Thursday, June 8, 2017

News Update: Berita buruk dari KF-X, dan Su-35

Su-35S Local Version in Syria - Credits: Russian MoD
Apakah masih merasa berkukuh untuk terus mendukung model export downgrade Su-35K, dan KF-X sebagai pesawat tempur Indonesia terbaik di masa depan, yang akan bersedia memenuhi semua kebutuhan, dan tantangan nasional dengan setulus hati?

Kabar gembira.... karena berita-berita buruk dari sumber-sumber resmi mengenai kedua model ini hanya akan terus semakin bertambah banyak semakin hari. 

Mari memperhatikan beberapa berita update dari kedua pesawat "keinginan semu" ini, kembali dari beberapa sumber berita resmi.



26-Mei-2017Yonhap News, dan Flightglobal: Korea memilih radar Elta buatan Israel; Tamparan ke muka Indonesia

Credits: ACIG.org
Buatan Israel, nilai kontrak $35 juta:
Apakah Indonesia harus bayar 25%?
Loh, katanya "partnership"? 

Kok bisa semena-mena, mendadak secara sepihak bisa asal mengganti pilihan radar AESA untuk proyek "bersama" KFX, dari semula katanya mau dibuat oleh Hanwha Thales? 

Dahulu kala, ketika Washington DC menolak untuk memberi ijin transfer 4 core tehnologi, salah satunya adalah tehnologi AESA radar, bukankah sudah mengumbar kalau "bukan masalah", Korea akan bisa membuat sendiri?

Berita Yonhap mengungkapkan kalau usaha awal Hanwha Thales untuk mencoba memproduksi AESA radar "buatan sendiri", ternyata sudah menabrak tembok. Gagal. Ini tidak mengherankan, karena tidak ada satupun industri pertahanan Korea yang mempunyai kemampuan, tehnologi, ataupun pengalaman untuk bisa melangkaui "learning curve" yang sudah dilampaui para pemain lama Northrop-Grumman, Raytheon, Saab, dan Elta.

Bahwa Seoul juga sudah asal teken kontrak, tanpa terlebih dahulu menanyakan pendapat Indonesia, juga tidaklah mengherankan. Sedari awal sebelum proyek ini dimulai, Korea sudah memberi signal yang jelas kalau mereka akan mendikte jalannya proyek, dan "partner" manapun hanya wajib menyumbang, tapi tidak bisa menentukan jalannya proyek. Inilah kenapa Turki hengkang dari kemungkinan kerjasama dengan Korea dalam proyek ini.

"Partnership" dengan Korea memang selalu dalam tanda kutip. Pertanyaan untuk siapapun yang masih mendukung KF-X:



Sejak menandatangan kontrak 15-Juli-2010, silahkan menyebut keuntungan apa yang sudah didapat Indonesia, selain menghamburkan uang untuk proyek yang tidak pernah jalan? 

Indonesia terjamin TIDAK AKAN MENDAPAT KEUNTUNGAN apapun dari proyek ini.

Lah, lantas memangnya kenapa kalau Korea memilih radar Elta?

Bukankah sebenarnya Indonesia sudah menggunakan perlengkapan buatan Israel selama bertahun-tahun?

A-4 Skyhawk, misalnya, sudah menjadi pengetahuan umum sebenarnya pembeliannya bekas ex-IDF-AF Israel.

Betul, tetapi seperti pembelian Skyhawk, pemerintah Indonesia selalu bisa mempunyai "plausible deniability" secara resmi. Israel tidak memproduksi Skyhawk; Skyhawk buatan US.

Dewasa ini, kesepakatan umum antara negara-negara mayoritas Muslim, adalah untuk tidak boleh membeli persenjataan, atau perlengkapan militer produksi Israel secara resmi. 

Sebagai contoh, artikel di blog ini sudah memprediksi kalau F-16 Block-25+ TNI-AU, akhirnya akan diperlengkapi dengan Sniper Targeting Pod, buatan Lockheed-Martin, dan bukan Litening pod, walaupun dokumen resmi DSCA pemerintah United States sudah menyatakan memberi ijin untuk "... sniper, or Litening targeting pods...".

Kenapa demikian?

Karena Litening Pod, sebenarnya produksi dari Rafael Systems Israel, yang kemudian diadopsi Northrop-Grumman untuk menjadi salah satu standard produk targeting pod alternatif dari Sniper untuk memperlengkapi semua pesawat standard NATO.

Semua negara sekutu US lain, seperti Saudi Arabia, UAE, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Pakistan tidak ada satupun yang berani menyentuh Litening pod, tetapi selalu memilih Sniper untuk memperlengkapi F-15, F-16, dan F-18 mereka.

Sekarang Korea tanpa malu-malu sudah "mencekokin" radar Elta ke mulut Indonesia, yang katanya proyek "bersama".
Masih sakit hati dengan kenyataan proyek mangkrak seperti "Hambalang"?
KF-X akan menimbulkan kerugian ratusan juta kali lipat

Sudahlah.

Memang sudah saatnya kita keluar dari proyek mercusuar ini, sebelum ikut tenggelam bersama si "partner", karena ternyata....



02-Juni-2017 Korea Times: Board of Audit and Inspection (BAI) pemerintah Korea akan meng-audit program KF-X; kecurigaan korupsi proyek


Presiden Park Geun-Hye, yang sudah lengser,
bersama maket awal proyek mercusuar KF-X
BAI Korea menyatakan penyelidikan sudah dimulai dari sebelum President Park lengser.

Nama ex-MenHan Korsel, Kim Kwan-Jin, sudah sejak 2015 diasosiasikan dengan kecurigaan "pilih kasih" untuk memenangkan kontrak F-X III Korea senilai $7 milyar untuk 40 F-35 Lemon II, buatan Lockheed-Martin, walaupun dahulunya DAPA sudah merekomendasikan pembelian Boeing F-15 Silent Eagle.

Penolakan ke-25 core technology, disebut dalam artikel Korea Times ini sebagai salah satu skandal besar dalam proyek KF-X.

Sekali lagi, seharusnya kita tidak perlu heran. Sejak 1945, United States tidak pernah memberikan transfer-of-technology ke negara sekutu terdekatnya sekalipun. Inilah justru salah satu alasan kenapa orang Eropa secara umum tetap berjuang mempertahankan industri dirgantara militer-nya sendiri selama puluhan tahun. Aneh, kalau Korea berpikir, mereka bisa mendapat pengecualian.

Sekarang kecurigaan para auditor BAI mulai lebih diarahkan ke dugaan korupsi, dan penggelapan dana dari beberapa defense sub-contractor dalam program ini. 

Tidak hanya KF-X yang dirudung skandal, sebenarnya Presiden terpilih baru Korea, Moon Jae-in, pada 7-Juni-2017 baru saja membatalkan pemasangan THAAD missile system (anti-ballistic missile) dari United States. Presiden Moon ternyata tidak pernah mendapat cukup banyak transparansi dari para pimpinan militer KorSel mengenai berapa jumlah, dan perlengkapan apa saja yang sudah disetujui dalam proyek ini.

Tidak ada transparansi, yah, berapa sebenarnya uang yang harus dikeluarkan pemerintah? Yah, bahkan walaupun suatu transaksi alutsista kelihatan resmi, sama seperti polemik AW101 di Indonesia, tanpa transparansi yang jelas ke pemerintah, dan rakyat, berapa kemungkinannya ada pemakaian dana yang disalah-gunakan?

Seperti sudah diprediksi sejak November-2016 di blog ini mengenai nasib program KF-X, post-lengsernya supporter terbesar di tampuk politik Korea, Presiden Park, saat ini sudah tidak akan ada lagi yang mau melindungi program mercusuar ini secara politik. Dan ini adalah berita gembira.

Presiden terpilih Moon Jae-in, sudah bertekad untuk mengeradikasikan semua dugaan korupsi dalam militer, dan industri Korea. Tidak hanya itu, pandangan presiden Moon lebih cenderung Nasionalis yang melihat ke dalam, bukan ke arah United States seperti masa Presiden Park.

Robert A Manning, menuliskan artikel untuk National Interest, pada 10-Mei-2017 yang lalu, kalau kemungkinannya terlalu besar kalau policy dari Presiden Moon, tidak akan sejalan dengan.... Presiden Trump. Segala perjanjian bilateral, yang sudah diatur dari jaman sebelum kedua presiden ini, kemungkinan akan harus dinegosiasikan ulang, atau kemungkinannya cukup besar kalau tidak ada pihak yang mau mengalah.

Bicara soal presiden Trump, bukankah para project manajer dari program KF-X sejauh ini, juga belum membuka lembaran diplomasi baru dengan pemerintah Trump mengenai kelanjutan proyek ini?

Kembali, sudah saatnya kita naik ke atas sekoci, daripada menumpangi Titanic yang tidak hanya sudah bocor dari sebelum melaut, tetapi sudah melaju lurus untuk menabrak gunung es... di siang hari bolong.




07-Juni-2017War-is-boring: Russia akan memberi update kecil ke Su-35S (bukan versi export) tetapi..... TIDAK AKAN ADA AESA RADAR

Su-35S Local Version in Syria - Credits: Russian MoD
Nikmatilah gambar indah Su-35S ini.
Versi yang selama ini dimimpikan, tidak akan tersedia untuk export.


Versi downgrade spesial akan tersedia,
ke negara pengkhianat tukang hibah MiG-21
Dave Majumdar menuliskan kalau Russia akan mulai mengaplikasikan beberapa update ke Su-35S, yang mengambil pelajaran dari pengalaman deployment mereka di Syria.

Ini bukanlah sesuatu yang baru. Setiap jenis pesawat tempur buatan Barat, sudah selalu juga mendapat pengalaman yang sama: Mendapat update dari feedback pengalaman di lapangan.

... akan tetapi, akan ada 2 upgrade yang lebih penting, yang untuk selamanya tidak akan bertemu muka dengan Su-35S versi lokal, apalagi versi export-nya:

Pertama, untuk selamanya, tidak akan pernah ada AESA radar:
War-is-boring: Russia is upgrading its top fighter to fly from rough airfields
Penulis: Dave Majumdar

Pendapat professional yang dikutip disini adalah dari Vasily Kashin, seorang Guru Senior dalam Center for Comprehensive European and International Studies di Higher School of Economics, Moscow.

Dan dengan demikian, pesawat yang memang masih terpaku dengan tehnologi 2005, secara garis besar tetap saja hanya akan berlari di tempat. Sementara itu, semua Angkatan Udara lain di dunia, sedang berlomba-lomba untuk memulai profilerasi AESA radar, standar baru Abad ke-21.

Tidak seperti ramalan auntie Ausairpower, ternyata PESA radar Irbis-E saja sudah cukup. 

Tentu saja, seperti kita sekarang tahu, mencoba memakai PESA radar single-frequency secara aktif dalam pertempuran udara hanya akan seperti menyebar umpan untuk Radar-Warning-Receiver pesawat tempur lawan untuk melihat lokasinya sendiri.
Realita BVR Combat Abad ke-21

Terlepas dari masalah radar; masih ada masalah BVR missile yang belum terselesaikan:
Kenapa F-16 C/D tetap jauh lebih unggul:
Sehebat apapun radar Sukhoi juga tidak akan relevan untuk versi export,
yang hanya bisa dipersenjatai RVV-AE,
bukan tandingan jarak jangkau, ataupun Active Seeker AMRAAM-C 

Kembali ke artikel War-is-boring, salah satu kekurangan lain, yang masih belum bisa diatasi dalam Su-35S, kembali diulangi lagi: Targeting Pod:
Yah, sebelum krisis Crimea, dan kekacauan di Ukrania Timur, yakni sebelum dimulainya embargo Barat, Russia sebelumnya berencana untuk memulai license production dari Damocles Targeting Pod buatan Perancis, yang diperuntukkan ke Dassault Rafale.

Sekarang kemungkinannya Russia bisa memproduksi targeting pod sendiri, yah... cukup kecil. Bahkan Kashin-pun terdengar pesimis kalau proyek ini akan bisa selesai.
...terasa perantaranya,
terasa komisinya,
terasa kuno-nya,
terasa banyak downgrade-nya,
terasa mahalnya,
terasa "perbaikan mendalam"-nya,
tak terasa ToT-nya...

Masakan menjual kedaulatan negara ke supplier asing?
Tempat lahirnya komunisme pula?






62 comments:

  1. Admin, itu kok di RBTH sama RT rame bilang kita udah finalisasi kontrak pengadaan Su-35 malah katanya tahun ini ditandatangani, perasaan baru kemaren2 lah Menhan kita ke Swedia terus rencana akuisisi Gripen ramai, sebenernya ini gimana sih ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih baik kita mencuekin semua website propaganda asal Kremlin.

      Sudah menjadi pengetahuan umum, kalau sumber2 ini akan menyajikan "alternative facts".

      Contoh:
      # Ukrania yang menembak jatuh MH17
      # Tidak ada satupun tentara Russia yang berada di Ukrania Timur
      # Tidak, AU Syria tidak pernah menggunakan senjata kimia!

      Delete
    2. ... lagipula, bung @Thomas,

      Di tengah TNI-AU sedang dirudung skandal AW101, yang berbuntut positif masuknya KPK, dan beberapa badan penyidik lain untuk menyidiki sektor keuangan AU; kelihatannya juga semakin kecil kemungkinannya kalau transaksi alutsista via para perantara masih bisa masuk.

      Delete
  2. berita itu ternyata bersumber dari sputnik semata , mereka memang sering keluarkan berita sepihak

    ReplyDelete
  3. tapi lucu juga liat pendukung shukoi sorak sorai malah sampe ada yg mau rencana syukuran liat berita iini

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemarin2 ada penerbang shukoi kita yg mencapai 1000jam terbang tapi masih kalah sama penerbang falcon kita yg bahkan sudah ada yg mencapai 3000 jam terbang

      Delete
    2. Fanboys, atau memang memperhatikan kebutuhan Nasional?

      Perbedaan disini, fanboys akan selalu mendukung kepentingan penjual (biasanya Russia, atau Korea), dan akan selalu menomor buntutkan apakah keuntungan Nasional yg bisa didapat dari akuisisi, baik Sukhoi, atau KFX.

      Tanyakan ke mereka, kenapa harus beli Sukhoi?

      Anti-embargo, atau efek gentar, argumennya.

      Coba tanyakan tentang kebutuhan untuk membangun industri pertahanan dalam negeri, atau bagaimana kemungkinannya Sukhoi bisa dioperasikan dalam Sistem pertahanan yg terintegrasi?

      Kemudian dengan biaya operasional yg sedemikian mahal, dan maintenance intensif; bagaimana Sukhoi akan dapat menghasilkan kemampuan pilot yg bersaing?

      Tanyakan juga, katanya anti-embargo,
      Kenapa semua Sukhoi diharuskan mudik ke negara asal, untuk "perbaikan mendalam"?
      Apa ya yg anti-embargo?

      Tidak ada keuntungannya mengikuti keinginan, tapi melupakan kebutuhan.

      Dengan kata lain, fanboys sebenanrya sudah bersalin rupa menjadi agen sales perantara untuk para penjual asing, yg tidak pernah mau menuruti UU no.16/2012.

      Delete
  4. SU 35 knp tdk sampe ke AESA?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alasan resminya sih AU Russia sudah cukup puas dengan performa Irbis-E versi lokal.

      Tetapi setiap AU lain di dunia, tidak ada yg setuju dengan pendapat ini.
      AESA radar adalah standard baru yg justru harus dikejar.

      Dassault Rafale adalah satu2nya pespur Barat yg sempat menggunakan PESA radar sebagai perangkat standard, sebelum Thales, dan Dassault menggantinya ke RBE2 AESA untuk konfigurasi F3R.

      Alasan tidak resminya kenapa Su-35 tidak akan membawa AESA radar:
      Military-industrial complex Russia sudah gagal untuk bisa memproduksi AESA radar yg kualitasnya bersaing.

      Tehnologinya belum siap, pengalaman kurang, dan dana yg tersedia... sangat terbatas dengan anggaran pertahanan yg akan menukik ke bawah US$50 milyar.

      Sama seperti MiG-35 yg sudah digosipkan dari 2005, katanya akan membawa AESA, eh, ternyata tetap saja hanya radar pulse-doppler.

      Kita bisa melihat buntut yg lebih panjang ke proyek PAK-FA mereka:
      Stealth fighter yg tidak diperlengkapi frequency-hopping AESA radar sebagai perangkat standard, yah, namanya bukan stealth fighter.

      Sekali lagi, kenapa pespur Russia sudah tidak akan bisa bersaing secara tehnologi, ataupun kemampuan dengan pespur Barat:

      Su-27S, dan MiG-29 original model, dahulu diproduksi dari anggaran pertahanan Soviet yg bertengger di kisaran $300 milyar per tahun, dan dengan asumsi kalau anggaran ini akan terus konsisten, atau bertambah untuk menandingi US.

      Su-35S, MiG-35, dan PAK-FA sekarang harus diproduksi dengan anggaran yg tidak pernah bisa melebihi $70 milyar, dan hanya akan menukik ke bawah, karena kesulitan ekonomi internal Russia.

      Yah, akibatnya tidak akan pernah ada cukup investasi untuk radar, persenjataan, dan perlengkapan.

      Demikian juga dengan kesulitan biaya maintenance, dan kebutuhan untuk menabung jam training pilot.
      Kesemua twin-engine Ruski maintenance-nya luar biasa berat, dan kembali, membutuhkan anggaran yg jauh lebih besar.

      Delete
  5. ini beritanya tentang isu finalisasi su 35 ternyata masih tidak jelas. lagi2 fanboy sukhoi kudu tertipu untuk kesekian kali.
    http://nasional.kompas.com/read/2017/06/07/16365901/dubes.rusia.barter.sukhoi.dengan.karet.indonesia.masih.didiskusikan?source=graboards.com
    JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin tidak memberikan banyak informasi mengenai wacana barter pesawat Sukhoi asal Rusia dengan karet asal Indonesia.

    Galuzin yang ditemui usai pertemuan dengan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, Selasa (7/6/2017), menyampaikan bahwa hingga saat ini implementasi imbal dagang tersebut masih dalam pembahasan kedua negara.

    "Proyek yang Anda sebut itu (imbal dagang) saat ini masih kami diskusikan, untuk memberikan benefit di masa depan bagi kedua negara," kata Galuzin.

    Sementara itu, ketika ditanya mengenai berapa kisaran nilai perdagangan di antara kedua komoditas yang dipertukarkan, Galuzin belum dapat memberikan perkiraan.

    Demikian juga ketika ditanyakan target imbal dagang ini bisa diimplementasikan.

    "Saya tidak bisa menyebutkan angkanya berapa dan kapan momennya," kata Galuzin.

    Sebelumnya dikabarkan, Pemerintah Rusia tertarik dengan produk karet asal Indonesia. Minat tersebut disampaikan Rusia menanggapi kebijakan pemerintah Indonesia dalam implementasi imbal dagang dengan negara produsen senjata.

    (Baca: Rusia Ingin Barter Sukhoi dengan Karet asal Indonesia)



    Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, produk karet yang diminati itu adalah karet remah atau crumb rubber.

    Dengan Rusia, produk yang diinginkan oleh Pemerintah Indonesia adalah pesawat tempur Sukhoi.

    Oke menyebutkan, nilai imbal dagang yang dilakukan dengan Rusia mencapai 600 juga dollar AS atau sekitar Rp 7,98 triliun (kurs Rp 13.300).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada pokoknya;

      Sangat memalukan kalau masih ada yang coba nego rongsokan Su-35 versi export downgrade.

      Seperti kita tahu, semua masalahnya saja sudah menumpuk dari awal:

      ## Pengalaman buruk perawatan Su-Kommerchekiy di Sku-11 -- doyan "perbaikan mendalam" di liar negeri yg melanggar UU, dan mungkin hanya tersisa 4 - 6 pesawat yg skrg masih bisa terbang.

      # Perantara, komisi "kicback", dan... tentu saja terjamin akan ada penggelembungan harga.... persis seperti polemik AW101.

      Jangan naif: Russia peringkatnya lebih rendah dibanding Indonesia dalam tingkat korupsi, mnrt Transparancy Intrnl.
      Transaksi kotor sih sudah terjamin.

      # Ucapkan selamat tinggal untuk usaha memperkokoh industri pertahanan dalam negeri, atau untuk mencapai kemandirian!

      Su-Kuno hanya akan membuat kita ketinggalan jaman 50 tahun.

      Sekali lagi, para agen sales boleh berceloteh apapun juga:Tidak akan pernah ada ToT.

      # Efek Gentar???

      Hahahaahahahaha......

      Silahkan bermimpi bagaimana missile versi export RVV-AE dan R-73E tehnologi 30 tahun yg lalu, yg sudah di-downgrade untuk export, bisa mnagalahkan F-16!

      Dimana kesadaran Nasional?.

      Mempermalukan kedaulatan bangsa, merugikan kepentingan industri lokal.

      Heran?

      Kenapa apa banyak yg mau menjual kedaulatan bangsa ke negeri asal komunisme?

      Untuk membeli rongsokan versi export downgrade dngn efek gentar yg terjamin.... 100% NIHIL.

      Kenapa boss Rostec Viktor Kladov bisa menyebut sudah mendekati deal?

      Beritanya dari bawahannya. Roctec pemegang saham Rosoboron, krn itu Rosoboron melapor ke bawahan Kladov.
      Agen perantara "bukan broker Sukhoi" yg melapor ke Rosoborn kalau deal ini mungkin bisa dinegosiasikan masuk.

      Silahkan potong nasi tumpeng kalau Su-35K benar terbeli!

      Para atasan anda di Moscow akan jauh lebih gembira lagi berhasil memorotin keuangan rakyat semaksimal mungkin, sekurangnya 10 tahun kedepan.... sebelum semua Su-35K juga akhirnya tidak ada lagi yg bisa terbang.

      Delete
    2. nampaknya Rusia meulai mencari sasaran selain menhan yg agaknya udah mulai cuek ma sukhoi 35, kali ini menyasar mentri perdagangan yang jelas tak akan memikirkan kualitass senjata .... tapi keputusan tetap ditangan presiden panglima tertinggi dan menhan....

      Delete
    3. nampaknya pelakunya tetep rostec dan sputnik yang gencar menekan pemerintah melalui menyebar pernyataan sepihak ...berita seperti itu mulai bulan januari 2017 , menhan tak pernah memberi pernyataan ttg finalisasi kontrak . semoga saja su 35 tidak jadi terbeli aamiin

      Delete
    4. Yah, untungnya... semua berita negatif "Indonesia akan mengakuisisi Su-35(K)..."
      .... sebenarnya sudah merebak sejak 2015, dan mencapai puncaknya di Mei-2016, sewaktu sempat disebut Presiden Jokowi akan ke Moscow untuk ttd kontrak Sukhoi.

      Apa yg terjadi?
      Presiden Jokowi memang ke Moscow, tp seperti ditegaskan dari Kepresidenan, dan Kemenlu, kedua belah pihak sama sekali tidak pernah membahas akuisisi Sukhoi.

      Berita baiknya tidak hanya berhenti disana, Presiden Jokowi kemudian membuat pernyataan resmi pada 20-Juli-2016; kalau:
      Akuisisi Alutsista harus menurut kebutuhan, dan bukan keinginan

      Tidak hanya itu, persyaratannya juga tidak kalah tegas:
      + Penjual harus siap memenuhi persyaratan UU no.16/2012, dengan prioritas ke ToT, dan kerjasama secara industrial.
      + Akuisisi alutisita harus sifatnya seperti investasi yg menguntungkan negara
      + Tidak boleh lagi ada akuisisi lewat perantara.

      Pernyataan beliau jelas: Kebutuhan Negara harus selalu didahulukan dibanding kepentingan supplier asing.

      Berita baik berikutnya:
      Produk gagal seperti Sukhoi tidak pernah mampu memenuhi semua persyaratan di atas.

      Akuisisi lewat barter --- ini hanya umpan yg sangat menggelikan.
      Mereka berharap supaya melalui barter, pemerintah, dan rakyat Indonesia melupakan kalau tidak akan ada ToT, biaya operasional yg memeras keuangan, dan transaksinya harus lewat perantara.

      Lupakan saja rongsokan Sukhoi:
      Yang sederhana saja; lebih memperhatikan kesejahteraan personil TNI jauh lebih penting, daripada membuat dalih untuk membayar komisi perantara (dan pesangon "kickback" ke oknum tertentu)

      Delete
  6. Tambahan: Sebenarnya demikian juga dengan KF-X

    Proyek rongsokan Korea tidak akan pernah dapat memenuhi Kebutuhan Indonesia.

    Mari membuat daftar singkat kenapa:

    # Partnership kalau didikte satu arah namanya bukan partnership. Mereka tidak akan mau menggubris kebutuhan Indonesia.

    # Nilai anggaran proyek2 "membuat sendiri" tidak pernah realistis.

    $15 milyar untuk membuat dari awal, dan memproduksi 200 pespur twin-engine, yg lebih unggul dari Typhoon, Rafale, atau Gripen?

    Tidak ada satupun pemain lama, spt Boeing, Lockeed, BAe Systems, atau Dassault yg bahkan bisa mengerjakan hal ini. Dan tidak seperti si Korea pandai, mereka tidak butuh mengemis ToT dari negara lain.

    Angka lebih realistis utk pemain tanpa berpengalaman, kemampuan ataupun Tehnologi mapan? $60 milyar, dan proyeknya akan molor 30 tahun.

    ## Bicara soal ToT... skrg nasib ToT Korea berada ditangan... yah, pemerintah Trump.

    Selamat berjuang melawan "America First" president!

    Jangankan Indonesia bisa kepercikan ToT, Korea saja bisa dapet sepersepuluh dari yg diminta saja sudah bukan main beruntung.

    # Upgrade di masa depan?
    Pemain bau kencur berharap bisa membuat pespur semi-stealth.

    Jangan berharap IF-X akan bisa berevolusi ke KF-X Block-3 seperti ug dibayangkan!

    Itu juga baru pemikiran upgrade yg terlalu naif.. karena 85 - 99% upgrade sebenarnya akan tergantung software coding. Tidak ada coding, tidak akan ada upgrade.

    Seperti kita tahu, Korea pandai juga tidak bisa menulis coding sendiri. T-50 saja, coding-nya sudah dikunci oleh Lockheed-Martin.

    RIP KF-X hanya tinggal masalah waktu.

    ReplyDelete
  7. Apa gripen bisa memberikan 100% ToT, lalu bgmna dgn negara tetangga thailand dan malaysia yg juga di janjikam ToT 100% tp nyata ny mlah mereka kecewa


    http://jakartagreater.com/polemik-tot-saab-gripen-ng/

    http://patriotgaruda.com/2015/02/10/peluang-gripen-menipis/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama-tama, anda harus belajar membedakan mana artikel opini, yang berdasarkan hoax, atau bukan?.

      Tipikal blog dalam bahasa Indonesia biasanya tidak mempunyai referensi yang jelas dari publikasi resmi, atau pengetahuan umum manapun, dan tidak bisa di-cross-referensikan ke beberapa sumber.... yah, biasanya.... artikel itu dapat dinyatakan 100% hoax.

      Semisal ditulis dalam blog ini:

      ## Sukhoi Russia tidak pernah terlihat dipersenjatai dengan R-77, melainkan dengan "crappy missile" R-27; Ini bukan tanpa bukti valid.

      Silahkan Google Search: "Sukhoi Interception over Baltic".
      Semua gambar akan memperlihatkan Su-27S yang bersenjatakan hanya R-27, dan R-73.

      Ini karena development untuk R-77 ternyata tidak pernah selesai.

      Penulis banyak buku, dan artikel militer, Tom Cooper sudah mereferensikan kalau development-nya tidak pernah selesai sejak tahun 1989, yakni masa ambruknya Soviet.

      Sedangkan RVV-AE hanyalah downgraded version dari R-77 (yang tidak pernah selesai) dengan Agat=1348E, dan jarak jangkau yang lebih pendek, yang dibuat untuk versi export.

      ... sementara itu, sejak tahun 1990 awal, sampai sekarang, AMRAAM sudah berevolusi sampai lima generasi, masing2 dengan Seeker yang lebih modern, lebih akurat, dan jarak jangkau yang melebihi 100 km.

      RVV-AE versi Export tidak pernah mendapat update.

      ## Kita juga sudah melihat kalau Transfer-of-Technology dari Russia itu Impossible.

      Ini bukan karangan penulis, melainkan apa yang dilaporkan orang India sendiri, dari pengalaman mereka dengan PAK-FA, dan Su-30MKI --- ini walaupun India, tidak seperti negara kita, adalah konsumen terbesar alutsista Russia, yang sudah menjalin hubungan akrab sejak tahun 1960-an.

      Satu contoh terakhir:
      Defense News, 22-Maret-2017

      ========
      A senior Indian Ministry of Defence official said HAL has identified 485 systems for the country's Make in India initiative for which HAL requested private industry interaction with Russian OEMs for the transfer of technology.

      "However, United Aircraft Corporation and United Engine Corporation of Russia have categorically clarified that they have spare capacity and they will support IAF, but they are not willing to transfer ToT to private Indian industry," the MoD official said.
      =========

      Spare part buatan Ruski juga sudah termasyur delivery-nya seret. Uangnya sudah dibayar, barangnya tidak kunjung datang, meski dikejar-kejar.

      Link: Indian Express, 8-Agustus-2016

      ===========
      “We have worked with Rosoboronexport which operates like a middleman.

      We paid the money to Rosoboronexport but the small Russian company never got the money from Rosoboronexport, and never sent us the parts
      . We are not alone, everyone has had complaints with Rosoboronexport which even the defence ministry is fully aware of,” Vice-President of a top Indian defence company told The Indian Express.
      ==========

      Yah, begitulah jasa agen perantara Rosoboron, kepada siapa para fanboys, dan banyak oknum mau menjual kedaluatan NKRI.

      Kalau tidak percaya, silahkan pergi ke India, dan menanyakan langsung!
      Atau telepon redaksi Indian Express, Business Standard, dan yang lain, dan tanyakan sendiri tentang artikel2 mereka re Sukhoi!

      Delete
    2. ngasih link web yg kredibel dikit napa mas JKGR di kaskus aja g diterima

      Delete
    3. kita malah belajar tentang national network ke thailand gan ,, thailand mendapatkan teknologi itu dari Saab,, malaysia tidak pernah membeli Gripen.....

      Delete
  8. Jkgr mah sumber beritanya ga falid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebanyakan memang karangan penulisnya saja.
      Terlalu banyak mimpi yang tidak jelas.

      Contoh artikel mimpi saya:
      Suatu hari, suatu saat Indonesia akan mengoperasikan 500 Sukhoi Flanker, dan Australia akan mengigil ketakutan!
      Kita akan menerbangkan 90 Sukhoi ke arah Darwin, dan menyapu bersih Super Hornet.
      :D

      Ini contoh versi karangan yg tidak jelas.
      RAAF Australia dari segi kemampuan, pengalaman, dan perlengkapan statusnya State-of-the-art.

      ## Anggaran mereka saja sudah 3x lipat dibanding Indonesia, dan masih mungkin untuk naik 2x lipat dalam defense white paper mereka.

      ## TNI-AU akan membutuhkan investasi ratusan milyar US$, dan puluhan tahun persiapan, dan traiing, sebelum dapat menyamai level kemampuan, pengalaman, integrated Network, dan jumlah jam training / system pilot2 / staff RAAF.

      ## ... akan tetapi, toh Australia-Indonesia sebenarnya hubungannya bersahabat.
      Mereka adalah salah satu negara pertama yg mendukung kemerdekaan Indonesia, dan sejak 1945 sampai sekarang, tidak pernah mengklaim sejengkalpun teritorial NKRI.

      Satu2nya negara yg paling mungkin bakal lawan kita, yah di Utara, yang mengancam perairan di sekitar Natuna, yang juga jauh lebih berpengalaman memakai Sukhoi, dan anggaran militer-nya jauh lebih besar.

      Delete
    2. yah kalau emmang memenuhi syarat2 dari presiden
      1.negosiasi harus G to G (tidak boleh pake perantara)
      2.harus ada tot 30% sesuai UU
      pasti akan datang tapi pertanyaannya shukoimu memnuhi syarat diatas g?
      kenyataannya pemebelian shukoi selalu terbentur masalah tot
      service shukoi negara lain?pff su-27/30 aja rusia g memperbolehkan diservice lokal aplagi su-35 ini sih bukan lagi mimpi tapi udah mabuk

      Delete
    3. Jikalau sudah bgmna jend.ryacudu jg udh menyatakan pembelian sukhoi melalui jalan G to G tdk ada calo dan imbal teknologi 50% di dlm ny, indonesia jg bayar stgh harga krn pakai sistem barter remah karet yg proses barter ny lwt bumn indonesia pt.ppi dan bumn rusia rostec, jd bkn hal tdk mgkin kunjungan presiden jokowi tahun lalu ke sochi rusia jg ada penanda tanganan alih teknologi bersama rusia dan bidang pertahanan lain ny jd bkn tdk mgkin kn rusia mw memberi teknologi ny ke indonesia, blm lg di tambaj bulan maret lalu jg ada pembahasan pengiriman 2 uniy improv kilo class 636 ke indonesia


      http://wartakota.tribunnews.com/2017/06/13/rusia-bakal-bangun-pabrik-suku-cadang-sukhoi-di-indonesia

      https://indonesia.rbth.com/news/2017/06/12/rusia-berencana-bangun-pabrik-suku-cadang-sukhoi-di-indonesia_qyx781087

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. kalau emang udah jadi napa negosiasinya masih muter2 sekitar TOT?

      g pake calo? pfff yaya serah ente aja deh

      Delete
    6. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    7. Apa anda yakin efek gentar su 35 itu nihil, pd kenyataan ny amerika sndri mengakui hanya F 22 raptor lh yg mampu mengimbangim su 35
      https://www.jejaktapak.com/2015/03/14/amerika-akui-hanya-raptor-yang-mampu-imbangi-su-35/

      Delete
    8. Bung @Eko Aji,
      Anda terserah deh kenapa terus menerus mimpi Su-35...

      Efek gentar-nya NIHIL, oke?

      Pilot Russia dengan Su-35S versi lokal saja tidak akan bisa mengalahkan pilot Australia dengan F-18F Super Hornet... jadi jangan berharap banyak!

      ## Untuk negara pembeli Su-35K versi Export:
      Dengan missile versi export RVV-AE, dan R-73E, MUSTAHIL Su-35K akan dapat menembak pesawat tempur Barat manapun.

      ## Untuk apa membayar biaya operasional sedemikian mahal?
      Satu jam Sukhoi terbang sudah bisa membiayai satu rumah untuk personil TNI

      Dan kalau biaya operasional sedemikian mahal, dan pespurnya sudah pasti akan gampang rusak:
      Pilot sehebat apapun tidak akan dapat menabung cukup banyak jam training.

      Kurang latihan + persenjataan versi export = Korban siap ditembak jatuh

      Jangankan F-35A, melawan F-5S Singapore saja, sudah pasti akan kembang kempis!

      ## Terakhir, sangat menyedihkan karena lagi2... baik para "pejabat", ataupun para fanboyz... MELUPAKAN kebutuhan industri pertahanan dalam Negeri.

      Seperti biasa pernyataan Menhan, PTDI, ataupun UU no.16/2012 tidak pernah disebut, bukan?

      Dalam hal ini, mau diputar-balikkan bagaimanapun juga, MUSTAHIL Rosoboronexport bisa mengimbangi tawaran Saab

      ## Sekali lagi, sama seperti US, Russia TIDAK PERNAH menawarkan ToT ke negara manapun. Kalau India saja sudah kembang kempis, jangan termakan mimpi!

      Dari dahulu, seperti beberapa "pejabat", terus mem-beo ngulang2, beli-Sukhoi, beli-Sukhoi.

      Ayo, belajar mendahulukan kebutuhan Negara, bukan kepentingan penjual!

      Delete
    9. haha inilah kenapa dari dulu saya paling males debat sama fanboy shukoi di formil manapun penyebabnya y ini

      Delete
    10. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    11. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    12. Maaf, komentar anda, sekali lagi terlalu banyak mimpi dibanding melihat kenyataan.

      Anda boleh mengklaim "bukan fanboys", tetapi tulisan anda berkata sebaliknya, dan sama seperti terlalu banyak komentar fanboys lain, yang mengaku "bukan fanboys", tidak bisa, atau menolak menyangkal satupun kenyataan negatif re Sukhoi, seperti diatas.

      Yang paling mudah saja:
      Su-35K adalah model downgrade dari pespur yg tehnologinya tahun 2005, dengan perawatan yang mahal, dan merepotkan, dan hanya bisa dipersenjatai missile versi export.

      Bagaimana bisa mengalahkan F-16, yang lebih bandel, perawatannya mudah, bisa sering terbang / memupuk jam terbang pilot, dan dapat dipersenjatai dua missile yang jauh lebih up-to-date, dan dipakai USAF sendiri?


      Pertanyaan ini sampai sekarang masih belum terjawab oleh sesepuh Sukhoi manapun, kecuali dengan.... yah, pernyataan mimpi.

      Komentar anda dengan demikian sudah bersalin rupa menjadi propaganda agen sales agar kita mengakuisisi Su-35 versi Export downgrade, dan melupakan UU no.16/2012.

      "Pabrik Suku cadang" seperti disebut Menhan itu artinya sangat luas. Bisa hanya sekrup, bisa juga hanya beberapa flap.

      Lockheed-Martin juga membuat pernyataan yang sama November-2016 yang lalu, mengenai keinginan memproduksi lebih banyak part F-16 di Indonesia, tetapi sengaja menghindari UU no.16/2012.

      Yang lebih penting adalah Sovereign Air Power; yakni kedaulatan atas pesawat tempur yang sudah dibeli.

      + Kemandirian untuk mengoperasikan alutsista secara independent, bebas dari pengaruh luar.

      + Tidak ada pengurangan atas spesifikasi, radar mode, atau semua flight mode yang tersedia, seperti dalam versi export downgrade.

      + Upgrade yang konsisten, dan akhirnya mulai dapat diaplikasikan sendiri oleh tehnisi lokal

      + Kemampuan untuk full on maintenance, dan akses untuk pengembangan lokal

      + Kemampuan untuk mengadaptasikan semaksimal mungkin pesawat tempur tersebut untuk menghadapi realita tantangan pertahanan negara kepulauan.

      + Apakah kelak kita akan dapat mendorong optimalisasi kemampuan Alusista kita melebihi apa yang diiklankan?

      + Kerjasama penuh dari seluruh industri pertahanan lokal, dan full access ke ToT, sesuai amanat UU no.16/2012

      Sampai kapanpun, pesawat favorit anda, Sukhoi tidak pernah, dan tidak akan mampu memenuhi kesemua persyaratan di atas.

      Salam.

      Delete
    13. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    14. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    15. udah aturan di blog ini cuy ente ngeklaim sesuatu tanpa didukung data fakta lgs hapus temen ente yg sebelum ente sesama fanboy shukoi kelakuannya sama kaya ente bikin klaim tanpa didukung bukti kuat dan lgs di hapus, haha mnding balik lagi sono kehabitatnya atau beljar lagi deh sebelum komen/ngeklaim di blog ini

      Delete
    16. Singkat cerita, terlalu banyak mimpi.

      Angin juga bisa berubah menjadi batu.

      Delete
    17. Dasar orang ini padahal kekuatan Indonesia di era 60an rakyat kita jadi miskin gara2 banyak membeli alutsista Soviet.iya gara2 alutsista Uni Soviet belanda kocar-kacir tapi kita enggak bisa mengalahkan Inggris dan Australia pada saat konfrontasi Malaysia

      Delete
    18. Betul,

      Berikut analisa Kekuatan Udara Indonesia di tahun 1960an

      Hanya punya 20 MiG-21 F-13, dan memakainya juga belum terlalu bisa, tidak pernah membuat kita "kuat".

      FYI -- Israel membantai ratusan MiG-21 Mesir, dan Suriah, hanya dengan 72 Mirage IIICJ.

      ## RAAF Australia, yg melindungi Malaysia, sewaktu itu dalam tahap mengakuisisi 116 Mirage IIIO.

      ## Royal Navy masih mempunyai belasan kapal induk di masa itu, dan sudah memindahkan pembom Avro Vulvan, ke Butterworth, Malaysia. Kalau mau mereka bisa mudah membom target dimanapun di Indonesia, tanpa bisa dihentikan AURI.

      Tidak lama, sebelum RAF juga akan memindahkan English Electric Lightning ke Malaysia.

      ## Tidak seperti sekarang, sewaktu itu pilot2 RAF, RAN, dan RAAF juga masih hangat dari pengalaman PDII, dan perang Korea. Dan dalam latar belakang perang dingin, semuanya sudah berlatih untuk bisa mengalahkan.... Uni Soviet sendiri.

      "Keunggulan Udara Indonesia" di tahun 1960 itu sebenarnya.... hanya mitos.

      Kenyataannya, Soviet tidak pernah mau ambil pusing menjadi guru, dan.... yah, akibatnya AURI juga masih belum siap jika dibandingkan AU Mesir, Suriah, atau Vietnam Utara.

      Hanya 20 MiG-21, 10 MiG-19, 49 MiG-19, dan 30 MiG-15 adalah jumlah yang.... sangat sedikit untuk ukuran masa itu, dimana banyak AU masih mengoperasikan ribuan pesawat.

      Kita justru beruntung kalau AURI tidak pernah perlu dites menghadapi RAAF, atau RAF.

      Delete
    19. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    20. Jgn di hapus lg yaa min nyusahin guw aj ngetik panjang" argumen guw di apus 😂😂😂😂

      Delete
    21. Maaf, tapi kalau tulisannya kebanyakan mimpi, atau karangan entah darimana tanpa referensi yg jelas, yah, apa boleh buat?

      Harus dihapus.

      Beberapa point saja:
      ## Tidak ada yg jelek dengan mendapat hibah pesawat dari negara lain.

      Anggaran tidak bisa dipaksakan membeli baru terus. Yang menjadi masalah, tata kelola safety rating TNI-AU memang masih tetgolong buruk. Setiap tahun mengalami sekurangnya 1 kecelakaan write off.

      Ini tidak akan ada bedanya antara pesawat hibah, atau baru.

      Kalau di Indonesia kelihatan mengenaskan, dan menyalahkan "hibah", tunggu kalau anda pergi ke Russia...

      AU Russia mengalami kecelakaan hampir setiap bulan sejak 2015. Mnrt Moscow Times, dan DefenseNewa, ini krn perpaduan pesawat buatan Ruski yg maintenance-nya memang sulit / gampang rusak, dan krn kebanyakan pilot Ruski kurang training.

      ## Realita Anggaran
      Anggaran pertahanan di tahun 1960-an itu sebenarnya "artificial", tidak pernah didukung ekonomi yg mencukupi.

      Kemudian sepanjang orde baru sampai sekarang, yah, selamanya APBN akan selalu lebih diprioritaskan untuk pembangunan negara, bukan anggaran pertahanan.

      Kenapa untuk selamanya anggaran kita akan cenderung lebih rendah vs Singapore, ataupun Australia?

      Ini dikarenakan kawasan ASEAN sendiri sbnrnya tergolong paling aman dari segi konflik regional. ASEAN tidak mempunyai wilayah2 kritis seperti Kashmir antara Pakistan-India, atau seperti di Timur Tengah.

      Kedua, kembali, seluruh dunia juga sudah mengakui keutuhan NKRI 100% dari Sabang - Merauke. Sampai kekacauan LCS, tidak ada satupun negara tetangga yg mengklaim wilayah Indonesia, atau "mengajak ribut".

      Keterbatasan anggaran pertahanan adalah realita untuk negara kita. Dan berkaitan dengan ini....

      ## Inilah kenapa terus mengoperasikan Sukhoi, dan masih menginginkan Su-35 --- semuanya model export downgrade, dgn persenjataan downgrade sudah seperti menembak kaki sendiri.

      Tidak hanya akan memberi makan perantara, biaya operasional untik 16 Sukhoi sudah mencukupi untuk 64 F-16, atau 96 Gripen --- dan keduanya akan dapat terbang lebih sering, dan mengumpulkan jauh lebih banyak jam terbang.

      Faktor terakhir ini sangat penting, karena.....

      ## ...kalau tidak ada investasi di System, dan training pilot, maka pespur manapun akan mempunyai efek gentar nihil.

      Tidak ada pilot, pespur menjadi tidak relevan.

      Dan tanpa system modern untuk battlefield management, buang saja semuanya ke laut!

      Dengan memilih Sukhoi, para pejabat memilih pesawat daripada pusing versi downgrade, kesejahteraan personil TNI, pembangunan industri dalam negeri, ataupun pembangunan sistem pertahanan Abad ke-21 yg state-of-the-art.

      Polemik Su-35K akan dibahas lebih lanjut di topik selanjutnya, kenapa transaksi barter itu hanya akan sangat merugikan.

      Delete
    22. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    23. Safety recordnya aja yang jelek dasar bodoh,sebaiknya anda minggat aja dari blog ini karena anda dinobatkan trolling Sukhoimah jarang terbang karena maintenancenya seabrek dasar

      Delete
    24. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    25. Klo mnrut anda" ini saya itu fanboy sukhoi atau senjata timur silahkan cari di forum militer mana pun apa ada saya disana 😂😂😂

      Delete
    26. haha anjing herder tapi disuruh nangkep kupu2(t-50) aja ampe 3 hari ckckckck gimana disuruh nangkep elang (f-15)atau tawon(f/a-18)jgn dikira semua penghuni formil bisa dikibulu mentah2 sama propaganda sales shukoi

      Delete
    27. haha itu yg versi lokal cuk kalaupun jadi beli kita cuma dapet versi downgrade eksport ngerti g apa itu versi downgrade? kalau g ngerti gooling coba pake keyword "rusian monkey model "

      Delete
    28. Oke, debat kusirnya sudah selesai.

      Trolling post berikutnya "pro-Sukhoi" akan segera dihapus tanpa peringatan lagi.

      Delete
  9. Saya tdk pernsh baca artikel, tapi setiap berita saya usahakan utk dianalisa ato dicari tahu penyebabnya. Misal knp sukoi hrs service di luar negeri? Dari berita ini saja saya sdh bertanya tanya, knp bisa begini, kemudian tehnisi TNI AU dpt apa? T 50 Golden Eagle tdk ada radarnya, apakah mmg tdk ada anggaran? Dan knp hrs diupgrade lagi, mgknkah kita diakali oleh korsel? Jadi teliti dulu sblm membeli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung @irawan,

      Kenapa Su-27/30 tidak hanya versi export dari Su-27S, dan Su-30M tahun 1990an awal, yg tidak dipakai secara lokal oleh AU Ruski, tetapi juga tidak boleh diperbaiki di Indonesia, dan harus memakai tehnisi Russia?

      Kenapa T-50 tidak membawa radar, sementara spesifikasi dasarnya, seharusnya membawa APG-67?
      (T-50 saja sudah begitu, apalagi IF-X!)

      Kenapa F-16 Block-25+ hanya namanya saja Block-52ID, padahal tidak ada IFF, Link-16, Helmet Mounted Display, ataupun v9 dari radar APG-68?

      Kesemua jawaban ketiga pertanyaan ini sangat sederhana.

      Ketiga model ini Versi Export Downgrade, dan karena itu penjual berhak menentukan apa yg mereka perbolehkan untuk pembeli.

      Pembeli hanya bisa menerima apa yg sudah ditentukan si penjual, dan bukan sebaliknya.

      Sederhana.

      Inilah kenapa sy sudah sering mengulang disini... Alutsista Versi Export adalah bentuk baru dari penjajahan pasca Perang Dunia II.

      Sekarang ini, seluruh TNI-AU secara tehnis dijajah oleh para penjual, dan khusus untuk Sukhoi, juga dijajah oleh para perantara.

      Kalau mau merdeka, jawabannya mudah.

      Kita harus kembali berpaling ke supplier2 Eropa, yg tidak mempunyai kebiasaan mengontrol yg sama.

      Khusus untuk TNI-AU; mengembalikan kedaulatan pengawasan udara Indonesia kembali ke tangan kita, sekaligus membangun industri pertahanan sesuai amanat UU no.16/2012, yah... Pilih antara:

      # Eurofighter Typhoon
      # Dassault Rafale
      # Saab Gripen

      Dan dari ketiga pilihan, Gripen satu2nya yg tidak akan merobek kantong; paket yg ditawarkan Saab, termasuk Erieye, dan Networking cangkupannya lebih luas, dan tawaran kerjasama mereka juga jauh lebih mendalam dibandingkan Airbus, atau Dassault.

      Semua pengalaman 10 tahun terakhir ini, akhirnya turun ke satu pertanyaan mudah:

      Sudah siap untuk merdeka, atau mau terus dijajah?

      Sederhana.

      Delete
  10. bukanya masalah dana yang membuat di downgrade bung ?. atau memang itu permintaan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tidak.

      Versi Export Downgrade adalah peraturan resmi tak tertulis dari penjual asal Moscow, Beijing, dan Washington DC.

      Pembeli tidak boleh menawar apa yg sudah diijinkan. Terserah mau bertapa 1000 tahun, atau kalaupun kocek ratusan milyar $$. Versi yg boleh dibeli negara lain, yah, harus versi downgrade dari yg dipakai sendiri.

      Semuanya akan tergantung keputusan politik negara penjual.

      Karena kita bukan seperti negara anggota NATO, Australia, Jepang, Korsel, atau Singapore -- jgn berharap banyak kalau F-16V Indonesia akan diperbolehkan menyamai spesifikasi Singapore, misalnya.

      .... apalagi IF-X.

      Untuk Sukhoi, sebenarnya lebih runyam lagi downgrade-nya, krn tiga faktor:
      - Secara basis tehnologi, Ruski sudah ketinggalan jaman vs industri Barat
      - Tidak seperti US, Ruski juga menjual persenjataan (missile) versi export.
      - Terakhir, selama Perang Dingin, Moscow masih mengingat kita yg anti-komunis ini ada di kubu mana. Mana lagi tukang hibah MiG-21.

      Untuk PRC yg antagonis ke seluruh ASEAN, bisa ditebak sendiri hasilnya.

      Delete
  11. Maaf, Saya baru buka Suara kali Ini.

    hmm Utk Pengganti F5E Tiger, Sebenarnya Sudah diperbincangkan pada 2007 lalu. dan dilakukan pada 2011. kata KSAU Saat itu I Gusti Made Oka. saat ditanya wartawan : "bagaimana tentang pespur F16 saat ini menurut bapak??" . beliau berkata "Saat ini Kita punya yg Tipe A/B, kali ini kita memerlukan Yg Tipe C/D. F5E Tiger tahun 2011 sudah harus Diganti, kemungkinan F5E Akan digantikan oleh F16 tadi". Dan ide beliau terealisasikan, indonesia menerima 24 F16C/D meski Refurbish. otomatis indonesia dapat 2 Skuadron F16 tambahan.

    Jadi kita tidak perlu lagi Memikirkan pengganti F5E.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.

      Entah kenapa skrg masih terus sibuk mencari pengganti F-5E.... padahal persenjataan / perlengkapan F-16 saja masih minim... dan secara tehnis skrg ini, seluruh TNI-AU ini seperti masih belum siap tempur.

      Kita bisa melihat sendiri, betapa antusiasnya pejabat dengan prospek akuisisi AW101, atau Sukhoi... tetapi tidak ada reapon akuisisi H225M via PTDI, ataupun AIM-9X, AMRAAM C-7, dan Sniper pod lewat program FMS yg sifstnya G-to-G.

      Tidak bisa begitu.

      Persenjatai dahulu F-16, dan prioritaskan sistem & training pilot!

      Delete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Utk KFX/IFX, Sebaiknya kita Menarik Diri dari proyek ini. nah utk ide membuat pespur sendiri, indonesia bisa membeli pespur Saab Gripen E/F beserta ToTnya. kalau ingin belajar membuat pespur Gen-5, kita bisa join dengan saab dalam proyek Flygsystem 2020.

    Jadi Proyek IFX Bisa digantikan oleh proyek Gripen-indonesia dan Flygsystem 2020.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah.

      Jauh lebih besar kemungkinan para ahli Indonesia bisa turut andil dalam program Gripen, dibanding KF-X yg didominasi Korea.

      Demikian juga, kalau kita memulai kerjasama dengan Saab. Hanya satu bulan saja, hasilnya sudah lebih banyak daripada dengan Korea sejak 2010.

      Delete
  14. Sebenernya perbedaan antara aesa, pesa, dan pulse doppler radar itu seperti apa ya? Kelebihan dan kelemahan masing2 gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Urusan radar ini memang masih hutang artikel.

      Nanti sy lanjut.

      Delete
  15. berita terbaru kasus heli AW , denpom AU dan kpk dijadwalkan memeriksa mantan KSAU marsekal agus supriatna , kalo tidak salah beliau dulu juga yg ngotot su 35 ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, baru reply.

      Skrg ini sudah dibahas dalam News Update Juni-2017.

      Kita juga sering lupa.. jangankan AW101, padahal akuisisi Sukhoi-pun sebenarnya adalah kasus penggelepan tersendiri.

      Delete
  16. Akuisisi flanker ini sepertinya nanti bakal memunculkan kasus korupsi. dicurigai ada korupsi dlm pengadaan alutsista, heli kemaren bermasalah bbrp jd tersangka. bs2 ada kasus lama juga.
    kalaupun Su35 dibeli kesannya buat nutupin sku11 yg makin ringkih skaligus menaikan harga karet yg lagi jatuh. pembelian Su35 ini udah sempat meredup tiba2 naik lagi karna imbal dagang karet.
    buang2 waktu bgt ngurus Su-35.
    sementara SAAB bkn ga mungkin mengijinkan perakitan di Indonesia kalo kita mesan Gripen melihat antrian.
    andai pengganti F-5 dan skuadron tambahan 1 jenis yg sama pasti simpel.
    Gripen C-E, lap kerja dan pengembangan teknologi selama plg ga 10 tahun kedepan.

    ReplyDelete