

      Delete
  2. berita duka ..innalillahi , meriam buatan china merek chang chong tiba2 meledak dalam latihan PPRC di natuna tadi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan 3 prajurit TNI Gugur

      Delete
    2. Terus terang, merek Chang Chong ini.... sy belum pernah mendengar.

      Entah jenis apa "meriam" ini, apakah artillery ringan, CIWS, atau heavy machine gun?

      Inilah... akibat akuisisi pola gado-gado / macan ompong.

      ## Tidak akan ada kompetisi yang jelas, kenapa satu supplier bisa terpilih (Kemungkinan karena faktor "kickback").

      ## Kualitas gado2 juga tidak akan terjamin
      Karena alasan pemilihan supplier untuk sistem gado2 tidak jelas, barang yang dibelipun kualitasnya tidak akan jelas.

      Apakah kita hanya membeli "produk sampah"?
      Tidak ada tender resmi, ya, tidak akan ada transparansi.

      ## Training juga akan sulit.
      Sistem training-nya juga akan... gado-gado untuk masing2 tipe yang jumlahnya sedikit; tidak akan memberikan kemampuan untuk personil benar2 menguasai alutsista tersebut.

      Dan kalau tidak menguasai perlengkapan yang dipakai, yah, kalaupun barangnya bagus, resiko kecelakaan juga bertambah besar.

      ## Barang2 buatan PRC, dan Russia, terutama, tidak dikenal bisa tahan lama, alias gampang rusak dengan after-sales support minimal.

      "Anda sudah membeli, resiko tanggung sendiri!"

      Inilah kembali, kenapa kita harus mulai mendisplinkan akuisisi alutsista, karena faktor terjadinya kecelakaan semacam ini hanya akan terus meningkat tanpa adanya perubahan yang berarti.

      Delete
    3. komisi 1 DPR langsung mencak2 mereka mengatakan Tni harus tingkatkan safety ... Menurut kesaksian prajurit di lapangan wkt itu, smua sop udah dilaksanakan ,entah knp tiba2, meledak. Dan kbrnya ada kejadian lg meriam macet dan sulit dikendalikan di moncong meriam eror akbtnya menelan korbn prajurit 4 orang gugur

      Delete
    4. Bukan hanya meningkatkan safety, tetapi apa yang dibutuhkan disini adalah Meningkatkan transparansi dalam TNI.

      TNI mempunyai beban tanggung jawab dalam segala hal, tidak hanya kepada setiap personilnya sendiri, tetapi juga ke pemerintah, dan seluruh rakyat Indonesia.

      Saat ini, estimasi kasar 30 - 40% alutsista yang baru dibeli saja.... kualitasnya meragukan, safety margin rendah, atau menimbulkan kerugian finansial yang terlalu berat, tanpa memberikan hasil yang berarti.

      Seperti contoh Chang Chong, atau mesin TS-3009 yang "kaput" tempo hari, alutsista pada akhirnya hanya akan membahayakan personil TNI, dan secara tak langsung juga rakyat di sekitar tempat pengoperasian.

      Semuanya kembali ke transparansi, mulai dari tahap pengajuan untuk akuisisi:

      ## Mengajukan requirement membeli alutsista baru yang harus jelas baik parameter, ataupun kelaikan operasionalnya untuk kebutuhan Nasional, baik ke pemerintah, atau ke publik.

      ## Setiap pengajuan requirement dari TNI harus sesuai dengan UU no.16/2012; lebih memperhatikan partisipasi industri lokal, dan ToT.
      Lambat laun, harus terjadi kesepakatan dahulu antara akademis, industri lokal, dan TNI, sebelum bersama2 mengajukan tender.

      ## Setiap kontrak harus melalui suatu bentuk tender resmi, antara berbagai supplier yang jelas.

      ## Sesuai UU no.16/2012; alutsista yang sudah diproduksi sendiri, melalui license lokal (seperti Medium Heli, dan pesawat angkut ringan) seharusnya tidak boleh tender keluar (seperti AW-101).

      ## Semua kontrak harus dinegosiasikan Government-to-Government.
      Tidak ada persetujuan pemerintah, tidak boleh membeli alutsista.
      Bye-bye, perantara!

      Seperti bisa dilihat, requirement ini sebenarnya masih terlalu idealis, dan kelihatannya sukar untuk bisa tercapai dalam waktu dekat.

      Semuanya akan membutuhkan perjuangan tersendiri.

      Delete
    5. meriam canon untk jarak menengah , kbr trbru 8 prajurit terluka . Komisi 1 DPR di kbrkan bakal memanggil panglima tentara dan menhan mengenai pembelian senjata . Kini semua orang di formil jadi tersadar bahaya nya senjata versi export downgrade

      Delete
  3. Tiger adalah mahakarya yang terbaik, terkuat, terhebat pokoknya ter ter lah.
    Tapi tiger gak pernah bisa mengalahkan t34.
    Kayaknya dunia sekarang sedang tersesat dalam mindset tiger

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Trend global membuat yang "terhebat" ini namanya "the battleship mentality".

      Baru-baru ini mulai kembali populer, tetapi sebenarnya ini trend lama, yang sudah dimulai sejak jaman kapal layar Abad ke-9-10.

      Di jaman keemasan kapal layar, semua negara2 colonial (UK, Perancis, Belanda, Spanyol, dan Portugal) pernah berlomba-lomba membuat "ship-of-the-line", yang bisa membawa... 100 cannon, atau persenjataan yang bahkan lebih berat dibanding jumlah cannon di setiap benteng, yang melindungi kota-kota.

      Membutuhkan diawaki ratusan pelaut, dan biaya operasionalnya per tahun menyedot keuangan negara. Tetapi kegunaan "ship-of-the-line" dalam pertempuran laut?

      Relatif minimal, karena kapal2 yang menentukan jalannya pertempuran adalah kapal2 second liner yang mempunyai sekitar 70 meriam, lebih cepat, dan lebih fleksibel.

      Begitu suatu negara / pembuat mulai berpikir untuk membuat sesuatu yang harus "sehebat mungkin", dengan sendirinya versatilitas, efesiensi, dan kemudahan maintenance akan selalu menjadi korban.

      Pada prinsipnya sederhana; semua produk militer manapun, selalu mempunyai faktor kompromi.

      Memerlukan balancing / kompromi antara kemampuan, dan versatilitas, kalau tidak alutsista tersebut pasti akan berat sebelah; mengorbankan terlalu banyak hal, sehingga tidak akan bisa berguna.

      Di tahun 1970-80an, pasar pesawat tempur dunia masih bisa dimanjakan dengan berbagai pilihan pesawat tempur lightweight single-engine fighter yang mudah, murah, dan praktis: Mirage, MiG-21/23, F-5E Tiger II (twin, tetapi lightweight), dan F-16. Karena export control Swedia; Saab Draken / Viggen sewaktu itu dilarang untuk dijual bebas.

      Eh, mulai pada tahun 1990-2000an, produksi kebanyakan pespur single engine berhenti, dalam nama kehebatan twin-engine fighters.
      Dassault, dan MiG/Sukhoi bahkan melenyapkan produksi single-engine fighter yg selama ini sudah menjadi trademark mereka, sementara United States menjadi terobsesi untuk memperoleh armada 100% stealth.

      Program KF-X Korea juga sudah termakan umpan yang sama -- membuat yang sehebat mungkin.

      Kita akan membahas hal ini lebih mendalam di topik Battleship mentality, alias cabang dari "Logika Hollywood".

      Delete
  4. sebetulnya saya aneh juga sama TNI, menghadapi cina di Natuna menggunakan Alutsista buatan cina logikanya kalau saya adalah produsennya dan tahu kalau alutsista buatan saya akan dipakai buat menhadapai negara saya akan saya downgrade habis2an bahkan kalau perlu saya sabotase sekalian.Logika yg sangat sederhana yg anehnya seperti tidak disadari petinggi TNI kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya kembali, kelihatannya 70 - 90% transaksi alutsista juga bukan di negosiasikan G-to-G; melainkan pejabat v penjual asing.

      Sulit membedakan akuisisi mana yg berdasarkan kebutuhan nyata, atau bukan.

      Dalam hal ini supplier PRC akan dianggap tidak ada bedanya dngn penjual dari negara lain. Faktor strategis kelihatannya jadi kurang dianggap perlu utk diperhitungkan.

      Delete
  5. Dark Rider/Legion si sales Gripen pasti panas mendengar pembelian sukhoi cara gini, akankah Gripen NG di tukar komoditas sembako, kelapa sawit, coklat, kopi, teh

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. ... dan kita sudah melihat nasib rongsokan Sukhoi yang dibeli dengan sistem barter di tahun 2003.

      Dalam 5 tahun, tidak ada lagi yang bisa terbang.
      Butuh "perbaikan mendalam", yg mari kita estimasi.. selain melanggar UU no.16/2012, biayanya bisa lebih dari US$10 juta.

      .... itu juga hanya utk pesawat kuno bertehnologi 1980-an, yang sudah di-downgrade.

      Mari belajar untuk mendahulukan kepentingan bangsa, bukan mimpi, atau kepentingan para penjual!

      Delete
    3. Bung @ariev,

      Masih ingat lelucon kuno bagaimana kalau ada orang yg melihat uang kertas Rp100,000 di tengah jalan, ketika mau mengambil, ternyata uang itu sudah diikatkan ke tali, dan ditarik kabur!

      Itulah skema barter yg ditawarkan agen perantara Rosoboron. "Kelihatannya" menguntungkan, padahal keuntungan itu sendiri tidak pernah ada.

      Sejak bbrp tahun yg lalu sampai skrg, sy sudah menuliskan buanyak point negatif re Sukhoi, dan kenapa pilihan ini sangat merugikan Indonesia.

      Anehnya, belum pernah melihat ada counter-argumen yg valid ttg kemampuan Sukhoi, atau bagaimana rongsokan versi downgrade ini bisa memenuhi kebutuhan Nasional.

      "Sukhoi hebat! Kita harus beli Sukhoi?"

      Buat apa?

      Apa keuntungannya membayar para perantara?

      Negara kita bisa rugi 30 - 40% untuk setiap Rupiah yg mengucur utk pesawat high maintenance ini.

      Mana ToT, atau kerjasama industrial yg ditawarkan?

      Apa hebatnya unproven model downgrade, dengan koleksi senjata yg unproven, dan sudah di-downgrade?

      Mana argumennya?

      "Saya mempercayakan sepenuhnya kepada keputusan pejabat?!?"

      Wah, hitung saja berapa banyak pejabat di sepanjang 72 tahun sejarah Indonesia yang tulus ikhlas, dan selalu mendahulukan kepentingan bangsa, dan rakyat daripada kepentingan pribadi (aji mumpung)?

      Kembali, belajarlah mendahulukan kepentingan Nasional!

      Kalau ada pilihan yg lebih sesuai dengan kebutuhan/keterbatasan Nasional, atau sama menguntungkannya daripada yg sudah ditawarkan Saab, sy sudah dari dulu akan menuliskannya juga disini untuk menimbang untung ruginua masing2 pilihan!

      Sebaliknya, semua Sukhoi hanya akan selalu merugikan bangsa, tanpa akan ada hasil yg berarti.

      Silahkan counter-argumen kalau ada!

      Komentar propaganda berikutnya, yg hanya mau menjual kedaulatan bangsa ke penjual asing akan langsung dihapus!

      Delete
    4. padahal pada tgl 4 mei kemaren pihak Rusia dan Ri udah di jakarta membicarakan masalah su 35 ,ToT ,offset , imbal dagang waktu itu pihak Rusia enggan imbal dagang buktinya program pembelian su 35 di tunda lagi...setelah Menhan RI ke Swedia menego Gripen 12 unit , tiba2 saja Rusia mau menukar su 35 dengan karet..bkowkowkowkowkowkokowkwkk....atut ya ekkekekekek

      Delete
    5. Bung tupa,

      Memang sy sudah post di pembukaan artikel; link IHS Jane's re negosiasi Sukhoi ttg offset:
      Link Jane's: Kemenhan masih coba nego Su-model-downgrade.

      Untunglah, paling tidak kelihatannya posisi Rosoboron jujur: tidak akan ada ToT untuk pembelian hanya selusin.

      Sebenarnya mau beli 277 unit seperti nasib India juga sama saja: untuk selamanya tidak akan ada ToT, dari penjual barang downgrade.

      Masalahnya kembali ke pihak Kemenhan:

      ## Untuk apa nego membeli barang downgrade yang kemampuannya unproven, dengan missile versi downgrade yg tidak pernah di-tes, dan dapat dipastikan kemampuan nihil?

      ## Apakah Rosoboron bisa menjamin tidak perlu "perbaikan mendalam" seperti rongsokan tahun 1980-an di Sku-11, atau rongsokan Mi-17/35?

      ## Memangnya uang kita tidak terbatas? Biaya operasional Su-downgrade-35 terjamin jauh lebih mahal dibanding Su-Kommercheskiy di Sku-11.

      Apakah Kemenhan sudah menghitung berapa banyak $$$ (dan komisi perantara) yang dibutuhkan untuk latihan udara, sekurangnya 170 jam per pilot?

      Sukhoi-nya sendiri akan rusak duluan sebelum bisa sering terbang.

      ## Presiden sudah menyatakan: Pembelian tidak boleh memakai perantara, dan harus memenuhi UU no.16/2012.

      Semua orang sudah tahu kalau dalam hal ini, Sukhoi tidak akan bisa lulus.

      Kenapa sepertinya Kemenhan ini masih memberi contoh jelek, mencoba melanggar UU sendiri, dan mem-bypass industri dalam negeri?

      Sudah saatnya lebih memikirkan kepentingan Nasional, dan menguburkan semua rencana akuisisi Su-model-downgrade, dan mempensiunkan semua Sukhoi di Sku-11.

      Delete
  6. Dark Rider,kenapa kita punya CN-235MPA tapi tetap aja terjadi pencurian ikan ilegal?
    kalo MIG-29 Polandia apakah memakai komponen barat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## CN-235MPA, dan pencurian ikan illegal
      =============
      Inilah kembali ke polemik yg mendasar.

      Hanya semata membeli perlengkapan alutsista A, belum tentu pengguna akan bisa memanfaatkannya secara optimal.

      Butuh sistem, dan training.
      Kedua faktor ini masih kurang di Indonesia.
      Semisal, belum tentu CN-235MPA akan bisa diudarakan pada kurun waktu yg strategis, ataupun di lokasi yg tepat.

      Atau paling tidak, krn CN-235MPA hanya berfungsi pengawas, akan membutuhkan integrasi, dan kerjasama dengan alutsista yg menjaga.

      ## MiG-29 Polandia?
      Kemungkinan spare part di-support oleh perusahaan2 negara ex-Soviet yg lain.
      Ukrania, misalnya mempunyai kemampuan support/upgrade MiG-29 independen dari Russia.

      Delete
  7. terbaru..TNI-AL dan Royal Danish Navy ( AL kerajaan Denmark ) telah resmi bekerja sama membangun kapal perang sangat mungkin termasuk kapal perang fregat Iver .... Link : /http://www.jpnn.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini sebenarnya belum tutup kontrak -- memang ada pembicaraan nego dari beberapa bulan yg lalu.

      Ini memusingkan, karena akan kembali mengikuti pola akuisisi gado2.

      Secara historis, dan bahkan sampai sekarang, semua kapal kelas Fregat Indonesia, biasanya buatan Belanda.

      Sampai sekarang, TNI-AL sebenarnya masih dalam proses akuisisi lebih banyak PKR-10514: dua kapal sudah dalam konstruksi; memungkinkan pemesanan lebih banyak dari Pt PAL, akhirnya untuk menggantikan kapal2 kelas KRI Ahmad Yani, yang umurnya sudah 50 tahun lebih.

      Iver Huitfeldt (6,600 ton) jauh lebih besar dari segi ukuran dibandingkan PKR-10514 (2.345 ton), dan membawa lebih banyak macam mainan.
      Ini saja kelihatannya sudah terlalu berlebih untuk kebutuhan Indonesia; kita tidak perlu kapal sebesar itu; biaya operasionalnya akan selangit.

      Tentu saja, kita juga akan kembali ke polemik gado2:
      # Kebanyakan spare part-nya akan berbeda; dan maintenance akan lebih repot.
      # Training juga akan lebih repot, karena secara SOP kedua kelas akan berbeda.
      # Karena armada akan terpecah, misalnya menjadi 2 Iver, dan 4 PKR, biaya operasional akan melonjak naik bisa sampai +50% dibandingkan di negara asalnya.

      Lebih baik TNI-AL memilih mengoperasikan 8 PKR dibanding gado2 2 Iver, 4 PKR (walaupun di atas kertas kelihatannya gado2 lebih unggul_:

      + Biaya operasional akan jauh lebih ekonomis,
      + Jauh lebih efektif secara kemampuan; karena dari segi training & prosedural lebih seragam
      + Terakhir, maintenance, dan support jadi jauh lebih mudah

      Pada akhirnya, akusisi gado2 bukan meningkatkan kemampuan seperti persepsi umum sekarang, tetapi pada prakteknya hanya seperti menembak kaki sendiri.

      Delete
  8. Apakah China kena Embargo barat karena Tragedi Tiananmen 1989?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      US, dan European Union (EU) memberlakukan embargo militer terhadap PRC setelah peristiwa Tiannanmen 1989.

      Delete
  9. berita terbarunya KPK diperbolehkan masuk untuk menyelidiki pembelian heli AW mengindikasikan memang ada penyimpangan dalam pemebelian heli tsb walaupun KSAU bilang semua sudah sesuai prosedur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah mau diputar dengan alasan manapun, kalau transaksi Rp 725 milyar bisa lolos tanpa persetujuan pemerintah, dan tanpa pernah dianggarkan sebelumnya, ya, namanya transaksi illegal, atau penggelapan dana.

      Kabarnya kasus penyidikan ini tertutup, dan masih berlanjut.
      Kita lihat saja.

      Pada akhirnya, unit AW-101 illegal ini harus dikembalikan ke pabriknya.
      Lagipula hanya heli angkut standard, bukan VVIP, atau SAR seperti pernah dicelotehkan di media massa.

      Seluruh Indonesia sudah tertipu, baik oleh si penjual, dan siapapun yg ttd.

      Idealnya, sama seperti Austria menuntut Eurofighter,
      Pemerintah juga harus mengajukan tuntutan ke Augusta-Westland melalui pengadilan EU.

      Ini akan menjadi contoh agar para penjual / supplier asing, ataupun para pejabat "nakal" dalam semua transaksi masa depan.

      Delete
  10. meriam chang chong yg meledak tempo hari dibeli jaman presiden Gus Dur , akhirnya meriam tsb tidak di gunakan lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kecelakaannya sudah terjadi, kemungkinan apa yg akan terjadi berikutnya mencoba saling melempar kesalahan.

      Kalau ditanya siapa yg harus tanggung jawab?
      Semua pasti akan coba mungkir.

      Sebaliknya, kalau sedang kampanye TNI "butuh" barang ini-itu (seperti contoh transaksi gelap AW101) di media massa, wah, biasanya para pejabat rebutan, memastikan berita selalu ramai.

      Kelihatannya negara kita masih jauh sebelum bisa membentuk kemampuan tempur yg efektif, dan nyata.

      Delete
  11. Bung DR andai SU 35 jadi dibeli dgn imbal dagang, Gripen msh dibeli? Utk senjata dari china mungkinkah ada tekanan dari china, misal: nanti klo tdk beli dari saya ada mslh dgn LCS ato hanya faktor kickback...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata pihak rostec yg menyatakan tertarik menukar su 35 dengan karet...

      Delete
    2. Akan sy jelaskan lagi kenapa membeli dengan sistem barter ini akan sangat merugikan, atau sebenarnya hanya jebakan,

      ## Biaya operasional Sukhoi jauh lebih mahal daripada harga beli, hanya dalam waktu beberapa tahun. Jadi keuntungan penjual adalah untuk secepat mungkin menjual barang, dan membuat ketergantungan, sama seperti nasib India dengan rongsokan Su-MKI.


      ## Rosoboron Rostec pemiliknya) dan para perantara lokal, kemudian akan mengetok komisi 30 - 40% dari nilai barter, dan atas setiap spare part, dan biaya perbaikan yg diperlukan. Keuntungan berkali-kali lipat untuk penjual. Zero untuk Indonesia.

      Semua ini tidak akan terlihat, karena kita hanya melihat untung "barter".

      ## "Barter", seperti uang kertas yg dilihat orang dijalan, ternyata sudah diikat tali, dan akan ditarik begitu diambil ---- hanyalah umpan.

      Para pejabat "pintar" kemudian mendesak pemerintah mengambil tawaran, untuk memakan umpan ini, dan seperti binatang buruan yang termakan umpan yang menarik....

      ## .... Juga hanya menjadi alasan untuk menginjak-nginjak UU no.16/2012.

      Ucapkan selamat tinggal ke usaha pembangunan industri lokal, dan harapan memajukan kemandirian 50 tahun kemudian.

      Betapa bodohnya kita kalau tertipu dengan ulah ini.

      Kalau memang mau beli Sukhoi, bakar saja UU no.16/2012, dan bubarkan industri pertahanan lokal.

      Kita ternyata senang dijajah Moscow, dan mereka akan memeras kita habis2an.

      Delete
    3. Kalau versi downgrade Sukhoi sih sudah pasti.
      Pertanyaannya seberapa jauh akan di-downgrade?

      Apalagi mengingat kita anti-komunis, dan sejarah sudah pernah menghibahkan MiG-21, dan berbagai perangkat lain di tahun 1969.

      Tentu saja, efek gentar tetap saja akan nihil.

      Jarang bisa terbang = kurang katihan = memberi makan perantara

      Dengan dipersenjatai hanya RVV-AE, dan R-73E (lihat artikel); pesawat F-5S Singapore juga sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan Sukhoi.

      Delete
  12. admin ada pemberitaan tentang beberapa anggota DPR yang ke Ukraina untuk ngebahas upaya procurement An-70 ini saya bingung kemaren bilang A-400M sekarang An-70, cuma lihat2 doang atau apa ? terus apa kita bener2 perlu pesawat angkut berat kayak gitu ?

    ReplyDelete
    Replies

    1. Tidak.

      Kombinasi C-130, C-295, C-235, dan C-212 sudah cukup untuk kebutuhan.

      Membeli An-70, belum menghitung kebutuhan saja, kita sudah akan melihat "logistical nightmare".

      Kita tidak ada pengalaman / kemampuan maintenance pesawat desain warisan jaman Soviet (mengurus Sukhoi saja tidak becus / tidak diperbolehkan), dan harus membuat inventory spare part buatan Ukrania dari nol.

      Keinginan semacam ini hanya membuka pintu utk para perantara. Menambah kerugian 30-40% lagi.

      =======
      Recap: Kenapa kita tidak membutuhkan pesawat angkut lebih berat dari Hercules
      ======

      Semisal contoh A400M.
      Kapasitas angkut 37 ton, jarak jangkau 8,700 km vs Hercules-H 20 ton, jarak jangkau 3,800 km.

      Sekilas kelihatannya A-400 lebih mampu, jadi "butuh"?

      Sekarang, seberapa jauh pesawat angkut TNI-AU harus terbang antar pulau?

      Tidak mungkin kan, terbang misi angkut dari Aceh ke Papua?

      Logistiknya tidak mungkin, karena pusat armada angkut TNI-AU letaknya antara Jakarta-Surabaya-Makassar.

      Jarak antara Surabaya - Jayapura saja hanya 3,141 km.

      Dari sini kita bisa melihat kalau jarak jangkau lebih besar dari C-130 sudah kurang relevan.

      Sekarang kapasitas kargo.
      Kalau C-130 selama ini dioperasikan, memangnya kapasitasnya kurang?

      Seperti kecelakaan KC-130B di Medan tempo hari, kadang TNI-AU malah mengoperasikannya untuk mengangkut penumpang, bukan cargo.

      Dengan kapasitas cargo 37 ton, dan tetap tidak bisa membawa tank Leopard, kemungkinan besar mayoritas flight A400M di Indonesia kapasitasnya akan kurang dari setengah kosong.

      Ini hanya membuka kesempatan bagi bbrp oknum untuk menyewakan kapasitas cargo yg berlebih itu untuk melakukan pekerjaan jasa transport di luar kebutuhan TNI.

      Kita tahu kalau ini melanggar hukum.

      Delete
  13. Min, F-16 TNI-AU apa bisa dipasang misil meteor?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak bisa, dan tidak akan diperbolehkan.

      Kita harus mengacu kembali ke Source Code pespur.

      ## Semua persenjataan / perlengkapan baru harus terlebih dahulu bisa diintegrasikan, tidak hanya agar bisa muat di pylon, tetapi kemampuan mengoperasikannya harus sudah terlebih dahulu dituliskan ke dalam Source code-nya.

      Untuk mayoritas tipe pesawat tempur ini bukanlah pekerjaan yang mudah, ataupun murah.

      Eurofighter Typhoon membutuhkan biaya $450+ juta dibagi antara para partner pembuat untuk mengintegrasikan MBDA Meteor, dan... belum akan selesai sampai tahun 2019.

      Untuk F-16, masalahnya lebih rumit lagi....

      ## Semua Source Code untuk pespur Versi Export, sudah dikunci dari sononya oleh pembuat.

      Kalaupun bisa membayar biayanya, pemerintah United States tidak akan mengijinkan modifikasi apapun, tanpa seijin mereka, apalagi BVR missile buatan perusahaan Eropa, saingan AMRAAM.

      Kita akan membahas dalam topik lain:
      Kenapa membeli versi export itu hanya seperti menyewa, walaupun uang yang dibelanjakan itu harga beli normal.

      ## Tentu saja, KF-X akan bertabrakan dengan masalah yg sama dengan F-16.

      Korea tidak pernah menyebut siapa yang menulis "Source Code", dan mereka tidak ada pengalaman / kemampuan.

      Mereka berceloteh ingin ini-itu, tetapi mereka tidak seperti orang Turki yang langsung meminta kontrol source code atas pespur yg mereka belum buat.

      Karena Source Coding untuk KF-X, akan berada di tangan Lockheed-Martin, sama seperti F-16, dan F-35, pemerintah US akan bebas menentukan apa yang diperbolehkan untuk KF-X, yang akan diperlakukan sebagai versi downgrade dari F-16/F-18; sedangkan IF-X.... yah, bisa dipastikan akan lebih di-downgrade lagi.

      Delete
  14. Berapa Negara ex-soviet yang bergabung dengan NATO selain Polandia dan Ukraina?
    AN-70 juga menggunakan avionik barat
    Arab Saudi juga melisensi CH-4 UAV

    ReplyDelete
    Replies
    1. Polemik politik di Eropa Timur cukup menarik.

      Bukan rahasia kalau Russia tidak menyukai ide NATO terus menambah jumlah member, mulai dari negara2 ex-Pakta Warsawa, seperti Polandia, Romania, Czech, Slovak, dan Bulgaria; kemudian juga tiga negara Baltic ex-Soviet; Estonia, Latvia, dan Lithuania -- yg dicaplok dalam masa PD II.

      Russia menganggap EU, dan NATO seperti mengganggu gugat persepsi "sphere of influence" mereka di Eropa Timur, lebih daripada menganggapnya sebagai ancaman militer langsung.

      Eh... tetapi entah kenapa, sejak tahun 1990-an sampai sekarang, Moscow berlaku agresif terhadap negara2 ex-Soviet yg lain; Ukrania hanya korban terakhir.

      Kekacauan dimulai setelah Presiden pro-Russia di Kiev lengser, dalam protes besar seperti dahulu tahun 1998 menggulingkan Orde Baru di Indonesia.

      Sisanya semua menjadi sejarah.

      Sayangnya, yah, karena sepak terjang Moscow, mau tidak mau seperti mendorong negara2 ex-Soviet yg lain; Ukrania, dan kabar terakhir Belarusia skrg juga merasa terancam -- yah, semakin mendekat ke EU, dan NATO.

      Ukrania belum diperbolehkan bergabung dngn NATO, tetapi mengingat Russia tidak akan sudi mengalah, kelihatannya ini hanya menjadi masalah waktu.

      Delete
  15. RTAF dan AURI resmi kerja sama, Thailand akan membantu TNI AU Membangun national network centric , mereka membantu kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Networking Thailand adalah salah satu contoh hasil kerjasama dengan Saab.

      .... perihal kerjasama RTAF dan TNI-AU, kemungkinan dalam taraf pengenalan basic concept terlebih dahulu.

      Angkatan udara biasanya tidak akan bisa membangun kemampuan sendiri tanpa dukungan industri lokal, dan sektor akademis. Membuat Networking butuh pemahaman, dan kemampuan tehnis yg tidak dimiliki AU manapun di dunia.

      Kemungkinan ini langkah awal membuka peluang kerjasama dengan Saab jangka panjang.

      Gripen-C/D RTAF biasanya turut mewakili Saab, seperti dalam acara LIMA tempo hari.

      Seperti kita bisa perhatikan, akhir2 ini hubungan bilateral Indonesia-Swedia sudah semakin akrab.

      20-Desember-2016 : MoU kerjasama Hankam

      08-Mei-2017: Kunjungan Menhan Ryamrizard ke Swedia bersama delegasi semua direksi industri pertahanan dalam Negeri.

      21-Mei-2017; Raja Swedia Carl XVI Gustav berkunjung ke Indonesia dalam rangka memperluas hubungan bilateral sektor investasi, perdagangan, energi, research, dan technology.

      Kita tunggu berita selanjutnya.

      Delete
  16. Gripen milik RTAF apakah yg sebelum ms-20 atau udah upgrade MS-20

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum.

      MS-20 baru keluar pertengahan tahun 2016, dan kecuali Swedia belum ada yg mengaplikasikan.

      Sayang, karena MS-20 sudah menambah programming Automatic Ground Colision Control (AGCC) --> komputer akan dapat mengambil alih kontrol, dan menstabilkan Gripen di udara, kalau pilotnya sampai kehilangan kesadaran.

      Ini seharusnya bisa mencegah kecelakaan Gripen RTAF, 14-Januari-2017 yang silam.

      Delete
  17. ternyata Korea menunjuk kontraktor Israel ,elta guna mendukung teknologi radar AESA Untk KFX , sementara IFX sama sekali tidak disebut ,entah bgaimana kelanjtan IFX kita. Kita seperti kambing yg tak pernah diajak bicara mengenai hal teknisnya, kalo bgtu kita juga bisa meminta bntuan Swedia juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini tidak mengherankan.

      Memang dari sejak 10 tahun yg lalu, signal Korea sudah jelas:Mereka akan mendikte segala hal dalam Kf-X.

      Indonesia hanya wajib membayar, tapi tidak berhak menentukan apapun juga.
      Versi Export downgrade, dari versi export downgrade.

      Sy sudah pernah menyebut dari bbrp tahun yg lalu, dan langsung diserbu oleh banyak KF-X fanboys:
      Begitu mereka sudah memilih Lockheed-Martin secara sepihak sebagai partner ToT, tidak akan pernah ada sepeserpun ToT ke Indonesia.

      Mustahil.
      US tidak akan berbagi ToT ke Indonesia, apalagi melalui jalan belakang via KF-X.

      Tentu saja, dengan mengundang Lockheed sebagai lead sub-contactor, nasib proyek ini juga sudah jelas dari awal.

      Washington DC dapat mematikan proyek ini, dan Korea tidak akan dapat berbuat apa2.

      Apapun juga yg mereka putuskan, seperti memilih radar Elta, Lockheed, dan Washington agar dapat mem-veto keputusan mereka.

      FYI -- sejauh ini US bahkan melarang memasang radar Elta ke F-16 Israel sendiri, dan sudah sengaja menyulitkan market untuk radar Elta, karena dianggap saingan produk US.

      Radar apa untuk KF-X?
      Kemungkinan besar hanya versi downgrade dari AN/APG-83 versi export untuk F-16V versi export.

      Delete
    2. apakah mungkin bantuan teknologi radar elta yg mengetes radar aesa pengembangan hanwha system korea itu juga dipasang ke IFX ? Mengingat yg terikat kontrak hanya institusi korea dan elta saja

      Delete
    3. Tidak.

      Menurut laporan berita yonhap, proyek AESA radar dari Hanwha-Thales sudah dinyatakan gugur.

      =======
      Yon Hap: KF-X akan menggunakan radar Elta
      =======

      Sekali lagi, ini juga tidak mengherankan.

      Perusahaan Hanhwa yg tidak ada kemampuan, pengalaman, atau pengetahuan, ya jangan harap bisa membuat produk yg bersaing dengan Raytheon, Northrop-Grummann, atau Selex ES.

      Ini kembali m3nggarisbawahi satu kelemahan lain kenapa proyek ini sudah gagal dari awal:

      Korea seperti berpikir membuat pespur itu seperti membuat Samsung Galaxy, atau Hyundai Elantra.

      Betul, memang sebelumnya mereka cukup sukses membuat kapal perusak, dan tank sendiri, yg dibangun dgn... kira2 sistem yg sama dgn membuat Samsung Galaxy.

      Tetapi tehnologi pespur sama sekali berbeda, jauh lebih rumit, dan jauh lebih sensitif; dan.... kembali, mereka tidak ada kemampuan / pengalaman, tetapi... kelemahan terakhir:
      mereka juga terlalu sombong.

      Delete
  18. news update ... Menhan sedang taraf pembicaraan pembelian Gripen jumlah dll dengan pemerintah Swedia sewaktu kunjungan raja dan ratu swedia hari senin kemarin ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita lihat saja.

      Transaksi Gripen, kalau ditandatangani, sudah dijanjikan pemerintah Swedia sebagai satu model penawaran mereka yang terjamin transparan.

      Delete
  19. nampaknya menhan dan presiden sedang berhitung seandainya IFX jadi gagal ... Masalah pembelian imbal dagang su 35 juga tak jelas ,hanya dibritakan berencana akan beli senjata rusia lewat imbal dagang ..seandainya yg datang su 35 dan Gripen c/d MS-20 .bgaimana pendapat bung Dark

    ReplyDelete
    Replies
    1. ## IF-X sih sudah pasti gagal.

      ## Sukhoi hanya akan melanggar hukum re perbaikan, kerjasama industrial, dan ToT.
      Kemudian masih gampang rusak, tidak bisa terbang, dan hanya akan memberi makan para perantara.

      ## Terlepas dari semua kelemahan Sukhoi di atas, bagaimana kalau mengoperasikan Su-35K dengan F-16, dan Gripen?

      Pertama2, Su- tidak akan pernah compatible dengan pespur Barat.
      Networking bersama juga tidak akan bisa.

      Kedua,1 Gripen akan dapat mengerjakan pekerjaan yg sama dengan 10 Sukhoi.
      Gripen dapat mengudara berkali2 dalam sehari; Sukhoi tidak.
      Kesiapan terbang Gripen bisa mencapai >80%, Sukhoi akan kurang dari 40%, apalagi mengingat maintenance TNI-AU kelihatannya juga masih harus mengejar ketinggalan.

      Ketiga, hanya dengan RVV-AE, dan R-73E versi Export, Sukhoi memangnya bisa menembak jatuh lawan yg mana?

      Hampir mustahil bisa menang pertempuran udara.

      Delete
    2. kalaupun sukhoi di integrasikan kek na bakal tmbh 3x lipat biaya

      Delete
    3. Btw,
      Sukhoi Su-30MKI India baru saja dilaporkan hilang 23-Mei-2017, kemungkinan besar jatuh tapi belum ditemukan.

      ======
      Link Jane's: Su-30MKI goes missing
      =====

      Ini kecelakaan write off yang kedua untuk MKI di tahun 2017, sejak kecelakaan terakhir 15-Maret. Semenjak dioperasikan dari 2002, sejauh ini sudah sembilan pesawat rontok.

      Tidak seperti Gripen, yg semakin lama semakin aman, dan tidak pernah mengalami kecelakaan karena masalah tehnis; safety record keluarga Flanker terus memburuk. Tentu saja, semakin tua juga akan semakin membahayakan.

      Patut dicatat disini, kalau Irkut Su-30MKI adalah produk yg sudah jauh lebih mature, dan lebih terjamin dibanding unproven Su-35K produksi Knaapo.

      Dilain pihak, IAF India juga sudah jauh lebih berpengalaman, dan terbiasa dengan Flanker, dibandingkan TNI-AU.

      Inilah kenapa, kalau masih berpikir membeli Su-35K, terlepas dari melanggar semua persyaratan UU, hanya akan seperti membuang undi di meja taruhan!

      Delete
  20. waspadai selain china yaitu https://id.m.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Swedia_(1995)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah kenapa alasannya anda mem-post ini, terus bilang "waspadai"

      Apa yang harus diwaspadai?

      FYI -- kebanyakan negara Barat masing-masing masih mempunyai partai komunisnya sendiri, bahkan sampai sekarang.

      Tentu saja, biasanya tidak populer, dan tidak dapat banyak vote dalam Pemilu.
      Selama perang dingin, dinas intelijen negara setempat biasanya selalu mengawasi partai komunis lokal, karena diasosiasikan dengan Uni Soviet.

      Kenyataannya sepanjang sejarah:
      Negara kita adalah satu2nya negara di dunia yang pernah membubarkan partai komunis lokal.

      Komunisme memang tidak mempunyai tempat dalam negara yg berdasarkan Pancasila.

      Nah, sekarang kalau mau me-"waspadai" komunisme, anda sebenarnya melihat ke arah yang salah.

      ## Menurut survey website RBTH, 60% orang Russia masih menganggap komunisme itu pengaruh yang positif, dan masih menyesali runtuhnya Uni Soviet.

      ## Seperti sudah dikutip dalam Newsweek 25-Januari-2016, Presiden Russia sendiri juga menyatakan hal yg sama, dan menganggap kalau buku "kode moral komunis", sama seperti Alkitab, atau Al-Quran.

      Inilah kenapa justru kenapa kita harus mempertanyakan:

      Kenapa anda para fanboys masih begitu kesengsem dengan Sukhoi?

      Kita sudah tahu kalau:

      ## Setiap transaksi, menurut peraturan Russia harus melalui agen perantara Rosoboron, dan tentu saja antek2 lokal mereka yang keduanya akan menuntut komisi.
      Menurut Centre of Budget Analysis, prosedur ini merugikan negara 30 - 40%.

      ## Su-35K, sama seperti semua Sukhoi di Sku-11 hanya Model downgrade untuk export, dengan persenjataan downgrade pula.

      ## Sama seperti di India, yg adalah customer terbesar mereka, tentu saja mustahil Rosoboron mau mematuhi UU no.16/2012 re industri dalam negeri, atau ToT.

      "Perbaikan mendalam" ini saja melanggar UU, eh, tetap saja tidak ada perubahan bukan sampai tahun ini?

      ## Anti-Embargo?
      Sejauh ini hampir semua Sukhoi, dan helikopte Mi sudah rusak berat, belum sampai 5 tahun operasional, kemudian kedaulatan kita diinjak-injak dengan "perbaikan mendalam" yg harus dilakukan di Russia.

      Di India saja, tanpa embargo, supply spare part cenderung dipersulit, dan tentu saja... Kembali akan dicantoli komisi perantara.

      ## Tentu saja, Sukhoi gampang rusak, dan berumur pendek itu sudah pasti.
      Hanya akan menghamburkan uang rakyat, untuk hasil investasi yang terjamin negatif.
      Semua F-16 yg sekarang, masih bisa terbang 20 tahun setelah Sukhoi di Sku-11 yg terakhir dipensiunkan.

      Kembali ke awal, mari kita bertanya:

      Apakah loyalitas anda masih ke Indonesia, atau ke penjual?

      Delete
    2. fanboy sukhoi memang gemar mencari2 kesalahan kwowkwk..abis su 35 , langsung ke partai komunis swedia.kwekwkwk..khas JKGR

      Delete
  21. Mohon dijelaskan fungsi ms 20 utk gripen, apakah itu alat utk menembakkan rudal meteor....

    ReplyDelete
    Replies
    1. upgrade kemampuan tempur Gripen C bang.. Kemampuan teknologi perang nya dah ditingkatkan ,

      Delete
    2. MS20 adalah paket upgrade terbaru untuk Gripen-C, yang baru resmi diluncurkan 11-Juli-2016.

      Sejak dari pertama dibuati, Gripen selalu adalah satu pesawat yang paling mudah, dan paling konsisten untuk terus di-upgrade, tetapi Saab baru mendefinisikan paket MS secara lebih definitif setelah tahun 2012.

      Berikut daftar paket upgrade MS20:

      ## Full-integration ke MBDA Meteor, menjadikannya pespur pertama yg mendahului Typhoon, dan Rafale.... sekurangnya 2 tahun lebih awal.

      ## Upgrade ke radar PS/05A Mk4, yang memberikan kemampuan mendeteksi target RCS 0,1 m2 dari jarak yang sama (120 km) dengan kemampuan radar versi Mk3 untuk mendeteksi target RCS 4 m2.

      Target raksasa seukuran Sukhoi akan terlihat dari jarak 300 - 400 km+; memberikannya kemampuan mempermainkan Sukhoi dengan Meteor dari jarak 200km+, dan Sukhoi tidak akan mempunyai kemampuan menembak balik.

      Upgrade ini sendiri tergolong ekonomis dibanding seperti upgrade dari AN/APG-68 ke APG-68v9; karena secara hardware, perubahannya relatif minimal; all-digital exiter /receiver, dan processing unit.

      Peningkatan kemampuan detrksi, dan tracking bisa didapat terutama dari perubahan kalkulasi, dan algorithm untuk signal processing.

      ## Upgrade kemampuan ISTAR (Intelligence, Surveillance, Target acquisition, and Reconnaisance) melalui recon pod baru utk meningkatkan Situational Awareness pilot.

      ## Integrasi penuh untuk operasional GBU-39 small diameter bomb
      Setiap Gripen dapat membawa 16 bomb.

      ## Upgrade ke konektivitas ke Link-16 standard NATO, karena sistem Swedia selama ini berbeda dengan standard NATO.

      ## Ground Collision, and Avoidance System (GCAS) yang dapat melindungi pesawat dari kemungkinan menabrak permukaan tanah, kalau pilot sampai kehilangan kesadaran akibat G-Loc.

      ## Perlindungan tambahan dalam situasi serangan CBRN -- Chemical, Biological, Radiological, atau Nuclear -- Gripen akan tetap dapat operasional.


      Delete
  22. Min, waktu msh uji coba, Gripen pernah jatuh beberapa kali ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dua kecelakaan (Februari-1989, dan Augustus-1993) : keduanya disebabkan karena pilot-induced oscillation (PIO).

      PIO terjadi karena pilot mencoba mengkoreksi kontrol pesawat dngn terlalu banyak input yg berlawanan. Kesalahan ini bisa terjadi karena kesalahan pilot, pesawat, atau keduanya.

      Saab akhirnya mengambil kesimpulan kalau kesalahannya ada dalam sistem FBW di Gripen, kemudian mengkoreksi sistem ini. Sejak itu tidak pernah ada kecelakaan Gripen akibat PIO.

      Delete
  23. kapan prototype indonesia di rilis setelah kerjasama Triple Helix

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prototype di Indonesia?

      Seperti anda salah mengasosiasikan "produksi pesawat tempur lokal", dan tawaran kerjasama Saab yang berbasiskan model Triple-Helix: Badan Pemerintah - Akademis - Industri Pertahanan Dalam Negeri.

      Triple Helix tujuannya untuk membangun kemandirian pertahanan tidak hanya secara strategis, tetapi juga secara industrial, tehnologi, dan akhirnya, kemampuan berinovasi.

      Triple Helix system yang akan diaplikasikan di Indonesia, pada akhirnya juga akan merangkap menjadi model equal partnership dengan Triple Helix yang sudah jauh lebih matang di Swedia.

      Tawaran kerjasama Saab, dan tawaran ToT, spt sudah pernah sy sebut, bukan hubungan satu arah seperti dari guru ke Murid.

      "Karena kamu masih bodoh, maka duduk-diam-dengar-belajar!"

      Ini pemahaman konsep yg salah.

      Tawaran Saab adalah untuk membangun kemampuan mandiri Indonesia, agar dapat menjadi equal partner yang bisa saling membantu, dan terus bekerja-sama dalam jangka panjang.
      Hubungan diharapkan dua arah: Kita belajar dari mereka, demikian pula sebaliknya, dan akhirnya kita bisa belajar bersama-sama,

      ## Membuat pespur sendiri?

      Seperti proyek mercusuar KF-X?
      Proyek ini sedari awal saja sudah seperti mengejar mimpi.

      Pertama2, modalnya saja tidak ada.

      Target KF-X adalah twin-engine fighter yg "lebih hebat" daripada Typhoon, atau Rafale.
      Kedua Eurocanards ini membutuhkan modal $40 milyar, dan dibuat dari basis industri, dan tehnologi yg jauh lebih matang, dan jauh lebih berpengalaman dibanding industri Korea.

      Tidak seperti Korea, orang Eropa juga tidak perlu mengemis ToT ke negara lain, terus mencak2 kalau tidak dapat.

      Kalau mau mencoba memproduksi sendiri, lebih baik mencoba melihat ide "license production local" seperti dari Airbus Helicopter, dan EADS-Casa.

      Ini akan dibahas lain waktu.
      Kenapa license production Gripen jauh lebih menguntungkan dibanding KF-X

      Delete
  24. sampeyan yg idiot lihat sblm tahun 2019 mulai berdatangan https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sukhoi_Su-35

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya, lebih baik kalau mau melihat referensi dari wikipedia,
      mencari dari yg versi bahasa Inggris, dibanding versi bahasa Indonesia.

      Delete
    2. sudahlah terima aja kenyataan bangun dari mimpi SU_-35 TIDAK AKAN DATANG KE INDONESIA kecuali UU no 16 2012 di revisi plus presiden mau nego sama perantara yg mana itu tidak mungkin

      Delete
  25. Kira-kira thn 2005 saya baca majalah Angkasa, ada artikel tentang Gripen, bahkan sampulnya bergambar Gripen, suasana waktu itu Indonesia baru saja lepas embargo militer dari Amerika. TNI-AU wkt itu mempertimbangkan pengganti F 5E termasuk di dalamnya Gripen. Karena Jerohan Gripen buatan barat, TNI-AU tidak tertarik karena rawan embargo. Kalaupun sampai tahun 2016 ada penandatanganan MOU antara Swedia dan Indonesia, tahun 2017 ada pertukaran kunjungan, JOKOWI mendukung kemandirian alutsista, di medsos diberitakan KEMHAN akan memebeli Gripen, bahkan SU 35 dengan imbal dagang, entah nanti yang datang salah satunya atau kedua-duanya, menurut saya sdh ada KEMAJUAN PEMIKIRAN mengenai GRIPEN, entah karena TOT dan lain sebagainya. Soal kualitas pespur, semuanya tegantung latihan dari para pilot.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sy akan menambahkan sedikit:

      Pertama-tama untuk recap:
      ## Ketakutan karena "... alutsista Barat rawan embargo"

      Ini sebenarnya konsep pemikiran yang salah, dan sangat menyedihkan kalau selama ini kelihatannya salah satu alasan kenapa harus membeli alutsista dari supplier gado2.

      Pertama-tama, Embargo itu hanya reaksi dari suatu tindakan negara, bukan sesuatu yang dilakukan spontan tanpa sebab.

      Untuk memenuhi persyaratan embargo, suatu negara harus memenuhi 4 persyaratan sederhana:

      - Mempunyai pemerintah otoriter, yang gemar mempergunakan tentara untuk membunuhi / menindas rakyatnya sendiri.

      - Melakukan tindakan agresif terhadap negara tetangga; mengklaim wilayah negara lain, dan kemudian mencoba mencaplok secara paksa.

      - Melakukan percobaan dan pembuatan senjata nuklir secara illegal

      - Lebih bodoh lagi, kalau memang suatu negara sengaja mengambil posisi memusuhi secara agresif salah satu negara anggota Dewan Keamanan PBB; terutama US, UK, dan Perancis.
      Sebagai contoh, Argentina yg mencoba mengklaim Falkland, dan dengan demikian memusuhi UK. Yah, automatis tidak ada satu negara Baratpun yg berani menjual senjata ke Argentina.

      - Terakhir, seperti dalam kasus Indonesia di tahun 1999, kalau seluruh dunia tidak mengakui kedaulatan negara dalam satu wilayah territorial yang dinyatakan bagian dari mereka.

      Sekali lagi, embargo sewaktu tahun 1999 terjadi, karena meskipun apa yang sudah diajarkan dalam buku Sejarah Indonesia, seluruh dunia sebenarnya tidak ada yg mengakui kedaulatan Indonesia atas Timor-Timur.

      Semasa Perang Dingin, sampai runtuhnya Soviet di tahun 1991, kita sebenarnya beruntung, justru karena US, dan Australia sengaja menolehkan muka ke arah lain dalam masalah Timor Timur. Setelah perang dingin usai, yah, tinggal masalah waktu sebelum hutang lama ini mengetok pintu.

      Semua ini sekali lagi sudah selesai. Sekarang kita bisa menanggap Timor Leste sebagai negara sahabat. Dan seluruh dunia, terlepas dari banyak berita hoax, mengakui kedaulatan teritorial Indonesia 100%. Dan, karena kita sudah tidak mungkin memenuhi keempat persyaratan embargo diatas, yah, sudah tidak ada lagi alasan kenapa negara lain mau menjatuhkan embargo.

      Delete
    2. Kedua: Pelajaran dari embargo 1999, seharusnya adalah untuk meningkatkan kemandirian lokal, bukan mencampur aduk supplier.

      Dengan sistem akuisisi yg sekarang, gado-gado Barat - Timur, 99%-nya juga alutsista Versi Export Downgrade, karena mayoritas suppliernya US, Ruski, dan PRC; ini sebenarnya hanya menciptakan kesalahan fatal lain:

      Semua alutsista kita yang sekarang menjadi lebih tergantung kepada belas kasihan supplier.

      4 Sukhoi pertama yg dibeli di tahun 2003, dianggap sebagai penyelamat dari embargo Barat.

      Penyelamat yg mana? Operasionalnya tidak pernah beres, karena ternyata sistem komunikasinya tidak compatible dengan Indonesia.
      Dan sebagaimana kita tahu, tanpa perlu embargo sekalipun, ternyata keempat pesawat ini sudah tidak pernah lagi bisa mengudara sejak 2008. Sekarang dua unit masih mengingap disono, dua unit lagi mengantri mau dikirim pulang.

      Guru yang baik dari pelajaran embargo ini justru sebenarnya.... F-16 Block-15OCU di Sku-03.

      Semasa embargo, para pahlawan TNI-AU tetap dapat mengoperasikan sekurangnya 2 unit F-16 kok. Butuh kreativitas, kegigihan, dan inovasi tersendiri.

      Mustahil prestasi ini bisa direplikasi Sukhoi Kommercheskiy, yang memang cepat rusak, dan gila maintenance.

      F-16 hampir kebal embargo, justru karena pesawatnya sendiri sederhana.
      Single-engine; mudah dikuasai tehnisi, dibanding twin-engine yg selalu lebih rumit. Reliable; setiap part-nya sudah dirancang untuk tahan banting, dan tidak perlu sering diganti sebagai Sukhoi.

      Prestasi semacam ini yg seharusnya dapat terus kita ulangi:
      "Kalau sampai terjadi embargo, atau lebih parah lagi, kesulitan spare part dari supplier, semua alutsista harus tetap bisa operasional."

      Titik fokus akuisisi alutsista seharusnya tidak boleh diprioritaskan membeli barang-barang gampang rusak asal Ruski, dan PRC; melainkan untuk mengejar ToT, dan pembangunan industri pertahanan dalam negeri, seperti amanat UU no.16/2012.

      Fakta:
      Saat ini Saab adalah satu-satunya supplier yang bersedia memenuhi UU no.16/2012, dan tidak hanya itu, menawarkan kerjasama jangka panjang dalam bentuk partnership.

      Kenapa Gripen harus berkompetisi dengan dua produk export downgrade, yang pembuatnya tidak akan pernah menawarkan yg sama?

      Sukhoi sih hanya lintah darat (gak bisa terbang) yg kerjanya hanya menghisap uang negara, dan memberi makan para perantara.

      Delete
    3. Tambahan Dark Rider,kita masih menggunakan P-51 Mustang,B-26 Invader sama DC-3 dimodifikasi jadi Gunship untuk operasi seroja di timor timur.padahal enggak ada satupun pesawat eks Uni Soviet bekas soekarno

      Delete
    4. Dalam operasi Seroja, 99% persenjataan ABRI (waktu itu) buatan United States.

      Tidak lama setelahnya, paman Sam juga menghadiahi OV-10 Bronco, pesawat COIN, yg diperuntukkan dioperasikan di Timor Timur.

      Kembali, ini konteksnya karena Perang Dingin.
      Ini menunjukkan kalau waktu itu, US, dan Australia (sahabat karib kita) mendukung operasi Seroja.

      Pers di Barat diwajibkan untuk tutup mulut di masa itu, atau, sama seperti di Indonesia, bisa dianggap simpatisan komunis.

      Tentu saja, dalam konteks perang dingin waktu itu, Uni Soviet juga menentang operasi Seroja. Wong, ada kemungkinan Timor bisa di-rekrut masuk ke dalam barisan negara komunis.

      Dewasa ini, dengan segala sesuatu sudah terkoneksi Internet, dan masa kebebasan pers, sudah sangat sulit; hampir mustahil pemerintah US akan bisa melakukan hal yg sama, tanpa bisa dikecam pers mereka sendiri.

      Di lain pihak, yah, untuk yg masih berharap mimpi Sukhoi....
      Jangan bermimpi, yah, kalau Moscow sudah memaafkan kita dengan lapang dada, dan mau mendukung operasional Sukhoi di Indonesia sepenuh hati!

      Sejak tahun 1966 menumpas komunisme, dan kemudian menghibahkan MiG, kita sudah selalu dianggap berada di pihak paman Sam.
      Dosa ini tidak akan bisa terampuni Moscow, semanis apapun sikap kita.

      Delete
  26. https://news.detik.com/berita/d-3512172/panglima-tni-umumkan-3-tersangka-kasus-korupsi-heli-aw-101

    ahirnya ada kemjuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. Kita tunggu saja lebih lanjut.

      Pengamatan awam:
      kelihatannya ketiga tersangka yg disebut, posisinya tidak cukup tinggi untuk bisa ttd kontrak Rp 725 milyar tanpa persetujuan lebih lanjut.

      Dan seperti kita lihat sejak 2015,
      beberapa petinggi, dan bbrp pengamat militer juga aktif berkampanye di media massa re mendukung kebutuhan akuisisi AW101.

      Dengan kata lain, maaf, kelihatannya ketiga tersangka ini seperti korban tumbal.

      Kita serahkan saja ke penyelidikan lebih lanjut.
      Ini kesempatan emas untuk membenahi pola akuisisi alutsista.

      Kembali cara termudah adalah memperkuat UU no.16/2012:
      Setiap transaksi pengadaan Alutsista harus dilakukan dalam kontrak antar-pemerintah dengan negara penjual, dan tidak diperbolehkan melalui badan perantara..

      Delete
    3. Penetapan ke-3 tsk ini adalah pintu masuk krn scr administratif merekalah (terutama pejabat pembuat komitmen) yang "melakukan" penyimpangan...sdgkan potensi adanya pejabat dg pangkat lebih tinggi tinggal menunggu penyelidikan terpadu antara mabes tni, kpk dan ppatk, kemana saja uangnya mengalir atau berlaku "sistim ijon"...atau tunggu saja sampe mereka saling "cakar-cakaran" dipengadilan

      Delete
  27. padahal belum seminggu KPK masuk ,padahal kemaren2 seperti hilang beritanya

    ReplyDelete
  28. mantap nih kalo gripen diakusisi.
    lalu kedatangan raja dan ratu swedia kemarin dalam rangka apakah Min?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti judul blog ini, Gripen-Erieye-National Network adalah satu2nya pilihan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.

      Sangat bodoh kalau kita tidak mengakuisisi Gripen, dalam nama komisi "kickback".

      Dilain pihak, Gripen tidak lagi dibutuhkan untuk mengisi kekosongan karena F-5 dipensiunkan, melainkan untuk menggantikan Sukhoi di Sku-11 semuanya sudah menghitung hari sebelum uzur.

      Kita tunggu saja perkembangan lebih lanjut.

      ## Kunjungan Raja dan Ratu Swedia
      Dalam rangka terus memperkuat hubungan bilateral Indonesia - Swedia di berbagai bidang.
      Keduanya sebenarnya datang atas undangan Presiden Jokowi.

      Delete
  29. Mengapa SU-27/SU-30 kita dikirim perbaikan mendalam kenegara asalnya.apakah karena teknisi kita kurang terlatih atau Russia pelit ToT?
    AJ-37 Viggen pernah menlock SR-71 Blackbird?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rusia nya yg sengaja gak mau bro

      Delete
    2. Untuk perbaikan mendalam Sukhoi, seperti yg ditulis bung @fajar di atas:

      Russia memang sengaja tidak mau melatih tehnisi Indonesia, dan tidak memperbolehkan pekerjaan ini dilakukan di Indonesia.

      Entah apa alasannya, karena rahasia, atau memang untuk menagih hutang krn pernag menghibahin MiG-21 di tahun 1969.

      Inilah kenapa kita harus mempensiunkan Sukhoi di Sku-11 secepat mungkin.

      Dilain pihak, kita bisa mempertanyakan kenapa masih ada bbrp pihak yg mendukung akuisisi rongsokan Su-35 Flemon?

      Jangankan ToT, Rosoboron mau menjual tapi tidak akan mau menjamin Perbaikan mendalam "crown jewel" mereka bisa dilakukan di Indonesia.

      Ini hanya akan menjual kedaulatan bangsa.

      Delete
    3. Betul,

      JA-37 Viggen adalah satu2nya pespur yg bisa mendapatkan missile lock atas Blackbird.

      Delete
  30. bang DR kalo gitu berapa pesawat gripen dan global eye yg dibutuhkan indonesia untuk memenuhi kebutuhan alutsista udara kita dan andaikata kalo harus mesti berkolaborasi dgn pesawat lain pesawat apa yg lebih cocok dgn gripen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau idealnya, 64 Gripen-E, dan 6 Gripen-F Electronic Warfare twin-seater dalam 4 Skuadron, dan 6 Erieye sudah cukup.

      Ini saja kemampuannya sudah ratusan kali lipat dibanding sekarang, dan... biaya operasionalnya akan lebih murah dibanding sekarang, yg anggrannya masih terus disandera Sukhoi.

      Tetapi kalau modal cekak, pilihan yg mungkin lebih mendekati realita:
      32 Gripen-C, 8 Gripen-D,
      32 Gripen-E, dan 4 Gripen-F EW twinseater.

      BAe Hawk-209 hanya tersisa 15 unit, dibagi dalam dua Skuadron, sedangkan Sukhoi Sku-11 tidak akan bisa beroperasi lebih lama dari 2025 tanpa menghabiskan $500 juta lagi --> idealnya, sih lebih baik sekali tepuk menggantikan ketiga Skuadron ini, dengan dua Skuadron Gripen-C/D.

      Kalau pespur mana yg ideal untuk pasangan Gripen, yah, hanya ada 1 pilihan:
      F-16.

      Tetapi mengingat F-16 juga suatu hari akan membutuhkan pengganti, inilah saatnya 2 skuadron Gripen-E akan masuk.

      Delete