Friday, July 14, 2017

Source Code: Kitab Suci pesawat tempur

Gripen 39-8 at Saab's Linköping facility  -- Credit: Saab

Perhatikan terlebih dahulu cara kerja tubuh anda sendiri, seperti misalnya, proses mengambil nafas!

Pada saat anda menarik nafas, anda akan menghirup udara melalui hidung, atau mulut. Kontraksi diafram akan menarik masuk udara ke dalam paru-paru. Di dalam paru-paru, oksigen kemudian di-transfer ke dalam sel-sel darah merah, dan berbarengan dengan itu, karbon dioksida yang sebelumnya dibawa sel-sel darah merah tersebut dipindahkan kembali ke paru-paru untuk kemudian dikeluarkan kembali saat kita menghembukan nafas. Sementara itu, sel-sel darah merah dipompa ke dalam jantung, yang kemudian mensirkulasikannya ke seluruh tubuh, dan mengkoleksi balik karbon dioksida untuk dihembuskan keluar.

Semuanya ini berlangsung automatis. Anda tidak perlu berpikir, atau belajar untuk bernafas, atau bagaimana caranya mengolah makanan. Seluruh tubuh anda sudah mengatur semua proses ini secara alamiah sejak anda lahir.

Source Code pesawat tempur adalah jutaan baris programming line yang tersembunyi di dalam internal computer menentukan SEMUA FUNGSI dalam pesawat tempur modern, sama seperti bagaimana tubuh kita bekerja dengan sendirinya. 

Tanpa source coding untuk fly-by-wire system, pesawat modern (tidak hanya pesawat tempur) bahkan tidak bisa lepas landas, berbelok, ataupun bermanuever di udara. Dewasa ini, komputer sudah melakukan jutaan perhitungan dalam setiap pesawat tempur setiap detik, untuk memastikan segala sesuatu bekerja semestinya. Apalagi untuk kemampuan tempurnya.

Tanpa ada Source Code, tidak akan ada pesawat tempur modern. 

Seberapa jauh negara bisa memegang kontrol atas source code pesawat tempur akan menentukan kepemilikan pesawat itu sendiri.


Source Code: Keunggulan utama, atau KELEMAHAN setiap pesawat tempur modern

Dua contoh yang mengaku "generasi kelima",
tetapi source code-nya mempunyai segudang masalah,
biaya operasionalnya tidak terjangkau,
dan Upgrade-nya akan luar biasa sulit
(Youtube Capture)
Dahulu kala, ada yang pernah menulis kalau mulai berpikir tentang Source Code, seperti membayangkan sesuatu yang masih di awang-awang. 

Untuk lebih jelasnya, saatnya kembali menilik sejarah perkembangan desain pesawat tempur.

Contoh pesawat tempur yang tidak perlu ambil pusing soal Source Code:
karena dibuat sebelum komputer modern bisa diintegrasikan ke pesawat tempur
(Gambar: Wikimedia)
Pesawat tempur jet generasi pertama, dimulai dari Gloster Meteor, dan Messerschmitt-252 pada masa akhir perang Dunia II (tahun 1944), yang sebenarnya masih mempergunakan bentuk sayap pesawat baling-baling yang lurus tegak. Generasi pertama ini kemudian mencapai puncaknya dalam masa perang Korea, dengan dua pesawat tempur definitif MiG-15, dan F-86 Sabre, yang mempunyai desain swept wing; memungkinannya berakseselasi lebih cepat, dari bentuk desain sayap konvensional, dan melebihi kecepatan suara, dengan mengambil manuever menukik.
RAAF photo
Generasi Kedua: Mirage IIIO Royal Australian Air Force
Jenis combat-proven yang membantai ratusan MiG-21 selama konflik Arab-Israel:

Australia mulai memperkenalkan Mirage IIIO di tahun 1964,
dan kemudian license-production 114 unit.
Pilot mereka jauh terlatih dalam rangka persiapan kemungkinan menghadapi Uni Soviet, atau PRC selama Perang Dingin

Masih berpikir AURI (20 MiG-21) di tahun 1960-an kemampuannya "luar biasa"?
Jangan terlalu banyak bermimpi!
Generasi kedua dimulai pada pertengahan tahun 1950, dengan model-model seperti MiG-21 F-13, Dassault Mirage III, dan F-100 Supersabre. Generasi ini memperkenalkan untuk pertama kalinya, fitur afterburner, yang memungkinkan pesawat tempur terbang lurus melebihi dua kali lipat kecepatan suara. Dalam praktek di lapangan, afterburner sebenarnya terlalu banyak meminum bensin. Bahkan sampai sekarang, semua pesawat tempur tidak ada yang bisa terus-menerus menyalakan afterburner-nya selama beberapa menit, kalau tidak mau kehabisan bahan bakar. Tetap saja, afterburner memberikan kemampuan pesawat untuk mendekati lawan secepat mungkin, atau sebaliknya, membuka jarak secepat mungkin.
Wikimedia Image
Generasi Ketiga:
F-4 Phantom II -- pesawat yang merubah pola pikir desain pespur;
Air Superiority HARUS membutuhkan twin-engine design,
Radar yang lebih besar berarti jarak jangkau radar lebih besar,
dapat membawa lebih banyak bomb, dan lebih banyak missile,
BVR mssile untuk menyelesaikan semua masalah!

Sayangnya,
F-4 Phantom II yang ukurannya bongsor,
ternyata bukan pesawat tempur yang efektif untuk menghantam MiG-17, atau MiG-21.

Israel lebih memilih menggunakan Mirage IIICJ, dan IAI Nesher (Mirage V)
Generasi ketiga, yang diawali F-4 Phantom II di tahun 1948, kemudian juga diikuti Mirage F1, dan MiG-21MF, memperkenalkan untuk pertama kalinya, radar generasi pertama, Radar-Warning-Receiver, dan kemampuan mengoperasikan BVR missile, yang dikala itu semuanya tipe Semi-Active Radar Homing, seperti AIM-7 Sparrow, atau R-60. Realita perkembangan menuntut pesawat tempur yang semakin lama semakin rumit. Semakin banyak hal yang sebenarnya menuntut proses kalkulasi yang membutuhkan komputer. Tentu saja, di masa ini, evolusi perkembangan komputer juga masih terlalu prematur. Ukuran hardware-nya saja di kala itu terlalu besar untuk bisa masuk ke dalam airframe pesawat.
USAF Photo
Generasi Keempat:
F-15, dan F-16; dengan desain aerodinamis yang optimal, dan afterburning turbofan:

 BELUM KETINGGALAN JAMAN (Kecuali menurut pola pikir Pentagon)
Walaupun terhitung generasi keempat,
kedua tipe ini terbukti cukup mudah dapat mengintegrasikan
komputer, AESA radar, dan Electronic Defense Suite modern untuk mengikuti kemajuan perkembangan tehnologi
Generasi keempat, akhirnya di mulai di tahun 1970-an dengan F-14, F-15, F-16, dan akhirnya F-18. Generasi ini menutup pintu perkembangan, atau titik puncak desain; baik dari faktor desain aerodinamis, kemampuan manuever, jenis mesin afterburning turbofan (generasi sebelumnya masih memakai mesin turbojet yang lebih berisik, dan mengepulkan asap), dan terakhir, desain pulse-doppler radar modern. 

Seiring dengan masa ini, evolusi komputer mulai melompat cepat sejak tahun 1980-an, sampai sekarang, dan mulai memperkenalkan berbagai macam fitur yang sebelumya tidak bisa dicapai dalam pesawat tempur.

Dengan demikian, tanpa sengaja semenjak tahun 1980-an, Source Code secara berangsur-angsur sudah mulai mengambil alih peran penentu utama kemampuan, atau efek gentar setiap jenis pesawat tempur. Inilah penentu nyata Generasi Kelima yang sesungguhnya, bukan bahasa marketing yang hanya mengharuskan Stealth, yang secara konsep saja sebenarnya kesalahan fatal.

Active Radar Guidance dalam BVR missile Abad ke-21 seperti AMRAAM, ataupun Meteor tidak akan dimungkinkan tanpa perkembangan penulisan Source Code dalam guidance missile ini sendiri. Dan kembali, ini menuntut komputer, dan Source Code pesawat tempur untuk dapat membaca feedback dari missile, dan memberikan update, dan panduan.

Contoh jelek konsep pesawat inferior: 
Mau membuat yang "menandingi" F-35,
eh, tapi tidak pernah ambil pusing soal Source Code,
.... atau masalah siapa yang akan memegang kontrol?


Mungkin memang Korea tidak merasa perlu Source Code yang baik:
"Lebih penting aksi daripada nasi"
Source Code adalah penentu utama kemampuan pesawat tempur. 

Ini bukan berarti kemampuan manuever dalam pertempuran jarak dekat tidak lagi penting, seperti yang dipercayai dalam konsep pesawat gembrot F-35 Lemon II. Perkembangan desain sensor, BVR ataupun WVR missile modern, Electronic Countermeasure (ECM), dan Electronic Counter-Counter Measure (ECCM) membuka terlalu banyak aspek baru dalam pertempuran udara, yang tidak pernah perlu diperhitungkan pilot di tahun 1960-an, atau tahun 1970-an, dengan MiG-21, dan Mirage III, ataupun dalam proyek mercusuar seperti KF-X. Semua ini adalah tugas source code dalam komputer pesawat tempur modern: Automatisasi dari semua apa yang tersedia, untuk mempersiapkan pilot untuk menghadapi semua ancaman yang tidak terduga.

Credits: Saab

Sebagai contoh, apakah masing-masing tipe akan dapat memberikan presentasi informasi yang sama ke pilot, atau Controller di pesawat AEW&C? 


Inilah fundamental requirement untuk mencapai Superior Situational Awareness, dan ini tidak hanya semata tertangung kepada jenis radar, atau sensor yang dibawa, tetapi kemampuan Source Code dalam komputer pesawat untuk mengolah informasi tersebut, dan mem-presentasi-kannya ke setiap pilot, ataupun air controller. 


Pilot, atau controller, tanpa sengaja juga sudah mulai beralih fungsi sebagai salah satu operator dalam sistem yang terpadu. BVR missile modern, seperti AMRAAM-D, ataupun Meteor, tidak lagi memerlukan panduan dari pesawat induknya, tetapi bisa dipandu dari radar pesawat tempur wingman, ataupun langsung dari Controller di pesawat AEW&C. Demikian juga missile jarak dekat, seperti AIM-9X Block-II, ataupun IRIS-T, bisa dipandu dari sumber lain, untuk menghancurkan BVR missile, ataupun cruise missile lawan. Kembali, semuanya ini tergantung apakah Source Code setiap alutsista memadai, atau tidak.
Credits: Dassault/Thales
Sensor Fusion: 100% Situational Awareness

Tanpa ada Sensor Fusion,
pilot tidak akan bisa melihat sensor feedback dalam gambaran yang jelas.

Tanpa ada Source Code yang baik,
tidak ada Sensor Fusion


Tantangan penulisan Source Code: Beberapa Contoh

Presentasi Informasi dalam Cockpit:
Situational Awareness
akan menentukan hidup-matinya pilot dalam pertempuran udara Abad ke-21
Source Code pesawat tempur, dituntut untuk harus dapat memenuhi lima persyaratan yang sederhana:
  • Architecture, dan hardware-nya harus bisa di-upgrade mengikuti perkembangan jaman. Ini karena perkembangan kecepatan processor komputer melaju sangat cepat, dari hanya 60MHz di tahun 1993, sampai ke 4,2 GHz di tahun 2012. Ini jauh melebihi cepatnya perkembangan suatu proyek pesawat tempur.
  • Mengoptimalkan kemampuan manuever, atau flight profile airframe.
  • Mempunyai kemampuan untuk dapat mengoperasikan suatu persenjataan / perlengkapan yang sama lebih unggul dari tipe lain.
    • Mudah untuk dapat mengintegrasikan persenjataan, atau perlengkapan baru, yang belum dibuat sewaktu pesawat tempur tersebut selesai development
    • Terakhir, dan tidak kalah penting: Paket upgrade yang diperlukan harus sudah direncanakan secara rapi, dan terintegrasi.

    Source Code menentukan kelaikan upgrade. Kelihatannya sekilas memang sangat sederhana, tetapi ini terbukti kalau secara praktek, terlihat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pembuat pesawat tempur modern dewasa ini.

    Eurofighter Typhoon Tranche-3B, baru memulai testing untuk Captor-E AESA radar pada 8-Juli-2016, menjadikannya pesawat tempur Barat yang paling terlambat dalam mengintegrasikan AESA radar. Sementara Gripen-C MS-20 sudah berhasil mengintegrasikan BVR missile buatan Eropa, MBDA Meteor, sejak Juli-2016, Typhoon masih akan belum selesai mengintegrasikan Meteor sampai tahun 2018. Testing-nya sendiri baru dimulai secara intensif sejak 2016.
    Dassault Rafale masih belum mengintegrasikan Helmet Mounted Display sampai ke F3-R standard, walaupun sudah mendahului Typhoon dalam mengintegrasikan RBE-2AA AESA radar. Qatar memilih untuk mengintegrasikan Helmet Mounted Display ke Rafale yang mereka beli sejak 24-Januari-2017 ini, tetapi belum ada keputusan yang sama untuk Armee De'l Air. Perancis baru-baru ini menyatakan akan memulai development untuk F4 standard, dan saat ini belum mengungkapkan lebih banyak apa yang akan ditambahkan.

    Kembali ke gambar awal, pesawat favorit blog Ausairpower, F-22, ternyata masih memakai architecture tahun 1980-an, yang masih mengandalkan banyak processor berkecepatan 25 MHz. AIM-9X Block-II, ataupun AMRAAM-D dengan dual-datalink, baru mulai diproduksi 20 tahun sejak architecture F-22 selesai dikunci. Tentu saja, karena segala sesuatu dalam Raptor terintegrasi, ini tidak semudah hanya mengganti processor, dan semuanya beres. Seluruh software-nya akan harus ditulis ulang, dan akan membutuhkan biaya milyaran $$ lagi. Yah, akibatnya, "pesawat tempur terhebat di dunia", secara praktis sudah ketinggalan jaman. 

    F-22 baru dinyatakan siap untuk mengintegrasikan AMRAAM-D dengan Increment 3.2B, tetapi tetap saja... dengan otaknya yang berpusat pada processor 25MHz, untuk memproses sensor feedback dari AN/APG-77 AESA radar (tidak ada Sensor Fusion), dan untuk mengendalikan 2-way datalink untuk AMRAAM-D; sangat meragukan kalau Source Code F-22 akan dapat mengoperasikan AMRAAM-D dengan level akurasi yang bisa didapat F-18F Super Hornet RAAF Australia, yang architecture-nya diproduksi 20 tahun lebih modern.

    Sedangkan saudara kecilnya, F-35, yang dinyatakan "paling modern" di dunia,  mempunyai 24 juta baris programming line di tahun 2012, dan sampai sekarang masih belum kunjung selesai untuk ditulis. Versi terakhir, Block-3i, menurut F35.com baru menyelesaikan 89% dari total programming code lines yang dibutuhkan agar F-35 dapat operasional.


    Sama seperti F-22, F-35 Lemon II ternyata juga masih kesulitan untuk mengintegrasikan semua persenjataan yang sudah berhasil dibawa F-15, F-16, dan F-18. Tentu saja, kesulitan Source Code membuat F-35 juga masih belum bisa menembakkan senjata mesinnya sampai... paling cepat akhir tahun ini.

    Lebih parah lagi, kelemahan terbesar desain stealth adalah segala sesuatu sudah terintegrasi, dan karenanya justru sukar untuk di-upgrade. Sebagai contoh, EOTS untuk F-35 masih diproduksi berdasarkan pada Litening II pod buatan Northrop Grumman di tahun 1990-an, yang standard-nya sudah terlalu kuno dibandingkan Sniper ATP-SE pod buatan Lockheed jaman sekarang, yang hanya perlu plug-n-play ke F-15, F-16, dan F-18. Terlepas dari propaganda Lockheed akhir-akhir ini, masalah-masalah F-35 yang semacam ini... sebenarnya masih belum terselesaikan.

    Kesemua masalah diatas, sebenarnya hanya selalu mengacu ke.... Source Code. Kitab suci setiap pesawat tempur.

    Untuk Sukhoi Flemon buatan Russia.... tidak perlu dibahas terlalu mendetail.

    Evolusi pengembangan pesawat tempur, yang berubah dari optimalisasi aerodinamis di Generasi Keempat, ke pengembangan source code di Generasi kelima, sayangnya jatuh bertepatan dengan masa ambruknya Uni Soviet, dan runtuhnya anggaran pertahanan mereka. Semuanya kembali mengacu ke grafik realita ini:

    Kenyataan:
    Russia tidak pernah bisa pulih dari masa kegelapan di tahun 1990-an,
    dimana anggaran mereka kurang dari 50% rata-rata empat besar Eropa
    (Credits: The Washington Post)
    Hal-hal inilah yang membuat military-industrial complex Russia semakin sulit untuk bisa bersaing dengan industri Barat:
    • Industri yang terbiasa dengan anggaran di atas $300 milyar (angka inflasi 2014), yah, tentu saja kesulitan dengan anggaran yang kurang dari $60 milyar, dan semakin menurun.
    • Masalah korupsi berkelanjutan, dengan praktek "kickback" yang sudah lumrah, dan birokrasi yang berlapis-lapis masih terus mendera industri pertahanan Russia. Dalam interview dengan penuntut umum militier Russia, seperti dikutip Financial Times di tahun 2011, 20% anggaran pertahanan Russia sendiri sudah raib dalam berbagai macam kasus korupsi yang tak terselesaikan.
      Korupsi menghambat kemajuan:
      Menduduki peringkat ke-131, menurut Transparency International,
      persepsi tingkat korupsi di Russia,
      LEBIH PARAH 41 PERINGKAT
      dibandingkan Indonesia, yang menduduki peringkat ke-90
    • Terlalu banyak fasilitas, ataupun mesin-mesin dari pabrik-pabrik militer ex-Soviet sudah harus didaur ulang, karena tidak lagi terpakai. 
    • Masalah terakhir: tidak lagi seperti dalam jaman komunis terpimpin masa lalu; setiap sarjana sudah dipersiapkan dari awal untuk menduduki posisi tertentu dalam setiap lapisan industri Soviet; military-industrial complex Russia modern juga kesulitan untuk merekrut talenta baru.
    Hasilnya:
    Su-35S, yang hanya bisa dipersenjatai dengan missile andalan,
    R-27 Semi-Active Radar Homing, ex-Soviet
    (Gambar: Sputnik News) 
    Ini bisa dibahas di lain waktu: Kenapa alih tehnologi dari Russia... (kalaupun bisa; Baca: MUSTAHIL) keuntungannya hampir tidak ada untuk pembangunan industri pertahanan nasional.

    Untuk masa sekarang, AU Russia kelihatan cukup puas dengan radar PESA Irbis-E, dan missile R-27 semi-active homing. Dua standard yang sudah jauh ketinggalan jaman, bahkan menurut standard Barat dari 10 tahun yang lalu.

    Bisa membayangkan betapa mengerikannya PAK-FA, yang development-nya sudah sangat bermasalah karena.... kurang modal, dan hanya bisa membawa Irbis-E radar, mesin AL-41F1 non-supercruise, dan R-27 semi-active missile sebagai persenjataan BVR utama?



    Source Code barang Versi Export Downgrade: Kenapa hanya seperti BARANG SEWAAN


    Aduh, betapa menyedihkannya!
    70+ tahun merdeka dan berdaulat,
    tetapi masih terus menderita penjajahan Versi Export Downgrade.
    Saatnya berhenti bermimpi!
    Walaupun kelihatan begitu indah, setiap F-16, 
    ataupun Su-Kommercheskiy yang lebih kuno dan gampang rusak, HANYA BARANG SEWAAN

    Yah, lagi-lagi... semuanya mengacu ke Source Code. Seperti sudah dibahas dalam artikel Versi Export Downgrade, semua Source Code terjamin sudah dikunci dari pembuat / penjualnya. 


    Kembali ke proses bernafas tadi. Bayangkan kalau untuk setiap saat anda mengambil nafas, orang lain berhak menentukan seberapa banyak oksigen maksimum yang anda boleh hirup, kemudian seberapa banyak yang boleh didistribusikan sel-sel darah merah anda, dan seberapa banyak karbon dioksida yang ada boleh buang. Sedangkan untuk para penjajah penjual Sukhoi, kalau lengan anda tergores sedikit saja, diharuskan untuk dikirim "perbaikan mendalam" di rumah sakit mereka di Russia, dengan biaya sekurangnya $10 juta, termasuk komisi perantara.



    Prosedur semacam ini adalah pelanggaran persyaratan UU no.16/2012, pasal 43, tapi kita bisa menebak alasannya, kenapa tidak dianggap masalah besar:
    Sukhoi memang senang melanggar hukum!

    Loh, pesawatnya milik Indonesia, atau bukan?

    Bukankah uang rakyat sudah dipakai untuk membeli pesawat-pesawat ini dengan harga milyaran $$?

    Dimanakah kedaulatan negara?

    Inilah realita pesawat tempur yang Source Code-nya sudah dikunci, alias model Export downgrade. Kedaulatan ada di tangan penjual, bukan pembeli. Kita hanya boleh memakai pesawat menurut instruksi yang sudah didikte dari penjual. Mencoba melanggar, atau modifikasi sendiri, bersiap saja menerima ancaman semua support akan di-cut off! 

    Selamat berkenalan dengan konsep Penjajahan Versi Export pasca Perang Dunia II.

    Pemerintah United States, dan Lockheed-Martin akan mengunci source code untuk F-35; tidak ada pengecualian, seperti dikutip Reuters. Setiap negara pembeli tidak perbolehkan mengganti satu pakupun, tanpa ijin dari Lockheed-Martin, yang tidak akan pernah bisa datang.

    Banyak pengamat, ataupun politikus di negara-negara pembeli F-35 Versi Export sudah mulai mempertanyakan masalah ini. Defense Chief dari United Kingdom, seperti dilaporkan Daily Mail UK, sudah mempertanyakan kenapa UK harus menghamburkan uang untuk turut membiayai development F-35 Lemon II, yang kemudian segala sesuatunya dirahasiakan?


    Politisi dari partai oposisi "Five Star" di Italia saja, seperti dikutip Defense News, sudah cepat menunjuk:

    Memang benar. 
    Seharusnya Eropa tetap lebih setia ke Eurocanards.

    Defense News: Italy's Five Star Party will scrap the F-35 program

    Empat belas Milyar Euro hanya akan dihamburkan agar kedaulatan kita dipegang United States, menurut Basilio. Semua software untuk F-35, sama seperti Lockheed-Martin T-50 produksi Korea;  adalah 100% milik Lockheed-Martin.


    Sekali lagi, tidak peduli seberapapun dekatnya negara pembeli dengan si penjual, tidak akan ada bedanya. Versi Export Downgrade terjamin untuk si pembeli, dan penjual akan berhak menentukan apapun yang dimauinya; Kapan upgrade akan datang, atau diperbolehkan atau tidak.


    Demikianlah nasib pembelian rongsokan versi export. Tentu saja tidak akan ada bedanya mau F-35, F-16, ataupun F-18. Ataupun dari Russia Su-34... eh, salah... versi Export Su-32, versi export Su-35, dan versi export Su-30SME.
    Sudah saatnya kita BERHENTI menghamburkan uang,
    untuk menyumbang para penjajah Versi Export,

    Apalagi ke penjual yang hanya mau lewat Agen Perantara,
    dari negara yang peringkat korupsinya lebih rendah dibandingkan Indonesia.
    Sayangnya, karena Indonesia bukan Syria, atau India untuk Russia; ataupun salah satu negara sekutu akrab se-level NATO, untuk United States: nasib kita yah, tentu saja akan jauh lebih apes. Hanya akan terus diperbolehkan membeli senjata kelas dua, mau namanya F-16V, IF-X, ataupun Su-35, yah hasilnya sama saja.

    Rongsokan versi export kelas dua, yang spesifikasinya tidak layak pakai oleh pembuatnya.
    Barang sewaan ini TIDAK AKAN DIPERBOLEHKAN membawa radar,
    tanpa ijin dari Washington DC.


    Korea mau jumpalitan sekalipun juga tidak akan bisa / berani memasang radar ke T-50i
    Wong, Source-code-nya juga dikunci Lockheed.
    (Gambar: Airliners.Net)


    Penutup: Pilihan kita mudah, mau MERDEKA, atau terus DIJAJAH?

    Kembali, pertanyaannya selalu mudah, kalau membandingkan Gripen, dengan F-16V, Su-35 Kommercheskiy, ataupun IF-X, yang "katanya" buatan sendiri. 

    Apakah kita mau mulai merdeka, atau terus dijajah?


    Tentu saja antara F-16V, dan Su-35K; Sukhoi akan selalu menjadi pilihan yang lebih manis rasanya.
    Kalau mau memulai sesuatu dengan bersih,
    saatnya belajar mengawali kontrak dengan Government-to-Government deal.

    Mungkin sudah saatnya Indonesia membentuk badan akuisisi sipil,
    seperti FMV pemerintah Swedia, atau ACCaP pemerintah Belgia
    Kalau kita mau merdeka, perjuangannya tetap saja akan sulit, walaupun akhirnya untuk pertama kalinya dalam 70 tahun lebih, kita akhirnya bisa memperoleh pesawat tempur yang mempunyai kemampuan penuh, tanpa bisa didikte supplier luar, dan paket upgrade-nya lebih terjamin.... atau... kalau bisa, kitapun bisa turut berpartisipasi dalam pengembangan MS-23 untuk Gripen-E, atau mungkin memulai license production Gripen-C untuk bersaing dengan FA-50, dan JF-17?

    Keduanya adalah konsep yang menarik, tetapi bukan sesuatu yang dapat ditempuh sehari semalam. Kalau pemerintah akhirnya memutuskan kita memulai kerjasama penuh dengan Saab, sudah pasti akan selalu banyak tantangan internal di media massa dari beberapa oknum, yang mulai kehilangan pendapatan dari "kickback".

    Terakhir, Source Code untuk Gripen, sebenarnya termasuk yang terbaik di kelasnya. Tetapi ini memang sengaja belum dibahas dalam artikel ini. Kita akan membahasnya secara lebih mendetail dalam artikel fokus Gripen yang berikutnya.

    Artikel mendatang akan membahas radar, dan sekilas ulasan konsep BVR missile.

    61 comments:

    1. Admin inget enggak Sukhoi Superjet 100 yang pernah nabrak digunung salak itu?Sukhoi Superjet 100 juga didatangkan PT Trimarga Rekatama sama kaya SU-27/SU-30.saya juga enggak tau siapa yang membeli Sukhoi Superjet 100

      Admin,Katanya Jepang,UK,UAE,sama India beli V-22 Osprey tuh Bagaimana komentar anda?

      ReplyDelete
      Replies
      1. PT Trimarga sih mengaku "bukan broker Sukhoi", tapi apapun dalihnya, kalau mau beli Sukhoi, yah, Pt bukan broker ini akan selalu terlibat.

        Ide mau jual-beli rongsokan Su-35K dengan "imbal dagang" yg berpotensi akan menimbulkan kerugian ratusan juta $$$, mungkin yah, berkat peranan mereka juga.

        Kelihatannya sih ini prosedur resmi transaksi Rostec/Rosoboron.
        Perantara yg berlapis-lapis, seperti juga dipraktekkan di negaranya sendiri.

        ## V-22 Osprey -- yah, ini pesawat yg bermasalah, krn mencoba menetang hukum fisika, atau bekerja dengan sangat baik, kalau menurut film Transformers.

        Kemungkinan sekarang, Pentagon memang ingin membagi kerugian: memperbesar jumlah produksi, agar biaya per unit V-22 menjadi lebih murah.

        Delete
    2. Zaman udah berubah banget. Udah gak relevan ngebagi-bagi jobs per pespur semua eranya multirole. Udah gak zaman juga bicara tentang manuver pespur A,B,C,D dll atau range & alasan double engine, soalnya kita hidup di era electronic warfare, Misil BVR, Data link, Network centric warfare dan source code. Kapan pola pikir kita mau berubah ? F-16 Viper menurut India bakal tidak ada masa depan dan varian Block 70/72 bakal jadi tutup kamus, bener juga soalnya Lockheed Martin mau nge-shift ke F-35 & F-22. Prancis & Jerman mau bikin proyek pespur bersama pengganti Eurofighter Typhoon. Sukhoi lah udahlah antara Su-35 dengan PAK-FA aja gak jelas skala prioritas yang mana dan kesinambungannya janggal ? Apa cuma Gripen & Dassault Rafale yang masuk akal ? Tapi gak mungkin juga Rafale harga per unitnya segitu tingginya. Cuma Gripen admin yang bakal jadi pespur yang bisa dibilang sempurna dari segala sudut pandang

      ReplyDelete
      Replies
      1. Pesawat tempur tidak ada yg sempurna, karena benda mati ini sendiri hanya 20% dari efek gentar.

        Gripen-Swedia yg sudah dipersenjatai Meteor belum tentu bisa mengalahkan Typhoon UK, atau Rafale Perancis.

        Semuanya akan tergantung kepada pihak mana yg mempunyai sistem yg lebih siap, dan lebih terlatih.

        Keunggulan Gripen disini: Jauh Lebih murah, dan jauh lebih fleksibel untuk dapat melakukan segala sesuatu yg sama dengan Typhoon, dan Rafale. Ketiganya tentu saja semakin tahun akan semakin lebih unggul dibanding F-35 Lemon II.

        Gripen tidak hanya lebih murah dalam masalah harga, ataupun biaya operasional, tetapi juga dalam biaya upgrade, ataupun mengintegrasikan senjata baru.

        Biaya integrasi Meteor ke Gripen hanya kurang dari 35% biaya yg harus dikeluarkan para pengguna Typhoon.
        Integrasinya sendiri jauh lebih cepat, dan Gripen sbnrnya test platform utama untuk uji coba Meteor.

        Kembali ke Indonesia, yah, inilah pilihan paling ideal.
        Kalau menginginkan kemampuan tempur Abad ke-21, dan pilihan yg berdaulat, tanpa perlu merobek kantong, atau memberi makan perantara:

        Gripen.

        Secara politik juga lebih menguntungkan, krn Swedia tidak hanya negara netral non-NATO, tetapi juga sejak tahun 1800an juga tidak seperti Belanda, Belgia, Perancis, Jerman, UK, dan Italia salah satu negara Eropa yg tidak turut serta dalam masa imperialisme.

        Silahkan mencari salah satu negara ex-jajahan Swedia. Tidak ada, bukan?

        Delete
    3. Akhirnya abis ditunggu berminggu2 ada artikel baru lagi... saya punya saran kalau bung GI sedang gak bisa nulis artikel dalam jangka watu lama mending dikasih tau di artikel terakhirnya biar gak merasa php nunguin artikel baru

      ReplyDelete
      Replies
      1. Maaf, sebelumnya memang berhalangan, tetapi seharusnya skrg sudah mulai stabil lagi.

        :)

        Delete
    4. Bisa ngeshare artikel kesini bung gi

      ReplyDelete
      Replies
      1. Maksud anda share artikel lain kemari untuk dibahas?

        Boleh saja. Nanti kita bisa pelajari bersama.

        Delete
    5. share india dalam pengembangan pakfa cukup besar apakah nantinya rusia akan melunak dgn membuka source code pakfa kepada india ataukah lagi2 india dibohongi lagi oleh rusia

      ReplyDelete
      Replies
      1. Ini bukan masalah dibohongi atau tidak.

        Nasib India untuk PAK-FA Russia, sebenarnya sama dengan nasib para negara "partner" dalam tanda kutip United States (UK, Italy, Australia, dan yg lain) untuk proyek F-35.

        Baik United States, atau Russia tidak akan pernah mau memberi alih tehnologi, atau berbagi Source Code.

        Ini tidak akan bisa ditawar.

        Mental Superioritas pasca Perang Dunia II.

        ... tetapi karena motivasi finansial, baik US, ataupun Russia keduanya sama persis.
        Mereka senang menaruh harapan ke negara yg mereka sebut "partner", dan kemudian menulis kontrak2 racun manis yg memikat hati.

        Korea-pun terjamin tidak akan mendapat sedikitpun tehnologi untuk KF-X, tidak hanya 4 core tehnologi yg sudah ditolak, tapi mereka tidak akan mendapatkan apapun juga.

        Dalam masa Obama saja, kemungkinannya terlalu kecil Korea bisa mendapat... paling tidak sedikit tehnologi yg diijinkan untuk export (tentu saja versi downgrade), sedangkan di bawah Trump....??

        Trump baru saja menyebut kalau pemerintah US akan menegosiasikan ulang free trade deal antara US-Korea, yg sudah disetujui dari 10 tahun yg lalu.

        Ini memberi signal jelas: segala sesuatu yg sudah disetujui, akan dinegosiasikan ulang dalam nama "America First!"

        Dengan demikian, KF-X boleh dinyatakan sudah wafat.

        Delete
      2. bisa jadi su-35 belum mendapat upgrade berarti dan radarnya masih PESA karena rusia tidak punya dana untuk pengembangan source codenya

        Delete
    6. Jadi fa50 korea dibangun lockhed martin bukan korea walaupun pabriknya di korea. Dan kenapa perusahaan eropa ikut program trainer tx walau mereka tahu tidak akan dipilih oleh us government...

      ReplyDelete
      Replies
      1. ## T-50 memang BUKAN milik Korea. Mereka saja yg kelihatannya merasa takabur.

        Kepemilikan atas desain itu tergantung ke siapa yg menulis, dan memegang kunci atas source code pesawat. Dalam kasus T-50, pemiliknya tentu saja Lockheed-Martin.

        Secara tehnis sebenarnya sama saja dengan proyek F-35; pemerintah US (dan Lockheed) menentukan semuanya, dan negara lain hanya perlu duduk diam, dan mendengar.

        Perbedaannya, basis tehnologi T-50 jauh lebih rendah, dan 87% biayanya keluar dari kocek Korea.

        Sebagai pembanding, kontrak antara PTDI dan EADS Casa jauh memberikan kebebasan dalam pengembangan CN-235.

        Kedua belah pihak sepakat kalau masing2 boleh membuat model lanjutan dari CN-235, dan kemudian memegang proprietary.

        Casa waktu itu memutuskan membuat C-295 -- versi CN-235 yg lebih besar, dan daya angkutnya lebih baik, sedang IPTN berencana merambah ke sektor penumpang komersial dengan N-250.

        Korea tidak akan diperbolehkan membuat versi sendiri dari T-50 tanpa persetujuan Lockheed-Martin, dan secara tidak langsung juga pemerintah United States.

        Korea juga tidak diperbolehkan menjual sendiri tanpa persetujuan dari Washington DC. Yah, mereka pernah mencoba menjual ke Uzbekistan, yg dianggap high-risk, dan karena itu penjualan langsung di-veto pemerintah US.

        Produced in, and paid by Korea.
        Designed by, and wholly owned by Lockheed-Martin, USA.

        Delete
      2. ## Program T-X
        Perusahaan asing (dari luar US) boleh ikut berpartisipasi, asal memenuhi 2 persyaratan sederhana:

        + Mereka harus ber-partner dngn salah satu defense contractor US sebagai partner utama

        + Kedua, setiap unit T-X HARUS diproduksi lokal di United States.

        Kalau T-50A (versi yg jauh lebih advanced dibanding model export yg dipakai Korea) sampai memenangkan kontrak T-X, yah, setiap unitnya akan HARUS diproduksi di pabrik Lockheed.

        Apakah mungkin KAI masih bisa sub-contract produksi komponen ke T-50A?

        Errrr... kemungkinan besar Lockheed secara bertahap akan mulai melakukan sub-contract komponen T-50A ke perusahaan2 lokal, sampai proporsi yg harus di-import seminimal mungkin.

        Alasannya akan logis:
        T-50A untuk USAF perbedaannya terlalu banyak dibanding T-50 Korea; karena itu lebih murah diproduksi secara lokal.

        Paling banyak mereks akan mendapat royalty dari produksi T-50, ini juga proporsinya akan semakin mengecil.

        Belum cukup gigit jari?

        Lockheed kemudian akan mulai meng-export versi dari T-50A sebagai default trainer untuk para negara pembeli F-35.

        .... dan entah kenapa, Korea masih memilih Lockheed sebagai partner ToT utama untuk proyek mercusuar KF-X.

        Ini namanya menggali kubur sendiri; kenapa tidak sekalian pasang tiang untuk gantung diri saja?

        Delete
    7. Super tucano, CN 235,pswt sipil juga ada source codenya bung...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Betul.
        Semua pesawat modern yg mempunyai fly-by-wire system akan memerlukan source code.

        Tetapi perbedaan disini, Super Tucano, atau CN-235 tidak pernah dirancang untuk memenangkan Air Superiority: menembak jatuh Sukhoi, atau menghadapi S-400 system.

        Demikian juga C-130J Hercules, atau C-17 Globemaster buatan US.
        Apa yg akan bisa dikurangi palingan hanya beberapa defense suite versi lokal US, atau kemampuan mewah seperti Link-16.

        Secara tehnis pengurangan spesifikasi ke C-130J, atau C-17 tidak akan mengurangi kemampuan tempurnya... Yg tugas utamanya mengangkut kargo ke medan tempur.

        Delete
      2. Klo CN 235 ada source code berarti ahli PT DI sdh bisa main source code ato tetap dikunci oleh CASA?

        Delete
      3. Source code CN-235 sekali lagi sangat sederhana dibanding code untuk pespur -- hanya untuk mengudara, dan internal navigasi; bukan untuk bermain membawa missile, misalnya.
        Tidak ada yg harus dirahasiakan.

        Kalau seberapa jauh ahli PTDI sudah menguasai code CN-235, kita kurang tahu.
        Kemungkinan besar, pengetahuannya sudah cukup untuk menjadi dasar yg baik.
        Kalau tidak, ya, tidak akan bisa membuat pesawat sendiri seperti N-219.

        Kalau mau menambah defense suite, atau kemampuan MPA, ini akan diperlakukan seperti aplikasi add-on dengan programming code-nya sendiri, yg terpisah dari CN-235.

        Delete
    8. Sampe skrg blm ada kabar bahwa CN 235 akan dipersenjatai torpedo ato rudal bung?

      ReplyDelete
      Replies
      1. CN-235, atau saudara misannya, C-295 bukan platform ideal untuk diperlengkapi AAM missile untuk menembak jatuh pesawat lain,

        Keduanya hanya pesawat angkut militer menengah / ringan, kecepatannya juga lambat. Lebih ideal untuk memenuhi beberapa tugas support, seperti:
        - MPA (Maritime Patrol Aircraft), ya versi ini bisa membawa Exocet missile, atau Mk.46 Torpedo
        - AEW&C (Airbus sudah mengetes radar Elta ke platform C-295)
        - Light Air Tanker (KC-295), kelihatannya ideal untuk support Gripen
        - C-295 SIGINT (Signal Intelligence)
        - C-295 SAR

        Versi AC-235 gunship custom untuk AU Yordania (2 pesawat), satu2nya yg dipersenjatai untuk close-air support. Tetapi sekali lagi, dari segi source code tidak akan terlalu menuntut seperti pespur.
        persenjataannya 30mm cannon, AGM-114 Hellfire, dan laser-guided rocket.

        Sejauh ini tidak ada order lain untuk AC-235.
        Kita juga belum tahu seberapa efektifnya konfigurasi semacam ini.

        Delete
    9. Apakah indonesia sudah mampu membuat source code pespur mengingat ada ilmuwan indonesia(lupa namanya) yg karyanya dipakai di eurofighter typhon

      ReplyDelete
      Replies
      1. ...membuat / menulis; source code pespur sendiri... itu sudah terlalu jauh.

        Ini sama seperti kenapa kita masih belum bisa membuat Windows, Android, atau iOS sendiri.

        Dewasa ini, bisa mempunyai kemampuan untuk bisa menulis source code sebenarnya sudah setengah dari pekerjaan membuat pesawat tempur  modern.

        Cangkupannya terlalu luas. Skill, pengalaman, atau knowledge-base yg dibutuhkan juga terlalu mendalam, bahkan sulit untuk bisa dicapai para produsen lama.

        Ruski saja masih belum bisa menulis coding yg beres untuk AESA radar, makanya mereka kemudian bilang "puas dengan radar PESA".

        Kemampuan utama radar AESA ini 99% sebenarnya berasal dari source coding bukan semata bisa memproduksi masing2 dari 1000 - 1500 transmitter-nya, automatis bisa dapat AESA (seperti pola pikir Korea).

        Membutuhkan ratusan ribu baris programming, dan tentu saja tidak bisa asal pasang: coding untuk AESA radar harus spesifik untuk pespur itu sendiri. Kalau tidak, AESA hanya nama, krn kemampuannya kurang optimal.

        Sekarang base coding, atau semacam Operating System dasar seperti Windows, atau Mac OS-nya sendiri, tentu saja code-nya akan harus dirahasiakan.

        Base Coding ini sendiri adalah dasar dari semua kode yg bagus. Dirahasiakan sih tidak apa2, karena mencoba mengutik2, ya, hasilnya juga akan kacau balau.

        Lantas apa yg kita butuhkan?

        Atau..

        Apa yg bisa kita dapat dari Saab Gripen?

        (Yang tidak akan pernah bisa didapat dari Lockheed, atau Sukhoi)

        Nanti akan sy sambung lagi.

        Delete
    10. Admin kenapa kantor perwakilan SAAB ada di singapur padahal negara itu tidak beli GRIPEN ? Kalo Indonesia harus beli kenapa perwakilan SAAB GRIPEN tidak sepenuhnya pindah ke Indonesia

      ReplyDelete
      Replies
      1. Seharusnya memang begitu (RI adalah pasar potensial)...tapi dari nilai transaksi dan produk range aktualnya kita akan melihat, singapur lebih besar dr kita.

        Dr era orba, singapur sdh mengoperasikan radar giraffe C2, roket anti personel, rudal rbs-70.

        Era berikutnya, singapur mengoperasikan bbrp unit kasel buatan kockums (saab group), radar giraffe amb dan kapal LMV terbaru singapur pada super strukturnya menggunakan bahan carbon komposit buatan kockum (sama dg yang digunakan pd korvet visby)

        Delete
    11. @DR

      Selagi kita disibukkan oleh keinginan memiliki su-35 dan rudal s-400, tanpa disadari sudah terjadi "serangan" yang menusuk dekat dg jantung pertahanan (setidaknya 2 kali dibongkar transhipment narkoba melalui alki selat sunda,satu mendarat dipluit&yg terakhir dianyer)...belum terhitung penyelundupan narkoba melintas selat malaka.

      Semakin terasa pentingnya kita memiliki platform2 utk melakukan surveillan dan sigint yang terabaikan selama ini

      ReplyDelete
      Replies
      1. Tidak hanya kejadian2 diatas, kita juga masih terus harus menghadapi:
        ## ancaman terorisme, dan tindakan anarkis dari beberapa pihak pro-ISIS di Asia Tenggara,
        ## kemudian juga masih banyak ribet pelanggaran wilayah udara NKRI; TNI-AU mencoba berkelit susah mengawasi, atau aturan kurang kuat
        ## perikanan illegal di berbagai kawasan

        ## Belum lagi menghitung adalanya perang dingin di LCS, antara ASEAN, dan klaim "9-dash line PRC".

        Semuanya memang membutuhkan tidak hanya perlengkapan yg memadai, tetapi juga perhatian, dan anggaran yang mencukupi.

        Eh, entah kenapa masih ada pikiran untuk menghamburkan uang sia2 untuk mengejar mimpi rongsokan Su-35K, atau terus mengoperasikan Sukhoi impoten di Sku-11...

        Biaya operasional Sukhoi, kalau sudah dipotong komisi perantara saja dan "kickback" saja, 20 - 40%-nya mungkin masih akan raib, karena kekacauan internal industri di negara supplier.
        Belum lagi menghitung, kalau kerusakan spare part Sukhoi akan selalu prematur, atau baru memenuhi syarat, hanya kalau kita beruntung.

        Untuk apa meneruskan praktek sandiwara semacam ini?

        Padahal anggaran kita memang tidak banyak, padahal jauh lebih banyak hal yang harus lebih diperhatikan, dibanding terus hanya mengejar mimpi.

        Memang sudah saatnya re-focus, dan mengkaji ulang Renstra agar tidak hanya mengejar jumlah (alias mengejar "kickback"), melainkan memenuhi semua tantangan negara di Abad ke-21 ini!

        Delete
    12. Bisa kasih pendapat gan https://www.jejaktapak.com/2017/07/16/nyerang-teman-sendiri-filipina-grounded-fa-50/

      ReplyDelete
      Replies
      1. Oke... ini link Bhs Inggris dari Filipina:

        Inquirer: FA-50 friendly fires in Marawi

        Kenapa hal ini bisa terjadi?

        Tiga masalah:

        Pertama-tama, FA-50 sebenarnya bukan pesawat yg ideal untuk air-to-ground attack, seperti misalnya Super Tucano, OV-10, atau yang lebih ideal kalau mau memakai pesawat jet: A-7 Corsair II.

        Kedua, karena kurang ideal, sebenarnya masih bisa... hanya saja FA-50 belum bisa membawa smart bomb, ataupun diperlengkapi dengan targeting pod.

        Lagi2, Source Code FA-50 belum diijinkan untuk modifikasi oleh Lockheed-Martin.

        Yah, alhasil menggunakan dumb bomb, yah, sama seperti yang sudah dipraktekkan AU Russia di Syria --- kemungkinan bom meleset terlalu besar. Bisa menghantam target sipil, atau dalam kasus ini "friendlies".

        Masalah terakhir untuk AU Filipina:
        Kalaupun mereka misalnya, mengoperasikan F-16 bekas, dengan Sniper / Litening pod.... mereka tidak akan punya uang untuk membeli smart bomb.

        Smart bomb seperti JDAM harganya $25,000/unit
        Dumb bomb Mk.83 hanya $3,100

        Mengoperasikan AU yang bisa mengoperasikan smart bomb, seperti NATO secara berkepanjangan di Syria sebenarnya bukan main mahalnya.

        AU Russia pun tidak hanya kurang pengalaman, dan tidak bisa membawa targeting pod, tetapi juga tidak ada uang untuk mengoperasikan smart bomb di Syria.

        Delete
      2. Hmmm,
        Inilah juga salah satu alasan lain kenapa kita harus mempensiunkan Sukhoi, dan mengkandangkan proyek mercusuar KF-X (cepat, atau lambat kita pasti keluar dari proyek ini):

        Kita tidak punya uang untuk membayar biaya operasional pespur twin-engine.

        Kalau angggaran setiap saat hanya dihamburkan membayar biaya operasional twin-engine, apalagi Sukhoi penghisap uang,
        yah, sama seperti nasib AU Filipina, dan Russia:

        Kita tidak akan punya uang untuk mengoperasikan persenjataan yang lebih modern.

        Kita justru lebih membutuhkan banyak missile (BVR missile $1,5jut/unit), dan smart bomb ($25,000/unit).

        Tanpa ada persenjataan, yah, otomatis efek gentar nihil...

        Ini kita akan bahas lain waktu:
        Renstra yang seharusnya kita tempuh dalam rangka Modernisasi

        Delete
    13. https://www.jejaktapak.com/2016/06/23/presiden-terpilih-filipina-pembelian-jet-f-50-hanya-buang-buang-uang/.ini juga

      ReplyDelete
      Replies
      1. Berita ini dari tahun 2016;

        Menurut berita terakhir dari 4-Juli-2017, Presiden Duterte mulai berbicara tentang modernisasi AU Filipina:
        Inquirer: Duterte to continue Air Modernization.

        Beberapa sumber menyebut kalau AU Filipina mungkin akan membeli 12 pespur lagi.

        IMHO, untuk negara dngn kocek anggaran tipis, solusi paling murah adalah... menyewa Gripen-C/D dari Swedia.

        Yah, Swedia juga sudah menawarkan paket sewa, atau pembelian langsung Gripen-C/D ke Filipina, tetapi belum ada respons.

        Delete
    14. Seandainya RI kerjasama dengan SAAB apakah diajari juga membuat source code...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bukan.

        Membuat source code itu seperti mencoba membuat Windows, Android, atau MacOS, atau iOS sendiri.

        Seperti pertanyaan bung @fatoni di atas: ini lingkupnya terlalu jauh, sedangkan kemampuan / pengetahuan kita terlalu terbatas.

        Re Source Code, keuntungan kita dari akuisisi Gripen, dan kerjasama dengan Saab, sbb:

        ## Transparansi penuh. Tidak ada yg dirahasiakan. Semua kemampuan / inovasi yg sudah diaplikasikan di Gripen Swedia, juga akan tersedia ke Indonesia.

        Dalam versi export, segala sesuatu sudah pasti selalu dikurangi.
        Source code adalah cara termudah melakukan pengurangan, tanpa perlu dilaporkan, atau bisa terlihat. Misalnya, radar versi export biasanya resolusinya 30% lebih jelek.

        ## Upgrade juga terjamin.
        Ini sama seperti diatas.. Kita mendapat transparansi penuh untuk paket yang apa adanya. Tidak ada pengurangan, atau ditutup2i seperti untuk F-16.

        ## Kita bisa belajar untuk modifikasi source code secara bertahap.
        Sekali lagi ini lingkupnya sangat luas, dan kita tidak boleh takabur.

        Ini bukan berarti kita bisa belajar membuat Gripen-Indonesia kemampuan manuever-nya beberapa % lebih baik daripada milik Swedia.

        Kedaulatan disini adalah, semisalnya kita membuat perlengkapan khusus buatan Indonesia, terjamin akan bisa diintegrasikan ke Gripen.

        Inilah kenapa seandainya kita mengakuisisi Gripen, dalam waktu 10 tahun, spesifikasinya akan semakin berbeda dengan versi yg dipakai di negara lain.

        Gripen-Indonesia akan dapat dimodifikasi secara bertahap agar sangat optimal untuk dioperasikan di Indonesia.

        Ini rangkuman singkat dahulu.
        Nanti kita akan bahas lebih lanjut re source code Gripen.

        Delete
    15. Bagaimana menurut Bung GI dengan Overhaul KS Cakra Milik TNI AL di Korsel Oleh DSME? dan Apa Sebabnya?

      Saya Cuma bertanya Tanya :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Modernisasi Cakra, dan Nenggala

        Yah, ini dilakukan karena kedua type-209 ini sebenarnya masih bertehnologi tahun 1970an, dan tidak pernah dikutak-kutik.

        Secara praktis, keduanya sudah jauh ketinggalan jaman.

        Kedua, yah, keduanya juga sudah terlampau berumur. Tindakan menyelam itu sebenarnya merusak hull, jauh lebih parah dibanding lambung kapal.
        Overhaul akan meremajakan hull-nya agar laik pakai sekurangnya 10 tahun lagi.

        Delete
      2. Kapal Selam kelas Cakra mending dijadikan Kapal Selam latih.

        Delete
    16. bung kenapa source code untuk f-35 dibuat sedemikian rumit oleh pembuatnya ,source code yg rumit bukanya hanya membuat repot faktanya f-35 masih punya seabreg masalah yg bisa jadi bersumber dari rumitnya source code

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sebenarnya pokok permasalahan F-35 adalah karena di atas kertas, pesawat ini sudah salah konsep dari awalnya.

        Misalnya:
        F-35 harus stealth, karena itu harus ada conformal weapon bay, eh masih ditambah lift fan untuk versi-C... Akibatnya, badannya jadi gemuk, dan draggy.

        Source code untuk manuevering diharapkan bisa mengkompensasi kekurangan ini, sebagus apapun.... yah, code manapun tidak bisa melawan hukum fisika.

        Itu hanya salah satu contoh.

        Kenapa source code F-35 jadi bermasalah, ya karena source code ini dipergunakan untuk mencoba terus mengkompensasi terlalu banyak konsep, dan design flaw yg memang sudah ada dari sononya.

        Source code seharusnya untuk memperkaya / mengoptimalkan kemampuan airframe, bukan untuk mencoba memperbaiki desain airframe yg sudah rusak.

        Yah, hasilnya... Mau buang uang seberapa banyak pun, mau sepintar apapun menulis code, ya, tetap saja akan belepotan.

        Delete
      2. dalam R & D sebuah pespur baru biasanya pengembangan source code menghabiskan berapa % dari keseluruhan budget bung

        Delete
      3. Berapa % budget R&D masuk ke bagian mana sih biasanya tidak dipublikasikan secara umum.

        Kita tidak tahu pasti berapa, tapi mungkin... ini hanya perkiraan awam, biaya menulis Source Code pespur bisa mencapai antara 10-25%.

        Kemudian setiap kali ada upgrade, atau menambah senjata / perlengkapan baru, maka sebagian source code akan perlu ditulis ulang, dimodifikasi, atau bisa juga ditambah.

        Jadi biaya untuk source code itu sifatnya berkepanjangan.

        Delete
      4. untuk sekedar memodifikasinya pun butuh biaya yg tidak sedikit ?

        Delete
      5. Jawabannya tergantung tipe, dan pembuatnya.

        ## Upgrade untuk Typhoon ternyata sangat mahal.

        Butuh biaya €1,5 milyar untuk menulis code baru, sekaligus mengganti hardware radar ke versi Captor-E AESA, akibatnya semua negara pembuatnya sendiri jadi keringat dingin.

        Mengintegrasikan Meteor ke Typhoon juga memerlukan modifikasi code, habis kira2 $400 juta.

        ## Sedangkan F-35, dari semenjak 10 tahun yg lalu sampai sekarang menulis code dasar-nya saja masih belum selesai.

        ## Sejauh ini, kelihatannya Saab yang kelihatannya paling berhasil.
        Upgrade MS mereka paling murah, dan paling cepat (per tiga tahunan).
        Biaya integrasi Meteor ke code Gripen hanya memakan $150 juta.

        Untuk lebih lanjut re Gripen kita bahas di lain artikel tersendiri.

        Delete
    17. Update 19-Juli: Melanjutkan dari kisah kekacauan program KF-X yang sebelumnya.

      Re:Program KF-X akan di-audit.

      Seperti baru dilaporkan Flightglobal, karena dugaan korupsi, para auditor pemerintah Korea sedang sibuk menngerebek KAI (Korean Aerospace Industry), kontraktor utama KF-X, dan pabrik T-50 buatan Lockheed.

      Executive KAI, Ha Sung-yong sudah mendapat larangan tidak boleh keluar dari Korea, menunggu interogasi.

      Berita buruk untuk KF-X sudah semakin banyak bukan, dan kita bisa memperdiksi dngn aman kalau berita2 buruk semacam ini akan semakin banyak, sblm akhirnya program mercusuar ini akan dibatalkan.

      ReplyDelete
    18. Saya hendak bertanya bung..
      Apakah gripen C Yg ditawarkan saab pada tni au memakai targeting POD? Jika pakai internal apa external?
      Terimakasih bung

      ReplyDelete
      Replies
      1. Target Pod Utk Gripen Tergantung TNI nya. Mau Damocles, Sniper ATP, atau LITENING Pod. Targetpod Yg bisa dipasang Ke Gripen yg Eksternal Pak.

        Delete
    19. Banyak saab c d youtube yang digunakan swedia tidak memakai targeting POD

      ReplyDelete
      Replies
      1. Btw, Targetpod lebih dioptimalkan Utk Smartbombing Pak.

        Delete
      2. Seperti yg dituliskan bung @Eki,

        Gripen tidak perlu membawa targeting pod, kalau tidak untuk latihan serangan udara-ke-darat.

        Pemerintah sudah teken kontrak utk Sniper Targeting pod dgn pemerintah US (G-to-G).

        Sniper akan dapat dipasang ke Gripen (versi manapun). Dan karena tidak ada pengurangan kemampuan, re Source Code, Gripen akan dapat menghantam target di darat 10 - 20% lebih akurat vs F-16 Versi Export.

        Sedangkan Sukhoi kuno tidak mempunyai targeting pod.

        Kalaupun kelak bisa ada, re Source code untuk pod ini, kembali, akan mendapat pengurangan kemampuan untuk Versi Export.

        Delete
    20. Jadi bisa di bongkar pasang yaa?
      Selain untuk serangan darat targeting pod bisa buat pengintaian...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bisa dipasang / dibongkar tergantung kebutuhan.

        Dalam gambar "Gripen For Indonesia" di Presentasi Saab IndoDefence 2016, seperti dalam artikel, Gripen-C terlihat membawa Reccelite, atau Litening targeting pod, sebelah kiri bawah.

        Selain itu, Gripen C MS-20 ini masih membawa 2 MBDA Meteor, 2 IRIS-T, dan 8 GBU-39 small diameter bomb.

        Patut dicatat kalau semua daftar persenjataan dalam gambar ini:

        ## Sudah beberapa generasi lebih modern dibanding apa yg bisa disediakan Rosoboron untuk negara customer Sukhoi.

        ## ... dan satu Gripen-C ini saja persenjataannya sudah lebih berat dibanding seluruh TNI-AU yg sekarang.

        Akibat sistem akuisisi "macan ompong".

        Delete
    21. Dlu saya ngebet banget sama sukhoi sekarang setelah harapan itu lepas pemerintah malah mau menanda tangani kontrak... saya jg sering share blog ini ke grup militer, mereka ga mau menerima kenyataan dan fakta bung
      ..
      Sebenarnya saya juga shok berat setelah membaca tulisan bung dark..
      KiRa kira klo pemerintah baca respon mereka gimana yaa?

      Nah apakah benar kemungkinan kemenhan akan segera menandatangani kontrak 10 su 35?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kita tidak tahu re arah akuisisi selanjutnya bagaimana.

        ## Entah apa motivasi-nya masih menginginkan "Sukhoi, Sukhoi, Sukhoi..."

        Ekonomi saja pertumbuhannya masih lambat, sedang sejarah mengoperasikan Su-Kommercheskiy di Sku-11 sudah kelihatan berantakan -- dan ini bisa dilihat dari pengetahuan umum berapa banyak yg rusak, berapa mahal biayanya, dan bagaimana Ruski tidak mengijinkan perbaikan lokal.

        Gajah di depan mata disini -- 10 Sukhoi di Sku-11 biaya operasionalnya sudah lebih dari cukup untuk membiayai 40 F-16, atau 60 Gripen yg masing2nya dapat menabung DUA KALI LIPAT lebih banyak jam terbang.

        10 Su-35 biayanya akan dua kali lipat lebih mahal dari Sukhoi K di Sku-11, atau cukup untuk 120 Gripen, atau 80 F-16.

        Dua Skuadon Sukhoi?? Bisa mengoperasikan 150 F-16, atau 200 Gripen.

        ## Kita tahu sekarang kalau masih mau beli tambah pespur, jumlah pesawat tempur Indonesia akan lebih banyak daripada jumlah missile.

        Ini saja sudah sangat aneh, kenapa masih mau beli pespur lagi, apalagi Sukhoi seperti di atas??

        Lebih banyak pespur tanpa senjata, lah, mana bisa berlatih, atau benar2 bisa mempertahankan negara?

        ## Inilah kenapa kenapa walau memang kita seharusnya mengakusisi Gripen, sebaiknya sih, persenjatai dahulu F-16, dan sekaligus mempensiunkan Sukhoi untuk rasionalisasi, dan menghemat anggaran, sekaligus memotong biaya perantara.

        ## Terakhir, apakah kita ini mau modernisasi atau tidak?

        Angkatan Udara Modern membutuhkan National Networking, beberapa pesawat AEW&C untuk membantu mengawasi wilayah udara, beberapa pesawat tanker (KC-130 atau KC-295), pesawat Signal Intelligence, dan pesawat Electronic Warfare.

        Kalau akuisisi kita terlalu terobesi ke pesawat tempur tok?

        Yah, lebih baik balik mengoperasikan F-51D Mustang saja!

        Delete
    22. 16 gripen c/ d + 2 eri eye global...
      Sambil nunggu versi E
      Mungkin butuh 32 unit...

      F 16 tetap beroperasi...
      Su ke laut ajalah... udah paten ya bung?

      Sebenernya klo gini caranya saya makin faham lebih baik indonesia tidak pnya pesawat tempur dulu...

      Toh ga ada gunanya pun sistemnya ga jelas... buang buang duit saja...
      Saya faham betapa rusaknya angkatan udara kita... dan bingungnya lagi kemenhan itu minta ToT beli cm 10 biji aduhhhhh amfuuunn...
      Itu artinya kemenhan sendiri ndak faham yaa? Anehnya bisa jadi kemenhan..
      Bayangkan saja 400.000 sejam terbang klo buat kesejahteraan pilot dan nabung untuk BVR yg terpenting mungkin jauh lebih baik

      Dlu saya pikir su sekali terbang hanya 40 jutaan...
      Pantesan pada ompong

      ReplyDelete
      Replies
      1. Contoh Skuadron Tempur ideal

        Mari kita berasumsi tipe manapun, tidak jadi masalah.

        ## Satu Skuadron ideal membutuhkan 16 pesawat tempur.

        ## Masing-masing pilotnya HARUS bisa berlatih 150 - 200 jam, menurut standard Barat, agar selalu siap menghadapi lawan.

        ## Kenapa latihan harus standard Barat, dan bukan standard Soviet / PRC?
        Standard Barat mengajarkan masing-masing pilot untuk tidak hanya bekerja sama satu sama lain, tetapi juga mengambil inisiatif, dan keputusan cepat sesuai kebutuhan taktis secara independent.

        Kemampuan ini masih absen dari sistem warisan Soviet yang menitik-beratkan kalau Ground Control adalah pemeran utama, yang harus mengambil semua keputusan sepihak, padahal pilot yang digaris depan harus menyesuaikan diri tergantung tantangan / ancaman yg dihadapi.

        ## Ke-16 pesawat tempur tersebut harus mempunyai kemampuan Networking, dan terintegrasi ke semua asset lain. Lebih penting lagi, pespur harus bisa bekerja sama dengan pesawat AEW&C.

        ## Setiap pesawat tempur modern idealnya harus mempunyai AESA radar, atau lebih ideal lagi Sensor Fusion, dengan IRST/IFF.

        ## Setiap pesawat tempur harus mempunyai sekurangnya 4 BVR missile, 2 WVR missile, 1 targeting pod, dan 1 paket Electronic Defense Suite (termasuk Jamming, chaff / flare dispenser).

        Nah, dari sini saja kita sudah bisa melihat, kalau TNI-AU sampai sekarang saja, masih belum mempunyai satupun skuadron tempur yg ideal, atau memenuhi standard Abad ke-21.

        Membentuk sekurangnya setiap skuadron tempur menjadi ideal, seharusnya menjadi tujuan utama dari Renstra, bukan asal beli menambah jumlah tanpa pegangan yg jelas.

        Tentu saja, untuk memenuhi kebutuhan latihan minimal 150 jam per pilot, biaya operasional harus sesuai dengan kantong. Kalau kurang latihan, sehebat apapun pesawatnya, yah, automatis efek gentarnya nihil.

        Kehebatan pespur akan tergantung kemampuan pilot, bukan sebaliknya. Pilot F-16 yang lebih terlatih, dan lebih berpengalaman, akan selalu mengalahkan pilot yg masih newbie, walaupun tunggangannya F-22.

        Delete
    23. Pantas saja abang saya ketika ada festifal pesawat tempur beliau kesel banget liat sukhoi...
      Katanya pesawat sampah...
      Ternyata dia lebih faham 😂

      ReplyDelete
      Replies
      1. Acara festifal dmn bung yg membuat abang anda kesel sama sukoi

        Delete
    24. Setiap thun ultah tni au tgl 9 april

      ReplyDelete
    25. Yg bikin kesel dari sukoi apanya bang, saya dengar sukoi service di luar negeri sdh kesel..

      ReplyDelete
    26. Kalau kita mau merdeka, perjuangannya tetap saja akan sulit, walaupun akhirnya untuk pertama kalinya dalam 70 tahun lebih, kita akhirnya bisa memperoleh pesawat tempur yang mempunyai kemampuan penuh, tanpa bisa didikte supplier luar, dan paket upgrade-nya lebih terjamin.... atau... kalau bisa, kitapun bisa turut berpartisipasi dalam pengembangan MS-23 untuk Gripen-E, atau mungkin memulai license production Gripen-C untuk bersaing dengan FA-50, dan JF-17?

      dari alinea di atas, ada satu keheranan dari saya, knp JF-17 bisa " masuk " dalam radar penulis untuk disaingi oleh Gripen-E ( varian yg top ) padahal kalau menurut penulis, Cina sebagai pemberi ToT JF-17 aja masih dianggap newbie, apalagi Jf-17 nya Pakistan. Tolong diberi pencerahan apa sih kehebatan Jf-17 ?

      ReplyDelete
      Replies
      1. ## Perbandingan JF-17 sebenarnya dengan Gripen-C, bukan versi-E.

        Paragraf ini sendiri dari artikel: Kenapa Swedia harus terus mengoperasikan Gripen-C (sampai melewati tahun 2026).

        Kalau sampai Saab sendiri menghentikan produksi Gripen-C, dan beralih penuh ke Gripen-E, ini akan membuat FA-50, dan JF-17 tanpa saingan. Hanya karena alasan harga, ketiga model ini seringkali dikelompokan dalam satu grup yang diperbandingkan; walaupun dalam kenyataannya, Gripen-C MS20 sudah jauh lebih unggul dalam segala hal.

        Kesempatan Emas disini: Apakah mungkin produksi Gripen-C bisa dialihkan ke Indonesia?

        Memang bukan versi yang paling modern, tetapi pilihan yang super ekonomis, dan berkat Networking, sebenarnya tetap 100% compatible untuk bekerja sama dengan Versi-E.

        ## JF-17 ??
        Tidak perlu ada yang banyak ditulis.

        Seperti sudah dijelaskan dalam artikel ini, JF-17 sebenarnya hanyalah versi dari MiG-21, yang masih menggunakan alumunium airframe. Sudah terlalu kuno dari pertama kali diproduksi.

        Mesin RD-93, atau variant dari mesin RD-33 untuk MiG-29, yang dipergunakan di JF-17, sudah mempunyai reputasi dapat mengepulkan asap. Jadi walaupun JF-17 model single-engine yg ramping seperti MiG-21, tetap saja mubazir. Asapnya akan membuat visual signature-nya terlihat dari jauh.

        Tentu saja, sejauh ini JF-17 hanya bisa dipersenjatai dengan... missile versi export buatan PRC. Sama seperti RVV-AE Russia, kemungkinannya nyaris nihil bisa menembak jatuh F-16 Block-50+/52+ standard NATO.

        Delete